bc

Perfect Office Romance

book_age18+
144
IKUTI
2.1K
BACA
HE
lighthearted
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

"Mau nyoba sama saya?"

Pertanyaan itu datang dari Sagra, seorang CEO tempat Jenni bekerja. Berawal kencan buta yang gagal dan pertemuannya dengan Sagra di restoran, lelaki itu jadi tahu jika Jenni sedang gencar untuk mencari pasangan. Sudah sepuluh tahun Jenni menjomblo dan mulai tidak nyaman dengan kehidupan yang sepi. Namun, tidak seharusnya Sagra kan yang menawarkan diri?

Jenni dan Sagra pernah menghadiri acara bersama dan Jenni dibuat emosi oleh sikap bossy lelaki itu. Dia merasa, dirinya dan Sagra tidak akan pernah cocok. Jenni yang ceria dan tidak suka suasana yang hening sangat berbeda dengan Sagra yang terlalu serius dan menyukai suasana tenang. Namun, mengapa Sagra justru ingin mencoba menjalin hubungan dengan Jenni?

Jenni mencoba mengabaikan dengan harapan Sagra akan pergi. Sayangnya, semakin jauh Jenni berlari, semakin Sagra mendekati. Harusnya Jenni menerima Sagra dan mencari tahu motifnya? Namun, bagaimana jika Jenni justru akan semakin sengsara? Ini tentang office romance yang mungkin sempurna dan mungkin saja berakhir trauma.

chap-preview
Pratinjau gratis
1-Informasi Mendadak
"Loh... Nggak bisa gitu dong, Pak...." Wanita dengan rambut yang masih terdapat rol berwarna pink itu memindahkan ponsel ke sebelah kiri dan menjepitnya dengan pundak. Setelah itu kedua tangannya sibuk memasukkan roti selai cokelat ke kotak makan berwarna ungu cerah yang kata orang warna janda. "Udah, kamu bisa tanpa saya." Gerakan tangan wanita itu seketika terhenti. Bola matanya memutar beberapa kali, setelah itu melanjutkan kegiatannya. "Ya, memang saya bisa, tapi...." "... jangan sampai telat. Pak Sagra sudah menunggu di bandara. Selamat bekerja, Jenni." "Ha?" Wanita bernama Jenni itu langsung menarik ponselnya. Dia melihat panggilannya diputus begitu saja. Sekarang terlihat waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. "Dia jam segini udah di bandara?" Jenni masih terdiam, terlalu banyak berita mengagetkan pagi ini. Hari Minggu pagi dia harus ke Kota Batu karena ada meeting sekaligus pameran, di mana kantornya menjadi pihak sponsor. Kemudian, dia ditelepon Pak Lendra—atasannya—yang mengatakan tidak bisa hadir. Jenni masih tidak kaget dengan berita itu. Sebagai sekretaris, dia terbiasa pergi menemui klien sendirian. Namun, yang menjadi persoalan adalah dia harus berangkat bersama Sagra—bos besar—di kantornya. Sedangkan karyawan yang ditugaskan, sudah berangkat Sabtu kemarin. Jenni awalnya ditawari untuk berangkat di hari itu juga, tapi karena malas dan belum selesai bebenah, dia memutuskan berangkat di hari Minggu. "Dan keputusan gue salah," gumam Jenni sambil menarik rol rambutnya satu persatu. "Kalau gue berangkat kemarin, pasti nggak akan bareng Pak Sagra." Drttt.... Ponsel di atas meja itu kembali bergetar, mengembalikan Jenni ke alam nyata. Dia menyambar benda itu tanpa semangat, ketika melihat nama "Pak Lendra". "Jen, kamu cepetan. Pak Sagra udah nanyain." "Huh...." Bahu Jenni merosot. "Iya ini mau berangkat." "Jadi, daritadi nggak berangkat? Jangan sampai ketinggalan pesawat!" Jenni menjauhkan ponsel karena teriakan itu. "Iya, Pak. Iya...." Setelah itu dia memutuskan sambungan. "Oke, Jen! Pak Sagra bukan tipe orang yang suka ngomong. Lo cuma butuh diem dan ngikutin dia. Oke!" Dia mensugesti diri sendiri. Ketika sampai bandara, wanita yang mengenakan scraf pink bermotif bunga sakura di bagian leher itu celingukan. Dia bingung harus mencari bosnya atau tidak. Kata hatinya menginginkan agar tidak menemui, biarlah nanti bertemu saat di tempat tujuan. Namun, di satu sisi dia khawatir dinilai tidak sopan. "Gue nggak duduk samping Pak Sagra, kan?" Jenni mengangkat tiket pesawatnya dengan tangan bergetar. Dia terima jadi, karena tim event-lah yang mempersiapkan semuanya. "Gue harap enggak." Jenni menggeret koper berwarna pink menyala itu menuju ruang tunggu. Ketika akan duduk, dia melihat seorang laki-laki yang mengenakan jas hitam dengan setelan rapi. Rambut lebat lelaki itu tampak diberi jel dengan bagian depan yang terdapat anak rambut yang sayangnya turun dari tatanan. Kaki jenjang yang tertutup celana kain berwarna hitam itu saling bertumpu, memberikan kesan jika tidak ingin diganggu. Sedangkan pandangannya tertuju ke arah tablet dengan kedua alis yang beberapa kali hampir menyatu. "Aduh...." Tanpa sadar Jenni menggerutu. Belum apa-apa dia sudah dibuat menciut melihat bosnya. Lelaki yang tengah diperhatikan Jenni tiba-tiba menoleh. Pandangannya langsung menyapu ke penampilan wanita di depannya. Kemeja putih yang dimasukkan ke celana kain berwarna pink dan scraf berwarna senada bedanya lebih menyala. Belum lagi anting putih berbentuk agak panjang yang terlihat norak di matanya. "Mau tampil di mana?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar usai meneliti penampilan wanita di depannya, yang dia tebak karyawan yang akan berangkat bersamanya. "Ha?" Jenni menggaruk tengkuk. Setelah itu dia tanpa banyak ekspresi karena tidak mengerti apa yang dikatakan bosnya. Dia terlalu sibuk dengan rasa cemas yang tiba-tiba melingkupi. Lelaki bernama Sagra itu segera duduk menyerong, menghindari tatapan Jenni. "Jadi, kamu yang berangkat sama saya?" "Emm, itu...." Jenni masih kebingungan. "Udahlah...." Jenni berdiri tegak sambil menggaruk belakang kepala. Inilah yang membuatnya malas jika bersama Bos Sagra. Lelaki itu irit ngomong. Namun, jika berhubungan dengan pekerjaan, sangat cerewet. Ditambah, Sagra seperti memiliki aura misterius. Desas-desus mengatakan jika Sagra antipati kepada wanita. Namun, Jenni tidak memercayai itu. Masa lelaki setampan Sagra belok?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook