Sebuah Pelajaran

3924 Kata
Jangan pernah mencoba untuk bermain api, karena sesungguhnya secara tak disadari dia sedang memberikan resiko kepada pemainnya. *** “Cyra! Kenapa kau tak bisa cepat sedikit untuk keluar! Apa yang kau kerjakan didalam?! Kalau sampai dua menit lagi kau tak keluar aku akan dobrak pintu ini!” Teriak Varen dari luar. “Iyaaaaa bentarr! Ini juga lagi diusahin cepet!” Jawab Cyra dengan kesal, karena jujur saja baju-baju ini sungguh tak sesuai dengan ekspektasinya, tak mungkin dia menggunakan pakaian yang sama dengan kemarin, jelas itu sudah lecek dan bau, lagipula tak mungkin dia berjalan dengan Varen yang sudah pasti terlihat sangat keren sedangkan dia seperti seorang babu! Kali ini dia sedang mencoba pakaian yang diberikan oleh Varen, dress koktail ini benar-benar membuatnya terlihat sedikit aneh, Cyra hanya bingung saja kenapa dua kakak beradik ini bisa menebak dalamannya sedangkan untuk pakaian yang dia kenakan sangat tak sesuai dengan bentuk tubuhnya! Berkali-kali Cyra memaki karena pakaian itu sedikit terbuka dengan belahan d**a yang rendah dan juga … “Ah kenapa juga harus yang model gini sih?” gumamanya sambil memajukan mulutnya kedepan sambil memutarkan badannya. “CYRAAAA! Keluar sekarang atau pintu aku dobrak!” Teriak laki-laki itu lagi, Cyra tak menghiraukannya, dia tak peduli lalu membuka gaun itu. BRRRUUUAAAKKK! Pintu terbuka tiba-tiba saat Cyra sedang menurunkan pakaiannya. “AAAAAARRRRGGGGHHHH!!! DASAR IBLIS MESUMMMM! KELUAR KAMU!” Cyra langsung duduk berjongkok dan menutupi badannya dengan pakaian itu. Varen terkejut yang melihat Cyra benar-benar dalam keadaan yang tak pantas untuk dia lihat, lalu dengan Refleks dia menutup pintu itu, sayangnya pintu itu tak bisa ditutup dengan rapat karena terjadi kerusakan saat dia membukanya secara paksa. “Makanya dibilang juga apa, cepetan sedikit! Apa susahnya sih, tinggal pake aja bajunya!” Ucap Varen membalas jeritan Cyra. “VARENNNN TUTUP RAPET PINTUNYA!!!!!” Teriak Cyra lagi. “Udah gak bisa! Rusak.” “DASAR IBLIS GILA! m***m KAMU! IBLIS SIALAN!” Maki Cyra dari dalam. “Udah ini aku pegangin aku gak intip kok, kamu bisa ganti baju dengan leluasa.” Sedikit dalam hatinya dia merasa bersalah karena melakukakn tindakan gila barusan. “Awas kalau berani sampai lihat-lihat kedalam! Aku sumpahin kamu gak pernah mendapatkan nikmat dunia seumur hidup!” Ancam Cyra. “Iya sudah buruan! Cepet ganti bajunya.” Varen berkata dari luar. Cyra akhirnya pasrah dengan pakaianya yang dia kenakan, dia memakai pakaian yang diberikan oleh Farras, rok mini dengan pakaian atas yang sedikit terbuka! Sangat tidak nyaman sekali menampakkan bagian tubuhnya yang selalu tersembunyi ini, dan lebih tak pantas lagi saat dia menggunakan dress koktail yang berdada redah dan sedikit menerawang! Entahlah semuanya tak memberikannya rasa nyaman. Keluar dengan pakaian yang tak diberikannya, Varen mengerutkan keningnya. “Pakaian apa yang kau kenakan?” Tanyanya pada Cyra. “Jangan banyak tanya, kalau mau berangkat ya sekarang!” Ucap Cyra dengan santainya sambil menyelempangkan tas kecilnya itu. “Kau tak merasa rok itu terlalu pendek? Apa kau menggunakan celana pendek didalam agar celana dalammu itu tak terlihat kalau naik tangga?” Varen berkata sambil mengamati Cyra. “Hei! Hentikan pikiran gilamu itu, ini jauh lebih baik daripada harus menggunakan dress yang kau berikan karena sangat tipis dan berdada rendah, apa kau tahu kalau …” “Dadamu tak cukup besar.” sambung Varen lagi dan membuat Cyra akhirnya memukulkan tasnya ke badan Varen dengan sangat keras. “Aaaauwww! Kau bisa dikenakan pasal penganiayaan.” Ucap Varen sambil memegang dadanya. “Kau duluan yang akan kulaporkan karena merusak wajah mulusku!” Cyra sambil menunjuk keningnya yang masih ditempel plaster bening dengan motif karakter doraemon. “Sudah ganti saja rok itu dengan yang lain.” Ucap Varen lagi. “Dasar Gila! Tidak ada lagi yang lebih santai daripada ini.” Balas Cyra. “Setidaknya dress itu jauh lebih panjang ketimbang rok pendek yang bisa mengekspos bagian intimmu itu.” Varen berkata degan lancara tanpa dipikirkan dan membuat Cyra benar-benar marah, dengan wajahnya yang mulai memerah karena panas! “DASAR GILA.” Kali ini pukulan itu bisa ditangkap oleh Varen dan saat itu juga laki-laki ini menangkap tubuh Cyra yang limbung dan salahnya tangan itu mendarat dengan mulus di p****t Cyra! “WOIIII IBLISSSS MESUUUMM!” Cyra menyadari bahwa tangan Varen benar-benar kelewat batas. “Ah! Aku tak sengaja!” Jawab Varen ringan lalu melepaskannya dan membuat Cyra akhirnya mendarat di lantai dengan sukses. “VAREEEEENN!!!” Teriaknya. Dengan cepat Varen menarik handuk yang masih basah, handuk yang dia kenakan tadi dan dilemparkanya secara sembarang lalu segera dia bentangkan ke tubuh Cyra, lebih tepatnya ke arah bagian bawah! Karena saat ini Cyra benar-benar duduk terjengkal dan membuat hal lain terekspos. “Kau pakai itu, tunggu disini dan jangan keman-mana aku akan carikan pakaian untukmu!” Ucap Varen lalu dia mengambil koper yang mungkin itu adalah kopernya, lalu membukanya. Varen memberikan Cyra baju kemeja bewarna biru gelap dengan lengan panjang dan masih terlipat rapi, kemudian dia mengeluarkan sebuah kain panjang. “Kau pakai saja ini.” dia melemparkan pada Cyra dengan sedikit kasar. Cyra mengambil pakaian itu dan tak mengerti bagaimana harus digunakan. “Pakailah, apa kau tak memiliki ide untuk membuatnya menjadi baju?” Varen bertanya merendahkan pada Cyra. “Cyra lalu berdiri dari lantai dan mengambil pakaian itu. “Ganti baju dikamar sebelah, pintunya masih bagus.” Ucap Varen padanya. Wanita itu langsung masuk kamar itu dengan diamnya. “Jangan terlalu lama Cyra! Nanti pintu itu bisa rusak lagi dan aku harus mengeluarkan biaya untuk perbaikannya.” Varen mengomel. Cyra yang masuk kedalam tempat ini sedang tak memiliki ide untuk memodifikasi pakaian ini. “Cyra, cepat keluarlah! Sini biar aku yang atur kalau kau tak punya ide.” Ucap Varen dengan cepat, lalu tanpa izin Cyra dia langsung masuk kedalam ruangan itu, benar saja Cyra masiih mengamati pakaian itu dan mematung didepannya. “Astagaaa Cyra, kenapa kau suka sekali membuang-buang waktu?” Varen berkata dengan berapi-api pada wanita ini, dia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Cyra sangat tak masuk akal sekali. “Baiklah, kau memang selalu memaksa otakku untuk banyak berpikir.” Varen lalu mengambil kain panjang itu dan melilitkannya di tubuh Cyra lalu menjadikannya sebuah rok panjang selutut, tanpa banyak bicara Cyra hanya diam saja saat Varen melakukannya. “Sudah ini tak perlu kau pakai.” Varen lalu mengambil kemejanya dan keluar. “Ayo cepat kita akan terlambat kalau kau sering membuang waktu seperti ini.” Ucapnya lagi. “Untuk sementara saja, nanti sampai disana kita cari tempat untuk beli pakaianmu.” Varen terus mengoceh sementara Cyra hanya bisa menjawab dalam hati saja. *** Disinilah mereka sekarang, tiba di kota metropolitan Jakarta, sebuah Ibu kota negara yang terkenal dengan kemacetannya. “Mau kemana kita?” Tanya Cyra lagi. “Kerumahku.” Jawab Varen singkat. Cyra tak banyak bertanya, dia hanya sibuk dengan gadget barunya dan mengetikkan sesuatu disana, baginya daripada harus berdebat dengan iblis ini, lebih baik dia mengetikkan sesuatu dan mencurahkan segalanya dalam sebuah tulisannya, ini akan bisa membuatnya lebih efektif. Dia akan membuat kata umpatan dan makian itu terlihat nyata dalam sebuah novelnya dimana di dunia yang dia jalani saat ini, sangat tak mungkin untuk melakukan hal itu. Mobil yang mereka tumpangi berhenti disalah satu butik terkenal, Inha Gallery, Cyra mengenalnya dan dia sangat tahu salah satu designer muda dan terkenal ini sangat luar biasa dengan banyak prestasinya diluar sana, karena dia sempat melakukan riset terkait tulisannya tentang hal yang berkaitan dengan dunia Fashion. “Ayo turun.” Varen berkata pada Cyra, lalu wanita itu segera memasukkan gadget itu kedalam tas kecilnya. Baru saja dibuka pintu butik itu, seseorang yang sangat tampan menyambutnya, jelas dia adalah pemilik tempat ini, seseorang yang hanya mampu dia lihat dari televisi, dan juga laptop ataupun dari hasil penelusuran mesin pencari di internet, sekarang dia menyaksikan langsung laki-laki ini. Dia tampak sangat “Laki” tak seperti yang ada dalam pikirannya kalau laki-laki ini mungkin akan bersikap sedikit “kewanitaan”. “Hai, sudah lama tak bertemu. Siapa gerangan yang akan …” “Dia … sudah tak perlu banyak cerita, wanita ini tak menyukai pakaian terbuka dan juga dia tak perlu mengenakan gaun, cukup menggunakan pakaian santai saja, dan juga, buat dia tetap terlihat menarik.” Ucap Varen dengan santainya. Inha mengerutkan keningnya, “Kalau begitu, kau tak perlu datang kemari, karena disini semua berisi dengan dress cantik dan femini, kalau kau mau yang bergaya santai itu ada di tokoku disebelah. Janeta, ajak Nona cantik ini ke toko kita yang ada dipertigaan jalan didepan.” Perintahnya pada salah satu karyawannya. Cyra tak banyak bicara dia hanya mengikuti wanita itu dari belakang, tapi saat dia melewati Varen, mata mereka bertemu dan Cyra memandangnya dengan tatapan tajam. “Sebentar.” Varen lalu menarik lengan Cyra, dan membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya. “Kenapa lagi?” Tanya Cyra dengan malas-malasan. “Inha, dimana tempatnya, biar aku yang mengantarkannya.” Varen berkata pada Inha. “Kalau Pak Bos yang mau mengantarkannya tak masalah, sekalian saja Aku yang anterin.” Ucapnya dengan tersenyum ramah, entah kenapa Cyra mendapati hal ganjil, lalu melihat ke arah Varen dan Varen yang menyadari hal itu menaikkan alisnya sebelah, entah Cyra mengerti atau tidak dengan reaksi yang dia berikan barusan. “Baiklah, kau jalan didepan aku akan mengiringi dari belakang.” Ucapnya pada Inha. “Okay. Janeta, ikut Saya.” Perintahnya pada pekerjanya itu. Varen dan Cyra kemabli menaiki mobil tanpa banyak biacara Cyra hanya diam saja. “Ikuti mobil didepan.” perintah Varen pada supirnya. “Apa laki-laki itu …” “Sudah jangan berpikir macam-macam, dia tak seperti yang kau pikirkan. Otakmu terlalu dangkal.” Varen memotong ucapan Cyra. “Ah menyebalkan.” Gumamnya tapi masih bisa dengan jelas ditangkap oleh telinga Varen. “Jangan sering bergumam tak jelas, karena itu bisa membuatmu lebih terlihat tua.” ucapnya lagi. Entah kenapa Varen diam-diam mulai memerhatikan kelakuan Cyra yang lebih sering bergumam memaki dirinya, dan ini merupakan hiburan yang menarik saat semua kehidupannya berjalan begitu kaku sejak kejadian besar tersebut terjadi. *** Mereka akhirnya sampai disalah satu rumah yang cukup mewah dengan penjagaan yang super ketat, bentuk rumah ini benar menggambarkan sebuah rumah yang sering dikhayalkan oleh Cyra, terlihat sederhana namun mewah lengkap dengan ornamen yang benar-benar sangat modern dan juga cat yang dominan putih yang membuat tempat ini sangat terlihat luas. “Wow, rumah yang bagus … sayang kalau hanya ditinggali satu orang saja.” Ucapnya setelah masuk kedalam rumah Varen ini. “Semua tempat ini sudah dilengkapi dengan …” “Kamera pengawas.” Cyra langsung memotong ucapan Varen, karena saat pertama kali masuk dan juga di dalam rumah Cyra sudah melihatnya. “Apa didalam kamar mandi kau juga memasang kamera pengawas? Aneh banget, ini rumah atau pasar swalayan …” Gumam Cyra lagi yang benar tertangkap jelas di telinga Varen. “Ini Mall.” Jawab Varen asal. “Hidupmu benar-benar kaku, Nak!” Cyra berkata santai lalu duduk di salah satu Sofa besar dan juga pasti sangat empuk. “Memang beda ya kalo orang kaya, beneran nyaman.” Cyra berkata sambil senyum-senyum dan duduk dengan sedikit menggoyangkan badannya, membuat Varen merasa aneh melihat tingkah kampungan yang diperlihatkan oleh Cyra. “Dasar norak, kampungan kamu!” Ucap Varen padanya. “Lah aku emang dari kampung, ehm … maksudku gak terlalu kampung-kampung juga sih, karena itu juga bisa dibilang kota, tapi kota kecil, kecil banget sampe semua tempat aku sudah sangat hafal.” cerocosnya. “Kau benar-benar anak yang norak dan …” “Kampungan … udah sekali aja nyebutnya jangan diulang-ulang, gak capek apa ngulang ucapan yang sama terus?” Cyra lalu mencari remote televisi yang sangat besar disana. “Ini cara ngidupinya gimana?” Tanya Cyra dengan tampang bodohnya. “Ya tinggal bilang saja, kamu deketin tuh telivisinya terus gosok-gosok dan bilang, On dong sayang!” Varen berkata asal, entah kenapa wanita ini malah melakukan apa yang dia sebutkan. “On dong Sayang.” Ucap Cyra sambil menggosok televisi itu dan saat itu juga Varen tertawa. Kali pertama dia melihat Varen tertawa seperti itu, Cyra lalu melihat laki-laki itu yang ternyata tingkat humornya sangat rendah. “Dasar wanita bodoh dan kampungan! Mana ada juga bisa seperti itu.” Ucapnya sambil terpingkal dan memegang perutnya, entah kenapa Cyra merasakan kalau apa yang dia perbuat saat ini bisa membuat orang yang kaku ini menjadi sedikit lebih cair, sengaja dia sengaja melakukannya, anggap saja untuk menghibur laki-laki yang sepertinya haus akan hiburan “receh”. “Sudah sini mana remotenya?” Cyra mendekati Varen lalu mengambil remote dari tangannya. “Gak disangka ternyata selera humormu  beneran receh.” ucapnya dan membuat Varen menghentikan tawanya, dia sepertinya puas mengerjai Cyra tapi sepertinya dia menyadari kalau wanita itu sengaja melakukannya. “Sudah jangan banyak cerita, besok kau buat paspormu, dan sekalian aply visa ke Australia, urusan lainnya akan dijelaskan oleh Malken!” Varen lalu meninggalkan wanita itu sendirian diruang yang cukup besar dan mewah ini. “Vareeeennnn ...” Cyra kembali berteriak dan membuat langkah kakinya terhenti. “Apa kau bisa merendahkan volume suaramu itu?” dia berjalan geram mendekati Cyra yang berteriak memanggil namanya. “Kamarku dimana?” Tanya wanita itu tanpa berkedip dan entah kenapa tatapan Cyra barusan membuat jantung Varen berpacu dengan cepat lalu untuk menetralisir rasa yang berdesir cepat itu, dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menarik tangan Cyra dengan sedikit paksa kesalah satu ruangan yang ada disana. “Ini kamar kamu.” Ucap Varen sambil menunjuk sebuah ruangan yang masih tertutup sedikit rapat didekat dapur. “Okay terima kasih,” Jawab Cyra lalu dia membuka pintu ruangan tersebut, tapi ternyata dia sangat terkejut saat membukanya! Sebuah kamar yang terlihat sangat berdebu dan jelas ini seperti gudang. “VAREEEENNNN” Cyra kembali menjerit dan saat itu juga Varen sudah siap dengan menutup telinganya, dia jelas tau yang akan dilakukan oleh wanita itu, menjerikan namanya dengan suara nada yang tinggi. “Kenapa lagi?” Jawabnya santai sambil membalikkan badannya. “Kau benar-benar keterlaluan! Dimana sebenarnya aku harus tidur?” Cyra berjalan cepat mendekati laki-laki ini. “Ya disana. Apa kau tak melihatnya? Apa aku harus berkata berulang kali agar wanita kampung sepertimu ini mengerti?” Tanyanya lagi seakan apa yang dilakukannya bukan sebuah kesalahan. “Kalau aku tidur disana maka kau tidur dimana?” Tanyanya dengan mata melotot dan mebuat wajahnya terlihat menggemaskan. “Aku? Ya aku tidur dikamarku.” Enteng sekali dia menjawabnya membuat Cyra makin mendidih darahnya. “VAREEEEENNNN!!!!” Cyra berteraik membuat Varen menutup telinganya dengan kedua tangannnya sambil tersenyum puas. “Cyra jangan terlalu sering berteriak karena orang dirumah ini tak terbiasa dengan suara berisik!” Ucap Varen membalikkan badannya. “Mulai sekarang nikmati nerakamu!” Ancam Cyra sambil bersungut-sungut karena kesal. Cyra kemudian mengedarkan pandangnya dikamar ini, dia mencoba untuk menganalisa bagian mana dulu  yang harus segera dia bereskan, apakah dia harus menyingkirkan kardus-kardus besar itu, atau dia harus … Baru saja dia berpikir seorang wanita muda menghampirinya. “Nona, kau bisa duduk saja diruang tengah, biar tempat ini kami yang rapikan.” Ucapnya pada Cyra dengan suara yang pelan. Cyra melihat wanita itu, pelayan ini persis dalam khayalan kisah roman picisan yang dia buat, seorang dari keluarga kaya yang memiliki pelayan dengan seragam putih biru, ini sama seperti pakaian neneknya saat bekerja dengan keluarga Varen waktu itu. “Kalian bisa bantu saya saja, karena saya …” “Tak apa Nona, Nona Cyra bisa duduk saja disana, tempat ini biar kami yang rapikan.” Jawab satu orang lagi yang bisa ditebak usianya mungkin tak lebih dari dua puluh tahun. “Tapi …” “Anda adalah tamu dari Tuan kami, tak mungkin kami menyuruh seorang tamu membersihkan tempat tidurnya sendiri.” Ucapnya lagi. Pikiran Cyra kali ini membuatnya bertanya-tanya apa sebenarnya maksud dari Varen, kenapa juga dia harus melakukan hal ini. Rumah sebesar ini tak mungkin hanya memliki satu kamar saja, pasti ada kamar lain yang kosong. “Apa tak ada kamr lainnya?” Tanya Cyra langsung, karena dia tak ingin kepalanya penuh dengan banyak pertanyaan yang tak terlalu penting seperti ini. Kedua perempuan yang ada dihadapannya ini tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Hah?!” Cyra benar-benar terkejut mendengarnya. Masa rumah mewah ini hanya punya satu kamar saja? “Rumah ini hanya punya satu kamar tidur utama Nona, diatas sana …” tunjuk perempuan itu pada Cyra, “dan itu hanya milik Tuan Varen, lainnya ada dua ruangan lagi, satu ruang kerja dan satu lagi bersebelahan dengan ruang kerjanya ada ruang baca dan itu penuh dengan buku-buku milik Tuan Varen.” perempuan ini bicara dengan menundukkan pandangannya. Cyra yang diperlakukan seperti ini merasa kalau saat ini dia sepreti orang yang memliki power besar, karena ini kali pertama dia berbicara dengan seseorang yang mereka tak berani menatapnya, mereka memberikan pandangan hormat padanya. “Kau tak perlu sungkan santai saja,” Cyra menepuk pundak perempuan yang bernama Ani, tertulis jelas di tag nama itu, “lalu kamar ini memang dibiarkan layaknya gudang?” sambung Cyra lagi. Mereka berdua lalu tersenyum, “Iya Nona, ini memang tempat Tuan Varen menyimpan semua barang-barangnya yang mungkin jarang dia pakai lagi, dan ini memang dia tak menyuruh orang lain untuk dibersihkan, jadi memang sedikit berdebu.” Ucapnya lagi. “Kalian bertiga kenapa berkumpul disana?” Suara Varen membuat Cyra lagi-lagi kesal, baru saja dia merasa ingin mendapatkan seorang teman ditempat ini, tapi sayangnya dia selalu saja merusak sebuah kesenangan yang mungkin akan dia dapatkan selagi tinggal disini. “Ah Maaf Tuan, kami hanya ingin membantu Nona ini untuk membersihkan kamar ini.” Ucapnya lagi. “Tak perlu! Dia bisa melakukannya sendiri!” Ucap Varen membuat keduanya akhirnya tertunduk ketakutan. “Woi! Apa gak bisa kalo ngomong perlahan dan sopan?” Tanya Cyra dengan suara sindirannya, dan itu membuat kedua perempuan ini merasa lebih takut lagi, karena Varen tak suka dibantah. Varen kemudian berjalan mendekati mereka dengan tatapan yang seolah ingin membunuhnya, “Kalian berdua cepat pergi dari sini, biarkan dia sendiri yang mengurus tempat ini.” Perintah Varen pada kedua pelayan itu, dan mereka berdua tanpa menjawab langsung segera pergi. “Varen, kau memang laki-laki bermulut …” baru saja Cyra ingin melanjutkan kalimatnya tapi dia mengurungkan niatnya karena laki-laki ini sudah mengepalkan tangannya, sejujurnya Cyra bukan takut, tapi dia saat ini sedang malas untuk ribut lagi dengan laki-laki yang masih tak bisa dia tebak kemana arah moodnya. “Jangan ban-nyak-bi-ca-ra!” ucapnya dengan mengeja dan membuat Cyra akhirnya membelakangi laki-laki ini lalu langsung masuk kedalam tempat yang berdebu ini. Cyra ini sebenarnya sangat alergi dengan debu, kalau sampai debu-debu itu masuk jelas tubuhnya akan mengeluarkan bersin yang sangat tak biasa, dia bukan tak bisa melakukan bersih-bersih, tapi kegiatan itu selalu dia lakukan karena jika debu makin bertumpuk maka makin sulit baginya untuk membersihkannya dan dia terpaksa harus meminta bantuan orang lain untuk membersihkannya, dan neneknya sangat tahu dengan alergi Cyra yang satu ini, jika saat ini dia terpaksa harus membersihkan tempat ini, hal pertama yang harus dia cari adalah masker! Tapi karena tak mungkin baginya untuk meminta dengan Varen yang wajahnya bagaikan iblis itu dia akhirnya memutuskan untuk mengikatkan syal yang dia pakai kewajahnyua agar debu-debu itu tak terlalu menusuk hidungnya. Baru saja setengah jam Cyra berkutat ditempat itu, rasa gatal yang teramat sangat memberikan sinyal pada hidungnya untuk segera mengeluarkan debu-debu itu segera. Saat itu juga Cyra mulai bersin-bersin, awalnya sesekali, lalu berselang lima belas menit kemudian bersin itu makin sering sampai akhirnya dia keluar dari tempat itu dan menyerah, karena dia jelas sangat tahu sekali jika dia melanjutkan hal itu, maka bersiap saja beberapa jam kemudian darah segar akan keluar dari hidungnya! “Kenapa tak dilanjutkan?” Varen melihat Cyra yang akhirnya duduk bersila didepan pintu kamar itu sambil menyedot ingusnya, dia sudah membuka penutup hidungnya dan saat ini terlihat sangat memerah karena dia tak berhenti untuk mengucek hidungnya yang sangat terasa gatal sekali. “Tak bisakah kau memberikanku tempat … huaaaacimmm … yang …huaa … layak … huaacim!” Cyra mengatakan hal itu sambil melawan kuat rasa ingin bersinnya itu, namun hal itu lantas tak membuat Varen peka dengan kondisi tubuhnya itu. “Kau bersihkan sendiri saja dan jangan meminta bantuan pada orang lain apalagi dengan orang-orangku!” Ucapnya tanpa ampun. “Iblis … sial huaaatttcim aaann..” ucap Cyra sambil bersin-bersin. “Dalam kondisi seperti itupun kau masih menyebutku dengan ucapan yang tak baik, okelah aku akan bersikap seperti itu saja padamu, kau juga sudah membuat label itu pada diriku, jadi kalau misal …” ucapannya terhenti saat banyak darah segar sudah keluar dari hidung Cyra. “Cyra … kau kenapa?” Varen langsung cemas melihat banyak darah yang tiba-tiba keluar dari hidungnya. Cyra yang menyadari hal itu langsung berlari mencari kamar mandi yang ada didekat gudang itu kemudian dia membiarkan darahnya itu mengalir di wastafel, makin lama makin banyak, Varen mengikutinya dari belakang dengan rasa khawatir yang sangat. “Cyra kau kenapa?” Tanya Varen pada Cyra dengan nada yang benar-benar itu menunjukkan rasa khawatirnya, Cyra yang malas berdebat ini dia hanya diam tak mau menjawab, karena dalam keadaan seperti ini kepalanya biasa akan terasa sedikit pusing, lalu Cyra kemudian mendongakkan kepalanya setelah membuang darah yang dia sedot dari hidungnya lewat mulut. “Cyra kau tak kenapa-napa kan?” lagi Varen bertanya sambil memegang pundak Cyra. “Sudah kau jangan berisik! Diam saja sudah cukup membantu.” Ucap Cyra dengan sedikit kesal. “Kita ke dokter sekarang.” Ajaknya pada Cyra tapi sayangnya Cyra langsung menepisnya. “Tak perlu! Sebentar lagi juga selesai. Kau hanya perlu diam Varen dan jangan banyak buat keributan!” Ucap Cyra lagi sambil menjauhkan tangan Varen dari tubuhnya. “Tapi kau seperti ini, kita harus ke rumah sakit sekarang.” Ucapnya lagi. “Ini juga karena kau! Jadi kau jangan menjadi sok pahlawan dengan membawaku ke dokter setelah membuatku menjadi seperti ini!” Cyra menatap Varen dengan pandangan marah. “Karenaku?” Varen tak mengerti dengan titik dimana dia bersalah. “Kau tidur ditempat itu, aku tidur dikamarmu!” Ucap Cyra pada Varen dan membuat Varen tak mengerti. “Ini rumahku, kau tak bisa mengaturku!” bantahnya. “Tapi kau yang membuatku menjadi seperti ini!” Cyra lalu berjalan melewati Varen dan berjalan menuju kamar yang dimaksud oleh kedua pelayan tadi, dia berjalan diiringi Varen dari belakang yang saat ini Varen terlihat sangat frustasi karena ulah wanita ini, dan sampai detik dimana Cyra masuk kedalam kamarya dia masih tak tahu kenapa dia masih memberikan leluasa pada Cyra untuk terus mengontrol hidupnya. “Mulai sekarang, aku menempati tempat inikau di ruang tadi!” Ucap Cyra dengan suara sengau-nya karena hidungnya masih dia sumpal dengan tisu, lalu dia terdengar menyedot ingusnya dan membuat Varen merasa sedikit jijik, tapi entah kenapa wanita ini benar-benar membuatnya menjadi seperti kehilangan power saja. “Ini tempatku!” Varen lalu menutup pintu itu dan membuat Cyra saat ini berada dalam kungkungan laki-laki itu! Cyra tak percaya bahwa saat ini adegan yang sering dia ketikkan itu menjadi kenyataan, laki-laki ini mengurungnya diantara dirinya dan dinding yang tak bisa membuatnya menjauh lagi. “Kalau begitu mari kita tidur ditempat yang sama.” dia membisikkan hal itu pada Cyra dan itu membuat bulu disekujur tubuh Cyra meremang. Varen melakukan hal ini tujuannya hanya ingin memberikan pelajaran pada wanita itu agar tak semena-mena dengan dirinya, namun hal yang mengejutkan kembali terjadi. Di dalam otaknya Cyra juga berpikir cepat untuk memberikan pelajaran pada laki-laki ini, keberanian itu muncul begitu saja, saat akhirnya Cyra mengalungkan tangannya ke leher Varen dan mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Varen sampai akhirnya nafas itu terasa menyapu wajahnya. “Siapa takut.” Jawab Cyra singkat dengan tatapan mata marahnya. Kala itu, Varen merasakan degup jantungnya berdetak begitu hebat, tatkala Cyra benar-benar dekat dan hampir tanpa jarak padanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN