Awal Satu Atap

2559 Kata
Pertengkaran demi pertengkaran, akan membuat hati mengingkari sebuah rasa yang mungkin akan berjalan perlahan lalu kemudian berusaha untuk bermain aman dan bertahan. *** "Wah mainan orang kaya ternyata hebat ya ... saat orang-orang memperebutkan baju mana miliknya maka kalian memperebutkan perusahaan itu sebenarnya milik siapa?" Cyra menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan pemandangan yang dia lihat. "Aku tak ingin menjadi penulis di Your Novel, jadikan aku CEO nya saja." Ucap Cyra dengan santainya. "APA KAU BILANG?!" Dua saudara ini untuk pertama kalinya terlihat sangat kompak dihadapan Cyra. “Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa aneh kalau aku memintanya?” Cyra berkata seakan tak merasa ada yang salah dari ucapannya barusan. “Perkataanmu lebih tak masuk akal.” Geram Varen. “Kenapa?” Cyra pura-pura bodoh. “Kau gila.” Kali ini Farras menimpali. “Kenapa? Kau juga sudah mengakui bagian dari puisi yang kutulis itu milikmu, menurutku itu sama saja kau mengakui benda berhargaku kau ambil alih. Itu yang namanya kekayaan intelektual sesungguhnya.” Cyra mulai berkata dengan nada tinggi. “Dengar ya Farras! Harusnya kau membantu kakakmu untuk membuktikan aku bersalah, karena apa? Karena dengan cara itu kau bisa terbebas dari tuntutan plagiat dariku, apa kau pikir aku akan tinggal diam saja? Tidak.” Ucap Cyra dengan sinis. “Tenang saja Cyra, aku akan minta maaf secara terbuka, tapi kau seharusnya memerlukan bantuanku untuk membuktikan pada kepala batu ini kalau si Rany itu bukan orang yang jujur.” Saat nama itu disebut, Varen mulai menatap Farras dengan sangat panas, tangannya mulai terkepal dan hal ini disaksikan oleh Cyra. “Sudah kau pulang saja, terima kasih sudah mengatakan kalau kau akan mengakuinya didepan publik! Aku akan sangat bersyukur sekali, dan kutunggu ucapanmu itu, tak hanya janji manis saja!” Cyra mendorong tubuh Farras segera keluar dari tempat itu, sambil sedikit melirik ke arah Varen yang matanya seakan sudah mau keluar dengan ucapan Farras barusan. Pintu terdengar berdebum saat Farras baru saja keluar dari tempat mereka sekarang Cyra kembali ke tempatnya semula, disana Varen masih diam mematung, Cyra diam-diam memerhatikan wajah laki-laki ini yang sangat kharismatik sebenarnya, ada ragu unutk menegurnya karena Cyra tau bagaimana rasanya sakit kehilangan orang yang kita cintai, karena itu dia mendiamkannya saja. Keengganannya untuk tak mengganggu Varen dengan pikirannya itu, membuat Cyra berjalan ke arah dapur dan membuka kabinet yang ada disana, siapa tahu ada yang masih bisa dia gunakan untuk dimakan, karena jujur saja saat ini perutnya sangat lapar sekali, kalau menghubungi layanan pemesanan makanan rasanya tak mungkin karena handphonenya saat ini tepat ada disebelah Varen yang sedang duduk, ingin menelpon layanan kamar, sepertinya terlalu berlebihan. Dia kemudian menghela nafas panjang, saat membuka kabinet terakhir yang ada di bagian bawah kompor listrik itu. Tak menemukan apapun, lalu tiba-tiba perutnya berbunyi dan dia memegangnya. “Hufft, dasar iblis sialan … kalo kayak gini kan aku bisa mati kelaparan.” gumamnya sambil membalikkan badan dan terkjeut saat mendapati Varen sudah berada dihadapannya saat ini. “Iblis? Kamu bilang aku iblis? Baiklah kalau begitu kau tak boleh makan sekarang.” Ucap Varen pada wanita itu. “Apa kau bilang?!” suara Cyra kembali meninggi, dia tak terima karena laki-laki ini memperlakukannya sesuka hati. “Kau harus bisa bedakan mana yang iblis dan juga mana malaikat! Lagipula, kau harus tahu Cyra, didunia ini kau tak pernah mendapatkan apa-apa dengan gratis!” Varen menjawab sengit membalas tatapan mata tajam Cyra, dan saat ini mereka berada dengan jarak yang cukup bisa merasakan hembusan nafas lawan bicaranya. ‘SIAL! Kenapa iblis ini begitu tampan!’ Cyra langsung mengumpat dalam hati. “Kenapa? Masih mau protes?” Varen berkata lagi dengan nada datar dan juga tatapan dinginnya itu. “Menyebalkan!” Cyra mendorong tubuh Varen hingga menjauh beberapa langkah dari hadapannya, kemudian dia melewatinya dan segera mengambil handphonenya. Entah kenapa Varen langsung merampas benda itu dengan semaunya. “Kau gunakan yang baru, ini biar aku simpan dulu.” Ucapnya dan membuat Cyra tak bisa berkata apapun, untuk sesaat dia tertegun dengan apa saja yang barusan dia alami, tapi saat kesadarannya kembali entah keberanian darimana langsung mendorongnya untuk memukul kepala Varen! “Ini benda satu-satunya punyaku!” Ucapnya membuat Varen kemudian berteriak karena kesakitan karena kepalanya baru saja dipukul oleh Cyra. “Pesankan aku makanan sekarang! Aku lapar, dan selama proses pembuktian ini, kau adalah orang yang bertanggungjawab atas semua kebutuhanku!” Ucap Cyra dengan suara memerintah membuat laki-laki ini terperangah karena keberaniannya yang sangat gila ini. Ini kali pertama dia diperlakukan oleh wanita seperti ini. “Kenapa lihat dengan mata seperti itu? Matamu akan lepas kalau keseringan melotot! Cepat pesankan aku makanan sekarang!” Perintah Cyra padanya. Entah kenapa Varen tak bisa menolaknya, dia melakukan apa yang diperintahkan oleh wanita itu, dia bukan menuruti tapi hari ini cukup untuk bersitegang karena itu akan membuat kesehatannya menjadi terganggu. Setelah menghubungi seseorang yang Cyra juga tak mengetahuinya, dia lalu mengatakan pada Cyra bahwa besok pagi-pagi sekali mereka harus pergi dari tempat ini sesegera mungkin. “Apa?! Memang kita mau kemana?” Tanya Cyra lagi. “Aku tak akan membunuhmu dengan diam-diam kau tak perlu khawatir.” Ucapnya lagi. “Sudah kukatakan, aku tak memiliki Paspor untuk pergi keluar negeri!” Cyra berkata lagi karena beberapa waktu lalu Varen mengatakan kalau dia harus menemaninya ke negara tetangga yang tak terlalu jauh dari tempat ini. “Karena itu kita tak jadi pergi kesana! Sudah kau jangan cerewet, selesai kau menghabiskan makan malammu ini, kau tidur dikamarku …” “Apa kau bilang?! tidur dikamarmu?! yang benar saja, kau mau apa?!!” Teriak Cyra sambil menutupi tubuhnya dan mejauh dari Varen, saat ini laki-laki itu terlihat menghela nafas. “Makanya Cyra tunggu selesai dulu aku bicara.” entah kenapa Varen berkata dengan nada lembut kali ini. “Dasar Iblis m***m!” Cyra lagi-lagi menghujat laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. “Kau …” Varen seperti kehabisan akal untuk menjelaskan niat baiknya. “Kenapa?! Kau lihat tatapan m***m om-om yang haus seks! Dasar iblis m***m gila!” Ucap Cyra lagi dan membuat Varen langsung mengacak-acak rambutnya lalu berdiri dari tempatnya duduk sekarang, “Astaga! Hentikan ucapan-ucapan tak pantas dan tak senonoh itu untukku! Kau itu wanita gila yang asal bicara dan pura-pura rapuh, dengar ya Cyra Ghania Eshal, malam ini kamu tidur dikamarku nanti aku tidur dikamar yang satunya, dan satu hal lagi, jangan memancing emosiku karena kalau tidak kau bisa terluka!” Ucapnya lalu berjalan melewati Cyra. “Dan kau … jangan coba-coba untuk kabur dari tempat ini! Ingat, aku akan selalu mengawasimu!” Ucap Varen lalu masuk kedalam kamar yang bersebelahan dengan kamar utama tempat ini. Cyra kemudian mengamati laki-laki itu dan melihat,sepertinya ada yang tak beres dengan kejiwaanya, “Dasar Iblis gila.” Gumamnya lagi lalu memindahkan channel televisi itu. Kemudian suara ketukan dan bel terdengar bersamaan, Cyra hanya berpikir bahwa itu hanya seorang room service yang akan mengambil piring-piring kotor itu, tapi setelah dibuka ternyata itu adalah Malken. “Hai, kenapa malam-malam kemari lagi? Apa Bos Iblismu menyusahkanmu lagi?” Tanya Cyra pada Malken yang saat ini mengenakan pakaian santainya, dan kalau dilihat lagi laki-laki ini juga cukup tampan, hanya saja, tak terlalu tinggi seperti Varen yang mungkin memiliki tinggi diatas rata-rata, kalau dia perkirakan kemungkinan tinggi Varen nyaris diangka seratus sembilan puluh sentimeter. Malken dia hanya tersenyum saat Cyra mengatakan hal itu padanya. “Tuan Varennya ada?” Tanyanya tanpa menghiraukan ucapan Cyra barusan. “Tuh si Iblis lagi semedi dikamarnya dia.” Ucapnya lagi. “Kau sudah datang?” Suara Varen mengejutkan Cyra lagi, entah kenapa Cyra merasa kalau Varen memang sudah benar seperti iblis saja, yang bisa muncul tiap saat kalau namanya berhasil dia sebutkan! “Ah iya, ini Saya bawakan permintaan Anda.” Ucapnya pada Varen lalu menyerahkan beberapa papperbag coklat padanya. “Baik Terima kasih, kau kembalilah dan beristirahat besok pagi-pagi sekali kita harus segera pergi.” Ucapnya. Cyra hanya menjadi penonton saja dari percakapan dua orang ini. Setelah Malken keluar dari tempat ini, Tangan Cyra langsung ditarik paksa oleh Varen, dia membawa wanita itu didepan televisi dan menyuruhnya duduk. “Duduk!” Perintahnya. Tanpa membantah Cyra menurutinya tapi hatinya sangat merasa kesal sekali dengan laki-laki ini. Varen duduk dihadapannya, lalu membuka papper bag coklat pertama yang paling kecil, Varen lalu mengeluarkan isinya dan itu adalah kotak handphone dan jelas itu handphone keluaran terbaru, tanpa banyak bicara dia membuka kotaknya dan mengeluarkan handphone itu, boleh saja Cyra percaya diri kalau barang itu akan menjadi miliknya! Benar tebakannya tak meleset, tatkala Varen yang hanya diam ini mengambil handphone milik Cyra lalu mengeluarkan sim card itu dari sarangnya. “Mulai sekarang, pakai handphone hanya dengan satu sim card saja! Tak perlu banyak menggunakan sim card, karena kau bukan orang yang memiliki banyak bisnis.” Ucapnya lalu dibalas oleh decihan yang keluar dari bibir Cyra, saat Cyra melakukan itu, Varen meliriknya dan mengeluarkan senyuman yang sulit diartikan. “ Dan ini … kupikir ini pakaian yang harus kau pakai besok! Ah … aku lupa kau juga sudah diberikan anak itu pakaian, harusnya yang itu kau buang saja, pakai yang ini untuk besok, karena seleranya tak terlalu bagus di dunia fashion.” Ucapnya pada Cyra sambil menyerahkan dua papper bag sisanya pada Cyra. “Tidurlah, karena jika besok pagi kau tak bangun pagi aku akan menyirammu dengan air!” Ucapnya sambil berdiri, dan membuat Cyra untuk sesaat terkesima. Dia merasakan kalau hidupnya saat ini seakan tersedot pada cerita novel yang sedang digarapnya, masih dalam draft dan belum sempat dia kirimkan ke platform yang memutus hubungan secara sepihak itu! “Woi Cyra! Tidur cepat, hari sudah mulai malam dan kau harus menjaga kualitas tidurmu itu!” Ucapnya lagi. Tanpa banyak menyahut Cyra berjalan gontai ke kamar itu sambil membawa beberapa bungkusan yang kata mereka itu isinya adalah pakaiannya. Cyra lalu membanting pintu kamar itu dengan sedikit keras, dan benar saja, Varen langsung berteriak. “CYRA! Kalo kamu masih mau selamat sampai besok, jangan bertindak seperti anak kecil!” Teriaknya, Cyra yakin kalau teriakan itu sangat kencang, walaupun saat ini gendang telinganya menangkap suara itu hanya sayup-sayup saja. *** Dikamar ini, Cyra melihat dirinya dipantulan kaca itu, benar-benar wajahnya sangat kusut, dan juga keningnya yang jelas beberapa waktu akan menimbulkan bekas luka disana karena laki-laki iblis gila itu! “Ini gara-gara iblis gila sentimen itu!” gumamnya kesal sambil sedikit menghentakkan kaki kanannya! Dia lalu meletakkan kantong kantong itu diatas tempat tidur lalu membukanya satu-persatu! Hal yang membuatnya terperangah adalah bahwa ukuran dalaman yang diberikan oleh kedua orang ini memiliki ukuran yang sama dan ajaibnya itu adalah benar-benar ukuran dalaman yang dia kenakan! “Wow! Fantastis.” Gumamnya sambil memebentangkan benda itu ke udara dan melihatnya. “Ini benar-benar diluar dugaan dan diluar nalar akal sehat, apa mereka habis menelanjangiku sampai mereka sangat tahu ukurannya?” Gumamnya lagi dengan suara tak jelas. “Whoa, tapi ini barang-barang bagus! Darimana mereka mendapatkan benda-benda seperti ini di kota kecil ini?” Cyra bertanya pada dirinya sendiri. Segera dia menggelengkan kepalanya karena tak ingin berpikir terlalu jauh, “Ah … entahlah, namanya juga bos, jelas akan membuat hal yang mungkin akan menjadi mungkin! Dasar gila! Apa dia benar-benar seorang crazy rich?” “Ahhhh … terserahlah.” Cyra lalu melempar dalaman itu ke atas tempat tidurnya, lalu dia membuka bungkusan yang lain Pakaian yang dia lihat kali ini adalah pemberian Farras, dia ingin tahu apakah benar apa yang dikatakan oleh Varen itu benar, bahwa dia memiliki selera yang jelek? Padahal Farras adalah seorang penulis jelas dia harusnya pandai dalam hal penggambaran pakaian yang baik dan juga tidak, setidaknya dia pernah sesekali melakukan riset terhadap dunia mode. Dan, benar saja, apa yang dilihat tak sesuai dengan karakter dirinya, pakaian itu terlalu girly untuk dia kenakan, sangat tak mencerminkan dirinya sama sekali. Rok pendek, baju dengan lengan yang sedikit terbuka, cocok untuk anak usia abege lalu dua pieces yang lain juga seperti itu, dengan warna-warna yang lembut dan itu jelas bukan tipenya.. Saat dia membuka bungkusan yang diberikan oleh Varen, dia sudah menebak mungkin Varen sudah tahu apa yang seharusnya bisa dia kenakan dengan nyaman, ternyata … Pakaian itu malah membuatnya menjadi sangat tak nyaman! Mana mungkin dia memakai gaun-gaun seperti akan pergi ke pesta? Apa dia seorang tuan puteri? Apa dia akan mengikuti kontes kecantikan dengan dres-dres cocktail ini? Ah, entahlah yang jelas pilihan Varen malah tak membuatnya akan terlihat lebih santai, akhirnya dengan menimbang-nimbang semuanya, Cyra memutuskan sepertinya akan lebih nyaman untuk memakai pemberian dari Farras, setidaknya dia terlihat jauh lebih muda, dan jika berjalan dengan Varen bisa jadi dia dikira anak sekolah yang sedang berjalan dengan om nya! Lalu Handphone baru itu berbunyi, tertera disana nama Mia memanggil! Untungnya teknologi sekarang sangat canggih, dia tak mengharuskan memindahkan nomor-nomor itu ke tempat yang baru dengan cara satu persatu! “Hallo Cyra.” Suara Mia terdengar sangat cemas dari seberang sana. “Tenang saja aku baik-baik saja.” Jawab Cyra santai. “Syukurulah kalau begitu,” terdengar bentuk sebuah kelegaan disana, “bagaimana rencanamu Ra?” Tanyanya lagi. “Yah, aku sedang bersama Varen saat ini, dan aku harus membuktikan kalau semuanya itu aku yang membuatnya, kuharap semua masalah ini cepat berlalu, walau aku merasa sangat merasa bersalah sekali pada Nenek, tapi setidaknya aku harus membuktikan semuanya, setidaknya aku tak merasa bersalah berkepanjangan pada Nenek, yang akhirnya meninggal dengan cara seperti itu, bahkan aku masih belum sempat membuktikan pada beliau kalau aku tak bersalah.” Suara Cyra terdengar melemah. “Baiklah, kau harus tetap semangat, terus hubungi aku ya.” Ucapnya lagi. “Ya, aku pasti akan menghubungimu, dan besok …” Cyra lalu ragu untuk melanjutkan kalimatnya ini. “Besok kenapa?” Tanya Mia dengan hati-hati, karena dia tahu dari cara Cyra bercerita dia sedikit ragu. “Aku …” “Sudahlah, jangan kau ceritakan dahulu jika kau masih bisa menahannya. Aku berharap kau bisa selalu mengabari aku, dan aku akan menunggumu disini.”  Ucapnya tulus. “Terima kasih Mia, aku akan selalu mengabarimu.” Ucapnya. Sambungan telpon terputus dan Cyra akhirnya kembali teringat tentang bayangan Neneknya itu, tanpa dia sadari air mata itu akhirnya menetes juga, dia hanya tak bisa dan tak mau orang lain melihat air mata itu jatuh, apalagi didepan orang-orang yang sombong seperti Varen, kelemahan itu tak boleh dia tampakkan dihadapan musuhnya, karena dengan kelemahan itu musuhnya akan cepat menaklukan dirinya. Dia adalah wanita yang kuat itu yang selalu dia tanamkan dalam dirinya. Barang-barang itu masih berantakan diatas tempat tidur besar itu, tapi matanya sudah sangat mengantuk sekali dan akhirnya dia terpejam dengan sisa air mata yang masih mengalir dari matanya. *** Sinar matahari pagi yang tepat sekali mengenai wajahnya itu membuatnya tersadar kalau saat ini sudah mulai pagi, Cyra mengerjapkan matanya lalu jari-jemari itu mengucek matanya agar dia bisa lebih cepat beradaptasi dengan cahaya itu, tapi baru saja dia melihat dengan jelas dunia setelah istirahat malamnya, sudah ada bayangan Varen dengan centong air berdiri didepannya. “Varen?” Ucapnya dengan suara serak, tapi sayangnya laki-laki ini langsung mengyiramkan air itu ke wajahnya! “Brupprrrrhhhhhh! VAREEEEEENNNNNNN!!!” teriak Cyra, dan waita ini langsung bangun dari tidurnya. “Cepat berkemas karena ini sudah pukul setengah tujuh!” Perintah Varen padanya. “Dasar laki-laki iblis! Iblis kejam! Monster gila!” Maki Cyra sambil berteriak, sedangkan Varen dia membalikkan badannya meninggalkan wanita yang sedang memaki dirinya sambil tersenyum puas. “Iblis memang selalu kejam Cyra.” Jawab Varen sambil membanting pintu kamar itu. *** NOTE: Jangan lupa tap Love dan terus ikuti cerita menarik ini ya. ig_ Nychintaa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN