Jangan pernah bicara tentang rasa
Jika kau tak mengerti sebuah bahasa
Aku sebenarnya tak memiliki Kuasa
Tapi kau tak akan mampau menjadikanku mangsa
.
Harusnya kau sangat tahu tentang batas
Dan jelas mengerti tentang hal yang pantas
Sayangnya kau menjadikannya tak berkualitas
Hingga akhirnya kau menjadikanku jalan pintas!
.
Dengar tuan muda yang tampan dan gagah
Yang selalu berlatar mewah dan megah
Ingatlah jangan sampai kau pongah
Hingga akhirnya kau menjadi lengah!
***
Cyra segera mencari kesadaran penuhnya dan mendorong kuat tubuh Varen yang mulai menghimpit dirinya, untuk beberapa langkah laki-laki itu mundur, hampir saja ide gilanya untuk melumat bibir milik Varen ini terealisasikan, untungnya dia bisa segera kembali ke alam sadar sesungguhnya!
“Dasar Iblis mesum.” Maki Cyra, lalu dia berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar itu, sayangnya tangannya yang besar mencekal lengan Cyra dan membuat langkah kakinya terhenti dengan kekuatan besar yang dimiliki laki-laki itu.
“Tidurlah disini, biar aku disana.” Ucap Varen terdengar lembut, entahlah ketika mengatakan hal itu untuk beberapa saat Cyra merasa dirinya terhipnotis dengan Varen!
Laki-laki itu segera keluar kamar, sedangkan Cyra yang merasa memenangkan pertandingan sengitnya dengan laki-laki itu merasa puas.
“Nek, tunggulah, aku akan membuktikan pada dunia bahwa aku tak melakukan kesalahan apapun.” gumam Cyra saat tiba-tiba dia mengingat mendiang neneknya itu.
Handphone Cyra berbunyi, lagi itu dari Mia, dia masih sedikit ragu untuk bercerita masalah ini sepenuhnya pada Mia, dia mendiamkannya dan memilih untuk tidak menjawabnya, dia lebih memilih untuk melakukan room tour di kamar besar milik Varen!
“Wow, benar-benar sama persis seperti di drama-drama …” gumamnya pelan.
Lalu dia melihat ke arah ruangan lain yang sepertinya itu adalah wardrobe room, disana tertata rapi pakaian-pakaian itu dengan sangat luar biasa fantastis! Tersusun berdasarkan warna dan juga mungkin dilihat dari tipenya, baju formal dan casual terpisah lalu, jam tangan dengan merek mahal yang sering dia cari di mesin pencari untuk bahan riset novelnya, mulai dari Tag Heuer, Patek Philippe, Rolex, dan matanya berhenti saat menatap jam tangan dengan brand Ricard Mille yang pernah di cap sebagai jam termahal beberapa tahun yang lalu Ricard Mille yang hanya ada sepuluh buah saja didunia, limited edition dan saat ini dia melihatnya nyata disana.
“Jangan sembarangan menyentuh barang orang lain.” Suara Varen mengejutkannya lagi saat tangannya ingin mencoba mengelus permukaan jam mahal yang harganya jutaan dollar itu.
“Apa ini asli?” entah kenapa pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut Cyra dan membuat Varen mengerutkan keningnya.
“AH tidak … tidak maksudku bukan begitu aku hanya …”
“Kau mau mencurinya?” Varen bertanya curiga dan berjalan mendekatinya. Wajah Varen yang makin lama makin terlihat tampan ini membuat Cyra berusaha keras membuat batas tinggi agar tak jatuh dalam ketampanan fana itu!
“Mencuri? Sejak kapan aku ingin mencuri, lagipula aku tahu benda ini sangat mahal dan kenapa juga hanya kau letakkan disana begitu saja?” Cicitnya lalu mengalihkan pandangan ke sekitarnya.
Varen memandang lekat kepada wanita itu, “Kau sepertinya tahu mana benda yang cukup berharga dan tidak serta … sepertinya kau wanita yang cukup licik, dan aku harus terus mengawasimu. Ikut aku sekarang.” Varen menarik paksa tangan Cyra sehingga membuat wanita itu terhuyung-huyung mengikuti langkah kaki Varen yang sangat lebar, sedangkan dirinya harus menyesuaikannya dengan sedikit berlari kecil agar tak terjatuh.
“Duduk!” perintah Varen, kali ini mereka ada disebuah ruangan yang cukup luas, masih dengan dominan warna putih dan beberapa ornamen kayu bewarna hitam yang menambah kesan sederhana tapi mewah ruangan ini, kali ini Cyra menebaknya kalau ini adalah ruang kerja Varen.
Cyra duduk disofa besar itu lalu Varen mengambil posisi berhadapan dengannya, kemudian dia memberikan kertas kosong dan pena pada Cyra.
“Tulislah sebuah puisi yang bisa meyakinkanku kalau kau bisa membuat puisi dengan sangat baik dan bisa menyentuh orang lain, setidaknya bahasa yang kau pakai pasti akan mirip dengan yang sering kau tulis dulu! Waktumu tak banyak, cukup satu jam saja.” Ucapya pada Cyra.
“Apa kau bilang?”
“Kenapa? Kau tak mampu? Apa kau sekarang sedang berusaha untuk mencari pertolongan?” Varen berkata dengan nada suara yang merendahkan.
“Kau benar-benar keterlaluan! Menulis itu mana bisa dipaksa, kita harus mendapatkan rasanya dulu dan itu harus …”
“Sudah berjalan dua menit dari enam puluh menit! Tulis saja dan jangan banyak protes, karena menulis puisi juga tak banyak kata yang mesti kau tuangkan!” ucapnya sambil meninggalkan Cyra lalu duduk dikursi kerjanya dan menatap layar komputer didepannya.
Cyra merasa sangat kesal sekali saat ini, dia benar-benar tak habis pikir kalau laki-laki ini benar-benar menyebalkan! Memang benar menulis puisi atau sajak romantis itu tak perlu banyak kata, tapi saat akan menuliskannya dia akan sangat banyak berpikir tentang kata-kata yang indah agar bisa dirangkai dengan manis dan memberikan rasa nyata yang hidup kedalam tulisan itu! Tidak hanya asal menulis saja.
“Sabar Cyra, kau harus tahu kalau ini hanya tantangan saja … kau harus bisa, kau pasti bisa Cyra.” gumamnya sambil memejamkan mata, lalu Varen mulai mengintip dari balik layar komputernya, dia mengamati Cyra yang sepertinya sedang kesusahan karena tugas yang diberikan padanya, tapi melihat Cyra dengan wajah seperti itu membuat Varen tersenyum geli melihat tingkahnya yang ternyata masih seperti anak-anak.
Tak menunggu satu jam Cyra memberikan kertas itu pada Varen.
“Ini kau baca sendiri, itu jelas sangat mirip dengan gaya bahasa puisiku, dan kau bisa menilainya sendiri.” Cyra memberikan kertas itu diatas meja Varen, persis seperti seorang siswa mengumpulkan tugasnya pada gurunya.
“Baiklah, letakkan saja dulu disana, aku sedang banyak yang ingin ku kerjakan,” Ucap Varen tanpa melihat ke arah Cyra, dia saat ini masih terlihat sibuk didepan layar komputer itu, dan menuliskan beberapa catatan disebuah kertas hvs itu. Cyra memerhatikan gerakan yang dibuat oleh Varen dan sepertinya dia sedang sangat serius sekali saat ini.
Manusia memang memliki sifat alami yang akhirnya akan melihat kearah seseorang yang menatapnya dalam, saat itu Varen merasa kalau dirinya sedang diperhatikan dengan sangat intens oleh wanita itu, lau menghentikan kegiatannya.
“Kenapa? Kau keluar saja, tidur dan beristirahatlah.” Ucapnya pada Cyra yang tak berkedip menatapnya, entah kenapa kali ini Varen merasa kalau tatapan itu memiliki berjuta rasa untuknya!
“Aku memberikan ini padamu, harusnya kau baca terlebih dahulu dan berikan penilaiannya padaku sekarang juga!” Cyra membalas ucapan Varen barusan.
“Kau memang keras kepala!” Ucap Varen padanya.
“Aku bukan keras kepala aku hanya ingin kau tahu kalau aku baru saja menulis puisi itu dalam keadaan kepepet! Dan itu harusnya memiliki bahasa yang sama dengan yang ada dalam jurnal si Rany itu! Lagipula …”
“Sudah kau jangan banyak bicara, ada banyak hal yang harus aku kerjakan saat ini dan kau kembali saja ke kamar sebelum aku berubah pikiran, dan juga pakaianmu sudah ada disana, dan jangan berani sedikitpun berpikir unutk mencuri barang-barangku!”Ancamnya.
“Dasar laki-laki iblis!” Ucapnya lalu membalikkan badannya dan saat dia membanting pintu itu Varen menyunggingkan bibirnya.
Dia lalu mengambil kertas yang ditulis oleh Cyra dan …
“Rapi juga tulisannya, atau dia memang biasa melakukan tulisan indah?” gumamnya perlahan sambil tersenyum, entah kenapa dia merasa sangat senang sekali saat membuat Cyra menjadi menderita, dia seakan menemukan mainan baru yang sangat menyenangkan, dan itu membuatnya bersemangat sekali untuk membuat wanita itu mengeluarkan semua jurus kekanakannya.
Varen membaca tulisan Cyra tapi setelahnya dia malah menjadi sedikit kesal, apa coba maksudnya menulis tulisan seperti ini, apakah itu untuk menyindir dirinya?
Dia kemudian bernajak dari tempat itu lalu segera berjalan ke kamarnya untuk menemui Cyra dan menanyakan maksudnya.
“Cyraaaa!” teriaknya sambil membuka kamarnya yang saat ini ditempati oleh Cyra.
“AAAAAAAHHHHH! Keluar kamu dasar Iblis mesummmm!” teriak Cyra sambil menutup tubuhnya!
Menyadari dia salah waktu dengan cepat Varen menutup pintu itu segera.
“Cyra jika sudah selesai cepatlah keluar!” ucap Varen dari luar dan saat ini laki-laki ini terlihat sedikit berbeda. Belum saja satu hari Cyra berada dirumah ini, para pelayan rumah Varen merasakan kalau Tuan mereka sepertinya sudah berubah menjadi orang yang berisik. Selama ini Varen jarang sekali mengeluarkan suara, tapi saat Cyra ada disini dan belum juga satu hari semuanya seakan berubah dan wajah dingin dan datar itu terlihat lebih banyak mengeluarkan ekspresi, entah itu bentuk eksresi kesal, marah ataupun senyum sendiri dan ini sudah dipergoki oleh pelayan disini.
Lima belas menit Varen menunggunya diluar akhirnya Cyra membuka pintu kamar itu dan saat ini dia sudah menggunakan pakaian tidurnya! Yah lebih tepatnya itu pakaian tidur yang barusan saja dibeli di toko milik Inha!
“Kenapa lagi?” Tanya Cyra dengan sangat ketus.
“Katakan maksud dari puisi ini.” Ucap Varen dengan tatapan seakan ingin menguliti wanita itu, tapi Cyra hanya menanggapinya dengan santai.
“Oh …”
“Kenapa Oh? Apa maksudnya?” Tanay Varen dengan suara keras.
“Kalau bicara apa kau harus teriak-teriak? Biar besar dan kamu gak capek, mending aku beliin TOA aja? Itu loh yang sering dipake …”
“Udah udah udah! Kamu berisik sekali! Katakan saja maksud ini apa?” Varen mendengus kesal.
“Ya, aku hanya menulis saja, kenapa kamu harus marah?”
“Karena aku akan menilainya.” Ucap Varen lagi masih dengan nada yang tinggi.
“Oh, masih tetap melalui penjurian? Terus kalau kau tak suka maka itu tak akan memiliki nilai yang bagus?” Cyra lagi-lagi mengulur waktunya.
“Sudah jangan banyak bicara cepat kau katakan saja.” Ucapnya.
“Itu kalau kau bisa merasakan harusnya kau merasa kalau kalimat itu kutujukan untukmu! Sudah ah aku capek mau tidur, lagian kau sendiri yang menyuruhku untuk istirahat, makanya jadi orang jangan plin-plan! Bye Varen! Have a Nicce dream dear!” Cyra lalu mengatupkan pintu itu dan membuat darah Varen mengalir cepat keseluruh tubuhnya dengan wajah yang memerah saat Cyra mengatakan hal itu!
Dia sangat ingin marah karena Cyra mengatakan tentang dirinya yang tak tahu batas dan apalah itu! Yang jelas dia sangat kesal sekali, tapi sepertinya dia juga tak mampu mengartikan rasa dalam hatinya yang mulai bergejolak saat Cyra mulai memancing dirinya seakan untuk jatuh cinta!
“Cyra ingat ujian pertamamu ini tak akan memberikan penilaian yang baik!” teriak Varen dari luar.
“Cyra! Kau dengar tidak?” Varen menggedor pintu itu.
“Varen! Jika kau ingin menghancurkan pintu kamarmu ini silakan!” Jawab Cyra dari dalam.
“Cyra, keluar kamu! Kita belum selesai.” Ucapnya lagi.
“Kau laki-laki plin-plan yang tak berpendirian!” teriak Cyra dari dalam.
“Kauuuuu …”
Pintu terbuka saat Varen ingin mendobrak pintu itu dan membuat tubuhnya menabrak tubuh Cyra lalu membuat keduanya jatuh ke lantai.
BRRRRUKKKKKK!
“AAAUUUUWWW!” teriak Cyra saat badan Varen menimpa tubuhnya dan saat ini wajah mereka benar-benar begitu dekat sampai akhirnya entah setan mana yang menghampiri Varen dan membuatnya melanjutkan ketidaksenagajaan itu menjadi sebuah ciuman!
Cyra terdiam saat Varen akhirnya mengecup lembut bibirnya, dia mematung seakan tubuhnya tak bisa bergerak, mata mereka beradu kemudian detik berikutnya karena merasakan ketakutan akhirnya Cyra memejamkan matanya dan Varen tersenyum saat melihat tingkah Cyra yang seperti anak -anak ini.
“Cyra kau harusnya bisa jatuh kedalam perangkapku! Ini ujian pertamamu.” Varen berkata dalam hati.
***