Setelah merasa kalau suaminya sudah pergi, Hana pun segera keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur. “Bi, Kak Arga sudah berangkat kerja?” tanyanya.
“Sudah, Non. Tapi katanya, Tuan Arga mau pergi keluar kota selama tiga hari dan tadi Tuan juga membawa koper kecil,” jawabnya.
“Oh gitu, iya sudah gak papa. Bibi sudah makan?” tanyanya lagi.
“Belum, Non.”
“Iya sudah kalau gitu, ayo temani aku makan. Aku sudah lapar,”
“Tapi, Non. Bibi masih ada pekerjaan,”
“Masalah pekerjaan bisa di seleisakan nanti, sekarang ayo makan dulu. Jangan sampai telat makan, gak baik. Nanti malah punya penyakit lambung. Lagian bersih-bersih juga butuh tenaga, kan?” omel Hana membuat Bibi terkekeh.
“Iya sudah Bibi mau makan,”
“Makan di sini aja, gak usah makan di belakang. Gak boleh protes loh,” ancam Hana membuat Bibi Luna gak berkutik. Akhirnya lagi-lagi mereka makan semeja. Hana memperlakukan Bibi Luna dengan sangat baik dan penuh hormat. Walaupun Bibi Luna hanya seorang ART, tapi tetap saja Hana memperlakukan Bibi Luna seperti ibunya sendiri.
Selesai sarapan pagi, Bibi Luna pun mengerjakan pekerjaan yang lainnya yang belum terselesaikan. Sedangkan Hana ia pergi ke depan rumah, dan menghidupkan kran air, tak lupa ia memasang selang air agar bisa menyiram tanaman yang ada di depan rumah.
Melihat ada banyak tanaman membuat Hana merasa senang, karena dengan tanaman ini, rumah akan terasa segar dan sedap di pandang mata.
Setelah selesai menyiram tanaman, ia pun memetik daun yang sudah kering dan memangkas beberapa pohon agar semakin cantik.
“Ish … ternyata aku berbakat juga memelihara tanaman,” gumam Hana dalam hati.
“Mandi dulu ah, sholat lalu ngetik,” ucapnya sambil mematikan kran air dan menggulung selang agar tak kelihatan berantakan dan menaruh selang itu ke tempat asalnya.
Lalu ia mencuci kaki dan tangannya dan masuk kedalam, ia melihat Bibi yang tengah membersihkan jendela.
“Kalau capek, istirahat dulu Bi. Jangan di paksa, nanti malah sakit,” tutur Hana ramah.
“Enggak kok, Non. Bibi belum capek, lagian bentar lagi juga sudah selesai,” sahutnya.
“Iya sudah, aku ke kamar dulu ya Bi.”
“Iya, Non.”
Dan setelah itu, Hana pun masuk ke dalam kamarnya, ia segera membersihkan tubuhnya. Memakai baju dan tak lupa untuk sholat dhuha. Selesai sholat, lagi-lagi ia masih menyempatkan waktu untuk membaca Al Qur’an, surat Al-Waqiah dan surat-surat lainnya.
Sehabis sholat, ia melipat mukenahnya dan ia duduk di kursi yang menghadap ke jendela. Ia membuka laptop yang ada di atas meja dan menghidupkannya. Ia akan melanjutkan menulis novel yang tadi malam.
Setelah laptop mulai menyala, ia membuka chrome dan mengetik sebuah web tempat ia menuangkan cerita-cerita yang ia ketik di sana. Jika pakai Hp, ia akan ngetik lewat sebuah aplikasi, tapi jika pakai laptop, ia lebih suka ngetik pakai web. Lebih mudah dan simple.
Ia mengetik sambil mendengarkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Ia pun segera menyudahi mengetik cerita di web. Lalu ia pergi mengambil wudhu dan sholat dhuhur.
Lalu pergi ke dapur dan membantu Bibi memasak.
“Bi, mau masak apa?” tanyanya.
“Tempe penyet, Non. Pakai kemangi. Non mau di masakin apa?” tanyanya balik.
“Samain aja, tapi tambahin sayur ya, Bi.”
“Baik, Non.”
“Aku bantu ya, Bi.”
“Tapi nanti Non kecapean loh,”
“Enggak, kok. Malah aku bosen gak ngapa-ngapain ini,” ujarnya.
Lalu ia pun membantu Bibi untuk masak siang. Sehabis masak, mereka pun makan siang bersama. Dan kora-kora bersama.
“Bi, Bibi kan sudah dari pagi bersih-bersih terus, sekarang waktunya Bibi istirahat ya. Lagian rumahnya sudah bersih banget. Jangan terlalu memforsir tenaga, Bi. Gak baik,” ucapnya.
“Iya, Non. Kalau gitu, Bibi pergi ke kamar dulu ya.”
“Iya, Bi.”
Setelah itu, Bibi pun pergi kekamarnya untuk mandi, sholat dan istirahat. Sedangkan Hana, ia pergi ke kamarnya dan mengambil Hp nya. Lalu ia pergi ke ruang tamu, memainkan Hpnya.
Ada banyak panggilan tak terjawab, baik itu panggilan biasa, vidio call dan juga pesan yang tak terhitung.
Dan kebanyakan pesan itu di kirim oleh Revan dan juga Keyla. Melihat banyak pesan dan panggilan dari mereka membuat Hana merasa ada yang tidak beres.
“Apakah Kak Revan sudah tau, status aku saat ini?” tanyanya dalam hati. Dari pada ia menduga-duga terlalu lama akhirnya ia pun membuka pesan satu persatu. Tetutama dari Revan.
From : Kak Revan
[Pesan 1]
Assalamualaikum, Sayang. Bagaimana kabar kamu? Kenapa kamu suka ngilang akhir-akhir ini, gak pernah ngasih kabar aku. Padahal dulu kamu sering chat aku, tapi sekarang, jangankan ngasih kabar, aku chat pun tak kamu balas. Bahkan cuma di read aja. Aku nelfon gak di angkat, aku vidio call, juga gak di angkat. Kamu kenapa?
Misal aku ada salah, aku minta maaf yank. Tolong jangan giniin aku, aku merasa galau, aku bahkan gak bisa kerja karena hati dan fikiran aku tertuju sama kamu.
[Pesan 2]
Yank, kamu ngapain sih? Kamu gak papa kan, tolong jangan buat aku kefikiran kayak gini, kalau ada apa-apa bilang ke aku
[Pesan 3]
Besok aku mau pulang, percuma aku lama-lama kerja di sini, jika aku gak bisa konsen. Yang ada malah pekerjaanku berantakan.
[Pesan 4]
Tolong balas pesanku, Yank.
[Pesan 5]
Ini pertama kalinya kamu mengabaikan aku, dari dulu sampai sekarang, baru sekarang kamu giniin aku. Kamu itu kenapa? Kamu sakit?
[Pesan 6]
Aku chat Keyla, sahabat kamu. Tapi dia gak mau ngasih tau aku, kamu kenapa. Dia cuma bilang, dia ingin ketemu aku dan menjelaskan semuanya. Sebenarnya ada apa? Tolong cerita sama aku, Yank. Jangan bikin aku sedih dan khawatir kayak gini.
[Pesan 7]
Yank ….
[Pesan 8]
Kamu itu kenapa sih, Yank? Ada apa? Tolong balas pesanku, atau tolong angkat von aku, Yank. Kalau ada apa-apa, ayo bicarakan baik-baik dan cari jalan keluarnya baik-baik. Jangan diem kayak gini, karena aku gak bisa baca fikiran kamu.
[Pesan 9]
Yank … Ya Allah, kamu itu kenapa sih, Yank? Bikin aku kefikiran kayak gini. Please, tolong angkat telfon aku.
[Pesan 10]
Aku pulang hari ini. Aku harap kamu mau menemui aku di tempat biasa dan cerita sama aku ada apa
Itulah sederet pesan yang di kirim oleh Revan membuat Hana menangis. Jujur ia bingung mau balas gimana, ia takut, takut jika balasannya akan membuat hati Revan terluka.