Tok tok tok
Suara pintu terdengar diketuk, "ya Allah, ganggu saja," protes Ahmad sambil mengacak rambutnya.
"Mas," panggil Meri dari luar kamar.
"Iya, Bu, sebentar," jawab Ahmad sambil berjalan menuju pintu.
Ceklek
"Ada, Bu Ida, mamahnya Ayu di depan," ucap Meri ketika pintu terbuka.
"Sebentar ya, Bu," Ahmad kembali menutup pintu.
"Mas keluar dulu ya, De, ada tamu," pamit Ahmad sambil mengecup bibir Salamah singkat. Dia langsung ke luar dari kamar, meninggalkan istrinya sendirian.
"Alhamdulillah selamat," ucap Salamah mengelus dadanya yang berdegup dengan kencang.
Meri masih duduk di ruang tamu menemani Ida. Ahmad kembali teringat bisikan Reza saat di pelaminan yang memberi tahu bahwa Ayu sakit. Apa mungkin sakit Ayu ada hubungan dengan dirinya hingga Ida, Mamah Ayu sampai datang ke rumahnya malam ini.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Ahmad sambil mencium tangan Ida, kemudian duduk di kursi kosong di samping Meri.
"Saya tinggal dulu ya, Mbak Ida, mau bantuin yang beres-beres di belakang," pamit Meri dengan membawa nampan kosong yang tadi dia gunakan untuk menyuguhkan teh hangat untuk Ida.
"Iya, Mbak silakan, sekali lagi maaf ya Mbak, aku baru sempat kondangan malam-malam gini," balas Ida. Dia memang datang untuk kondangan selain ada hal penting juga yang ingin dia utarakan pada Ahmad.
Ida terlihat menarik napas berat sebelum memulai berbicara pada Ahmad. Ida bercerita perihal Ayu yang jatuh dari motor dan mengurung diri di kamar selama tiga hari, hingga kini Ayu di rawat di rumah sakit.
“Hari itu Ayu pulang diantar warga yang menemukannya jatuh di jalan menuju rumah kami. Lukanya memang nggak parah, tapi yang membuat ibu bingung dia sampai mengurung diri di kamar.”
Ida juga bercerita ketika tadi pagi Ayu pingsan, kemudian langsung di larikan ke rumah sakit, dokter tidak membolehkan Ayu di bawa pulang karena tubuhnya benar-benar kekurangan cairan. Sehingga dia harus menginap di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya.
“Ibu menemukan foto kamu dan dia yang memakai seragam SMA tergeletak di lantai. Ibu tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua. Hanya saja, ibu pikir ini pasti ada hubungan dengan pernikahan kamu hari ini,” aku Ida.
"Ibu gak ngerti Ayu kenapa, Nak. Dia tidak mau berbicara sama sekali. Ibu yakin, Nak Ahmad bisa membantu ibu. Ayu anak kami satu-satunya, Ibu nggak tega ngeliat keadaanya yang terlihat begitu menyedihkan, makanya ibu datang ke sini minta tolong pada Ahmad, tengoklah dia meski cuma sebentar." Ida menyusut air matanya dengan tisu.
Sungguh, dia tidak tega melihat anaknya terus-terusan menyebut nama Ahmad ketika dalam kondisi tidur. Untung hanya dia yang mendengarnya, karena suaminya siang tadi masih harus mengurus bengkel.
"Insyaallah besok saya ke sana," jawab Ahmad.
Tanpa berpikir terlebih dahulu, dia hanya tidak tega melihat kondisi Ida berlinang air mata. Sehingga dia langsung mengambil keputusan tanpa memikirkan akibat dari hal tersebut.
Ida pamit pulang setelah menyampaikan maksud kedatangannya, dia akan segera kembali ke rumah sakit untuk menunggui sang putri yang kini ditemani sang bapak berdua saja.
“Sampaikan salam Ibu untuk Ibumu, terima kasih atas kesediaan Ahmad untuk datang besok menjenguk Ayu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Ahmad yang langsung berbalik ke arah rumah setelah mengantar Ida sampai ke mobilnya.
Sepulangnya Ida, Ahmad membantu bapak-bapak yang membereskan meja, kursi dan lainnya. Dia masuk ke kamar jam sebelas malam, dilihatnya Salamah sudah terlelap di ranjang. Cup, sekilas dia mengecup bibir wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya, setelah membaca doa, Ahmad pun ikut terlelap di samping Salamah.
***
Alarm ponsel Salamah berdering. Alarm yang dia set pukul tiga pagi untuk membangunkan tidurnya di sepertiga malam. Namun, badannya tidak bisa digerakkan. Lengan kokoh Ahmad melingkar memeluknya dari belakang. Perlahan Salamah melepaskan kedua tangan Ahmad. Dia meraih ponsel dan mematikan alarm yang berbunyi.
Ditatap wajah pria yang tertidur pulas di atas ranjang. Pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
“Tidur saja ganteng,” desis Salamah. Dia mengusap wajah dengan kedua tangannya dan segera masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.
Beruntung semua pakaiannya sudah diantar Ibnu, sehingga alat salat, mandi dan segala perlengkapannya sudah berada di kamar tersebut. Kamar pengantinnya.
Salamah keluar dari kamar sebelum azan subuh berkumandang. Dia menuju dapur untuk membuat sarapan perdana di rumah suaminya. Meri ternyata sudah berada di sana.
“Bu.”
“Eh sudah bangun, Ibu mau buat sarapan, ini masih ada bistik ayam dan capcay, diapakan ya?” tanya Meri pada sang menantu.
“Bikin nasi goring, suka nggak bu?”
“Ayamnya nanti disuwir dulu, air capcay dibuang diambil sayurnya saja,” lanjut Salamah.
“Oh, iya boleh tuh, Ayah sama Mas Ahmad itu suka nasi goring loh, Teh.”
Mereka berdua pun duet perdana membuat sarapan di dapur. Salamah yang memang sudah terbiasa memasak bisa mengimbangi kecekatan sang ibu mertua bergerak di dapur.
Sarapan sudah terhidang di meja makan saat Ahmad dan Restu kembali dari masjid seusai salat subuh berjamaah. Salamah yang sudah selesai mencuci peralatan masak langsung bergabung duduk di meja makan bersama sang Ibu mertua.
“Harum banget, wah nasi goreng. Enak ‘nih,” seru Restu yang langsung duduk di meja makan.
“Nasi goreng buatan pengantin baru, Yah,” timpal Meri sengaja ingin meledek sang anak, hanya saja justru malah Salamah yang tertunduk malu.
“Enak dong Bu. Nasi goreng bumbu cinta.”
“Wah pagi-pagi sudah cinta-cintaan,” sela Nita yang baru keluar dari kamar.
Si bungsu langsung ikut nimbrung duduk di meja makan. Jadilah mereka sarapan bersama di meja makan untuk dengan celotehan-celotehan riang yang membuat Salamah segera bisa beradaptasi dengan keramahan dan keseruan keluarga suaminya. Pagi pertama yang membuat rasa takut dan grogi menguar, hilang begitu saja.
“Bu, hari ini aku sama Salamah ke rumah sakit mau nengok anak bu Ida,” ucap Ahmad setelah menghabiskan nasi goreng di piringnya.
“Iya semalam pas ke sini juga dia cerita kalau Ayu dirawat di rumah sakit.”
“Masa ya hari pertama bukannya honeymoon malah ke rumah sakit,” cibir Nita.
“Sekalian, di sana banyak hotel ya Mas,” bela Restu.
“Cocok, ide bagus itu. Biar nggak digangguin si bawel,” sindir Ahmad sambil menoleh ke arah Nita.
“Idih siapa juga yang mau ganggu orang hah huh hah huh,” balas Nita tak mau kalah.
Terus saja kakak beradik itu saling melempar ledekan, tanpa mereka sadari kalau wajah Salamah sudah sangat merah bak kepiting rebus karena mendengar percakapan mereka. Dia memilih membereskan piring-piring yang sudah kosong di meja makan dan membawanya ke wastafel tempat mencuci piring yang berada di pojok dapur.