Mobil Ahmad melaju menuju rumah sakit umum daerah Indramayu. Perjalanan kurang lebih satu setengah jam yang akan ditempuh Ahmad hanya berdua dengan Salamah. Salamah duduk di samping Ahmad, dia memakai gamis set warna coklat s**u dengan motif batik dibagian lengan. Kerudung yang dia pakai menjuntai hingga ke pinggul dengan bagian depan lebih pendek hanya mencapai d**a.
Tadi pagi dia sudah membongkar seserahan yang berisi satu set alat make up dari Ahmad. Namun, dia tidak tahu cara memakainya, sehingga hanya bedak padat yang dia poleskan tipis ke wajah dengan lipstik berwana chili nude membuat wajahnya tetap tampak berseri.
"Bu Ayu sakit apa, Mas," tanya Salamah menatap suaminya yang sedang fokus menyetir mobil.
"Aku nggak tahu, De,” jawab Ahmad menoleh pada sang istri.
“Kamu cantik,” desisnya dengan tatapan penuh cinta yang membuat Salamah membuang pandangannya.
“Memang semalam Mas nggak nanya sama ibunya, dia sakit apa?” desak Salamah pada Ahmad tanpa mengalihkan tatapannya dari hamparan pantai yang tepat berada di sisi kiri jalan yang dilewati mereka.
“Kalau aku ngomong dia sakit karena patah hati dengan pernikahan kita gimana," tutur Ahmad dengan nada bergurau, tapi berhasil membuat Salamah melayangkan tatapan penuh selidik.
“Maksudnya?”
Ahmad sebenarnya tidak ingin menceritakan masa lalunya pada Salamah. Namun, di situasi seperti ini rasanya tidak mungkin dia terus menutupi apa yang terjadi antara Ayu dan dirinya di masa lalu. Dia tidak ingin menyimpan kebohongan di dalam rumah tangganya, karena menurut pengalamannya satu kebohongan akan membawa serta puluhan hingga ratusan kebohongan lain untuk menutupinya.
"Ayu mantanku, De ketika masa SMA. Dulu aku benar-benar salah pergaulan." Ahmad memulai ceritanya, dia menoleh pada sang istri yang masih menatapnya, menelisik setiap kata yang dia ucapkan.
"Kenapa mas nggak menikah dengan bu Ayu? Kenapa Mas malah melamarku?" potong Salamah, pertanyaan yang benar-benar menyesakkan dadanya.
“Dia masa laluku, tidak pernah ada cinta untuknya, semua murni hanya keisengan di masa remaja,” aku Ahmad dengan nada begitu datar.
“Semudah itu seorang pria menilai sebuah hubungan?” debat Salamah.
“Itu masa lalu, De, sudah berlalu lama, sangat lama,” jelas Ahmad meyakinkan istrinya.
“Kalau itu sudah berlalu kenapa Ibunya datang meminta Mas Ahmad untuk ke rumah sakit?”
“Bukankah itu artinya masih ada hubungan diantara kalian?” desak Salamah.
“Aku nggak bisa maksa orang lain buat berhenti mencintai aku. Aku juga nggak bisa ngatur perasaan Bu Ayu, jangankan perasaan Bu Ayu, perasaan aku sendiri pun tidak bisa aku mengaturnya,” balas Ahmad tak mau kalah.
Mata Salamah terasa memanas, entahlah bagaimana menggambarkan perasaannya kini. Kecewa, karena ternyata hari ini suaminya mengajak dia ke rumah sakit untuk mengunjungi sang mantan. Tangan Salamah mengepal saling bertautan di atas paha, menahan gemuruh rasa di d**a. Butir bening menggenang di pelupuk matanya, sebelum terjatuh dia menghapusnya dengan gerak perlahan.
“Sejauh apa hubungan Mas dengan Bu Ayu dulu?” tanyanya lagi.
“Buat apa aku jawab kalau itu menyakiti hatimu, bisa tidak kalau kita tidak perlu lagi membahasnya,” pinta Ahmad dengan suara mulai melembut.
“Aku mau tahu, semuanya. Tanpa ada yang ditutupi,” desak Salamah dengan suara bergetar.
“Aku tidak mau mengungkit semua cerita yang malah akan membuatmu terluka.”
“Kalau begitu Mas tidak menghargaiku? Mas ingin membuatku menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang suaminya,” tantang Salamah dengan suara bergetar.
“Oke, baiklah. Aku ceritakan, tapi ingat De, ini masa lalu. Dulu, jauh sebelum aku mengenal kamu. Bahkan, jauh sebelum aku mengenal Tuhanku.”
Ahmad memulai ceritanya, hobinya berganti pacar saat masa SMA. Kesalahan masa lalu saat dia dekat dengan minuman keras, pergaulan malam juga wanita. Berganti pacar hanya sebagai sebuah keisengan memanfaatkan wajah tampannya yang membuat menjadi idola para siswi.
Membiarkan para pacarnya menyerahkan diri dengan sukarela hanya bermodal bisikan cinta dan sapuan tangan lidahnya yang bergerilya membuat mereka tergoda. Membuat mereka suka rela memberikan mahkota kesucian mereka di tangan Ahmad.
Tak lupa dia juga menceritakan proses transformasi yang dia lalui dari Ahmad begajulan hingga menjadi Ahmad yang mengenal Tuhan.
“Ayu mantan terakhirku, aku pastikan belum pernah merenggut kesuciannya. Hanya saja aku tidak tahu kenapa Bu Ida memintaku datang untuk menjenguk anaknya,” tutup Ahmad mengakhiri ceritanya.
Tangan Salamah yang tersembunyi di balik kerudung meremas dadanya yang terasa sesak mendengar pengakuan sang suami. Ahmad benar, harusnya dia tidak memaksa mendengarkan sesuatu yang justru membuatnya sakit. Sesak menahan nyeri di d**a karena mendengar cerita masa lalu suaminya yang kelam dan tidak sedikitpun dia tahu.
Dia paham kalau setiap orang punya kesempatan untuk berhijrah, berubah untuk memperbaiki diri, tetapi ada rasa sesal dan kecewa yang tidak bisa dipungkiri ketika tahu ternyata suaminya sudah bukan perjaka lagi. Suaminya tidak sebaik yang dia sangka. Parahnya, suaminya melakukan hal tersebut dengan lebih dari satu wanita.
"Itu masa laluku, De. Begitu juga dengan Ayu dan wanita-wanita lainnya, itu kesalahanku yang mungkin tidak termaafkan buat mereka," sesal Ahmad sembari melirik sang istri yang kini hanya diam, seolah kehabisan bahan pertanyaan yang tadi dia lontarkan penuh rasa penasaran.
“Sekarang, kamu masa depan….”
"Itu zinah, Mas, bukan hanya tidak termaafkan untuk mereka, tetapi juga dosa besar menurut agama," potong Salamah sarkas, kepalanya menggeleng menatap suaminya, kemudian melengos menatap jendela untuk menyembunyikan air matanya.
"Aku tahu, De, tapi aku benar-benar sudah taubat, taubatan nasuha, dan aku nggak pernah mengulanginya setelah itu," terang Ahmad penuh rasa sesal, dia tahu istrinya kecewa dan menyembunyikan tangisnya, tangan Ahmad terulur untuk mengusap pundak Salamah, tetapi ditepis dengan kasar. Akhirnya, dia menepikan mobil untuk berhenti sejenak.
"Maaf, De,” ucapnya.
“Sekarang kamu masa depanku, kamu yang aku pilih untuk jadi istriku, ibu dari anak-anakku kelak, karena aku benar-benar mencintaimu," bisik Ahmad ditelinga Salamah, kemudian mengecup kepala sang istri yang tertutup hijab.
Salamah diam tak bergeming, Ahmad menunggu reaksi sang istri. Namun, hingga beberapa menit berlalu Salamah tetap memilih diam. Ahmad pun memutuskan kembali menjalankan mobilnya.
'Dasar playboy ulung, mudah sekali dia bilang cinta setelah semua cerita kegilaannya' maki Salamah dalam hati.
“Kamu yang meminta aku bercerita,” ujar Ahmad melihat istrinya terus diam.
"Aku jawab dan nggak mau ada kebohongan di rumah tangga kita, De, apalagi kita membangunnya tanpa pondasi cinta yang kuat. Maka dari itu aku terpaksa jujur, meskipun seperti yang aku duga, itu menyakitimu," lanjut Ahmad sambil menengok istrinya yang menyenderkan badannya di jendela mobil dan membelakanginya dengan terus memandang jalanan yang mereka lalui.
Mobil terasa sepi, tanpa ada yang berbicara lagi, mereka menghabiskan sisa perjalanan dengan diam. Mendengar alunan salawat yang diputar Ahmad di music box mobilnya.