Pameran yang menjadi tujuan utama keberadaan Hanania di Bali resmi digelar. Ia menyesuaikan outfit yang dikenakan dengan bentuk acara. Setelah yakin penampilannya sempurna, Hanania mendekati suaminya yang masih terlelap. Ia sedikit mengguncang tubuh Arafan. “Aku berangkat, Mas,” pamitnya. Sengaja tidak melibatkan suaminya. Arafan menggeliat. Waktu masih terbilang pagi di Bali tapi Hanania sudah rapi. Ia membuka mata lalu menguceknya. “Nggak salah?” Hanania menggeleng. Acara pameran dimulai pukul delapan. Ia memang ingin berangkat lebih awal dari biasanya. Dua nama pelukis di kartu undangan membuatnya semangat terlebih pesan khusus yang dikirimkan Faruq. “Mas di hotel aja, ya. Aku nitip Hira.” Tanpa diminta pun Arafan akan melakukan itu. Ia mengangguk setuju. “Ya udah, daaaaa,” ujar

