Saat ini Hana dan Arga sudah ada di rumah milik Arga, rumah yang Arga beli beberapa bulan lalu. Sebenarnya rumah itu untuk Hani, tapi sayangnya, Hani sudah meninggalkan dirinya, jadi mau gak mau, rumah ini akan ia tempati bersama Hana, wanita yang kini telah sah jadi istrinya. Namun bagi Arga, Hana hanyalah seorang pengganti, dan tak akan pernah menjadi pemeran utama dalam hatinya.
Di rumah itu, ada Bibi Luna, seorang asisten rumah tangga yang selama ini selalu menjaga kebersihan rumah itu agar selalu terlihat rapi.
“Kamarmu ada di bawah, di samping kamar Bibi. Jadi jangan pernah sesekali pergi ke lantai atas, mengerti!” ucapnya ketus membuat Hana menganggukkan kepala.
“Baik, Kak,” jawab Hana, tanpa membantah sepatah katapun.
Setelah itu, Arga pun langsung naik ke lantai atas, ia tak perlu membawa barang banyak, karena di lantai atas sudah ada baju dan perlengkapan dirinya.
Sedangkan Hana, ia hanya membawa tas yang berisi baju gamis, mukenah, Alquran, Hp dan laptop. Karena sebelumnya, ia tak tau kalau akan menjadi pengantin wanitanya, jadi ia hanya membawa baju seadanya. Dan ia tak mungkin pulang dulu ke rumah hanya untuk mengambil baju miliknya karena itu pasti akan merepotkan Arga dan pasti akan membuat Arga marah.
Jadi ia akan membeli baju online aja untuk keperluannya, sehingga ia tak perlu pergi keluar. Ia akan berusaha untuk selalu hati-hati agar tak sampai membuat Arga, laki-laki yang telah berstatus jadi suaminya itu marah padanya.
“Non, ayo Bibi antarkan ke kamar,” tutur Bibi sopan.
“Iya, Bi. Makasih ya,” ujar Hana tersenyum ramah. Bibi sedikit banyak sudah mengerti masalah majikannya, itu. Karena kemarin ia ikut hadir di acara pernikahan sang majikan.
Bibi pun mengantarkan Hana ke kamarnya, “Ini kamar Non Hana, dan di sebelah kamar Non, itu kamar Bibi. Jadi kalau Non butuh sesuatu, tinggal panggil Bibi aja,” ucapnya.
“Makasi ya, Bi,”
“Iya Non, kalau gitu Bibi permisi dulu,”
“Baik, Bi.”
Setelah Bibi Luna keluar, Hana pun langsung masuk kamar dan menutup pintunya, tanpa ia kunci.
Ia menaruh tasnya di atas kasur, lalu ia membuka isi tas itu. Ia mengambil laptop dan menaruhnya di atas meja yang tersedia di kamar itu, beserta charger dan juga Hp nya.
Sedangkan bajunya ia taruh di dalam lemari, baju yang hanya ada dua biji. Sedangkan mukenah dan sajadah serta Al Qur’an, ia taruh di samping tempat tidur karena bentar lagi ia akan sholat, karena bentar lagi akan memasuki waktu sholat Maghrib.
Hana lalu berjalan ke arah jendela, ia membuka jendela itu dan melihat ke halaman yang cukup luas di samping kamarnya.
“Hani, seharusnya kamulah yang ada di sini, bukan aku. Hani, aku menyayangimu, tapi sayangnya kamu selalu membuat aku menderita, entah apa kesalahanku hingga kamu selalu melimpahkan masalahmu ke aku. Dan kini, aku haru terjebak dengan pernikahan yang tak pernah aku inginkan,” gumam Hana dalam hati. Ia meneteskan air mata, jujur ini sulit baginya. Tapi apalah daya, Tuhan memberikan takdir yang begitu menyakitkan, dan ia sebagai hambanya, hanya bisa menerima semua takdir itu dengan lapang d**a.
“Kak Revan, maafin aku, Kak. Maaf sudah mengkhianatimu. Maaf, karena aku sudah ingkar janji, aku harap Kak Revan mengerti, kalau aku pun sama tersiksanya di sini. Aku gak bahagia, Kak. Aku melakukan ini hanya karena tak ingin membuat kedua orang tauku malu.” Hana menghapus air matanya. Sakit, itulah yang ia rasakan, rasanya sangat sesak.
Ia menangis seorang diri, meratapi nasibnya yang tak beruntung.
Adzan Maghrib terdengar, ia pun segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat maghrib di kamarnya. Untungnya di kamar ini di lengkapi dengan kamar mandi, sehingga ia tak perlu pergi keluar hanya untuk mengambil wudhu.
Saat Hana sedang melaksanakan sholat, tiba-tiba Arga membuka pintu kamarnya, namun melihat Hana yang tengah sholat, ia pun menutup pintunya kembali dan pergi gitu aja, entah mau kemana.
Sedangkan Hana sendiri, selesai ia sholat, ia masih menyempatkan waktu untuk wiridan dan mengaji walaupun hanya satu lembar. Yang penting rutin setiap hari.
Selesai mengaji, barulah ia pergi ke dapur, dan di sana sudah ada Bibi yang sedang menggoreng sesuatu.
“Bibi lagi goreng apa?” tanya Hana lembut.
“Goreng ikan, Non,” jawabnya.
“Boleh aku bantu, Bi,” ucapnya.
“Enggak usah, Non. Lagian ini sudah mau selesai,”
“Gak papa, Bi. Lagian aku bingung mau ngapain, boleh ya Bi,” pinta Hana, melihat wajah Hana yang memelas, Bibi pun menganggukkan kepala.
“Baiklah, Non yang gantiin Bibi goreng ya, Bibi mau nyuci sayurnya dulu,”
“Iya, Bi.”
Lalu Hana pun menggoreng ikan, sedangkan Bibi mencuci sayur di wastafel yang gak jauh dari Hana.
“Bi, boleh aku nanya sesuatu?” tanya Hana.
“Boleh, Non,” jawabnya.
“Apa Hani pernah ke sini?”
“Pernah, tapi hanya dua kali,” sahutnya.
“OH, dia menginap di sini, Bi?”
“Enggak Non, cuman beberapa jam aja, setelah itu, Non Hani pergi bareng Tuan Arga,”
“Oh, terus sekarang Kak Arga kemana Bi?”
“Keluar, Non. Emang Tuan gak pamitan sama Non?”
“Enggak, Bi. Cuman tadi aku sempat denger pintu kamarku di buka pas sholat, mungkin itu Kak Arga ya Bi, yang mau pamit ke aku,”
“Mungkin, Non.”
“Masakan kesukaan Kak Arga apa, Bi?”
“Tuan Arga mah, apa aja di makan Non, dia gak pemilih. Tapi paling suka sih, ayam bakar pedas manis, sama sambal lalu lalapan terus kerupuk, kalau sudah ada ayam bakar pedas manisnya, bisa nambah makannya, Non,”
“Oh, terus apalagi yang ia suka dan gak ia suka, Bi?”
“Apa ya Non, Bibi sih kurang faham juga Non, karena bibi juga termasuk baru kerja di sini, jadi kurang faham, cuman setiap kali bibi masakin, Tuan tak pernah komplen dan bibi tau masakan kesukaan Tuan, karena setiap Bibi masak itu, Tuan selalu nambah makannya,” jawabnya jujur.
“Oh gitu ya, Bi. Makasih ya Bi, sudah jawab pertanyaan aku,”
“Sama-sama, Non.”
Setelah selesai memasak, Hana pun membantu Bibi untuk menata semua makanan di atas meja makan. Hana juga membantu Bibi untuk cuci piring, sehingga dapur yang tadinya sedikit berantakan, kini sudah mulai rapi lagi.
“Bi, Kak Arga pulang jam berapa ya?” tanyanya sambil melihat jam yang tergantung di dinding.
“Sepertinya Tuan Arga tak akan pulang malam ini, Non,”
“Terus makanan ini gimana, Bi?” tanyanya, merasa kasihan dengan nasib makanan yang sudah terlanjur di masak.
“Non makan aja dulu, nanti separuhnya taruh aja di dalam kurung nasi. Kalau nanti misalkan Tuan pulang, biar langsung makan,”
“Kalau gitu, temenin aku makan ya, Bi. Aku gak terbiasa soalnya makan sendiri,”
“Tapi, Non ….” Bibi merasa tak enak hati, makan sama majikannya sendiri.
“Ayolah, Bi. Jangan anggap aku sebagai majikan, tapi anggap aku sebagai putri Bibi sendiri, biar Bibi gak lagi sungkan sama aku,” ucapnya membuat Bibi terharu.
“Baiklah, Bibi akan temanin Non makan.”
Akhirnya Bibi dan Hana pun makan malam bersama, selesai makan. Hana langsung mencuci piring di bantu oleh Bibi, lalu ia merapikan sisa makanan yang masih banyak, lalu menutupinya dengan penutup tujung saji, agar tak ada hewan masuk.
“Bi, aku ke kamar dulu ya,” ucap Hana, Bibi Luna pun menganggukkan kepala.