10-Kejadian, Kan!

862 Kata
"Jenni ada salah apa sama lo?" Sagra meletakkan garpu lalu melirik meja kosong di sebelah kanannya. Pelayan restoran kemudian menghalangi pandangannya dan membersihkan meja itu. Barulah Sagra kembali menatap Lendra. "Sebel aja tiap lihat mukanya. Inget kejadian lain." Lendra memajukan tubuh. "Nggak biasanya lo kayak gini." "Ya jelas keterlaluan, kalau gue udah sampai kayak gini," jawab Sagra. "Lagian dari sekian tempat kenapa harus ketemu dia?" "Ya bener. Gue juga males ketemu orang-orang kantor sebenernya. Terutama lo!" Sagra terlihat biasa saja. Mereka berteman sejak awal bekerja. Sebenarnya Lendra sudah berusia 31 tahun, satu tahun lebih tua dari Sagra. Namun, Sagra selalu menganggap Lendra seusia dengannya. Dan Lendra menganggap tindakan acuh tak acuh Sagra barusan tidak sopan. "Setelah ini karaoke juga?" tawar Lendra. "Kan, gue udah bilang males ketemu orang-orang kantor. Kalau udah tahu kehidupan pribadi mereka, gue malah jadinya penasaran." "Emang dasarnya lo kepo." "Emang iya!" Sagra geleng-geleng. Dia tidak suka privasinya diusik, karena itu dia tidak ingin mengusik privasi orang lain. "Lanjut sendiri, gue balik." "Nggak bisa!" Lendra mengulurkan tangan menghadang Sagra yang hendak berdiri. "Siapa yang butuh temen makan? Enak banget sekarang ninggalin." "Oke, gue emang minta ditemenin makan," aku Sagra. "Tapi, gue nggak suka karaoke." Lendra berdiri lalu kelima jarinya bergerak meminta Sagra mengikutinya. "Buruan, deh! Gue pengen buntuti mereka." "Jaga image. Lo bos mereka." "Kita lagi nggak di kantor," jawab Lendra. "Gue jadi seorang Lendra yang kepo." "Ck! Ada saatnya lo nggak suka dikepoin!" Sagra berdiri lalu berjalan menjauh. Lendra menahan tawa. Yah, dia memang terlalu kepo dan tidak bisa menghilangkan kebiasaan itu. Namun, sampai sekarang kekepoannya tidak sampai membuat orang marah. Dia juga tahu batasan. *** "Rolling in the deep...." Suara cempreng dan fals menggema di ruangan dengan lampu temaram. Suara buruk itu jelas merusak gendang telinga. Namun, empat orang yang berada di dalam ruangan seperti tidak peduli telinga mereka sakit. Bayangkan, empat orang yang tidak bisa bernyanyi menyanyikan lagu Adelle yang jelas susah dan mereka buta nada. "Uhuk... Uhuk...." Dina tersedak ketika mencoba bernyanyi nada tanggi. "Haus, Sayang?" Aven dengan perhatian mengambil minuman yang telah dipesan. "Istirahat dulu, deh!" Dina menegak minuman itu beberapa kali dan kembali menatap layar. "Gue mau terus nyanyi." Tidak mau kalah dari Dina, Jenni bernyanyi di sudut ruangan dengan penuh penghayatan. Air matanya beberapa kali turun. Dia mendadak mellow ketika lagu Someone Like You yang sering didengar ketika masa remaja mengalun. "Nggak mau istirahat dulu?" bisik Jeromi yang sejak tadi tidak beranjak dari sisi Jenni. Jenni hanya menggerakkan tangan dan terus bernyanyi. Orang galau menyanyi lagu mellow, pas sudah. "Gue sedih banget." "Kenapa?" Jeromi berdiri di depan Jenni dan mengguncang pundaknya. "Mau keluar nyari suasana tenang?" "Enggak. Gue terbawa suasana." "Kita nyari suasana lain." "Nggak perlu." Jeromi menarik Jenni hingga ke dalam dekapan. Tindakan itu cukup mengagetkan, tapi Jenni hanya bisa diam. "Ayo!" bisiknya lalu membimbing keluar. Jenni mencuri pandang ke Dina. Sahabatnya itu masih bernyanyi sambil menggerakkan tangan. Sungguh, Dina bersikap seperti penyanyi profesional. "Lo pengen kita ke mana?" tanya Jeromi setelah melewati lorong. "Nggak ke mana-mana." Jenni berdiri tegak lalu menyingkirkan tangan Jeromi dari pundaknya. "Kayaknya gue sama Dina harus balik, deh!" Jeromi melirik arloji yang menunjukkan pukul sebelas. "Masih sore," ujarnya. "Mau lanjut ke bar?" Jenni menatap Jeromi kaget. Sorot mata lelaki itu tampak berubah, tidak seperti saat di restoran. "Nunjukin sifat asli lo?" Kecurigaan itu seketika muncul. "Maksudnya?" Jeromi menggaruk belakang kepala. "Cuma ngajak minum. Lo udah berpikiran yang macem-macem?" "Huh...." Jenni bertolak pinggang. "Entah gue yang salah sangka atau gimana, tapi gue rasa lo ada rencana." "Enggak! Gue cuma ikut Aven. Dia bilang ada cewek yang mau kenalan," jawab Jeromi. "Ternyata boleh juga." Jenni mengeraskan rahang melihat Jeromi yang meneliti penampilannya dari atas hingga bawah. Dia bergerak mundur dan hendak kembali ke ruang karaoke. Sayangnya, ada tangan hangat yang menarik pundaknya kencang. "Lepas!" "Jangan ganggu mereka," pinta Jeromi. "Gue mau ajak Dina pulang." "Biarinlah. Mereka baru pacaran!" Mata Jenni seketika memicing. Jika sifat Jeromi mulai terlihat, bisa jadi Aven juga mengeluarkan sifat aslinya. Jenni seketika panik. "Lepas!" Dia menyentak tangan Jeromi dan berlari menuju ruangan karaoke. Brak.... Jenni membuka pintu dan melihat Dina yang duduk bersandar sedangkan Aven duduk di sampingnya. Semuanya tampak baik-baik saja. Namun, Jenni sempat melihat tangan Aven yang meraba ke paha Dina. "Lo apain temen gue?" teriaknya sambil mendekati Aven. Dina menahan tangis, terlalu syok dengan kejadian yang dialami. Ketika Jenni dan Jeromi meninggalkannya, Aven tiba-tiba menariknya duduk di sofa. Kemudian lelaki itu mulai menggodanya. Tubuh Dina bergetar hebat dan tidak bisa bereaksi apa-apa. Kalimat yang berada di ujung lidah seolah susah untuk diucapkan. "Ayo balik!" Jenni menarik tangan Dina. "Lo juga kenapa diem aja?" Aven menyugar rambut ke belakang. "Lo ngapain ganggu, sih? Gue mau sama pacar gue!" teriaknya. "Lo juga udah sama Jeromi." "Hah?" Jenni mengernyit. "Menurut lo pertemuan kali ini apa? Pikiran lo udah ke mana-mana, ya?" "Dia jual mahal, sih," jawab Jeromi. Jenni menunjuk dua orang itu bergantian. "Jangan temui gue sama Dina lagi." Lalu dia menyeret Dina dan memilih pergi. "Jen...." Dina menghentikan langkah lalu menutup wajah dengan tangan. "Lo juga kenapa diem aja? Kalau gue nggak dateng lo bisa diapa-apain. Jangan bego!" Jenni benar-benar kehilangan kesabaran. Sedangkan Dina terus menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN