Vanya menatap pedih punggung itu. Lepas Arafan pergi bersama anak dan istrinya ia terduduk di kursi pengunjung restonya. Selama ini usahanya melarikan diri seperti tertelanjangi saat Arafan justru menemukannya di Bali. Tempat di mana ia berencana memulai semua hal baru setelah kepulangannya dari luar negri. Vanya mengusap kasar wajahnya. Seakan tak percaya dengan takdir yang membawanya. “Bunda, Bunda nangis?” tanya Abrisam yang tiba-tiba melesak masuk. Bocah berusia sepuluh tahun itu selalu semau sendiri dalam bersikap. Vanya buru-buru mengusap buliran bening yang memang ada sejak Arafan tak terlihat dari restonya. Bertemu dengan pria itu membuat hatinya merenda luka. Vanya pun menggeleng. “Brisam, Bunda mau bicara,” ujar Vanya. Ia harus segera membuat pengalihan. Abrisam mendekat. Ia

