Arafan pulang dengan perasaan bimbang. Presentasinya tentang ide baru itu mendapatkan respons cukup baik dari atasan. Namun, konsekuensi dari apa yang ia kerjakan membuatnya harus berpikir matang. "Great! Saya suka sekali. Saya harap nanti apa yang tim ini buat bisa dikembangkan di cabang lombok." Informasi sekaligus berita baik itu malah menjadi hal yang membuatnya tidak senang. Jika semua beres dan sesuai dengan prototipe yang ia susun maka Jakarta harus ia tinggalkan. Arafan mengusap wajahnya kasar. Ia membelokkan kemudi menuju salah satu tempat favoritnya. "Weyyyyy, ke sini lo, Fan?" sapa Dimas ramah. Pelanggan di kafe yang ia dirikan sedang tidak begitu ramai. Arafan mengangguk. Melakukan aksi adu kepalan dengan Dimas lalu duduk di depan meja bartender. "Soda satu, ya," ujarnya

