Kadang kita tak menyadari bahwa hal kecil bisa membuat kita terperangkap dalam taktik sendiri.
***
Cyra terdiam sesaat, otaknya berhenti berpikir dan dia seakan masuk kedalam sebuah dunia lain yang dibelakangnya penuh dengan background bunga bermekaran! Lalu kemudian dia berusaha untuk menyadarkan kembali ke dunia nyata ini, sayangnya dia malah memeluk erat tubuh laki-laki itu. Dalam hening sejenak itu akhirnya dia menemukan sebuah cara!
‘Varen kau akan jatuh dalam perangkapku!’ batinnya.
Akhirya Varen yang mencium Cyra itu terkejut karena wanita itu akhirnya membalas ciumannya penuh gairah, alih-alih dia menolaknya, wanita itu malah lebih berani dengan memainkan lidahnya! Varen yang kemudian malah ngeri sendiri dengan perbuatannya ini dan langsung melepaskan ciuman itu.
“Kenapa?” Cyra tersenyum bagai seorang w*************a dihadapannya.
Varen membasahi kerongkongannya dengan air liurnya, entah kenapa sangat kering sekali saat ini.
“Kau …” Varen kehabisan kata-katanya untuk membalas Cyra.
“Seperti w************n ya?” Ucap Cyra sambil berdiri.
“Wanita jalang!” Ucap Varen.
“Cocok sekali wanita jalang bertemu dengan laki-laki iblis!” Cyra berkata dengan sangat mudah sekali.
“Dasar gila!” Lalu Varen meninggalkan Cyra yang sebenarnya dia sangat gemetar sekali saat ini, yah gemetar, karena dia berharap bahwa jangan sampai Varen berbuat lebih dari ini, karena semuanya dia lakukan untuk memberanikan diri saja, sebagai bentuk perlindungan dan mendirikan dinding pembatas.
Cyra lalu menutup pintu itu dan kemudian mengacak rambutnya! Dia benar-benar kesal, karena ciuman pertamanya itu harus diberikan pada Varen!
***
Varen memanggil pelayannya dengan wajah yang masih terlihat syok, dia hanya tak menyangka saja bahwa wanita itu benar-benar hilang akal! Padahal dia hanya ingin bermain-main menghilangkan rasa bosan dan juga ingin menjebak wanita itu, tapi wanita itu malah membuat jantungnya berpacu cepat.
“Iya Tuan ada apa?” Tanya wanita muda ini.
“Sudah kau bereskan kamar itu?” Tanyanya.
“Sudah Tuan, seperti yang Tuan perintahkan sebelumnya kalau barang-barang Nona Rany sudah disimpan di lemari. Untuk barang lainnya kami simpan di gudang luar.” Jawabnya tanpa berani menaikkan pandangannya.
“Baiklah, terima kasih.” Lalu Varen menuju kamar yang telah dibersihkan itu, ditangannya kini masih memegang kertas dengan tulisan Cyra didalamnya, dia kesal karena wanita itu seakan menamparnya melalui tulisan.
Dikamar ini Varen berjalan mondar-mandir sambil mengamati tulisan Cyra, tak ada yang aneh dengan tulisan itu, dan entah kenapa bahasanya juga sangat mirip dengan buku yang ditinggalkan oleh Rany, dia mulai menjadi sanksi, apakah Cyra memang yang menuliskan semuanya atau malah Rany yang menipunya? Kalau memang Rany yang menjiplak harusnya ada hal yang menghubungkan keduanya.
“Apa yang menghubungkan mereka?” Gumam Varen sambil memijat pelipisnya, entah kenapa saat ini dia seperti seorang detektif dimana dia harus memecahkan kasus yang terkesan sangat lucu ini!
“Cyra, dia bahkan tak pernah pergi meninggalkan Pulau itu, hidupnya hanya diseputaran situ-situ saja, tapi Rany, dia pernah pergi ke belitung, dan itu …” Varen lalu mengerutkan lagi keningnya.
“Wanita itu harus kuintrogasi sekali lagi.” Varen yang tiba-tiba bangkit dari kursinya ini mendadak duduk kembali saat dia teringat Cyra membalas ciumannya!
“HAAAAIZZZZZ! Wanita itu benar-benar menyebalkan, kenapa juga dia harus membalasku! Kalau dia melakukan hal seperti itu pada laki-laki lain bisa habis dia digerayangi! Dasar wanita bodoh dan licik!” Dia menghembuskan nafasnya dengan kesal sekali.
Terdengar pintu diketuk dari luar, membuat Varen terkejut.
Makin lama ketukan itu makin kuat, dan dia yakin kalau pemilik tangan itu adalah wanita yang menyebalkan itu, Varen mempersiapkan diri demi menjaga gengsinya. Dia lalu membuka pintu itu dengan wajah yang dingin seolah tak terjadi apapun.
“Ada apa lagi?!” Ucapnya dengan nada tinggi.
“Varen! Aku punya bukti kalau wanita itu adalah orang yang membuat puisi itu pertama kali.” Farras, adiknya ini menghilangkan moodnya! Entah kenapa hatinya sedikit kecewa, karena dia pikir yang akan menghampirinya adalah wanita itu.
“Kau lagi? Kenapa lagi, tak perlu kau sok-sok-an untuk membela wanita itu.” Varen berkata dengan malas-malasan.
“Aku janji aku akan bekerja dengan baik dan mengolah platform itu dengan kekuatanku sendiri, dan aku juga barusan mengeluarkan ucapan permintaan maaf pada Ileana karena mengambil karyanya, tapi tenang saja aku tak menyebutkan Rany disana.” Farras berkata dengan sangat bersemangat dan membuat Varen makin mengerutkan keningnya.
“Bukti apa?” Tanyanya lagi.
“Rany adalah sepupu dari temannya si Cyra, namanya Mia.” Ucapnya pada Varen.
“Mia?” Varen berjalan mendekati Farras mencari jawaban kebenaran disana, dan Farras hanya mengangguk.
“Ya, Mia, temannya si Cyra, yang dia mau ikut ke …”
“Sudah … sudah … sudah … apa si Cyra sudah tau kalau kau menemukan fakta ini?” Tanyanya.
“Belum, karena kau harus tahu hal ini terlebih dahulu, kau harus tahu bahwa wanita yang kau cintai itu bukan wanita yang baik dan juga dia sangat licik.” ucap Farras lagi.
“Kau bilang apa barusan?!” Suara Varen mulai meninggi karena dia sudah mulai menyinggung Rany.
“Tenang dulu dong, jangan langsung ngegas, kau tak pernah berpikir kalau wanita itu sebenarnya licik?” Lagi-lagi Farras mulai memancing keributan dengan Varen.
“Kau benar-benar keterlaluan.” baru saja Varen ingin memukul adiknya itu tiba-tiba Cyra berteriak dan berlari mendekati mereka.
“VAREEENNN BERHENTI.” teriaknya.
Farras hanya menampakkan senyumnya saja, tatkala tinju itu hampir saja menghantam wajah mulusnya itu.
“Apa kau bisa menyelesaikan masalah tidak dengan kekerasan?!” Cyra benar-benar tak habis pikir dengan laki-laki yang wajahnya terlihat teduh tapi tingkahnya seperti preman pasar yang selalu menggunakan otot.
"Kau jangan ikut campur Cyra!" Bentak Varen.
"Biarkan saja, otaknya memang sudah tak waras kalau sudah berhubungan dengan wanita licik itu." Pancing Farras lagi dan itu membuat Cyra kesal dengannya, Cyra tak menyukai adanya baku hantam apalagi dengan saudara sendiri, tapi dia selalu memancing sang kakak untuk terus memukulnya.
"Kau benar-benar keterlaluan!" Lagi Varen ingin memukul adiknya dengan tinjunya, tapi Cyra memberikan respon lebih cepat dengan memeluknya untuk menahan agar laki-laki ini menghentikan tindakan bodohnya ini.
"Berhenti Varen, aku mohon berhenti ..." Cyra berkata dengan memeluk erat tubuh laki-laki ini, lalu dia melihat ke arah Farras untuk segera menjauh dari tempat ini.
Farras merasakan sesuatu yang ganjil terhadap tingkah kakaknya, dan dia akhirnya memilih untuk menjauh, sedangan Varen dia masih mengatur nafas dan juga degup jantungnya yang mulai tak seirama, sangat kacau sekali.
"Tenanglah Varen, kau harus bisa tenang." Cyra berkata dengan suara lembut dan mulai merenggangkan pelukannya. Sambil menepuk perlahan punggung laki-laki ini, otaknya kembali berpikir untuk mengatur kata-kata sok bijak agar laki-laki ini bisa redam dalam kemarahannya.
"Duduklah sebentar." Dia melepaskan pelukannya dan membawa Varen untuk duduk di pinghir ranjangnya.
"Apa kau sudah cukup tenang?" Tanya Cyra lagi sambil menatap dalam manik mata Varen yang bewarna sedikit kecoklatan.
Dia hanya diam, Varen merasakan getaran hebat dalam dirinya, wanita ini terlihat sangat tulus dan ... Varen tak bisa menahan hasratnya untuk membawa wanita ini dalam pelukannya. Hatinya mampu mengendalikan otaknya, kali ini Varen langsung memeluk Cyra dan memastikan apakah dirinya saat ini mulai membuka hati untuk wanita lain?
"Apa kau benar-benar yang menulis semuanya?" Tanya Varen pada Cyra, dan kali ini Cyra memilih untuk diam.
"Katakan padaku wanita jalang, apa kau yang menulis semuanya?" Tanyanya dengan pemilihan kata yang tak begitu tepat dan membuat Cyra menginjak kaki Varen dengan kuat.
"Aaaaaauuuuuwwwww!!!" Teriak Varen karena merasa kesakitan lalu reflek melepaskan pelukan itu dan memegangi kakinya.
"Dengar laki-laki Iblis! Aku tak akan diam kalau kau sekali lagi menghinaku. Kau benar-benar membuatku marah!"Cyra menatap laki-laki dihadapannya ini dengan penuh kekesalan.
"Apa kau sedang bermain trik denganku?" Varen mencoba mencari tahu dari tatapan Cyra.
"Kau benar-benar keterlaluan Varen! Sudah bahasnya besok saja. Aku capek mau tidur!" Cyra langsung menghentakkan kakinya berjalan keluar dengan rasa kesal lalu membanting pintu kamar itu dan membuat Varen terlonjak kaget.
"Dasar wanita aneh." Rutuknya, tapi tiba-tiba otaknya malah mengingat memori singkat itu, saat Cyra yang tiba-tiba memeluknya dan entah kenapa respon tubuhnya sangat aneh, bahkan otaknya tak bisa berpikir panjang. Membayangkan hal ini Varen malah bergidik ngeri.
"Gak mungkin ... gak mungkin ..." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan keras.
Lalu dia membanting tubuhnya ke kasur dan menutup wajahnya dengan bantal, menepis semua kemungkinan terburuk itu.
***
Melihat Cyra yang keluar dari kamar Varen, Farras langsung menghampirinya.
"Cyra." Sapanya dan jujur saja Cyra bahkan malas melihanya.
"Ada apa lagi?" Ketus Cyra padanya.
Namun Farras malah mengacungkan kedua jempolnya pada Cyra, "You are the best!" Ucapnya dengan wajah sumringah, cukup tampan walau sudah ada hiasan beberapa lebam karena pukulan Varen.
Cyra berdecih dan malas untuk meladeninya, tapi laki-laki ini malah membuntuti langkahnya dan membuatnya terpaksa harus menghentikan langkah saat berjalan ke kamar Varen yang berhasil dia kuasai!
"Apaan sih?" Cyra berkata dengan wajah kesal.
"Mia, dia temanmu kan?" Ucapan Farras ini membuat Cyra tertarik untuk tahu lebih lanjut.
"Apa hubungannya denganmu?" Tanya Cyra seperti tanpa minat padahal Farras sudah jelas melihat gelagat penasaran di wajahnya itu.
"Rany itu adalah saudara jauh Mia, dia pernah liburan ke Belitung, dan si Varen bertemu dengannya ditempat itu, kemudian hubungan mereka berlanjut saat di Jakarta, sampai sini apa kau mau tahu kelanjutannya?" Farras mengukir senyum disana.
"Maksudnya? Kemungkinan Rany mengambil bukuku dan menyalin semuanya?" Yah! Pancingan Farras termakan!
"Menurutmu? Jika kau kau yakin seperti itu harusnya kau menemui Mia sekarang, dan ... satu hal lagi yang perlu kau tahu, aku sudah memposting permintaan maafku padamu, dan sekarang permasalahan denganmu kupikir sudah selesai dan aku juga sudah membantumu menemukan secercah kebenaran, harusnya kau bisa memaafkanku." Farras benar-benar membuat Cyra tak mampu memikirkan kata-kata yang tepat.
"Maksudnya aku harus meminta penjelasan pada Mia?" Tanyanya lagi.
"Kau memiliki saudara yang bernama Ileana kan? Dia berteman dekat dengan Rany waktu Rany berlibur cukup lama disana, sayangnya kita tak bisa meminta menjelaskan hal itu pada orang yang sudah tak bernyawa lagi. Kakakmu sudah meninggal karena kebakaran dan Rany meninggal bersamaan dengan kedua orang tuaku. Lalu yang tersisa hanya Mia, kenapa kita tak menghububgi Mia saja?" Ucapnya memberikan solusi tapi sayangnya Cyra memandang curiga pada laki-laki ini.
"Katakan maksudmu, karena aku yakin kau memiliki maksud lain. Didunia ini orang tak ada yang melakukan sesuatu secara cuma-cuma." Cyra menatap Farras dengan pandangan yang mencurigakan, mencari maksud lain dari perbuatan baiknya ini.
"Bantu aku membuktikan pada Varen kalau Rany itu bukan wanita yang baik seperti yang dia pikir selama ini dan ..."
"Kebanyakan tuan muda!" Sela Cyra sambil menampakkan smirknya!
"Baik hanya itu saja, aku hanya perlu itu saja, aku tak boleh terlalu tamak, kan?" Farras tersenyum.
Melihat laki-laki ini sepertinya dia jauh lebih dewasa dibandingkan Varen yang lebih tua umur dibandingkan Farras.
"Aku hanya perlu bahwa orang itu yang menjiplak karyaku urusan wanita itu dan Varen kupikir itu bukan kapasitasku." Ucapnya lagi.
"Terserah, tapi dengan kau membuktikannya maka secara tak langsung kau juga membuktikan bahwa Rany selama ini hanya bersikap palsu didepan Varen." Farras tak ingin menunggu jawaban dari Cyra, dia langsung membalikkan badannya dan meninggalkan wanita itu sendiri disana.
"Cyra jangan lupa lihat di medsosku! Permintaan maaf yang tulus dari seorang Alkhilendra, sudah kubuat semanis mungkin, kau harusnya bisa menerima permintaan maaf itu." Ucapnya sambil setengah berteriak.
Cyra, dia tak habis pikir bahwa ternyata apa yang dia karang tentang orang-orang berduit memang selalu seperti ini. Hidupnya bagai tersedot kedalam novel roman picisan yang dibuatnya. Dia merasakan seperti terkena kutukan oleh tokoh-tokoh yang dia ciptakan!
***
Cyra masuk kedalam kamar itu dan mengambil handphonenya dia hanya ingin memastikan apakah hal itu benar dilakukan oleh Farras tentang permohonan maaf itu, tapi saat dia membacanya Cyra malah merasa sedikit kesal, pasalnya disana dia hanya meminta maaf dan mengatakan secara tersirat pengakuan bahwa puisi itu adalah milik ileana.
Untuk Ileana, Aku Alkhilendra, dari dalam hati memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang heboh belakangan ini, yang akhirnya menorehkan luka didunia literasi. Jujur, ada hal yang tak bisa diungkapkan kepublik darimana asal tulisan itu, tapi BENAR bahwa itu bukan tulisan yang kubuat. Untuk para pembaca ceritaku, aku juga mohon maaf yang sebesar-besarnya bahwa terdapat hal yang kutuliskan didalam tulisan itu tanpa mencantumkan sumbernya dan seolah itu adalah hasil dari pikiranku.
Aku berharap setelah kejadian ini kedepannya aku akan berhati-hati lagi dan akan mencantumkan dengan jelas sumber yang kudapat jika itu bukan dari pemikiranku.
Maafkan aku karena tah membuat kalian semua kecewa.
"Menyebalkan sekali, tidak kakak maupun adik sama-sama membuatku kesal." Gumamnya.
Pikirannya akhirnya kembali pada ucapan Farras tentang Mia, "Apa mungkin kuncinya ada pada Mia?" Dia bertanya pada diri sendiri.
***