Seperti tersambar petir di pagi hari yang tenang, tanpa hujan ataupun badai, tubuh Sandra bergetar di atas langkahnya yang semakin lambat dan malas. Tiba-tiba saja, ia merasa sangat kehilangan seseorang yang penting untuknya. Padahal selama ini, ia hanya menganggap tuan Arion sebagai rekreasi di dalam hidupnya, tidak lebih. Makanya ia hanya ingin menikmati malam bersama tanpa ikatan yang serius. Bibir merahnya yang semula tampak angkuh menantang dunia, kini memucat karena tanpa sengaja, ia telah mengelap tetesan air mata yang sempat menetes, pada bagian yang tampak sensual tersebut. Marah, kesal, sedih, terluka, kecewa, tidak terima, kini sudah menjadi satu. Sepertinya, semua itu bisa menjadi alasannya untuk menderita. Padahal ia tidak pantas merasakan hal tersebut karena memang hubung

