"JENNI!"
Jenni mengedarkan pandang setelah Sagra berteriak. Bulu kuduknya seketika meremang melihat karyawan lain yang seolah akan membunuhnya. Jantungnya berdegup lebih cepat, menyadari telah berbuat salah.
"Minta maaf, Jen." Samar-samar ada yang mengatakan itu.
Sagra menghela napas berat. "Baguslah. Tolong ingatkan dia." Setelah mengucapkan itu dia berjalan menjauh.
"Aduh...." Jenni menepuk kening beberapa kali.
Dina yang tahu kebodohan Jenni segera mendekat. "Lo kenapa, sih?." Dia mengguncang pundak Jenni menyadarkan.
"Kayaknya gue emang capek," gumam Jenni. "Udah, ya, gue nemuin Pak Sagra dulu. Doain."
"Jangan bertindak bodoh lagi."
"Hmm...." Jenni menunduk dan melanjutkan langkah.
Sedangkan Sagra sudah sampai di ruangannya. Dia mendekati sofa yang terdapat tumblr, pemberian Pak Yassar. Setiap menyelenggarakan acara selalu memberi buah tangan untuk karyawan yang bertugas. Seperti sekarang.
"Ada, apa Pak?" Jenni muncul setelah dua menit kemudian.
Sagra menggerakkan tangan ke tumblr berwarna abu-abu itu. "Bagi ke panitia."
"Saya?"
"Roh kamu!" jawab Sagra yang tentu membuat Jenni bergidik."Cepet!"
Jenni mengusap tengkuk lalu melangkah mendekat. Dia menatap tumblr yang jumlahnya ratusan itu dan tidak mungkin dia membaginya sendiri. "Tapi, Pak, tim penyelenggara masih belum kembali."
"Tahu." Sagra menghadap Jenni. "Pak Yassar selalu memercayakan itu ke saya. Karena saya cuma tahu kamu yang kemarin ikut ke Batu, ya semuanya saya limpahkan ke kamu. Kata Pak Lendra kamu bisa diandalkan, saya butuh pembuktian."
"Hmm... Begitu?" Jenni terlihat tidak bersemangat. "Kalau seperti itu saya nggak mau diandalkan," jawabnya begitu pelan.
"Silakan bagi ke yang lain." Sagra enggan membuang tenaga lagi dan memilih menuju kursi kebesarannya. "Saya minta tumblr itu menyingkir sebelum jam pulang kantor."
"Ya, Pak."
"Katanya bisa diandalkan?"
Jenni mengepalkan tangan sambil menghela napas. Dia mencoba tidak mengambil pusing dan membuatnya marah-marah sendiri. Kemudian dia mengambil beberapa tumblr dalam dekapan dan memilih keluar.
"Bu Jenni mau saya bantu?" Aleya—sekretaris Sagra—mendekat. "Pak Yassar memang selalu percaya ke Pak Sagra. Dan bikin Pak Sagra kelabakan sendiri."
"Ya. Emang gitu ya?" tanya Jenni. "Sementara taruh di mana coba? Lagian, kenapa mau-mau aja ditaruh di ruangannya."
Aleya hanya menjawab dengan senyuman.
***
Bip....
Ruangan dengan pengharum beraroma apel itu menyambut kedatangan Jenni. Dia meletakkan kopernya begitu saja setelah itu mengempaskan tubuh di sofa panjang. Akhirnya, dia bisa kembali ke apartemen dengan tenang.
"Ya ampun, pegel banget." Jenni mengusap pinggangnya yang terasa nyeri. Dia bergerak menyari posisi nyaman setelah itu memeluk bantal sofa. "Gila, kerjaan gue hari ini terlalu berat. Gara-gara si Sagra."
Jenni terbayang saat menghubungi ketua tim penyelenggara acara yang ternyata masih berada di Batu sampai esok hari. Akibatnya, tumblr itu tidak bisa langsung dibagikan. Dia terpaksa memindahkan ke ruang istirahat Aleya.
"Kalau dipikir-pikir enak ya jadi Aleya, ada ruang istirahat sendiri."
Di pikiran Jenni langsung terbayang sebuah ruangan kecil yang terdapat sofa dan meja. Di meja itu penuh dengan barang-barang Aleya. Selain itu ada selimut yang terlipat agak rapi. "Andai gue punya ruang istirahat sendiri," gumam Jenni sambil bergerak menyamping.
Wanita itu terdiam dan tidak ada suara lain selain detak jarum jam. Dia mengedarkan pandang, apartemennya masih gelap. Terasa sangat sunyi.
Beginilah kehidupan di perkotaan. Di balik padat dan bisingnya kondisi di luar, ada bagian di mana terasa sunyi. Seperti tempat pengasingan. Namun, Jenni sudah menikmati kehidupan itu sejak sepuluh tahun yang lalu.
Tepatnya ketika setelah lulus SMA, Jenni memilih tinggal di indekos. Dia menjalani kehidupan kampus dengan uang yang sudah dijatah orangtuanya. Barulah setelah lulus kuliah, dia mendapat hadiah sebuah apartemen. Bukan apartemen kelas atas tentu saja. Jenni sangat bersyukur mendapat sebuah apartemen yang lebih aman daripada di indekos. Hampir tiap malam ada saja pengganggu dan pemuda sekitar berusaha merayunya, membuatnya tidak nyaman.
Selama sepuluh tahun Jenni hidup mandiri. Terkadang, dia merasa terlalu mandiri. Tinggal sendirian, ke kantor sendirian, belanja sendirian, ke bengkel sendirian. Sembilan puluh persen hidupnya, dia lakukan seorang diri. Sisanya, bersama Dina, teman dekatnya. Ada kalanya, manusia memang perlu menggantungkan hidupnya ke manusia lain. Jika tidak, mereka akan semakin individualis. Seperti yang dirasakan Jenni.
Jenni tiba-tiba menjadi melow karena kehidupannya. "Apa lagi gue udah jomblo sepuluh tahun. Huaaa!"
Apartemen yang sebelumnya hening itu kini dipenuhi suara tangis Jenni. Tangis yang sebelumnya terdengar pilu, tapi lama kelamaan berubah menjadi histeris. Mungkin penghuni tak kasat mata sampai kabur mendengar tangisan histeris Jenni.
"Gue juga pengen punya pacar!" Jenni beranjak sambil menjerit. "Gue pengen pacaran lagi. Pacaran lagi!"
Tet....
Di saat mengeluarkan unek-uneknya, terdengar suara bel menginterupsi. Jenni menatap ke pintu sambil menebak-nebak. "Apa itu jodoh gue?"
Tet....
Jenni menghapus air matanya dan berlari menuju pintu. Ketika membuka, seseorang berambut panjang dan memakai masker putih berdiri di hadapannya. "Amit-amit."
"Lo nggak suka gue dateng?" Dina heran melihat tingkah temannya. "Lo pikir gue wabah penyakit?"
"Amit-amit. Gue cuma bercanda." Jenni sibuk berdoa. "Emang gue nggak boleh ngomong macem-macem. Beneran, deh!"
Dina semakin bingung melihat tingkah aneh Jenni. "Gue ke sini bawa makanan. Nggak mau? Ya udah." Dia berbalik. Namun, sesuai dugaan ada tangan yang menahannya.
Jenni menarik Dina hingga kembali menghadapnya. "Maulah. Kebetulan belum makan." Dia melirik ke kantung yang dibawa Dina, lalu merebutnya begitu saja. "Silakan masuk!"
"Ck! Dasar." Dina melepas maskernya dan masuk ke apartemen Jenni. "Gelap amat. Belum bayar listrik?"
"Kalau ngomong, tuh, dijaga." Jenni menyalakan lampu kemudian menuju dapur. "Lo datang di saat yang tepat, Din."
Dina mengekori Jenni. "Lagi laper?"
"Gue kesepian," aku Jenni. "Pengen punya pacar."
"Ha? Tiba-tiba kepengen? Kayak tiba-tiba pengen beli seblak ngomongnya."
Jenni berbalik dan meletakkan dua piring di atas meja. "Gue udah pengen dari lama. Tapi, kali ini bener-bener pengen."
Tidak ada respons dari Dina. Dia memperhatikan Jenni yang sedang memindahkan nasi padang ke piring, wajahnya tampak suntuk. Dia cukup mengenal Jenni dan bagaimana kehidupannya. Setelah tidak berpacaran sepuluh tahun, kemudian ngebet ingin punya pacar. "Bukan karena kebutuhan biologis, kan?"
"Woy!" Jenni langsung menjerit. "Pikiran gue nggak sedangkal itu, ya!"
"Ya terus kok tiba-tiba gituloh?"
Jenni mendorong sepiring nasi padang ke Dina. "Tiba-tiba aja ngerasa kesepian. Terus. pengen punya pacar."
"Lo orang paling impulsif yang pernah gue kenal."
"Ya makannya bantuin," bujuk Jenni. "Tanya pacar online lo."
Dina melotot karena Jenni menyebut 'pacar online'. "Ya emang bener gue kenal dia dari aplikasi, terus pengen hubungan serius. Tapi, gue udah ada rencana mau ketemu dia. Minggu ini."
"Lo yakin dia kayak di foto?"
"Beberapa kali video call kok. Ya yakinlah," jawab Dina percaya diri.
Jenni bertopang dagu lalu mengedipkan mata beberapa kali. "Bilang ke dia suruh ajak temennya. Biar kenalan sama gue."
"Bayarannya?"
"Mata duitan!" Jenni mendengus. "Bantuinlah."
"Gue sama dia baru pacaran dua minggu. Nggak enaklah kalau tiba-tiba minta bantuan buat nyari pacar buat lo."
"Ck! Pelit!" Jenni mengambil sendok dan melahap daging rendang yang terasa empuk. Sambil makan, dia terus menatap Dina. "Bantuin."
"Gue pikir-pikir dulu."
Jenni tersenyum kecil. Sebenarnya dia bisa saja mencari pasangan lewat aplikasi, tapi takut tertipu. Daripada sakit hati, dia lebih memilih menghindar.