“Hira!” seru Hanania setelah turun dari taxi online yang mengantarnya. Sekencang mungkin berlari mendekati putrinya. “Dari mana saja kamu?” tanya Arafan dengan intonasi cukup tinggi. Ia tak hanya kesal melainkan marah besar. Hanania tak mengindahkan pesannya. “Maafin, aku, Mas. Maafin, aku. Aku lupa kabarin kamu juga,” ujar Hanania. Kegiatan di kantor cukup memecah konsentrasinya. Sampai membuatnya melupakan tugas utamanya untuk menjemput Hira. “Bisa tolong letakkan putrinya di sini,” pinta petugas medis yang menangani Hira. Segera meminta Arafan membaringkan Hira agar cepat dibawa ke rumah sakit. “Hira baik-baik, aja, Nak? Ada yang sakit?” Hanania berusaha mengajak bicara putrinya yang hampir tidak sadar.

