Langit mendung menyambut Sagra dan Jenni ketika sampai Kota Batu. Hawa dingin dan angin kencang terus menyapa mereka. Terbiasa dengan cuaca yang agak panas kemudian beralih ke dingin jelas membutuhkan penyesuaian. Terlebih Jenni. Tubuhnya tidak sekebal itu terhadap perubahan cuaca. Saat tiba-tiba hujan lalu kehujanan saja, esok harinya dia bisa langsung pilek. Bahkan, dia tidak bisa tidur dengan kipas angin atau AC yang menyala. Lebih baik dia kegerahan daripada kedinginan.
Jenni beberapa kali menarik bibir ke dalam. Perutnya mulai bergejolak dan dia tidak ingin mengeluarkan suara akan muntah. Apalagi, jika Sagra sampai ilfeel. Sudah cukup dia mempermalukan diri di depan bosnya tadi.
"Saya langsung ke tempat," ujar Sagra setelah menginjakkan kaki di lobi hotel berbahan marmer keabu-abuan dengan lampu kekuningan yang memberi kesan hangat. Dia menatap ke depan, melihat pilar yang dipercantik dengan bebatuan kokoh berwarna senada dengan lantainya. Di sebelah kanan, ada meja kayu jati dengan seorang wanita yang berdiri dengan menangkupkan kedua tangan.
Jenni mengangguk sambil menutup mulut. Ketika memasuki lobi, hawa dingin masih terasa, meski tidak separah di luar. Gila! Nih orang-orang nggak kedinginan apa? Dia mengusap lengannya sambil terus menarik bibir ke dalam. Saat melihat kursi tunggu berbahan kayu dengan dudukan berwarna orange itu, dia berniat untuk menunggu di sana.
"Atas nama Sagra dan...." Sagra menghentikan kalimatnya ketika berbicara dengan resepsionis berhijab hitam. Dia pikir, Jenni akan melanjutkan kalimatnya. Sagra menoleh dan melihat Jenni yang terdiam dengan wajah pucat. Mata wanita itu juga tampak berair dan satu tangannya terkepal. "Siapa nama lo?"
Jenni tergagap lalu menatap resepsionis yang memperhatikannya penuh tanya. "Je... Jenni," jawabnya setelah otaknya mampu menyimpulkan. Sungguh perutnya sudah tidak bisa ditahan. Kakinya juga mulai terasa lemas. Dia butuh duduk. Ah, tidak dia lebih butuh toilet.
"Baik Pak!" Resepsionis berparas cantik itu tampak sibuk dengan laptopnya.
Pandangan Sagra masih tertuju ke Jenni. Sejak di pesawat, wanita itu lebih banyak diam. Dia ingat, wanita itu terus mencuri pandang lalu akan pura-pura sibuk saat dia menatap balik. Namun, kali ini wajahnya agak berkeringat dengan mata berair. "Kenapa?" Sagra tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Ah, maaf...." Jenni menutup mulut dan berjalan ke sebelah kiri. "Toilet!"
"Di sebelah sana, Bu!" Seorang pegawai yang melewati Jenni menggerakkan tangan ke sebelah kanan, berlawanan dengan posisinya..
Jenni menutup mulut rapat-rapat karena ada sesuatu yang hendak keluar dan tidak bisa ditahan lagi. Dia berusaha berlari. Sayangnya, dia terlambat. "Huek...."
Suara itu cukup kencang, sampai-sampai membuat Sagra tersentak kaget. Dia menoleh, mendapati Jenni yang terdiam terpaku dengan pandangan agak ke bawah. Pandangannya lalu mengikuti hingga tertuju ke sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat. "Ah, sial!"
Jenni menelan ludah. Dia menoleh ke arah lain, melihat beberapa pegawai yang melongo dengan mata melebar. Matanya kemudian tertuju ke Sagra yang terlihat akan membunuhnya. "Pak Sagra!" Jenni tanpa pikir panjang mendekat.
"Diem."
"Maaf...." Jenni tidak tahu akan membuat kekacauan lagi. Bahkan, kali ini semakin parah.
"Minta maaf ke petugas kebersihan." Setelah mengucapkan itu Sagra menyambar kunci yang diulurkan resepsionis dan meninggalkan Jenni begitu saja.
Jenni membungkuk ke tiga orang yang mendekat. "Maaf, ya."
"Toiletnya sebelah sana, Bu!"
Jenni menunduk dan berjalan menuju toilet. "Kenapa jadi kacau, sih?" teriaknya setelah masuk toilet. Dia segera membasuh kedua tangan lalu berkumur. Setelah itu menatap pantulan dirinya di depan cermin berbentuk persegi panjang dengan sisi atas yang terdapat lampu kekuningan..
Jenni membasuh wajah dengan air yang terasa sedingin es, tidak peduli masih ada makeup yang masih menempel. Bahunya bergetar lalu matanya mulai berkabut. Dia malu untuk keluar, apalagi bertemu Sagra. Rasanya, dia ingin menghilang saja.
Tok... Tok... Tok....
Tubuh Jenni berjingkat. Jantungnya berdegup cepat, menebak siapa yang mengetuk pintunya. "Wah! Gue dimarahin, nih, sama orang kebersihan." Pemikirkan itu lalu terlintas. Jenni mengusap d**a lalu membuka pintu dengan harap-harap cemas. Matanya mengerjab mendapati bosnya berdiri di hadapannya dan mengulurkan botol hijau yang sangat dia hafal.
Sagra terdiam melihat wajah Jenni yang terdapat bintik air dengan mata memerah. "Kemeja itu terlalu tipis." Lalu dia melirik kemeja putih dengan bagian lengan yang transparan, memperlihatkan lengan si pemakai yang cukup kecil.
Jenni menunduk, melihat kemeja kesayangannya yang jarang dipakai karena terlalu sayang. Dia tidak mempertimbangan apakah kemeja itu pas dikenakan sekarang atau tidak. Satu yang terlintas, dia harus tampil berbeda dari penampilannya di kantor. "Ya, maaf."
"Tadi nggak sarapan?"
"Udah kebiasaan sarapan roti."
"Harusnya dipaksa sarapan," jawab Sagra lelah. "Nih...."
Jenni menerima benda yang diulurkan lalu kembali menunduk. "Maaf, saya bikin malu."
"Untung muntah di hotel bukan di acara nanti malem."
"Sekali lagi saya minta maaf."
"Udahlah...." Sagra menjauh begitu saja.
Jenni menutup pintu dan kembali berdiri di cermin. Dia mengangkat botol minyak kayu putih itu sejajar dengan wajahnya. "Aaaa! Gue beneran bikin malu. Aaaaa...."
Beberapa menit kemudian, Jenni keluar dari toilet dengan aroma minyak kayu putih yang cukup menyengat. Parfum beraroma fruty yang sebelumnya menempel, sekarang benar-benar hilang. Jenni mengerucutkan bibir sambil berjalan menyeret kaki.
"Sini!"
Jenni menghentikan langkah mendengar suara berat itu. Dia mendapati Sagra berdiri di samping pilar sambil menggerakkan tangan. Dia menggeleng. "Saya...."
"... cepet!"
"Maaf, Pak. Saya malu!" Jenni memposisikan tangan di atas pelipis. Dia memilih jujur daripada bertingkah tidak terjadi apa-apa dan membuat suasana semakin canggung.
Sagra segera mendekat dan menarik tangan Jenni. "Ternyata kamu keras kepala, ya!"
Sagra segera mendekat dan menarik tangan Jenni. "Ternyata kamu keras kepala, ya!"
"Pak!" Jenni terpaksa mengikuti Sagra yang menyeretnya. "Mau ke mana?"
"Sarapan."
"Kok Pak Sagra peduli?" tanya Jenni tanpa pikir panjang.