Kepergian Daffa

1115 Kata
“Baiklah.” Kania bernapas lega saat Daffa sudah menghilang di balik pintu, ia merasa berhadapan dengan kepala sekolah jika sudah bersama Daffa. Aura kepemimpinan yang dikeluarkan Daffa bisa membuat siapa saja tunduk dan takut padanya. Pertanyaan-pertanyan pedas yang di ajukan Daffa membuat semua orang diam tak berkutip. Itulah Daffa orang yang selalu serius dalam segala hal. Bahkan Daffa jarang sekali tertawa ataupun bercanda. Mengerikan sekali hidup bersama orang yang seperti itu. “Sudah selesai Mas?” tanya Kania berbasa-basi. “Kamu tidak lihat, punya mata kan,” ucap Daffa dengan pedasnya. "Iya aku punya mata kenapa emangnya," batin Kania kesal. Perkataan itu hanya tertahan di hatinya mana berani ia mengatakan langsung kepada Daffa. “Maaf, Mas, saya keluar dulu,” kata Kania berusaha menyembunyikan raut kesalnya. “Kenapa membawa jaket?” tanya daffa heran dengan sikap Kania. Kania mempunyai kebiasaan buruk jika sedang sedih atau pun ada yang bertindak tak adil padanya, ia selalu tidur di kursi taman tanpa selimut atau pun alas. Sambil melihat bintang dan sebisa mungkin berusaha melupakan masalahnya, dan memaafkan orang yang telah jahat padanya. Bagi Kania dengan melakukan itu bisa menggurangi sedikit kesedihannya. Walaupun besok paginya ia akan sakit dan berakhir nenek dan dan papanya menghukumnya. “Kalau orang nanya tu di jawab, nggak punya mulut kamu.” Daffa sedikit mengeraskan suaranya, ia marah dengan sikap Kania yang bodoh itu. Kania mencoba untuk bersabar dengan perkataan Daffa, perkataan dari Daffa menusuk hatinya. “Mau tidur di luar? Iya? Kamu pikir ini di drama. Tidur di sebelah saya!” marah Daffa, ia menegaskan di setiap kata-katanya. Ia marah dengan Kania jika Kania tidur di luar itu sama saja menyentil harga dirinya sebagai laki-laki. Ia tak mau dituduh mengusir Kania dari kamar mereka ataupun di cap lelaki yang tak bertanggung jawab. “Baiklah,” kata Kania dengan lesu, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas kasur diikuti Daffa setelahnya. "Ya allah apa aku akan menderita lagi? bagaimana aku bisa keluar dari semua ini. Kapan bahagia itu datang," batin Kania sendu. Ia mati-matian menahan tanggisnya. Tidak mungkin ia menangis di depan Daffa orang baru dalam hidupnya. Kata orang kebahagiaan bisa datang di mana saja dan kapan saja, tergantung siapa yang membuat bahagia. Jika begitu, kapan ia bahagia, kapan ada orang yang datang membahagiakannya. *** Semua orang sedang berkumpul di meja makan, menikmati sarapannya. Sebagian keluarga dari pihak Daffa maupun Kania masih ada di rumah Kania, sebagiaanya lagi pulang ke rumah masing-masing. Mereka tertawa berasama mendengar lelucon yang dibuat Claudia. Keluarga yang harmonis bukan. “Mbak maafkan Kania ya, anak itu selalu telat bangun pagi,” kata Mila—nenek Kania menampilkan raut bersalahnya. Dania yang mendengar itu secara replek membanting sendok yang ia pegang. “Munafik ya, Kania, mama janji akan bantu kamu kamu keluar dari rumah ini” batin Dania, agak kesal dengan mama mertuanya. “Tidak apa-apa bu, mungkin Kania capek karena acara pernikahannya kemaren,” kata Anella memakluminya. “Itu dia Kania,” tunjuk Dania dan segera menyuruh Kania untuk makan di meja makan. “Sini Nak, makan dulu.” Anella ikut menyeret Kania agar duduk di meja makan. Kania melihat di sekeliling mencari seseorang. “Nyari Daffa ya?” tanya Anella tau isi pikiran Kania. Kania menggangukkan kepalanya. “Hahhaha nggak usah malu sayang, Daffa kan suami kamu sayang, iya kan jeng,” kelakar Anella lalu melihat ke arah Dania. “Iya dong jeng.” Dania ikut tertawa dan diikuti semua orang yang ada di meja makan. "Kania, sepertinya mereka orang baik mama yakin kamu akan bahagia berada di tengah-tengah mereka. Mama yakin mereka akan menggantikan peran Ayah untuk kamu Kania. Sebentar lagi nak, impian kamu memiliki keluarga yang bahagia akan sgera tercapai. Mama yakin itu," Batin Dania sambil tersenyum haru ke arah Kania yang berjalan mendekati meja makan. Rasanya ia ingin Kania ikut tinggal bersama keluarga Daffa saja daripada tinggal bersamanya. Sedangkan Claudia ia tertawa palsu dan sesekali mengusap punggung tangan Kania, seakan memberi dukungan kepada Kania. “Nggak apa-apa kan ada aku yang nemenin kamu Kania,” ucap Claudia dengan senyum cerahnya, seperti seorang kakak yang melindungi adiknya. Anella mengusap kepala Claudia dengan kasih sayang. “Kania beruntung banget punya saudara seperti kamu,” kata Anella sembil melihat ke arah Kania dan juga Claudia. Kania tertawa miris di dalam hati mendengar perkataan mama mertuanya. “Maafkan Daffa ya, harus meninggalkan Kania untuk sementara waktu,” kata Aditya—ayah Daffa. “Tidak apa-apa Pak, kami memakluminya,” jawab Wahyu pura-pura tersenyum di hadapan semua orang. “Terimakasih telah merawat menantu kami pak,” kata Aditya dengan tulus, sedangkan Anella meneteskan air mata mengetahui Kania rela mengorbankan masa depannya untuk keluarga mereka. Tadi pagi Daffa mendapat telpon mendadak dari sekretarisnya di singapura, bahwa ada masalah di perusahaannya di singapura sehingga mengharuskan ia meninggalkan Kania tanpa pamit. Selang beberapa menit, tiba-tiba telpon Aditya berbunyi, ia memita izin kepada semua orang untuk mengangkat telponnya. “Ada apa yah?” tanya Anella kepada suaminya. “Mama sudah sadar,” kata Aditya dengan dengan wajah bahagianya. Orang-orang yang ada di sana merasa bahagia dengan informasi yang baru saja mereka dapatkan. Suatu keajaiban nenek bisa terbebas dari komanya. Sedari tadi Kania mengucap syukur di dalam hatinya. Walaupun, ia tak mengenal Nenek Daffa tetap saja Perjodohan ini dari Nenek Daffa bukan, ia rasa memiliki ikatan dengan Nenek Daffa. *** Suasana di rumah Kania berubah sunyi, keluarga Daffa maupun keluarganya sudah pulang ke rumah masing-masing. Tadi pagi Kania sempat memaksa untuk ikut tapi, tidak diperbolehkan oleh orangtua Daffa karena mereka takut menggangu kuliah Kania. “Cepat bersihin semuanya,” kata Mila kembali ke mode jahatnya. “Iya, Nek,” kata Kania. “Mama bantu sayang.” Dania mencoba memberi bantuan kepada Kania. “Enak saja mau bantu, Mama ikut Papa,” seloroh wahyu sambil berjalan mendahului Kania. “Kasian Kania Pa, biar Mama bantu sebentar,” kata Dania lagi mencoba membujuk suaminya. “Tidak bisa,” kata wahyu dengan tegas. “Pa, Ma—“ “Ma, Kania tidak apa-apa,” kata Kania menengahi perdebatan orangtuanya. Ia tak mau gara-gara ia, mama dan papanya bertengkar lagi. “Tuh lihat kan, anaknya saja bilang nggak apa-apa kenapa kamu yang rept. Ayo Ma ikut Papa,” kata Wahyu lagi, kalia ini mnarik tangan Dania agar mengikutinya. “Yang bersih, ya,” ejek Claudia melempar botol minuman yang ia minum ke lantai. Kania hanya menghela napas melihat bagaimana perlakuan keluarganya, ingin sekali ia pergi dari rumah ini tak bisa, ia tak punya penghasilan, bagaimana ia bisa hidup nantinya. ia tak mau menjadi gembel di ibukota yang keras ini. Aku harus mencari pekerjaan batin Kania sambil menghitung uang tabungannya, yang cukup untuk menyewa kos dan makan beberapa minggu ke depannya. Tunggu sebentar lagi Kania batin Kania menguatkan dirinya sendiri
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN