Pagi ini Ahmad membagikan undangan pernikahannya, karena besok dia tidak ada jam mengajar, sedangkan hari Senin dia sudah ijin untuk tidak berangkat karena pada hari Selasa ijab kabul dan resepsi pernikahannya akan digelar.
Ahmad meletakan undangan untuk Ayu dan beberapa guru yang kebetulan belum datang di atas meja masing-masing. Rekan-rekannya tidak menyangka Ahmad akan menikah secepat ini, dan yang paling mengejutkan adalah nama calon mempelai wanita yang tertulis di undangan tersebut bukan Diah Ayu Prastika yang selama ini digadang-gadang menjadi calon istri Ahmad. Meskipun begitu mereka tetap mendoakan kelancaran buat acara pernikahan Ahmad.
“Berarti selama ini cuma gosip ya sama bu Ayu,” komentar Sahrini, guru bahasa Indonesia di sana saat membaca undangan yang diberikan Ahmad.
“Padahal saya kira juga beneran sama bu Ayu,” timpal Atmaja yang juga sedang membaca undangan dari Ahmad.
“Bu Ayu nanti patah hati nggak ya?”
“Ih, pak Ahmad diam-diam tancap gas ya.”
Masih banyak lagi komentar yang mereka lontarkan saat membaca undangan tersebut. Kebanyakan memang merasa kaget karena ternyata bukan nama Ayu yang menjadi mempelai wanita di undangan tersebut.
Ahmad hanya menanggapinya dengan cengiran saja, karena selama ini dia memang tidak memberikan harapan sedikitpun pada Ayu. Dia tidak pernah menganggap Ayu lebih, selain hanya rekan kerja saja. Meskipun pada kenyataanya mereka memang pernah memiliki hubungan khusus.
Setelah jam Istirahat berakhir, para guru bergegas ke kelas mereka untuk kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Ahmad yang kebetulan tidak ada jam mengajar tetap duduk di tempatnya sambil sesekali menanggapi ledekan beberapa rekannya sebelum mereka berlalu meninggalkan ruang guru.
"Apa ini?" Ayu melemparkan undangan ke meja Ahmad, kini di ruang guru hanya ada mereka berdua.
"Itu...."
"Apa lebihnya dia dari saya? Secantik apa dia? Begitu sempurnakah dia, hingga kamu lebih memilihnya," cecar Ayu sebelum Ahmad menyelesaikan kalimatnya. Wajah Ayu terlihat memerah menahan amarah.
"Saya sabar nunggu kamu dari sejak sekolah, Kamu lupa? Kamu mutusin saya sepihak dengan alasan klise ingin memperbaiki diri dan fokus ujian, kamu ninggalin saya ketika kamu sudah berhasil memporak-porandakan hati saya, sebegitu hinakah saya di mata kamu hah!" bentak Ayu.
"Asal kamu tahu, sejak kamu melakukan itu sama saya, saya selalu merasa diri saya tidak pantas untuk laki-laki lain, makanya saya nunggu kamu." Plaaakkk Ayu menampar Ahmad.
Ahmad membiarkan Ayu meluapkan kemarahan pada dirinya karena bagaimanapun, dia memang bersalah. Dia memang pantas mendapatkannya setelah apa yang dia lakukan saat masih menjalin hubungan dengan Ayu, dulu. Dulu sekali, saat mereka masih sama-sama beranjak remaja. Remaja yang begitu suka coba-coba tanpa berpikir salah dan dosa.
"Puas? Satu tamparan belum cukup untuk b******n seperti kamu, Ahmad!” teriak Ayu dengan air mata yang terus berderai tanpa bisa dia hentikan.
“Untung saya menolak menyerahkan milik saya yang berharga, andai malam itu kamu ambil keperawanan saya, apalagi yang bisa saya banggakan," ucap Ayu tersengal dengan bibir bergetar. Dia benar-benar ingin meluapkan semua kekecewaan yang dia rasa pada pria yang berdiri di hadapanya.
“Mad….” panggilan Atmaja terpotong melihat Ayu yang berdiri di depan Ahmad dengan berlinang air mata. Atmaja terpaku di tempatnya kini berdiri, melihat Ayu meluapkan amarah pada Ahmad.
"Saya bahagia melihat perubahan kamu, Saya pikir kamu akan bertanggung jawab dan akan memperbaiki hubungan kita, ternyata itu hanya harapan saya semata. Semoga kamu bahagia, terima kasih buat pengalaman berharga mengenal sosok iblis tampan seperti kamu di masa lalu." Braakkkk. Ayu menggebrak meja membuat Ahmad mundur selangkah dari tempatnya berdiri.
“Maaf,” ucap Ahmad lirih.
“Maaf? Semudah itu kamu ucapin maaf.”
“Semudah itu kamu melupakan semuanya. b******k!” teriak Ayu melempar buku yang tertumpuk di depannya ke arah Ahmad sebelum dia berbalik dan meninggalkan Ahmad yang berdiri mematung di tempatnya. Dia juga tidak mengucapkan sepatah katapun saat melewati Atmaja yang berdiri di depan pintu masuk ruang guru.
“Mad,” panggil Atmaja.
Ahmad mengangkat tangannya, memberitahu kalau dia baik-baik saja. Dia pun membereskan tumpukan buku yang dilemparkan Ayu.
“Tolong, cukup bapak saja yang tahu,” mohon Ahmad saat Atmaja mendekat.
“Semoga semua baik-baik saja,” harap Atmaja .
“Insyaallah, Pak,” jawab Ahmad sebelum meninggalkan Atmaja yang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Selama ini memang tidak ada satu pun yang tahu kalau Ayu adalah mantan pacarnya ketika SMA di masa "ababil". Mantan pacar yang bukan hanya sekedar pacaran yang hanya sekedar peluk dan cium yang pernah mereka lakukan. Mereka sering membolos bersama menghabiskan waktu sekolah di pantai untuk berbuat zina dan maksiat, meskipun belum sampai bersetubuh tapi sudah sering kali mereka saling memuaskan, mencumbu satu sama lain hingga saling mendapatkan klimaks.
Hubungan mereka berakhir saat Ahmad memutuskan Ayu ketika dia berniat untuk hijrah menjadi lebih baik, karena kejadian kelam yang menimpa Nita, sang adik. Dia meniatkan diri untuk fokus belajar persiapan ujian akhir nasional. Dibantu Mega, wali kelasnya saat itu, dia berusaha memperbaiki diri. Belajar agama, belajar menjauhi rokok, minuman keras dan perempuan.
Ayu benar, satu tamparan tidak cukup untuk b******n seperti Ahmad. Meskipun dia memutuskan taubat, tetapi korban dari kebejatannya tidak bisa begitu saja memaafkan dia. Padahal ketika melakukan zina, Ahmad tidak pernah memaksakan mereka, bahkan tidak jarang mereka yang menyodorkan diri pada Ahmad.
"Astaghfirullah al adzim, ya Allah ampuni dosa-dosaku di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Begitu bejatnya aku dulu y Rabb. Begitu hinanya aku, ya Allah. Ijinkan aku untuk terus memperbaiki diri hingga waktu kembali kepadamu.”
Ahmad menarik napasnya yang terasa tercekat. Dosa kelam di masa lalunya kembali berkelebatan. Seperti sebuah rekaman yang diputar kembali, mengingatkan segalanya.
"Ya Allah, dosaku tak terhitung, dosaku menjulang menggunung. Aku serahkan hidupku pada-Mu, ku pasrahkan diri ini pada-Mu, ampuni dosaku ya Allah, ampuni dosaku ya Allah. Ampuni hamba ya Allah, ampuni hamba. Astagfirullah al adzim. Astaghfirullah al adzim. Astaghfirullah al adzim, " lirih Ahmad beristighfar meminta pengampunan dari-Nya.
Disisi lain, Ayu menangis meraung, menumpahkan segala kekecewaannya. Harapan, mimpi dan cinta yang selama ini tidak pernah berkurang sedikitpun untuk pria yang hari ini membagikan undangan pernikahan.
“b******n Ahmad, Aku mencintaimu, Aku mencintaimu tapi kenapa kamu tega melakukan ini padaku,” raung Ayu yang mengentikan motornya sejenak di jalanan yang terlihat lengan dan sepi.
“Aku nggak rela, Aku nggak rela siapa pun memilikimu. Kamu hanya akan jadi milikku,” tegas Ayu.
Sungguh dia tidak rela pria yang selama ini merajai hatinya harus menikah dengan wanita lain. Dia kembali mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Air mata berderai membuat pandangannya kabur.