Nasihat Dari Sahabat

1064 Kata
Kini Hana dan Arga berdiri di atas pentas dan mereka menyalami siapa saja yang datang. Namun tak semua bisa berjabat tangan dengan pengantin baru itu karena dibatasi, hanya orang-orang terpenting saja yang bisa berjabat tangan dengan Hana dan Arga. Hingga tibalah giliran Keyla yang berjabat tangan dengan Hana, “Hana, ada apa ini? Kenapa bisa kamu yang menikah dengan Kak Arga?” bisik Keyla karena tak mau orang yang ada di belakangnya mendengar ucapannya. “Hani kabur,” ucap Hana jujur membuat mata Keyla melotot. “Biasa aja, jangan melotot gitu, nakutin. Nanti aku cerita sama kamu, sekarang kamu turun dulu kasihan orang yang ada di belakang kamu,” ujar Hana tersenyum manis. Senyuman yang menipu banyak orang karena kenyatannya itu semua berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. Mungkin ia bisa tersenyum kepada semua orang tapi hatinya, ia menangis sedih meratapi kehidupannya yang teramat menyedihkan. Setelah Keyla turun, barulah barisan di belakangnya mulai berjabat tangan dengan Hana sampai rasanya ia merasa lelah dan hampir pingsan namun ia tetap berusaha untuk sadar agar tak lagi membuat sebuah kehebohan dan mempermalukan keluarganya. Sedangkan di sampingnya, Anton pun juga sedang berbicara dengan Arga. “Kenapa bisa Hana?” tanyanya penasaran. “Kabur,” jawabnya dengan mimik sedih. “What! Tapi kenapa? Bukannya dia sangat cinta sama kamu?” tanyanya lagi. “Entahlah, aku juga gak tau alasannya. Lebih baik kita mengobrol setelah acara ini selesai. Kasihan di belakang kamu, lagi ngantri,” “Hehe oke-oke, aku turun dulu. Ah ya, selamat atas pernikahanmu dengan Hana. Semoga langgeng.” Anton memeluk Arga sejenak sebelum akhirnya ia memilih turun dan memberikan kesempatan buat yang lain untuk berjabat tangan dengan sahabatnya. Tiga jam sudah, Arga dan Hana berdiri di atas pentas. Kini mereka sudah bisa istirahat sejenak melepas rasa lelah dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh sahabat mereka. Melihat Hana pergi ke salah satu ruangan, Keyla langsung lari mengejarnya. Begitupun dengan Anton, ia juga langsung berjalan menuju ke arah Arga yang sedang duduk di sudut ruangan yang sepi karena tempat itu jauh dari kata keramaian. “Hana, kamu harus ceritakan sama aku secara detail. Kenapa ini bisa terjadi?” desak Keyla yang sudah tak lagi bisa menahan rasa penasarannya sejak tadi. Kini mereka ada di kamar tamu, Hana memilih untuk berada di kamar tamu dari pada harus masuk ke kamar pengantin yang dipersiapkan untuk Arga dan Hani. Ditanya seperti itu, Hana mulai menitikkan air mata dan ia menceritakan secara detail tanpa ada yang ia tutup-tutupi. “Astaga, Hani itu sepertinya sumber masalah ya. Kenapa dia selalu aja berbuat ulah tanpa memikirkan akibatnya, dan kini kamu lagi-lagi harus menjadi korban karena ulahnya,” geram Keyla. Keyla memang sahabat Hana dan Hani sedari kecil. Sejujurnya Keyla menyayangi mereka berdua, ia tak pernah membedakan antara satu dengan yang lain. Tapi jika memang Hani salah, ia tak bisa membenarkan hal itu. Dan sedari dulu, ia selalu tau, setiap kali ada masalah, maka dipastikan itu adalah ulah Hani dan selalu Hana yang selalu bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah ia lakukan. Dan dirinya adalah saksi di mana Hana sering kali dihukum dan dipermalukan akibat ulah Hani. Sejak masih sekolah hingga sekarang, Hani tak pernah berubah dan selalu bersikap egois, ia hanya memikirkan dirinya sendiri, ia selalu bersenang-senang, dan jika sudah melakukan kesalahan, ia tak segan-segan melemparkan masalah itu ke Hana. Dan anehnya Hana dari dulu selalu penurut, ia tak pernah membantah. Keyla bahkan sampai merasa geram dan meminta Hana untuk sesekali bertindak tegas terhadap saudara kembarnya itu. Karena Keyla sendiri menyerah, setiap kali ia menasehati Hani, yang ada malah Hani tak mendengarkan nasehatnya dan memilih mendengarkan lagu pakai headset, Keyla bahkan sampai frustasi dibuatnya. “Terus gimana dengan Kak Revan?” tanya Keyla hati-hati. Ia tau, bahwa Hana dan Revan saling mencintai bahkan mereka sudah merencanakan akan menikah tahun depan tapi kini keadaan sudah berubah. Hana sudah resmi menjadi istri Arga. “Aku gak tau, sampai detik ini Kak Revan bahkan tidak tau kalau aku sudah menikah dengan orang lain. Aku takut untuk mengatakan yang sejujurnya pada dia hiks hiks.” Hana menangis terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Pasti hati Kak Revan akan hancur, sehancur-hancurnya jika ia tau apa yang terjadi padaku,” lanjutnya. Keyla hanya diam mendengarkan. “Saat ini Kak Revan ada di mana?” tanya Keyla. “Ada di luar kota, ia ada tugas di sana selama dua Minggu ke depan,” sahut Hana. “Iya sudah, nanti biar aku yang bantu menjelaskan. Aku yakin, dia pasti mengerti. Kak Revan adalah cowok yang sangat baik, dia tak akan menyalahkanmu, ia pasti akan mengerti bahwa kamu melakukan hal ini juga karena terpaksa,” ucap Keyla menenangkan sahabatnya. Ia memeluk Hana dan menepuk punggung Hana dengan pelan. “Kamu harus sabar ya, aku yakin Allah memberikan ujian ini sama kamu, karena Allah tau, kamu pasti bisa melewati semua ini,” ujar Keyla. “Sungguh Key, aku merasa ini seperti mimpi buruk bagiku. Apalagi setiap kali aku melihat Kak Arga, dia menatap aku dengan penuh kebencian. Entah apa yang akan terjadi dengan pernikahanku ke depannya. Firasatku mengatakan, ini tak akan mudah,” “Ya, aku pun merasakan kemarahan Kak Arga. Aku harap dia tak memperlakukan kamu dengan sangat buruk. Lagian ini bukan salah kamu, ini salah Hani yang tega meninggalkan Kak Arga di hari pernikahannya. Kamu tak pantas untuk dibenci, seharusnya Kak Arga berterima kasih sama kamu, karena berkat kamu dia dan semua orang tak merasakan malu. Kamu bahkan rela mengorbankan perasaan kamu demi menyelamatkan mereka semua dari cibiran orang di luar sana.” Keyla terus berusaha meyakinkan sahabatnya itu, ia melepas pelukannya lalu menatap Hana sangat dalam. “Jika Kak Arga bersikap buruk sama kamu, kamu bisa telfon aku. Aku akan selalu menolongmu, aku akan selalu ada buat kamu,” ucap Keyla menenangkan. “Walaupun aku dan kamu gak ada ikatan darah, tapi aku merasa hanya kamu yang bisa mengerti aku Key, apa jangan-jangan kamulah saudaraku yang sesungguhnya?” tanya Hana mencoba untuk tak lagi bersedih. Ia merasa hidungnya sudah seperti tersumbat karena terus menangis sedari tadi. “Haha ada-ada aja kamu, Han. Iya sudah aku pulang dulu ya, kamu pasti sudah capek kan dan pengen istirahat,” “Kalau bisa, tolong carikan Hani ya, Key,” “Iya, tentu. Aku pasti akan carikan Hani buat kamu. Aku pamit, Assalamualaikum,” ucap Keyla, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Hana sendirian. “Waalaikumsalam,” jawab Hana menatap sedih kepergian Keyla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN