Sikap Kasar Arga

1205 Kata
Setelah selesai memasak, Hana, Dara dan Sandra langsung menatanya di meja makan yang berbentuk persegi panjang. Di sana ada sekitar tiga puluh kursi. Meja makan ini memang dibuat agak panjang agar jika ada acara seperti ini, tak perlu pusing mencari tempat makan yang lain. “Hana, kamu panggil suamimu ya, suruh ke bawah, sarapan paginya sudah siap,” perintah Sandra kepada putrinya. “Iya, Bunda.” Hana pun pergi ke lantai atas, namun saat ia mau membuka pintu, ia seperti mendengar suara suaminya yang marah-marah. “Pokoknya saya tidak mau tau, kalian harus cari Hani, tak peduli jika harus keluar negeri. Saya minta, dalam waktu tiga hari, kalian sudah harus mendapatkan info.” Setelah itu Arga pun menutup Hp nya dengan sangat kesal. Ia harus menemukan Hani secepatnya, ia ingin mendengar sendiri, apa alasan dia memilih kabur dari pernikahannya. Sungguh, ia masih penasaran apa yang membuat Hani tega melakukan hal ini. Sedangkan Hana yang mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat hanya mengelus d**a, “Apakah Kak Arga masih berharap sama Hani? Apakah jika Hani datang, Kak Arga akan langsung menceraikan aku dan menikah dengan Hani?” tanya Hana dalam hati. Saat ia bengong memikirkan hal itu, tiba-tiba pintu terbuka membuat Hana kaget. “Ngapain kamu di depan pintu? Nguping?” bentak Arga membuat Hana terkejut. “Maaf, Kak. Aku tadi di suruh Bunda buat manggil Kak Arga untuk sarapan pagi,” sahut Hana gugup. Entahlah ia selalu saja merasa gugup jika berbicara dengan Arga. Karena Arga selalu saja bersikap dingin padanya, padahal Hana tak melakukan kesalahan apa-apa. “Oh.” Arga pun langsung turun ke bawah menuju ruang makan di mana di sana sudah kumpul kedua orang tuanya, mertuanya, saudaranya dan semua keluarga besarnya yang memang belum pulang. Sedangkan Hana ia berjalan di belakang Arga, lalu ia duduk di samping Arga karena hanya kursi itu yang kosong. Selesai sarapan pagi, Mahendra meminta istri, anak dan menantunya serta besannya ngobrol santai di taman belakang sambil menikmati teh hangat dan juga kue kering untuk camilan. Di depan mereka ada taman berbentuk persegi empat, yang di tengahnya ada pancuran air. Bawahnya ada belasan Ikan koi. Di pinggir-pinggir taman, ada berbagai macam bunga namun lebih banyak bunga anggrek putih dan mawar putih. “Arga, rencanamu setelah ini mau tinggal di mana?” tanya Mahendra santai. “Aku mau tinggal di rumah yang sudah aku beli beberapa bulan lalu, Pa,” jawab Arga sambil menatap ke arah papanya sejenak, lalu kembali melihat ke pancuran air. “Kamu yakin? Kenapa gak tinggal bersama Mama dan Papa aja di sini, lagian kamu itu hanya anak satu-satunya Papa, di sini juga rumahnya luas, ada banyak kamar yang kosong,” ucap Mahendra yang merasa keberatan jika harus pisah dengan anaknya. “Apa yang di katakan Papa benar, Nak. Kenapa gak tinggal bersama kami aja di sini. Jika kamu dan Papa kerja, Mama gak akan kesepian karena ada Hana yang menemani Mama ngobrol bareng, belanja bareng, jalan-jalan bareng, masak bareng, ngemall bareng. Jika kamu bawa Hana pergi, Mama pasti akan kesepian lagi jika Papamu kerja seharian di kantor apalagi jika sampai lembur dan pergi ke luar kota. Mama hanya di temani ART saja,” keluh Dara yang juga keberatan dengan jawaban putranya itu. “Maaf, Ma. Tapi aku ingin belajar mandiri. Lagian aku kan sudah punya rumah sendiri, jadi sayang jika tak ditempati. Jika aku terus-menerus tinggal di sini, aku akan selalu bergantung sama Mama dan Papa,” jawab Arga berbohong karena alasan sebenarnya ia malas jika harus satu kamar dengan Hana. Ia tak mau jika Mama dan Papanya terlalu ikut campur masalah rumah tanggannya. Untuk itu, ia ingin membawa Hana pergi dari rumah ini agar ia bebas melakukan apapun terhadap Hana. “Mungkin apa yang dikatakan Arga ada benarnya. Bagaimanapun jika sudah menikah, alangkah baiknya jika berpisah rumah agar membuat keduanya merasa nyaman,” ucap Salim yang ikut angkat bicara membela sang menantu. “Lagian rumah yang aku tempati nantinya gak jauh dari sini, gak sampai sejam sudah sampai. Jika Mama atau Papa kangen, Mama dan Papa bisa ke sana. Atau kalian bisa menelfon aku untuk ke sini bareng Hana,” ujar Arga, sedangkan Hana memilih diam karena takut salah bicara. “Iya sudah gak papa, jika memang itu mau kalian. Terus kapan kamu akan pindah?” tanya Mahendra mengalah. “InsyaAllah nanti sore, Pa,” jawab Arga. “Apa gak terlalu cepat. Paling gak, menginaplah di sini selama seminggu,” tutur Dara. “Maaf, Pa. Aku gak bisa,” kekeh Arga yang tak mau terlalu lama berada di rumah orang tuanya. “Baiklah jika memang itu mau kalian, Papa gak akan maksa. Tapi Papa mohon, tolong jaga Hana dengan baik ya. Jangan sakiti dia. Jangan buat Mama, Papa, Ayah dan Bunda kecewa sama kamu,” ujar Mahendra berharap putranya itu bisa menerima Hana dan memperlakukan Hana dengan sangat baik. “Papa jangan khawatir, aku ini suaminya. Tentu sebagai seorang suami, aku akan memperlakukan Hana dengan baik,” dusta Arga, karena kenyatannya ia tak akan pernah bisa memperlakukan Hana layaknya istri-istri yang lain. Arga akan melakukan sesuatu yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh Hana seumur hidupnya. “Iya, Papa percaya sama kamu.” Mahendra tersenyum ke arah putranya dan juga menantunya. Tanpa ia tau bahwa dengan membawa Hana pergi dari sini, bukanlah hal yang tepat karena Arga akan sesuka hati menyakiti Hana. “Aku dan Sandra juga mau pamit hari ini mau pulang ke rumah,” ujar Salim to the point. “Loh aku fikir kalian akan menginap di sini selama beberapa hari ke depan, kenapa buru-buru?” tanya Mahendra kaget, tak menyangka jika besannya akan pulang hari ini juga. “Karena aku dan Sandra masih ada urusan yang gak bisa di tinggalkan. InsyaAllah kami akan sering-sering ke sini untuk silaturahmi,” jawab Salim jujur. Memang setelah ini, ia dan sang istri mempunyai urusan yang sangat penting dan urusan itu ialah mencari putrinya, Hani yang kini entah ada di mana. “Kami akan bantu kalian untuk mencari Hani. Kami akan menyuruh orang-orang kami, untuk menemukan keberadaan Hani,” ucap Dara yang seakan tau apa yang ada dalam fikiran Salim dan juga Sandra. Bagaimanapun dirinya seorang ibu, kesalahan sebesar apapun seorang anak, tetap orang tua akan memaafkannya dan akan mencarinya untuk memastikan anaknya baik-baik saja. “Terima kasih, Jeng Dara.” Sandra sangat bersyukur mempunyai besan yang sangat welcome dan mau membantu dirinya mencari Hani setelah apa yang dilakukan Hani kepada mereka. “Sama-sama.” Dara hanya tersenyum membalas ucapan besannya itu. Mendengar kata Hani disebut, Hana menoleh ke arah sang suami, ia tau bahwa kini suaminya telah menyuruh seseorang untuk mencari Hani. Setelah itu mereka pun mengobrol sebentar hingga akhirnya kedua orang tua Hana pamit pulang. Setelah itu, Arga pun juga pamit dengan alasan ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan padahal ia ingin menemui bawahannya untuk mencari tau info apakah Hani sudah ditemukan apa belum, Arga juga akan turun tangan sendiri jika perlu, agar bisa segera menemukan kekasihnya yang memilih pergi itu. Kini hanya ada Hana, Dara dan Mahendra di rumah itu. Mereka menemani para saudara dan keluarga jauh yang masih ada di sana yang belum pulang. Hana yang gampang mudah berbaur membuat semua orang menyayanginya apalagi Hana terlihat sangat sopan sekali dan seperti menjaga tutur katanya agar tak menyingunggung siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN