Hana segera ambil wudhu dan sholat Isya’ karena ini sudah memasuki waktu sholat Isya’. Selesai sholat, ia membuka laptopnya dan mulai menulis cerita yang akan ia upload di beberapa platform.
Ia menulis cerita sampai jam sebelas malam. Setelah menyelesaikan semuanya, barulah ia menutup laptopnya dan membuka hpnya.
Seharian ini, ia tak membuka Hp nya sama sekali. Ada beberapa pesan dari Keyla, Mama Dara, Bunda Sandra dan juga Revan.
Hana pun membuka satu persatu pesan itu dan membalas pesan mereka.
From Keyla:
Asslalamualaikum, Hana. Bagaimana kabarnya? Kak Arga memperlaukan kamu dengan baik, kan?
To : Keyla
Waalaikumslaam, Key. Kabar aku baik, Key. Dan Kak Arga memperlakukan aku dengan sangat baik. Kamu jangan khawatirin aku. Maaf jika aku sering Off.
From : Mama Dara
Assalamualaiku, Nak. Gimana pindahannya? Kamu betah di sana? Kalau Arga kasar sama kamu, bilang sama Mama ya. Biar nanti Mama yang akan marahin dia.
To : Mama Dara
Waalaikumsalam, Ma. Alhamdulillah aku betah di sini, Ma. Rumahnya luas dan bagus. Di sini ada Bibi Luna juga yang nemenin aku nantinya. Kak Arga, Alhamdulillah dia baik banget sama aku, Ma. Jadi, Mama jangan terlalu menghawatirkan aku karena aku, baik-baik aja di sini.
From : Bunda Sandra
Assalamualaikum, Sayang. Gimana kamu di sana? Maafkan Bunda ya, Nak. Karena Bunda sudah merenggut kebahagiaan kamu, Maaf karena Bunda sudah memaksa kamu untuk menikah dengan calon ipar kamu. Maaf karena Bunda sudah bersikap egois dengan memisahkan kamu dengan Nak Revan. Sungguh, bunda melakukan ini karena terpaksa. Ini demi kebaikan kita semua. Semoga kamu di sana baik-baik aja dan bisa mencintai Nak Arga, dia laki-laki yang baik. Bunda percaya kamu akan bahagia dengannya.
To : Bunda Sandra
Waalaikumsalam, Bu. Aku di sini baik-baik aja. Terima kasih sudah menikahkan aku dengan Kak Arga, dia emang laki-laki baik dan aku bersyukur akan hal itu.
From : Kak Revan
Assalamualaikum, Sayang. Maaf ya baru bisa menghubungi kamu, soalnya aku lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Oh ya, dua minggu lagi aku akan pulang. Aku gak sabar pengen ketemu kamu, kangen banget soalnya hehe. Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Sejak kemarin aku mimpi buruk terus tentang kamu. Aku harap di manapun kamu berada, Allah selalu menjaga dan melindungi kamu, bidadariku.
Membaca chat dari Revan, membuat Hana lagi-lagi menitikkan air mata. Sungguh, ia bahagia karena Revan menghubunginya dan kangen padanya. Tapi di sisi lain, ia sudah tak berhak untuk mengharapkan lebih dari Revan, karena saat ini statusnya sudah beda, ia bukan lagi single.
Kini, ia telah menjadi seorang istri. Tapi sayangnya, Revan belum mengetahui akan hal itu. Keyla pasti belum menceritakannya, jika dia sudah menceritakannya, pasti Revan tak mungkin mengirim pesan seperti ini.
Hana memilih untuk tak membalas pesan itu, karena ia sendiri pun bingung mau membalas apa. Tak mungkin ia jujur, tentang statusnya saat ini. Ia butuh waktu yang tepat untuk menjelaskannya agar tak terjadi kesalah fahaman.
Hana membuka jendela, ia membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya.
Ia melihat ke arah langit, di mana di sana mulai tampak beberapa bintang yang menghiasi indahnya malam.
“Dulu jam segini, aku sudah menikmati tidur lelapku, tapi sekarang, jangankan tidur, bahkan hati dan fikiranku saja, sedang kacau balau. Lalu bagaimana mungkin aku bisa memejamkan mata dan menikmati tidurku, seakan semuanya baik-baik aja,” gumam Hana.
Saat Hana tengah merenungi kehidupannya, ia mendengar suara mobil. Mungkin itu suara Arga yang baru pulang.
Hana pun segera keluar dari kamarnya dan saat ia baru aja sampai di ruang tamu, ia melihat Arga yang membuka pintu dengan tampilan yang acak-acakan.
“Kak Arga dari mana?” tanya Hana lembut.
“Ngapain kamu nanya-nanya, Hah! Aku mau kemana kek, itu bukan urusan kamu! Jangan berfikir karena kamu sudah jadi istri aku, kamu berhak mengatur hidup aku!” bentak Arga, sambil berjalan dan menyenggol lengan Hana dengan keras hingga membuat Hana hampir saja terjatuh.
“Dasar lemah,” ucapnya sinis. Lalu ia berjalan menaiki tangga dan menuju kamarnya.
“Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah,” Hana membaca istigfar berulang-ulang sambil memegang dadanya. Di saat ia dalam keadaan marah, ia akan mengucap istigfar untuk menenangkan hatinya.
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Beri aku kesabaran dalam menghadapi sifat suamiku. Dan bukakanlah hatinya, agar ia bisa menerimaku sebagai istrinya,” ucap Hana dalam hati.
Ia mengunci pintu ruang tamu, lalu ia kembali ke kamarnya. Ia mengambil wudhu, lalu sholat dan membaca Al Qur’an, di saat-saat seperti ini, ia hanya ingin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Apalagi yang bisa ia lakukan selain memohon pertolonganNya.
Hana terus membaca Al Qu’ran hingga akhirnya matanya mulai merasa ngantuk dan akhirnya ia ketiduran dengan Al Qur’an yang masih ada dalam pangkuannya.
Ia bangung saat jam alarm di hpnya berbunyi. Ia segera bangun, mandi untuk menghilangkan rasa ngantuk. Lalu ia sholat taubat, sholat tahajjud dan sholat witir. Lalu lanjut wiridan, sambil nunggu Adzan Shubuh tiba.
Saat adzan Shubuh, ia segera menunaikan sholat dua rakaat. Lalu setelah selesai, ia pun pergi ke dapur, di sana ia melihat Bibi yang tengah siap-siap.
“Bibi mau kemana?” tanya Hana.
“Mau ke pasar, Non,” jawabnya.
“Naik apa?”
“Jalan kaki, Non.”
“Jauh gak?” tanyanya.
“Sekitar setengah jam, sekalian olah raga,” ucap Bibi terkekeh.
“Aku boleh ikut ya, Bi,”
“Tapi Non, jauh loh, nanti Non kecapean,”
“Enggak kok, Bi. Lagian aku ada yang mau di beli juga,”
“Iya sudah, ayo mumpung masih pagi. Soalnya habis ini, Bibi mau masak untuk sarapan pagi buat Tuan Arga,”
“Iya, Bi. Bentar ya, aku mau ganti hijab dulu. Gak enak pakai hijab ini, terlalu pendek,” ujarnya.
Lalu Hana pun segera bersiap-siap, ia juga tak lupa membawa dompetnya. Siapa tau ada baju gamis yang di jual di sana dengan harga murah, sehingga ia tak perlu belanja lewat online.
Bibi Luna dan Hana pun akhirnya jalan kaki berdua menuju pasar. Bibi Luna merasa senang karena akhirnya ia punya teman bicara sepanjang jalan, biasanya ia hanya diam dan fokus ke jalan. Ia memang memilih selalu jalan kaki, karena sekalian ia olah raga, agar sehat. Di usia yang tak lagi muda, ia harus pintar-pintaar menjaga kesehatannya, salah satunya dengan rajin olah raga dan makan makanan sehat.
“Jalan-jalan jam segini enak ya, Bi. Udaranya seger,” ucap Hana yang menikmati jalan di pagi hari.
“Iya, Non. Makanya Bibi suka jalan pagi setiap hari,”
“Emang Bibi belanjanya setiap hari?”
“Iya, Non. Tapi kadang ada liburnya juga sih, soalnya Bibi kurang suka menyimpan sayur di dalam kulkas, lebih enak beli dan langsung di masak,” jawabnya.
“Oh. Di pasar, ada yang jual baju gamis gak, Bi?” tanyanya.
“Ada, Non. Harganya juga murah-murah, dari lima puluh ribu sampai tiga ratus ribu, kadang Bibi juga kalau ke pasar, sering beli daster yang tiga puluh lima ribuan,” sahutnya terkekeh.
“Oh, Syukurlah. Soalnya aku mau beli gamis, Bi,” balasnya.
Tak terasa setengah jam pun berlalu, dan kini mereka sudah sampai di pasar yang cukup ramai. Hana yang emang sudah terbiasa pergi ke pasar sebelum menikah pun, merasa gak kaget lagi. Ia dan Bibi Luna langsung masuk ke dalam pasar untuk membeli sayur, daging dan beberapa bumbu yang sudah habis.
Setelah selesai, barulah Bibi Luna mengantarkan Hana untuk membeli Gamis. Hana membeli sekitar tujuh gamis lengkap dengan hijabnya, kaos kaki, dan juga daleman. Hana juga membelikan gamis dan daster untuk Bibi. Awalnya Bibi Luna menolak, tapi karena Hana memaksa, akhirnya Bibi Luna pun menerimanya.