“Papa mau ke bali? Iya, bali?” tanya Hira saat Arafan memberi kabar tentang rencana kegiatan di perusahaan tempatnya bekerja. “Iya, Sayang.” “Naik pesawat?” Mata gadis berusia tiga setengah tahun itu mengerjap. Memancarkan binar tak terbantahkan atas antusiasnya terhadap moda transportasi itu. “Iya sama teman-temannya, Papa.” “Ira ikut, ya, Pa. Ikut?” Arafan mengulas senyum. Setiap hari ia disuguhi pemandangan menyejukkan hati semacam ini. Selepas pulang kerja pasti Hira bertanya apa saja. “Ya belum boleh dong, cantik ... kan Papa di sana kerja.” Hanania datang dengan satu piring cumilan yang ia siapkan untuk Hira dan Arafan. Ia meletakkannya di meja. “Lah, ira pingin ikut, Ma!” “Besok-besok, ya. Kalau Papa ke Balinya buat liburan. Bukan buat kerja.” “Iya, Sayang. Papa belum bisa

