Hutang Budi

1015 Kata
Setelah gak ada Keyla, Hana hanya berdiam diri, ia merenungi perjalanan hidupnya sedari dulu hingga sampai sekarang. Dan ia juga memikirkan bagaimana nasib pernikahannya setelah ini bersama Arga. “Hani, kamu emang saudaraku. Tapi dari dulu sampai sekarang, selalu kamu yang menjadi penyebab kesedihanku. Aku emang kecewa dan marah sama kamu, tapi jauh dilubuk hatiku. Aku masih menyayangimu, karena kamu adalah saudaraku, kita pernah hidup di dalam rahim yang sama dan dilahirkan di hari yang sama walaupun hanya beda dua menit saja. Dan kita sudah dibesarkan sejak kecil dan hidup berdampingan. Di mana pun kamu berada, aku cuma bisa berdoa kamu baik-baik aja di luar sana dan berharap agar kamu tak lagi berbuat masalah karena aku tak bisa lagi menolongmu seperti dulu,” ucap Hana dalam hati. Sedangkan di sebuah sudut ruangan, Arga dan Anton sedang membahas kepergian Hani. “Aku benar-benar gak menyangka, Hani tega melakukan hal ini,” ujar Anton. “Aku pun tak menyangka, Ton. Kadang aku mikir, apa salahku, sampai dia tega kabur dari pernikahan ini, padahal tadi malam, aku dan Hani masih vidio call dan dia terlihat bahagia dengan pernikahan ini, tapi sekarang, ia meninggalkan aku begitu saja,” keluh Arga. “Tapi walau bagaimanapun, kamu kini sudah menikah dan resmi menjadi suami Hana. Aku harap kamu memperlakukan Hana dengan baik, Ar. Jangan sampai kamu melampiaskan emosi kamu sama Hana. Ingatlah! Dia tidak bersalah, malah dia korban di sini, dia rela mengabaikan perasaannya demi kamu dan semua orang, agar tak menanggung rasa malu. Aku yakin, ia pasti tersiksa dengan pernikahan ini. Jadi aku mohon, jangan sampai kamu membuat dia menangis, sudah cukup apa yang ia lakukan hari ini buat kalian semua,” tutur Anton memberikan nasihat. “Aku gak tau, Ton. Jujur, setiap kali aku melihat Hana, hatiku sangat kesal. Aku seperti merasa emosi, mungkin karena wajah Hana sama seperti Hani, jadi setiap kali aku melihatnya aku ingin sekali memaki dan membuat dia membayar semua kesalahan yang dibuat oleh saudara kembarnya,” “Kamu gak boleh egois, Ar. Wajar jika mereka mempunyai wajah yang sama, namanya juga saudara kembar. Tapi kan mereka orang yang berbeda. Jika sampai kamu menyakitinya. Ingatlah, Ar. Penyesalan itu selalu ada di belakang. Iya sudah, kamu renungi aja ucapanku barusan, aku harap kamu tidak melakukan hal bodoh yang kelak pasti akan kamu sesali. Aku pamit mau pulang dulu.” Anton segera pergi meninggalkan Arga sendiri, ia ingin Arga merenungi ucapannya. Sungguh, ia tak ingin Arga sampai melakukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya sendiri kelak. Ia tak ingin Arga sampai menjadi pria kasar karena sakit hatinya. Arga yang di tinggal sendiri pun hanya bisa diama, ia melihat ke luar jendela di mana di sana banyak kendaraan yang terparkir. Sedangkan di dalam ruangan, masih banyak orang yang ngobrol sana-sini, menikmati hidangan dan lain sebagainya. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas, kedua orang tuanya yang tersenyum bahagia ngobrol dengan teman dan saudara jauhnya. Begitupun dengan kedua orang tua Hana, mereka juga terlihat bahagia. Andai Hana tidak berkorban, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini, yang ada mereka pasti sedih dan menahan rasa malu. “Hana, apa yang harus aku lakukan. Di satu sisi, aku berterima kasih sama kamu, tapi di sisi lain, entah kenapa aku membencimu. Aku benci karena saudara kembarmu tega melakukan hal seperti ini sama aku tanpa aku ketahui apa kesalahanku. Aku ingin melampiaskan emosi ini sama kamu.” Teriak Arga frustasi, teriakan yang tertahan hingga tak sampai menghebohkan ruangan di mana kini ia berada. Tepat jam 12 malam, semua orang sudah mulai pada pulang dan hanya ada satu, dua, tiga orang saja. Hanya saudara jauh yang memilih menginap karena akan pulang esok hari. Dan ada keluarga terdekat yang juga memilih menginap selama beberapa hari ke depan sambil menghabiskan waktu mereka di sini untuk jalan-jalan. Hana yang sudah berganti pakaian dengan baju rumahan, mencoba membaringkan tubuhnya di kasur sambil memainkan Hp. Namun saat ia asyik membuka social medianya, ada yang mengetuk pintu. Hana pun beranjak dari tempat tidurnya, ia segera memakai hijabnya dan berjalan ke arah pintu. Lalu ia membukanya secara perlahan. “Bunda,” sapa Hana melihat Sandra yang kini ada di hadapannya. “Boleh Bunda masuk?” tanya Sandra. “Iya.” Sandra pun masuk ke dalam kamar, tak lupa Hana menutup pintunya kembali. “Kenapa kamu tidur di sini hem?” tanya Sandra sambil menatap wajah putrinya. “Aku bingung Bun, mau tidur di mana, aku lebih nyaman tidur di kamar tamu dari pada tidur di kamar Kak Arga yang dihias sedemikian rupa. Lagian aku dan Kak Arga sebelumnya tak pernah deket walaupun saling kenal. Rasanya sungkan jika tiba-tiba aku masuk ke dalam kamarnya,” Hana menjelaskan panjang lebar tentang apa yang ia rasakan saat ini. Hana duduk di kasur di samping sang bunda. “Bunda ngerti apa yang kamu rasakan, tapi kamu gak boleh seperti itu. Bagaimanpun kamu dan Arga sudah menikah dan ini adalah malam pertama kalian. Hargai suamimu, pergilah ke kamarnya, jangan merasa sungkan, kalian bukan lagi calon ipar, tapi sudah resmi jadi suami istri,” ucap Sandra sambil mengelus kepala putrinya dengan lembut. “Bunda juga malu sama kedua orang tua Arga dan keluarga besarnya jika sampai mereka tau kalian tidur terpisah seperti ini, masa ia baru aja ijab qobul sudah langsung pisah kamar, nanti apa kata orang,” lanjut Sandra membuat Hana akhirnya menyetujuinya untuk pindah kamar. “Baiklah, aku akan pindah ke kamar Kak Arga,” tutur Hana tersenyum. “Terima kasih ya, Nak. Terima kasih sudah mau mengabulkan permintaan Ayah dan Bunda untuk menikah dengan Arga. Bunda merasa punya hutang budi sama kamu,” kata Sandra sambil mengengam tangan putrinya. “Bunda tidak perlu merasa punya hutang budi sama aku, sudah sepantasnya aku melakukan hal ini. Iya sudah, aku ke kamar Kak Arga dulu. Ah ya, Ayah sama Bunda menginap di sini kan malam ini?” tanya Hana sebelum ia pergi. “Ya, Ayah dan Bunda akan menginap di sini. Tapi besok setelah sarapan pagi, Ayah dan Bunda akan langsung pulang ke rumah,” jawab Sandra. “Oh, baiklah. Aku pamit ya, Bun,” tutur Hana sambil beranjak dari duduknya. “Iya, Sayang,” balas Sandra tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN