Perbedaan Hana dan Hani

1293 Kata
Hana pun meninggalkan Sandra di kamar tamu, lalu ia berjalan menuju kamar Arga di lantai dua. Ia emang sudah tau kamar Arga sehingga ia tak perlu kebingungan mencarinya. Sejujurnya, kakinya masih terasa sakit jika dibawa naik tangga, mungkin efek dia memakai sepatu hak tinggi selama beberapa jam. Hana emang beda dengan Hani, Hana tidak suka memakai sepatu hak tinggi atau biasa disebut dengan high heels. Hana lebih nyaman dengan sandal jepit atau sepatu biasa. Beda dengan Hani yang jika berada di luar rumah, tak pernah lepas dari high heel. Karena Hani selalu berusaha untuk tampil mewah di mana pun ia berada, berbeda dengan Hana yang lebih suka berpenampilan biasa. Seperti gamis atau kaos panjang yang tak menampilkan bentuk tubuhnya. Memang jika dibandingkan Hana dan Hani bagai langit dan bumi. Hana pintar masak, sedangkan Hani hanya bisa makan dan tak tau caranya memasak karena memang dia tidak suka pergi ke dapur. Ia taunya hanya shopping dan menghabiskan banyak uang. Hana suka memakai baju longgar, berbeda dengan Hani yang suka memakai baju yang menampakkan tubuhnya yang sexi. Hana yang rajin ibadah, berbanding terbalik dengan Hani yang sholat wajib aja banyak yang bolong. Ia hanya sholat jika ada yang mengingatkan saja. Hana selalu berusaha menghindar dari masalah, berbeda dengan Hani yang suka cari masalah karena ia suka tantangan. Hana yang selalu mengalah berbeda dengan Hani yang selalu bersikap egois dan hanya memikirkan diri sendiri dan mengorbankan saudara kembarnya. Sungguh walaupun mereka berdua itu kembar tapi hanya wajahnya saja yang sama, tapi tidak dengan sikap dan wataknya. Tak terasa Hana sudah sampai di depan pintu kamar Arga, dengan hati-hati Hana mengetuk pintu kamar Arga. Tok … tok … tok …. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. “Ngapain kamu ke sini?” tanya Arga ketus membuat Hana bingung harus ngomong apa. “Hmm itu sama Bunda, aku disuruh tidur di sini katanya tidak baik tidur berpisah nanti dilihat orang,” jawab Hana gugup, ia memilih menunduk dan tak berani menatap wajah Arga yang terlihat garang. “Iya udah masuk,” ujarnya masih dengan nada dingin. Hana pun masuk ke dalam kamar dan ia melihat kamar itu sudah tak ada lagi bunga atau balon seperti yang ia lihat sebelumnya. Semuanya bersih dan terlihat seperti kamar biasa, tak lagi seperti kamar pengantin. Mungkin Arga meminta seseorang untuk membersihkan kamarnya sebelum ia tempati. Arga menutup pintu dengan keras hingga membuat Hana terlonjak kaget. “Nih, kamu tidur di bawah,” ujar Arga yang tak sudi berbagi kasur dengan Hana. Hana pun mengambil bantal dan kasur lantai yang diberikan oleh Arga. Hana hanya bisa menerima dengan pasrah, inilah nasib menjadi pengantin pengganti. Jangan harap bisa diperlakukan dengan istimewa. “Ingat ya, jangan sampai kamu ngadu sama Ayah dan Bundamu. Karena jika itu terjadi, kamu akan mendapatkan lebih dari ini,” ancam Arga sambil naik ke atas tempat tidur. “Iya, Kak,” jawab Hana dengan suara lirih. Ia lalu tidur di kasur lantai dengan satu bantal, tanpa ada selimut dan yang lainnya. Namun walaupun begitu, ia tak marah sedikitpun, ia sadar bahwa Arga melakukan ini karena ia sedang melampiaskan kekecewaannya terhadap Hana. Tak lama kemudian, Hana mendengar suara dengkuran halus dari Arga. Sungguh sebenarnya Hana tidak bisa tidur dengan lampu yang masih menyala, rasanya susah untuk memejamkan mata. Ia lebih suka tidur dengan lampu tidur yang tak terlalu terang menderang. Hingga adzan shubuh terdengar, Hana tetap tak bisa menutup kedua matanya hingga semalaman ia memilih untuk menulis novel di aplikasi berbayar. Lumayan pendapatan dia dari menulis bisa menghasilkan sedikitnya dua belas juta dan paling banyak bisa mencapai di atas lima puluh juta.   Sejak kuliah, Hana emang lebih suka menghabiskan waktunya untuk menulis novel atau main social media sekedar untuk promo dan yang lainnya. Uang yang ia dapatkan, sebagian ia tabung untuk memenuhi kebutuhannya sendiri hingga tak terus menerus bergantung sama orang tua dan sebagian lagi, ia bagikan ke panti asuhan dan fakir miskin. Dan kini uang di ATM nya sudah hampir satu miliar, karena Hana menulis di beberapa aplikasi. Dan ia juga menulis sudah hampir tiga tahun lamanya, jadi sudah sepantasnya ia bisa menghasilkan uang sebanyak itu dan sayangnya tak ada yang tau tentang apa yang ia lakukan. Karena memang ia selalu merahasiaannya sendiri tanpa memberitahu siapapun. Setelah adzan shubuh selesai, Hana langsung cuci muka dan ia pergi ke kamar tamu, di mana ia menyimpan baju dan mukenahnya, tadi malam saat ia pindah ke kamar Arga, ia lupa membawanya. Jadi sekarang ia segera pergi ke kamar tamu untuk mengambil barang-barangnya lalu ia segera kembali ke kamar Arga lagi. Sesampai di kamar Arga, ia langsung mandi dan mengambil wudhu, lalu ia segera memakai pakaiannya dan melaksanakan sholat shubuh. Lanjut dengan membaca Alquran dengan suara kecil agar tak mengganggu Arga yang lagi tidur. Sebenarnya ingin rasanya Hana membangungkan Arga, namun ia tak berani untuk melakukannya. Setelah jam menunjukkan puku setengah enam pagi, Hana memilih menyudahi baca Al Quran lalu ia segera merapikan kamar Arga agar terlihat bersih. “Aku ke dapur dulu deh, bantu bibi buat sarapan pagi,” gumam Hana sambil pergi dari kamar Arga menuju dapur. Sedangkan Arga sebenarnya sudah bangun sedari tadi, namun ia memilih pura-pura tidur, barulah setelah Hana pergi, ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. “Pagi semua,” sapa Hana membuat beberapa orang menoleh ke arah Hana. “Loh sayang kok sudah bangun, biasanya kalau pengantin baru kan bangunnya siang,” goda Dara, sang ibu mertua. “Kalau gak bangun, nanti ketinggalan sholat shubuh Tante, eh Mama maksudku,” ucap Hana tersenyum malu. Rasanya sangat canggung sekali, yang biasanya manggil Tante, sekarang mendadak manggil Mama. “Haha ia kamu benar, kamu mau ngapain di dapur?” tanya Dara. “Mau bantuin Mama sama yang lain buat sarapan pagi,” sahut Hana sambil mengambil sayur yang ada di atas meja. Ia seakan sudah mengerti harus berbuat apa. “Wah ... kamu gak usah repot-repot bantuin Mama, lagian juga kan ada Bunda kamu sama Bibi Ijah dan Bibi Imah, jadi kamu di kamar aja, tidur lagi atau duduk santai di taman,” ujar Dara lembut. “Enggak enaklah, Ma. Enakan di dapur, bisa bantu-bantu masak, lagian juga aku sudah terbiasa, Ma. Setiap pagi bantuin Bunda masak,” ucap Hana, Dara yang mendengar pun hanya manggut-manggut saja. Entah Dara harus merasa sedih atau bersyukur Hani pergi, karena dengan begini putranya bisa menikah dengan Hana. Bukan Dara tak menyukai Hani, tapi sebagai seorang wanita dan seorang ibu, Dara merasa Hana lebih cocok dibanding Hani karena Hana yang bisa segalanya berbeda dengan Hani. Hana pun membantu mereka memasak berbagai macam ikan dan sayur karena memang di rumah ini masih ada beberapa saudara yang belum pulang, tentu tak mungkin Dara hanya memassak sedikit seperti biasanya. Hana dan Dara terlihat sangat akrab, begitupun dengan Sandra dan para asisten rumah tangga. Dulu saat ada Hani, Dara tak terlalu akrab karena Hani seperti selalu menjaga jarak, terlebih setiap Dara mengajak Hani ke dapur, Hani selalu memakai banyak alasan karena ia yang memang tak suka di dapur. Dulu saat masih pacaran, setiap sebulan sekali atau dua kali, Arga pasti akan membawa Hani ke rumahnya. Mungkin Arga berharap Hani bisa akrab dengan kedua orang tuanya, nyatanya sampai Hani pergi, mereka pun belum bisa akrab sampai sekarang. Kalau bukan Arga yang jatuh cinta dan tergila-gila sama Hani, mungkin Dara memilih tak akan memberikan restu, apalagi setiap kali Dara menasehati pakaian yang dikenakan oleh Hani saat datang ke rumahnya, Hani selalu aja membantahnya hingga membuat Dara beberapa kali merasa geram. Sedangkan Hana, ia tak perlu dinasehati, karena ia sudah memakai gamis longgar dengan hijab yang sampai menutupi d**a, terlebih Hana sopan dan bisa memasak. Membuat Dana bersyukur dengan pernikahan putranya. Kadang takdir memang tak ada yang tau. Atau ini salah satu doa yang dikabulkan oleh Allah karena Dara selalu meminta agar Arga diberikan jodoh yang terbaik, Entahlah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN