1, Malam pertama.
Namaku, Klarabela...
Di kamar yang dingin, hanya ada suara jarum jam yang menemaniku. Aku duduk di ranjang mewah bertabur bunga, beberapa jam yang lalu, aku begitu bersemangat setelah menjalani sebuah pernikahan yang menggunakan tradisi serta kepercayaan dari keluarga suamiku, aku begitu bahagia saat salah satu anganku tercapai, yaitu menikahi seorang pria yang sudah mencuri hatiku, di awal kami bertemu.
Tapi, kenapa kali ini – aku menyesali segala keputusanku sendiri? Sudah berjam-jam aku menunggu dia datang, dan tidak ada tanda-tanda pria itu datang.
"Aku lelah, sepertinya aku harus tidur." aku bergumam sendiri, mencoba menenangkan hati, meski hanya dengan sebuah kata, hingga pada akhirnya– merebahkan diri di ranjang yang dipenuhinya kelopakk bunga mawar.
Baru saja memejamkan mata, suara pintu terbuka sangat kasar dan membuatku spontan duduk. Bukan tanpa sebab sampai kaget begitu, karena sejak awal rumah yang aku datangi terlihat sangat aneh. Silwet bayangan seorang pria dari kejauhan terlihat samar di dalam kamar yang remang cahaya, tanganku mulai gemetar menuju ke nakas meja yang ada di samping, aku hendak menghidupkan lampu utama yang kebetulan salah satu saklarnya ada di sekitar saya.
Tetapi...
Seperkian detik, sosok lelaki itu datang, dan entah bagaimana ceritanya, ia sudah membanting tubuhku di ranjang, mengunci kedua pergelangan tangan, menekan dan berkata... "Bukankah ini malam pertama yang kau tunggu? Aku tidak membiarkanmu melihat bagaimana indahnya surga dunia itu! Cukup kamu rasakan saja!"
Dengan gerakan cepat dan tidak masuk akal, seorang pria yang hanya aku dengar suaranya sudah mengikatkan sebuah kain di kelopak mataku, dan setelahnya....
Gaun indah yang aku kenakan hilang, aku merasa tubuhku bak ditekan, dan penuh dengan beban, seharusnya aku mendorongnya pergi, kenapa aku tidak bisa? Apa karena tubuh yang lemah? Atau aku juga menginginkan lebih.
Kedua tangan kami bahkan sudah menyatu, ia menggenggam jari-jemariku, ia memasukan sesuatu dalam diriku, hingga membuatku menahan nafas dan... "Aahh! S–akit!"
"Serius kamu melasa sakit? Yang aku dengar – kamu pernah melakukannya? Iya, kan? Tidak usah sok polos di bawah kungkunganku!" tekan lelaki yang tengah menggagahiku.
Dia memasukannya sangat kasar?! Tapi mulutnya sangat kejam dalam bicara! Ada rasa kesal dan ingin mengakhiri semuanya, namun saat aku menarik diri sedikit saja, ia menarik kakiku dan kembali menguasaiku. Ada rasa puas, dan ada hal yang membuat aku merasa nyaman, saat milikku dimasuki dengan cepat dan kasar, awalnya aku ingin pergi, tapi sesaat setelahnya, aku mengikuti permainannya, kakiku melingkar di pinggangnya, di tempat yang tidak semestinya, dan jari-jemari lentik ini mulai menari di punggungnya, mencakar, bahkan ada yang menancap di sana.
Aku kira dia akan marah, mendorongku, atau bahkan mencampakan aku, ternyata aku salah! Dia malah semakin bersemangat dan membuat kakiku rasanya gemetaran.
Mataku perlahan mulai terpejam, semua terasa kabur..., dan aku tak sadarkan diri.
***
Entah sudah berapa lama aku tertidur, yang jelas perlahan aku membuka mata dan mencoba mengamati ke arah sekitar. Permukaan tempat yang aku tiduri terasa keras, dan hangat... "Eh, hangat?! Kok–bisa?" gumamku tanpa sadar. Aku menarik diri dan sesaat kemudian aku menutup mulutku dengan tanganku saat aku melihat – ternyata aku baru saja tidur di atas tubuh seseorang, lebih tepatnya seorang lelaki misterius tadi malam, saat aku amati lagi... ya, dia suamiku sendiri.
"Al–alvin?!" gumamku. Wajah itu, aku tahu dia. Wajah yang aku kagumi, meski aku menerima pernikahan mendadak yang aneh ini. Pria yang selalu dingin padaku, dan bahkan tidak mau bicara denganku, rasanya aneh kalau tiba-tiba saja meminta pada orang tuanya agar dinikahkan dengan ku, kali ini – apa aku mungkin harus bertanya, kenapa dia meminta untuk menikahiku.
Kedua bola matanya yang indah dan tajam itu perlahan terbuka, dan mungkin samar-samar melihatku. Awalnya, ia hanya memandang sejenak sebelum akhirnya menghela nafas dan duduk. "Kenapa melihatku begitu? Apa kamu masih ingin lagi?" tanyanya dengan tidak tahu malu.
Aku menggeleng pelan, jujur apa yang ia lakukan menurutku sangat janggal! "Tidak," balasku singkat. Entah mengapa, aku merasa ada suatu hal yang mengganjal dalam benakku saat aku menatapnya.
Ia mengernyitkan dahinya, memandangku yang menatapnya dengan tatapan yang terlihat sangat penuh tanda tanya, dan menatap ke arah tanganku yang menutup bagian dad4 yang penuh ruam merah karena ulahnya yang sangat buas tadi malam.
Tanganku di tarik sedikit kasar olehnya, dan aku bahkan sampai merasa kesakitan! "Alvin?! Kenapa kamu menarik tanganku sangat kuat?! Sa–kit!" gumamku sembari merintih kesakitan.
"Di rumah ini, aku adalah suamimu, dan kamu dilarang memanggilku hanya dengan sebutan nama saja! Kau kira, siapa kau bisa memanggilku sesukanya?!" tanyanya dengan suara yang menekan.
Degh! Batinku saat mendengar ucapannya?! Apa-apa an ini?! Setelah ia meminta menikah dengan ku, dan meniduriku semalam penuh?
"Alvin, aku merasa makin aneh dengan tingkahmu, pertama – kamu yang meminta menikah dengan ku, dan yang kedua, kenapa kamu berlagak seperti di atas segalanya padaku. Katakan sebuah alasan, mengapa kamu memperlakukanku demikian, adikku bisa memperlakukanmu sesuka hati, kenapa aku tidak?! Bahkan yang aku lakukan hanya suatu hal yang sederhana. Memanggil namamu, itu saja membuatmu marah?! Katakan padaku, apa maksudnya?!" aku menatap ke arah Alvin dengan tatapan tajam, ingin melihat reaksinya, dan ingin menanyakan segala hal yang ia lakukan...
Apa alasannya?!