Sepulang dari pasar, Hana cukup kelelahan, mungkin karena ia belum terbiasa jalan-jalan sejauh ini. Sedangkan Bibi ia terlihat biasa aja hanya keringat aja yang menetes dari dahinya.
Hana mengajak Bibi istirahat sejenak, tapi Bibi menolak karena ia harus memasak. Hana mengangguk mengerti, ia menaruh gamis yang ia beli di kamarnya, lalu ia pergi ke dapur untuk membantu Bibi masak.
“Bi, gimana kalau Bibi mengurus yang lain aja, biar masalah masak, aku yang handle,” ucap Hana.
“Tapi, Non,” Bibi merasa ragu karena waktu dia memasak tak sampai sejam, ia takut masakan belum selesai saat sudah memasuki waktu makan.
Hana yang seakan mengerti, langsung beruaha meyakinkan Bibi Luna.
“InsyaAllah dalam waktu tiga puluh menit, semua makanan sudah tersaji di atas meja,” ujarnya meyakinkan.
“Beneran ya, Non. Soalnya Bibi takut kalau Tuan Arga marah,”
“Iya, Bi. Sekarang Bibi bisa nyuci, nyapu atau ngepel. Terserah Bibi,”
“Iya sudah Bibi mau nyuci baju aja di belakang,”
“Iya, Bi.”
Dan setelah itu, Bibi pun pergi ke belakang untuk mencuci baju Tuan Arga, Hana dan baju miliknya, tentu bajunya di pisah. Tak di campur jadi satu, sedangkan Hana ia mulai menata apa saja yang akan ia masak.
Ia mengeluarkan belanjaan dari dalam tas belanja, lalu ia mencucinya bersih-bersih lalu di keringkan pakai tisu dan menaruhnya ke dalam wadah agar terlihat rapi. Lalu meletakkan semua wadah yang berisi sayur itu ke dalam kulkas. Tadi Bibi emang beli sayur dan ikan cukup banyak, karena Bibi akan masak sehari tiga kali.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit, Hana pun langsung bergegas memasak nasi lebih dulu pakai penanak nasi, karena jika pakai penanak nasi, dalam waktu setengah jam, pasti sudah matang.
Setelah itu, Hana mulai memasak yang lain. Untungnya di sini ada dua kompor sehingga bisa mempercepat dia masak. Hana memasak ayam bakar pedas manis, sayur sup jagung, lalapan terong, krengsengan kacang panjang dan sambal. Tak lupa ia juga menggoreng kerupuk, karena tadi Bibi membeli kerupuk mentahnya agar lebih hemat karena jika membeli kerupuk mentah, bisa di pakai beberapa hari.
Hana memasak sambil menyanyikan lagu sholawat, ia menikmati apa yang ia lakukan di dapur. Tanpa ia sadari, di belakang dia ada Arga. Ia baru aja keluar dari kamar, dan saat ia mau mengambil air, ia malah mendengar suara Hana yang begitu merdu sambil goreng sesuatu di wajan.
“Kamu cantik, Hana. Bahkan kamu pintar merawat diri kamu, menjaga tubuh kamu dari laki-laki yang bukan mahram kamu. Bahkan kamu juga pinter memasak dan beres-beres rumah, kamu juga mempunyai suara yang begitu merdu. Tapi Maaf, aku gak bisa mencintai kamu walaupun saat ini, status kamu adalah istriku. Aku masih belum bisa melupakan Hani, walaupun dia sudah membuat hatiku terluka. Aku masih berusaha untuk mencari tau dia dan menanyakan apa alasan dia meninggalkan aku, jika aku sudah menyelesaikan urusanku sama Hani. Aku janji, aku akan belajar mencintai kamu. Maaf jika tadi malam, aku bersikap kasar sama kamu, entah kenapa melihat wajah kamu, kadang aku merasa kesal, aku selalu ingat tentang kejadian Hani yang memilih kabur dari pada menikah denganku,” gumam Arga dalam hati. Ia pun tak jadi pergi ke dapur, ia memilih untuk pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya lagi.
Sedangkan Hana yang tak tau, kalau dirinya tadi sempat di perhatikan oleh Arga, hanya diam saja menikmati acara masak memasaknya sambil menyanyikan lagu sholawat. Hingga tepat jam enam lebih lima belas menit, semua masakan pun sudah selesai.
Sekarang, ia tinggal menaruhnya di atas meja makan, menatanya serapi mungkin. Ia juga membersihkan semua peralatan kotor yang tadi ia pakai untuk memasak. Setelah memastikan dapur bersih, ia pun langsung mengambilkan piring, lengkap dengan garbu dan sendoknya. Agar nanti Arga bisa langsung makan. Segelas air putih juga sudah ia sediakan.
Tak lama kemudian, Bibi Luna yang baru selesai masak pun datang.
“Sudah selesai, Non?” tanyanya.
“Alhamdulillah sudah, Bi,” jawabnya.
Bibi Luna yang melihat berbagai macam lauk di atas meja makan pun merasa senang, tak menyangka jika sang majikan lebih jago masak ketimbang dirinya.
“Oh ya, Bi. Lauk pauk yang tadi malam, terpaksa aku buang soalnya sudah basi,” ujarnya memberitahu.
“Gak papa, Non.”
“Iya sudah Bibi panggil Kak Arga ya, aku mau ke kamar dulu. Jangan bilang kalau yang masak ini aku, karena aku takut, kalau misal Kak Arga tau, dia gak mau makan masakan aku. Oh ya ini juga bekal buat Kak Arga sudah aku siapkan. Aku takutnya Kak Arga nanti siang gak pulang, jadi aku bawakan bekal sekaligus,” ucapnya. Padahal tanpa dia tau, Arga sudah melihatnya tadi kalau Hana sendirilah yang memasak untuk sarapan pagi kali ini.
“Baik, Non.”
Hana pun langsung pergi ke kamarnya sedangkan Bibi Luna, ia pergi ke kamar Arga. Ia mengetuk pintu tiga kali, tak lama kemudian Arga pun membukakan pintu.
“Ada apa, Bi?” tanya Arga dengan pakaian yang sudah rapi dan siap pergi bekerja.
“Sarapan pagi sudah siap, Tuan,” ucapnya menunduk.
“Iya, bentar lagi aku turun,” balasnya.
“Kalau gitu, saya pamit ke bawah lagi.” Bibi Luna pun segera pergi dari hadapan Arga. Ia pergi menuju dapur, sedangkan Arga ia langsung keluar dari kamarnya dan pergi menuju ruang makan.
“Ini apa, Bi?” tanya Arga, melihat ada bekal di samping piringnya.
“Oh itu bekal makan siang buat, Tuan,” jawabnya.
“Siapa yang buat?” tanya Arga namun Bibi memilih bungkam karena ia bingung mau jawab apa.
Melihat Bibi diam, Arga pun langsung mengalihkan pertanyaan.
“Nanti aku gak pulang ya, Bi. Aku mau keluar kota sekitar tiga hari,”
“Iya, Tuan.”
Setelah itu Arga pun langsung menikmati sarapan paginya, dan “Wow”, masakan yang di masak oleh Hana sangat lezat. Bahkan bumbunya seperti pas di lidah.
“Aku gak nyangka masakannya selezat ini,” gumam Arga dalam hati.
Ia pun makan dengan lahap bahkan ia sampai nambah dua kali, Bibi Luna yang melihatnya pun merasa bahagia karena Tuannya itu mau makan masakan Hana bahkan sampai nambah dua kali.
Selesai makan, Arga pun langsung siap-siap bekerja, tak lupa ia membawa bekal yang sudah di siapkan oleh Hana.
“Hana, terima kasih sudah menyiapkan makanan selezat ini. Maaf aku belum bisa memperlakukan kamu dengan baik,” ucap Arga dalam hati. Ia pun segera berangkat dengan membawa koper kecil yang berisi perlengkapannya karena ia ada bisnis di luar kota yang mengharuskan dia pergi ke sana selama tiga hari ke depan. Karena pertemuan kali ini dengan cliennya tak bisa di wakilkan oleh siapapun dan ia pergi ke sana bersama Anton yang merupakan sahabat sekaligus tangan kanan yang juga merangkap sebagai sekertarisnya.