Bab 1.Malam Pertama Bak Neraka
“Kau pikir biaya ICU ibumu itu gratis? Ingat, Senja… pilihannya hanya ada dua. Menikah dengan Danu… atau kau mau melihat ibumu mati besok pagi!”
Suara pekikan Melani sebulan lalu kembali terngiang, berputar seperti kaset rusak yang menyiksa isi kepala Senja. Kata-kata kejam kakak tirinya itu seolah baru saja diucapkan sedetik yang lalu, tepat di telinganya.
Di tepi ranjang itu, Senja duduk tegak dengan tubuh yang gemetar hebat.
Kedua tangannya yang mungil saling bertaut erat di atas pangkuan, meremas kain tipis yang melekat di tubuhnya. Lingerie brokat hitam pekat. Potongan pakaian itu sangat minim, mengekspos lekuk tubuhnya yang ramping, bahunya yang ringkih, serta kulit putih mulusnya yang kini dipenuhi meremang akibat hawa dingin yang menusuk tulang. Pakaian ini bukan miliknya. Ini adalah pakaian milik Melani, kakak tirinya yang sengaja ditinggalkan di lemari besar ini. Melani yang egois, Melani yang manipulatif, dan Melani yang telah menjual hidup Senja demi sebuah ambisi karier di Milan.
Air mata Senja sudah mengering sejak siang tadi, menyisakan jejak samar di pipinya yang pucat. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, statusnya berubah dari seorang gadis desa miskin di Sukatani menjadi seorang istri dari pengusaha raksasa ibu kota. Pernikahan ini bukan didasari atas cinta, melainkan sebuah transaksi barter yang laknat. Nyawa ibunya yang sekarat di ICU rumah sakit ditukar dengan harga diri dan seluruh sisa hidup Senja di atas ranjang ini.
BRAK!
Pintu ganda kamar tidur itu mendadak terbuka dengan satu hantaman yang sangat kasar, membentur dinding marmer dan menciptakan suara dentuman yang mengguncang d**a Senja.
Senja terlonjak kaget. Jantungnya berdegup begitu kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Sepasang matanya yang bulat dan jernih langsung menatap ke arah ambang pintu dengan tatapan penuh kilat ketakutan yang teramat sangat.
Danu Aryawangsa melangkah masuk.
Pria itu membawa serta aroma alkohol yang tajam bercampur dengan wangi parfum maskulin premium yang pekat, memenuhi seisi kamar dalam sekejap. Penampilannya tampak berantakan namun tetap memancarkan aura dominan yang luar biasa mengintimidasi. Jas pernikahan mewahnya entah sudah dilempar ke mana. Ia hanya mengenakan kemeja satin putih dengan tiga kancing teratas yang dibiarkan terbuka, menampilkan d**a bidangnya yang tegap dan kokoh. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini acak-acakan, mengesankan sosok pria yang sedang berada di puncak frustrasi dan amarah yang mendidih.
Wajah Danu yang tampan bak pahatan dewa Yunani itu tampak mengeras sekeras batu karang. Tidak ada binar kebahagiaan seorang pengantin pria di matanya. Yang ada hanyalah sepasang manik mata hitam yang memancarkan kilat kebencian yang menyala-nyala, menatap lurus ke arah Senja yang duduk menciut di sudut ranjang.
Setiap ketukan suara sepatu pantofel Danu yang beradu dengan lantai kayu terdengar lambat, berat, dan penuh tekanan mental. Bagi indra pendengaran Senja, suara itu terdengar persis seperti ketukan lonceng kematian yang sedang menghitung sisa waktu hidupnya.
Danu berhenti tepat di hadapan Senja. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar seketika mengurung tubuh mungil Senja, merenggut seluruh pasokan oksigen di sekitar mereka.
Pria itu menunduk, menatap lekat-lekat pada gaun tidur hitam tipis yang dikenakan Senja. Seringai kejam, dingin, dan penuh penghinaan perlahan terbit di bibir tipis Danu.
"Kau pikir setelah sah menjadi istriku di depan penghulu tadi siang, kau bisa bersikap seperti permaisuri di rumah ini, hmmm?" suara Danu terdengar sangat serak, berat, dan bergetar karena pengaruh alkohol sekaligus amarah yang tertahan.
Danu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengunci pandangan mata Senja yang ketakutan. "Jangan harap ada malam pengantin yang manis untukmu.“
"M-Mas... sakit..." cicit Senja dengan suara yang nyaris habis. Air matanya menetes mengenai punggung tangan Danu yang sedang mencengkeram wajahnya. "Tolong lepaskan... Aku mohon..."
"Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu!!" desis Danu tepat di depan wajah Senja. Embusan napasnya yang hangat berbau alkohol menerpa kulit wajah Senja, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri ngeri.
"Sampaikan salam terima kasih terdalammu pada kakakmu, Melani. Karena mulai detik ini, di atas ranjang ini... tubuh dan hidupmu yang harus membayar lunas seluruh utang darah dan rasa sakit hati yang ditinggalkan wanita sialan itu di rumah ini!"
Senja tidak mampu mengeluarkan suara. Tenggorokannya mendadak terasa kering dan terikat kuat. Tanpa peringatan, tangan kekar Danu bergerak dengan kilat. Jemarinya yang kuat mencengkeram rahang Senja dengan sangat kasar, memaksa wajah gadis itu untuk mendongak menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang buas. Cengkeraman itu begitu kuat hingga Senja meringis kesakitan, merasa seolah-olah tulang rahangnya bisa remuk detik itu juga di dalam genggaman Danu.
"Lihat aku, gadis kampung!" bentak Danu, suaranya menggelegar memecah keheningan kamar. "Tatap mataku! Apakah Melani tidak memberitahumu apa tugasmu di rumah ini? Dia membuangku setelah dua tahun menjadikanku seperti orang t***l yang menjaga kesuciannya. Dia tidak pernah mengizinkanku menyentuhnya seujung kuku pun, dan sekarang... dia mengirim adiknya untuk menjadi tumbal?"
Dengan satu sentakan kasar, Danu melepaskan cengkeramannya hingga kepala Senja terlempar ke samping, menabrak sandaran ranjang yang empuk. Sebelum Senja sempat mengumpulkan kesadarannya, Danu sudah merangkak naik ke atas ranjang, menindih tubuh mungil Senja dengan bobot tubuhnya yang berat.
Senja panik setengah mati. Jiwa murninya menjerit histeris ketika menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Kedua tangan kecilnya mencoba mendorong d**a bidang Danu yang keras seperti dinding semen, namun usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Danu tidak bergeming sedikit pun.
"Jangan, Mas... tolong jangan lakukan ini... Aku mohon,..." jerit Senja, tangisannya pecah menjadi isakan yang amat pilu.
"Kau tidak punya hak untuk memohon di sini, Senja! Kakakmu sudah menjualmu padaku, dan aku sudah membayar lunas seluruh hutang keluargamu! Kau adalah barang milikku sekarang!"
Tangan kekar Danu bergerak brutal. Tanpa ada kelembutan, tanpa ada pengantar yang manis, ia mencengkeram bagian depan lingerie brokat hitam yang dikenakan Senja, lalu menariknya dengan satu sentakan kuat.
SRREEKK!
Kain brokat mahal yang tipis itu robek total menjadi dua bagian, mengeluarkan suara koyakan yang terdengar begitu mengerikan di dalam kamar yang sunyi. Potongan kain itu tersingkir, mengekspos kulit d**a dan perut Senja yang putih bersih langsung ke udara kamar yang sedingin es.
Senja menjerit histeris, reflex melipat kedua lengannya di d**a untuk menutupi tubuhnya yang kini nyaris polos di bawah kungkungan pria asing itu. Kehormatan yang selama dua puluh tahun ini ia jaga dengan taruhan nyawa, kini sedang berada di ambang kehancuran di tangan seorang pria yang sedang kerasukan setan dendam.
"Tolong, Mas Danu! Aku mohon... Jangan lakukan ini. Kalau Mas Danu benci pada Kak Melani, hukum saja Kak Melani, jangan Aku..." ratap Senja di sela-sela napasnya yang memburu akibat ketakutan yang hebat. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan tubuh Danu.
Mendengar nama Melani disebut dari mulut Senja, kabut amarah di kepala Danu justru semakin menebal. Pria itu mencengkeram kedua pergelangan tangan Senja dengan satu tangannya, lalu menguncinya kuat-kuat di atas kepala Senja, membuat gadis itu benar-benar tidak berdaya dan terekspos sepenuhnya.
"Justru karena aku tidak bisa menyentuh Melani, maka kau yang harus menanggung akibatnya!" bisik Danu dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi sangat pelan, namun nadanya terdengar begitu dingin, berat, dan sekeras besi baja kutub.
Danu menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke ceruk leher Senja yang jenjang. Aroma tubuh Senja yang murni bercampur wangi sabun mandi murah khas desa mendadak menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Danu, memberikan sensasi aneh yang sempat membuat gerakan Danu tertegun selama satu detik. Namun, rasa benci yang sudah berkarat di dadanya segera menghapus getaran asing tersebut.
Danu membuka mulutnya, lalu dengan kasar menggigit kulit leher Senja yang lembut, meninggalkan bekas kemerahan yang pekat di sana sebagai tanda kepemilikan yang kejam.
"Aakhh! Sakit, Mas...!" Senja menjerit kesakitan, air matanya mengalir deras membasahi bantal sutra di bawah kepalanya. Tubuhnya meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari siksaan fisik yang sedang dilancarkan oleh suaminya sendiri.
"Menangislah, Senja. Menangislah sekeras yang kau bisa. Karena setiap air mata yang keluar dari matamu adalah bayaran untuk harga diriku yang sudah diinjak-injak kakakmu!" desis Danu, perlahan menaikkan tubuhnya kembali untuk menatap wajah hancur Senja. Sepasang matanya yang tajam menatap lekat pada sudut bibir Senja yang tampak sedikit bengkak, bekas tamparan Melani kemarin di desa yang belum sepenuhnya sembuh.
Danu tidak peduli dari mana luka itu berasal. Di dalam benaknya yang kini sudah tertutup oleh kabut dendam hitam, ia hanya ingin meluapkan seluruh hasrat biologis yang tertahan selama dua tahun, sekaligus menghancurkan warisan rasa sakit dari Melani melalui tubuh suci adik tirinya ini.
Tangan Danu yang bebas perlahan bergerak turun, menyusuri lekuk pinggang Senja dengan sentuhan yang kasar dan menuntut, bersiap untuk merenggut paksa seluruh kesucian yang dimiliki oleh gadis malang tersebut.
Senja memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan wajah ibunya yang pucat dengan selang oksigen menempel di hidung mendadak melintas. 'Ibu... maafkan Senja... Senja tidak bisa menjaga diri Senja lagi...' batin Senja pilu, seluruh pertahanannya runtuh, dan tubuhnya seketika mendadak pasrah, lunglai seperti boneka mati di bawah kungkungan Danu.
Danu yang merasakan perubahan drastis pada tubuh Senja yang tiba-tiba berhenti melawan, sempat menghentikan gerakannya sesaat. Ia menatap wajah Senja yang terpejam pasrah dengan air mata yang terus mengalir tanpa suara. Ada sebuah kedamaian yang hancur di wajah itu, sebuah kepasrahan mutlak dari seseorang yang sudah kehilangan harapan hidup.
Namun, ego dan rasa sakit hati Danu karena dikhianati oleh Melani telah mengubahnya menjadi monster yang buta.
"Buka matamu, Senja! Lihat siapa pria yang sedang merenggut paksa hidupmu malam ini!" perintah Danu kejam.
Malam itu, di bawah temaram lampu kristal mewah kediaman Aryawangsa, sebuah neraka j*****m resmi dimulai bagi hidup Senja. Di atas ranjang sutra hitam itu, dengan disaksikan oleh keheningan malam yang mencekam, Danu Aryawangsa mulai mengeksekusi sumpah balas dendamnya, merobek paksa kesucian sang pengganti, mengalirkan seluruh rasa sakit hati dan kebenciannya ke dalam rahim suci gadis desa yang sama sekali tidak berdosa.
Di tengah rasa sakit yang mengoyak tubuh dan jiwanya malam itu, Senja menatap hampa ke langit-langit kamar yang temaram, membiarkan batinnya berbisik lirih dalam kegelapan:
'Tuhan... jika tubuh yang hancur ini adalah harga yang harus kubayar agar Ibu tetap bernapas, maka ambillah. Tapi kumohon, sisakan sedikit saja waras di otakku, agar esok pagi aku tidak lupa bagaimana caranya menjadi manusia...' "
Bersambung