Sah

1039 Kata
Tibalah hari pernikahan Ahmad, ijab kabul dilaksanakan di masjid yang terletak tidak jauh dari rumah Salamah. Iring-iringan mobil rombongan pengantin pria berhenti di depan masjid. Ahmad terlihat diapit oleh kedua orang tuanya dengan Reza membawa payung pengantin berdiri di belakang Ahmad. Keluarga tuan rumah berdiri di sisi kanan jalan untuk wanita dan sisi kiri jalan untuk para pria yang menyambut kedatangan rombongan pengantin pria dengan memakai baju batik seragam. Sementara Mulyana dan Husna sudah siap berdiri di depan untuk mengalungkan melati pada Ahmad dan menyambut kedatangan besan dengan penuh kebahagiaan. Para santri sudah berbaris di sisi kanan dan kiri jalan dengan memakai baju koko dan sarung seragam. Mereka ditugaskan Mega untuk menyanyikan salawat Thola'al Badru saat Ahmad dan keluarganya tiba. Lantunan shalawat yang diiringi tabuhan rebana membuat acara penyambutan pengantin pria terasa lebih berkesan. Suara merdu dan lembut dari para santri membuat Salamah yang mendengarnya merasa haru yang luar biasa tak terkira. Salamah yang sudah berada di masjid, menunggu kedatangan Ahmad di tempat yang dikhususkan untuk jamaah wanita. Mega dan Rahma menemaninya di sana. “Bun, Aku deg-degan,” aku Salamah meremas tangan Mega. Tangannya terasa begitu dingin. Mega meyakinkannya kalau insyaallah semua akan berjalan dengan lancar. Rahma sendiri beberapa kali mengambil foto selfie mereka bertiga. Mengabadikan momen terpenting dalam hidup sang kakak yang kini dirias begitu antik, bak putri Deena, putri dari kerajaan Arab yang kecantikannya tak terelakkan. Ahmad kini telah duduk di depan penghulu, sebagian tamu masuk ke dalam masjid untuk menyaksikan prosesi ijab kabul yang akan segera dimulai. Acara dibuka oleh MC dengan mengucap Bismillah dan berlanjut dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ibnu, adik Salamah yang pernah menjuari lomba MTQ tingkat provinsi. Ayat Suci yang dibacakan adalah Surat Annisa Ayat satu dan Surat Ar Rum ayat 21. Sebelum masuk ke acara ijab kabul, khutbah nikah disampaikan oleh Abah Kiyai Abdul Aziz, Pengasuh pondok pesantren Al-Hikmah. Isi dari khutbah yang disampaikan beliau adalah saran dan penjelasan bagaimana kehidupan pernikahan Ahmad dan Salamah setelah sah menjadi suami istri. Setelah Abah Kiyai selesai memberikan wejangannya, inilah momen yang sangat penting dan bisa disebut dengan klimaks acara, yaitu akad nikah. Akan nikah dipimpin oleh penghulu dan Ahmad yang akan mengucapkan janji pernikahannya. Ahmad duduk diantara Meri dan Restu, Reza dan Haris duduk tidak jauh darinya sebagai saksi dari pihak Ahmad dan Salamah. Dengan lantang dan sekali tarikan napas, Ahmad menjabat tangan penghulu untuk mengucapkan ijab kabul. “Saya terima, nikah dan kawinnya Salamah khoerunnisa binti Mulyana dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang senilai empat belas juta empat puluh dua ribu dua puluh rupiah, dibayar tunai,” ucap Ahmad tegas hingga seluruh saksi yang hadir berteriak SAH. “Alhamdulillah,” seru para tamu undangan terdengar riuh. Salamah menitikkan air mata haru dan bahagia, dari tempatnya duduk. Sekarang dia sudah sah menyandang status istri dari George Ahmad Firmansyah, pria yang selalu mengusik tidur malamnya beberapa waktu ini. Pria yang selalu membuat jantungnya berdegup tak karuan tiap mengingat setiap bisikan rindu yang dia ungkapkan. Pria yang belum lama dikenalnya kini telah sah menjadi suaminya. Suami yang akan menjadi imam di kehidupan rumah tangga yang mereka bina. Suami yang diharapkan menjadi cinta pertama dan terakhir untuknya. “Selamat ya, Teh,” bisik Mega sambil memeluk anak gadisnya. Dia begitu bahagia menyaksikan momen yang paling bersejarah buat Salamah. Mega dan Rahma menuntun Salamah untuk berdiri dan mendekat ke arah tempat ijab kabul dilaksanakan, tatapan matanya lurus ke depan dan tersenyum pada Ahmad yang tak berkedip menatapnya "Ya Allah, cantik banget bidadari-Mu," gumam Ahmad lirih tapi terdengar oleh setiap tamu undangan karena tanpa sadar dia masih memegang pengeras suara yang masih menyala. "Mas Ahmad, benar ini pengantin wanitanya, Nok Salamah," tanya penghulu di tengah tawa yang menggema di penjuru masjid. "Benar, Pak, cantik ‘kan," jawab Ahmad dengan tegas masih dengan memegang pengeras suara yang membuat tamu undangan kembali tergelak “Mas, matiin microphone-nya,” bisik Nita sambil merebut microphone dari tangan Ahmad. Sebelum duduk, Salamah mencium tangan Ahmad yang dibalas dengan kecupan di kepalanya. Setelah penandatanganan buku nikah, Ahmad menyerahkan mahar pernikahan yang berupa uang tunai senilai Rp. 14.042.020 sesuai dengan tanggal pernikahan mereka empat belas April 2020, beserta seperangkat alat salat, kemudian mereka bertukar cincin nikah yang dikenakan di jari manis masing-masing. Setelah sesi foto dengan buku nikah dan mahar selesai, acara ditutup dengan doa yang di pimpin oleh Abah Kiyai. Kedua mempelai kemudian menyalami kedua orang tua mereka, Husna memeluk anak sulungnya, air mata mengalir deras di pipi Salamah ketika sang ibu memberikan nasihat-nasihat untuk pegangannya menjalankan biduk rumah tangga agar sakinah mawadah dan penuh dengan rahmah, hal serupa juga terjadi ketika Salamah memeluk sang Ayah. Secara bergantian Ahmad dan Salamah memeluk dan mendengarkan nasihat dari kedua orang tua dan kedua mertua mereka. Setelah acara sungkeman yang benar-benar mengharu-biru, kedua mempelai pengantin dituntun keluar dari masjid menuju mobil pengantin yang akan membawa mereka ke tempat resepsi. Resepsi yang diadakan di kediaman rumah Ahmad berlangsung meriah, tamu yang datang silih berganti seolah tidak akan habis. Sesekali Ahmad membisikan kalimat yang berhasil membuat Salamah merona dan salah tingkah. Saat tiba giliran teman sekantor Ahmad naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama kedua mempelai, Ayu tidak terlihat ada diantara mereka. Selesai foto, Reza mendekat memeluk Ahmad, rekan kerja sekaligus sahabat karibnya itu sekarang sudah bukan single lagi. “Kata mereka Ayu sakit, Bro, patah hati beneran kayaknya sih,” bisik Reza dengan mata melirik ke deretan rekan kerja mereka yang siap berfoto dengan pengantin di pelaminan. Acara Resepsi selesai bada Isya, Salamah dibantu Nita masuk ke kamar Ahmad yang sudah didekorasi dengan taburan bunga mawar merah dan boneka hati berwarna merah diletakan di tengah ranjang. Nita membantu Salamah melepaskan baju pengantin dan riasan yang melekat di kepala Salamah. Selesai shalat Isya pintu kamar terbuka, Ahmad masuk memakai baju koko, dia duduk di ranjang menunggu Salamah yang melipat mukenanya. Salamah yang merasa kikuk dan belum terbiasa berada satu kamar dengan lelaki akhirnya duduk di depan meja rias untuk merapikan kerudungnya. Ahmad mendekat mengambil kerudung Salamah, dagunya di sandarkan di bahu kiri istrinya. “Cantik de," bisik Ahmad. Cup, sebuah kecupan mendarat di pipi Salamah. Ahmad menarik Salamah berdiri dari duduknya. Kini mereka berhadapan, Ahmad mendekatkan wajah hingga hembusan napasnya terasa hangat menyapu wajah Salamah. Jantung Salamah berdegup kencang, dia menutup matanya, hingga….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN