bc

Satu Cinta Dua Dunia

book_age18+
197
IKUTI
1K
BACA
warrior
brilliant
male lead
magical world
special ability
like
intro-logo
Uraian

Elzio tidak pernah menyangka Vivian begitu saja menghilang dari hidupnya saat pernikahan mereka sudah di depan mata. Di tengah keputusasaan, Zio bertemu dengan Lovely, peri cantik yang terlihat layaknya capung bagi mata awam yang melihatnya.

Lovely mengabdikan hidupnya untuk Zio yang sudah membantu mengobati sayapnya yang patah serta menyelamatkannya dari terkaman anjing jalanan.

Dengan bantuan Lovely, Zio bisa menemukan Vivian yang ternyata sudah tidak berdaya dan terbaring lemah dengan berbagai alat bantu medis yang terpasang di sekujur tubuhnya.

"Jantung bunga cinta yang mekar di pegunungan utara duniaku, mampu mengobati berbagai penyakit. Ikutlah bersamaku menemui peri cinta dan meminta obat untuk kesembuhan cintamu."

Sebuah ajakan dari Lovely membawa Zio berpetualang ke dunia peri demi mencari obat untuk kesembuhan Vivian. Akankah Zio mendapatkan jantung bunga cinta dan bisa menyelamatkan kekasihnya? Atau dia justru terjebak pada cinta baru yang membuatnya bertahan di dunia peri?

chap-preview
Pratinjau gratis
Kemana Vivian
Seorang pria keluar dari mobil dengan rangkaian bucket mawar merah di tangannya. Senyum merekah di wajah tampan pria yang kini sedang menekan bel di depan pagar rumah perempuan yang begitu istimewa untuknya. Hari ini semua persiapan pernikahan yang akan dilangsungkan bulan depan sudah rampung dia selesaikan. Kabar gembira yang akan dia bagikan pada kekasih hatinya yang menjadi salah satu penghuni di rumah ini. Sudah beberapa kali dia menekan bel rumah kekasihnya Vivian. Namun, tidak satu orang pun keluar untuk membukakan pintu. Biasanya para asisten rumah tangga atau pekerja di rumah kekasihnya akan segera membukakan pintu untuk Elzio saat dia datang berkunjung. Semua penghuni rumah sudah hapal kalau pria dengan tinggi 180cm, berbadan atletis dan berotot kekar. Namun, berwajah tampan bak pangeran rupawan adalah calon suami dari nona muda di rumah tersebut. Sudah tiga tahun Elzio menjadi kekasih Vivian hingga akhirnya wanita yang begitu dia cinta menerima lamarannya untuk menjadi istri dari Elzio seorang petani muda yang sukses dan memiliki lahan pertanian terluas di Virginia, The orchid-wheat Land. Zio melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah sepuluh menit dia berdiri di depan pagar rumah Vivian tanpa seorang pun keluar untuk membukakan pintu untuknya. Dia kembali menekan bel sebelum mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Vivian. “Tidak aktif,” desis Zio sambil kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana. “Aneh, kemana semua orang di rumah ini. Kenapa begitu sepi,” gumam Zio sambil berusaha menjinjitkan kakinya melihat aktivitas di belakang pintu gerbang yang terlihat sepi. Padahal biasanya para pekerja di rumah ini terlihat sering berlalu lalang di sore hari, pos satpam juga tidak pernah dibiarkan kosong. Kemana semua penghuni rumah ini pergi? Sejenak Elzio menatap rumah-rumah di sekelilingnya dan berharap ada satu pintu yang terbuka agar dia bisa menanyakan kemana perginya Vivian dan keluarganya. Tidak biasanya Vivian pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Tidak biasanya juga rumah ini terlihat sepi padahal ada tujuh orang yang bekerja di dalamnya. “Oma,” sapa Elzio ketika melihat Mariam, seorang nenek yang tinggal tepat di depan rumah Vivian keluar sambil membawa keresek hitam menuju tempat sampah yang berada di depan gerbang rumahnya. “Zio, kamu mencari Vivian?” tebak Mariam karena dia tahu kalau pria muda yang sedang berjalan menghampirinya adalah kekasih dari penghuni rumah di depannya. “Rumah Vivian sudah kosong dari kemarin,” sambung Mariam sebelum Elzio bertanya apapun padanya. “Kosong?” “Iya, rumahnya terlihat gelap sejak kemarin. Mereka berangkat sore dan malamnya rumah tampak gelap, Zio,” beber Mariam sesuai dengan apa yang dia ketahui tentang kepergian Vivian dan keluarganya. “Oma tahu kemana mereka pergi?” Mariam menggeleng, dia tidak menanyakan hal itu karena memang sudah terbiasa melihat keluarga Vivian pergi bersama menggunakan mobil di sore hari dan pagi harinya mereka sudah terlihat kembali berada di rumah. “Kamu bisa meneleponnya, mungkin mereka sedang berlibur ke suatu tempat,” tebak Mariam dengan senyum yang tersungging di wajahnya yang sudah dipenuhi dengan keriput. “Baiklah Oma, terima kasih. Aku akan kembali besok, Oma. Tolong sampaikan aku ke sini hari ini." Dengan berat hati Elzio memutuskan untuk pulang dengan rasa kecewa yang tidak bisa dia sembunyikan. Senyum bahagia yang tadi tampak di wajahnya kini memudar dan perlahan hilang dan berganti dengan rasa penasaran yang terus berkecamuk dalam pikirannya. Ponsel Vivian tidak aktif, begitu pula ponsel Renata dan Damian, kedua orang tuanya yang sama sekali tidak bisa dihubungi. Kemana mereka sebenarnya? Elzio kembali masuk ke dalam mobilnya, dia meninggalkan rumah sang kekasih dengan tanda tanya besar yang membuatnya tidak langsung pulang ke rumah. Namun, Zio memilih untuk pergi ke tempat kerja Vivian meskipun biasanya Vivian memang sudah pulang sejak jam tiga tadi. Flower and Pet shop milik keluarga Vivian, toko tempat kekasihnya bekerja selama dua tahun ini sudah terlihat sepi. Hanya ada beberapa karyawan inti yang memang diminta Vivian untuk tidur di sana dan menjaga binatang peliharaan yang dititipkan para pelanggan yang sedang bepergian dan memilih menitipkan kucing peliharaan mereka di F&P shop tersebut. Elzio kembali turun dari mobilnya. Kali ini dia tidak membawa rangkaian mawar yang sudah dia siapkan untuk sang kekasih. Dia membiarkan bucket mawar itu tergeletak di jok belakang mobilnya. “Hai, Zio. Tumben mampir ke sini?” tanya Brandon, salah satu pekerja di F&P yang sudah sering bertemu dengan Elzio. “Ah, sekalian lewat saja, Bro. saya juga mau jemput Vivi, dia sudah pulang?” tanya Zio yang membuat mata bulat Brandon semakin melebar mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Zio. “Kamu mau jemput Vivi?” tanya Brandon dengan memutar badannya sembari memanggil Jeslin yang sedang merapikan beberapa pot bunga di toko. “Iya, saya mau jemput Vivi,” ujar Zio ragu karena dia sebenarnya tahu kalau tidak mungkin Vivian masih ada di toko sesore ini. “Jes, dia ke sini mau jemput Vivi,” kata Brandon ketika Jeslin berada di depan mereka. Bibir Jeslin menyunggingkan senyum, senyum yang terkesan menertawakan kalimat yang barusan dituturkan oleh Brandon. “Kamu mau jemput Vivi yang mana, Zi?” tanya Jeslin dengan nada bergurau sehingga kening Elio semakin berkerut melihat tanggapan dan ekspresi wajah Jeslin dan Brandon. “Vivian tunangan kamu sudah menyerahkan toko ini untuk kami kelola sejak minggu lalu. Jadi, kamu mau cari Vivian yang mana,” kekeh Jeslin yang membuat Zio semakin dibuat bingung dengan sebuah fakta yang baru dia ketahui. “Vivian menyerahkan toko pada kalian?” Brandon dan Jeslin terlihat kompak menganggukan kepala mereka. Jeslin, bahkan terlihat tertawa karena menganggap Zio sedang melemparkan lelucon dan mengajak mereka bercanda seperti biasanya. “Dia sudah tidak ke tempat ini sejak minggu lalu, Zi,” terang Brandon yang membuat Zio menyipitkan mata elangnya. “Dia tidak ke sini sejak minggu lalu?” tanya Zio dengan memandang wajah Jeslin dan Brandon secara bergantian. Tentu saja hal itu membuat kekehan tawa Jeslin berhenti seketika. Jeslin menangkap ada sesuatu yang serius dari wajah Zio. “Kamu tidak tahu hal itu, Zi?” Zio menggeleng, dia bukan hanya tidak tahu kalau Vivian sudah tidak pernah lagi ke toko, bahkan dia juga tidak tahu kenapa kekasihnya tidak memberitahu hal itu sama sekali. Zio masih ingat kemarin saat dia menelepon Vivian di pagi hari, kekasihnya mengaku kalau dia sedang terburu-buru dan bersiap akan pergi ke toko. ‘Bohong?’ tebak Zio saat mendapati fakta yang baru dia ketahui sekarang. Untuk apa Vivian membohonginya? Apa yang sebenarnya terjadi pada Vivian? Zio sama sekali tidak tahu apa jawaban dari kedua pertanyaan yang begitu saja singgah dalam pikirannya. “Kalian tahu kemana Vivi pergi?” Serempak Jeslin dan Brandon menggeleng tanpa ragu. “Rumahnya kosong, tidak ada siapa pun di sana. Nomor Vivian, Om Damian dan Tante Rena pun tidak bisa dihubungi,” beber Zio membuat Jeslin dan Brandon kini terlihat kaget mendengar cerita Zio. “Sudah seminggu kami tidak bertemu dengannya. Dia hanya mengatakan kalau ingin fokus mempersiapkan pernikahan kalian. Itu yang membuat kami canggung dan memilih untuk tidak menghubungi Vivi,” aku Jeslin. “Ya Tuhan, jadi kemana kamu pergi Vi,” desah Zio dengan mengusap kasar rambutnya. “Tolong hubungi saya kalau kalian tahu kabar tentang Vivi,” pinta Zio sebelum memutuskan meninggalkan toko dan kembali melajukan mobilnya untuk menuju suatu tempat yang sering mereka kunjungi bersama. Oma Rose, nenek dari Vivian yang tinggal bersama adik dari Damian. Selama menjalin hubungan dengan Vivian. Zio secara rutin mengunjungi kediaman Oma Rose bersama Vivian minimal satu bulan sekali. Bukan hanya Oma Rose, paman dan tante Vivian juga sudah sangat mengenal Zio karena hubungan Zio dan Vivian memang sudah terjalin lama hingga hampir seluruh keluarga Vivian mengenalnya. Tidak butuh waktu lama untuk Zio tiba di kediaman Shiva dan Marcus. Dari dalam mobil, Zio bisa melihat Oma Rose sedang duduk di kursi goyang yang berada di teras rumah depan dengan jemari tuanya yang masih terampil menyulam benang untuk membuat barang-barang dari rajutan yang nantinya akan dia bagikan ke anak dan cucunya. “Selamat sore, Oma cantik,” sapa Zio dengan mengembangkan senyumnya. “Zio, kamu kah itu?” tanya Rose, netra tuanya terlihat mencari seseorang yang biasanya berada di belakang Zio. “Kamu datang sendiri?” tanyanya saat tidak mendapati sosok yang dia cari. “Iya, Oma. Zi kebetulan lewat dan bawa mawar ini untuk Oma." Zio mengulurkan bucket mawar yang sebenarnya dia siapkan untuk Vivian. “Mawar.” Hidung Rose mulai membaui rangkaian bunga mawar yang kini berada dalam genggaman tangannya. “Terima kasih, Zi. Mana cucu cantik Oma, kenapa kamu tidak membawanya ke sini?” tanya Rose. Sebuah pertanyaan yang membuat Zio sadar kalau sosok yang dia cari tidak mungkin berada di rumah ini. Dia memaksakan senyum di kedua sudut bibirnya sebelum menjawab pertanyaan dari Rose. “Aku langsung ke sini karena sekalian lewat, Oma.” “Oh,” desah Rose dengan nada kecewa. “Lain kali bawalah Vivian ke sini. Oma sudah merindukannya,” pinta Rose dengan mata tuanya yang kini terlihat berkaca-kaca. Ada terbersit rasa bersalah dalam benak Zio, dia sudah berbohong. Namun, tujuannya adalah agar Oma Rose tidak mengkhawatirkan Vivian. Dia tidak mau terlalu lama berada di sana dan semakin membuat banyak kebohongan karena sudah dipastikan Rose akan terus menanyakan semua tentang Vivian padanya. Zio pun memilih pamit dan pulang sebelum bertemu dengan Marcus dan Shiva. Dengan langkah berat Zio kembali memasuki mobilnya. Dia duduk di belakang kemudi dan matanya tertuju pada foto dia dan Vivian saat bertunangan yang terpasang di depan dashboard mobilnya. “Dimana kamu, Sayang,” monolog Zio dengan mengusap wajah Vivian dalam foto dengan jemarinya. Lelah sudah mendera tubuhnya. Akhirnya, Zio memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Dia berharap Vivian segera menghubunginya. Kalau pun tidak, maka dia cukup berharap kalau ponsel Vivian atau kedua orang tuanya bisa di hubungi. Tidak, pernikahannya tidak mungkin batal. Semua persiapan sudah seratus persen selesai. Apa mungkin Vivian sengaja kabur karena tidak ingin menikah dengannya? Ah, bukankah mereka saling mencintai. Zio pun tidak pernah meragukan cinta Vivian yang teramat besar untuknya. Tidak mungkin Vivian kabur untuk menghindari pernikahan mereka. Pernikahan yang sudah Vivian dan Zio impikan sejak lama. Pernikahan yang awalnya mendapat pertentangan dari keluarga Vivian karena Zio dianggap tidak memiliki masa depan yang akan membuat Vivian bahagia hidup dengannya. Zio yang yatim piatu dan hanya seorang petani membuat Damian ragu memberikan putri semata wayang mereka padanya. Namun, berkat kegigihan Zio, dia mampu membuktikan kesungguhan cintanya dengan mengembangkan The orchid-wheat land warisan dari kedua orang tuanya yang kini menjadi salah satu pemasok gandum terbesar di Virginia dengan lahan yang terus bertambah luas setiap tahunnya. Ah, kini pertanyaan baru tiba-tiba muncul di benak Zio tanpa bisa dielak. Pertanyaan yang membuatnya berburuk sangka dengan kedua orang tua kekasih hatinya. Apa ini rencana Damian dan Renata yang sengaja memisahkan mereka? Apa Damian sengaja membawa Vivian pergi agar pernikahan mereka gagal? Setega itukah Damian padanya? Semua pertanyaan terus berkecamuk di d**a Zio, tanpa ada satupun yang mampu dia jawab.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

JANUARI

read
50.5K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
641.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook