Daffa melangkah masuk ke rumah orangtuanya. Sudah seminggu ia di Jakarta baru hari ini bisa ke rumah orangtuanya. Katakan saja ia anak durhaka, tapi mau bagaimana lagi pekerjaannya di kampus membuat ia tak punya waktu bertandang ke rumah orangtuanya, dan memilih tinggal di rumahnya sendiri yang jaraknya lumayan dekat dari kampus.
"Masih ingat punya keluarga kamu?" sindir Anella Bunda Daffa yang sedang menyiapkan makan malam.
"Bun, Daffa sibuk," balas Daffa ogah-ogahan, sambil selonjoran di sopa.
"Hei! Son," sapa Aditya menepuk Daffa dengan koran yang ia baca. Lalu, ia duduk di sopa single bersebelahan dengan Daffa.
"Ayah apa kabar?" Tanya Daffa mengulurkan tangannya menyalami Ayahnya.
"Ayah baik Nak, Bunda kamu tu yang nggak baik. Dia marah sama ayah karena mengirimmu ke singapura," kelakar Aditya sambil melirik istrinya yang melihat sinis ke arahnya.
Daffa tertawa terbahak-bahak melihat ekpresi Bundanya yang selalu di ejek oleh ayahnya. Sudah lama ia tak melihat pemandangan seperti tadi. Ayahnya selalu memanjakan bundanya, selalu menuruti kemauan bundanya. Bahkan ayahnya lebih memilih bundanya daripada pekerjaan. Pernah sekali ayahnya rela meninggalkan rapat penting demi bundanya yang pada saat itu mengalami kecelakaan. Walaupun, luka bundanya tidak terlalu parah tetap saja Ayahnya rela menemani bundanya sampai bundanya sembuh. Definisi keluarga bahagia bukan? Tidak bisakah dia begitu dengan istrinya kelak? Daffa sampai lupa tujuannya ke sini
"Bun, kenapa tidak memberitahuku kalau Kania juga kuliah di kampus kita?" tanya Daffa dengan raut seriusnya bahkan ia sampai menegakkan badan saat menanyakan itu.
"Kamu sudah tau?" Aditya-Ayah Daffa- mengajukan pertanyaan ke Daffa.
"Tadi aku ketemu Kania di kampus," jawab Daffa.
Aditya dan Anella saling melempar pandangan satu sama lain, terlihat mereka memasang wajah serius. Memikirkan jawaban apa yang cocok untuk pertanyaan Daffa.
Mereka saja tau Kania berkuliah di kampus mereka dari 6 bulan yang lalu, itu pun ia tak sengaja bertemu Kania di minimarket dekat kampus.
“Kania,” batin Anella kaget mengetahui ada Kania di depannya.
"Kamu saya pecat, tega kamu ya menghianati kepercayaan saya."
Anella masih melihat perdebatan di depannya. Setelah selesai baru ia menyampari Kania.
"Kamu kenapa nak?" tanya Anella sambil menghapus air mata Kania.
"Dia sudah mencuri uang di kasir buk," jawab karyawan itu.
"Aku tidak mencuri Mbak," jawab Kania.
"Sudah-sudah ayo ikut Bunda," ajak Anella ke rumahnya.
“Saya akan menganti rugi uang yang telah Kania curi,” kata Anella tak ingin Kania di salahkan.
Dari hari itulah mereka tau Kania kuliah di kampus mereka, dan mereka penasaran kenapa Kania bekerja.
Bukankah Daffa memberikan uang setiap bulan ke Kania. Waktu itu Kania menghindari pertanyaannya, Kania seakan tak ingin mereka tau tentang hidupnya.
Banyak pertanyaan di benak Anella waktu itu, tapi ia tak mau memaksa Kania. Anella tau segalanya saat menanyakan semuanya ke Dania-Mama Kania. Dania menjelaskan semuanya termasuk ke mana uang yang di kirim Daffa selama ini. Saat itu juga Aditya memblokir kartu ATM yang ia beri ke Kania tanpa sepengetahun Daffa.
Karena Keluarga Daffa tidak ingin ikut campur jadi mereka membiarkan saja itu semua, selama Kania baik-baik saja mereka akan tetap diam.
"Kami di minta Kania untuk tidak memberitahukan padamu, ia tak ingin menganggu pekerjaan kamu," jawab Aditya, sepertinya itu jawaban yang bagus.
"Lalu kenapa kalian tidak mengajak Kania tinggal di sini?" tanya Daffa lagi, ia sedikit janggal dengan semua ini. Mungkin ia bisa menerima alasan yang tadi.
"Kania tidak mau Daffa, untuk alasannya tanyakan saja pada Kania langsung," jawab Anella yang pura-pura kesal dengan perkataan Daffa. Karena ia tak ingin Daffa menanyakan lebih lanjut tentang Kania, biarkan saja Daffa tau sendiri bagaimana keadaan Kania sebenarnya.
"Sudah-sudah ayo kita makan, besok aja Kania ke sini," kata Aditya menengahi perdebatan istri dan anaknya.
Daffa mengghela napas menanggapi ini semua.
Kania berjalan di koridor kampus dengan tergesa-gesa, sampai-sampai beberapa kali menabrak orang yang menghalangi jalannya. Ini sudah lewat satu jam mata kuliah. Ia berdoa semoga dosennya tidak mempermasalahkan kehadirannya dan berakhir dia harus mengulang di semester depan.
Ini saja ia sudah mati-matian meminta toleransi dari rector kampusnya agar mereka memberi waktu untuk Kania membayar uang semester.
"Kok muka lo kusut amat Vina?" tanya Kania saat melihat Vina berjalan ke arahnya.
Sekarang Kania berada di kantin Fakultas, ia memutuskan absen dari kelas setelah tau pasti ia akan dihukum jika masuk terlambat. Mending tidak masuk saja sekalian.
"Ternyata dosen baru yang gue ceritain waktu itu udah nikah," ucap Alvina tertunduk lesu.
"Hahahaha." Kania tertawa terbahak-bahak mendengar itu.
"Kok lo ngetawain gue sih, seharusnya gue yang ngetawain lo di sini," kata Alvina dengan nada kesalnya.
"Sabar ya, mungkin si pak dosen bukan jodoh lo," kata Kania dengan bijak, sambil mengelus punggung Alvina seakan-akan Alvina benar-benar sakit hati.
"Udah deh lupain, sekarang gue tanya lo, lo ke mana aja kok nggak masuk di jam pertama?" tanya Alvina.
"Kesiangan gue, lembur malam tadi," balas Kania memakan makanan yang baru saja ia pesan.
"Lo jangan kerja terlalu keras Kania, gue siap bantu, kalau lo mau," kata Alvina dengan wajah serius.
"Makasih ya, untuk saat ini gue masih bisa menghandel masalah gue. Ouh ya, absen gue gimana?" tanya Kania baru ingat bagaimana dengan kelasnya pagi ini.
"Nah nah. Gue mau bahas itu sama lo. Gawat Kania, lo kek nya ngulang semester depan," kata Alvina menakuti Kania.
"Jangan nakutin gue dong," cemas Kania, kali ini ia serius dengan perkataannya. Ia tak ingin menggulang satu semester lagi.
"Pak Daffa serem banget anjir. Waktu dia ngajar nggak ada ketawa-tawanya. Gue aja nggak gerak-gerak waktu pelajaran pak Daffa," jelas Alvina yang menaruh kebencian ke Daffa. Ia sedikit kesal karena Daffa tidak tanggung-tanggung memarahi mahasiswanya karena tidak fokus dalam menyimak pelajaran.
Termasuk Alvina tadi, bahkan Alvina di beri tugas tambahan karena kurang memperhatikan pelajaran.
"Pak Daffa? Ketua jurusan kita?" tanya Kania memastikan.
Alvina mengangguk mengiyakan.
"Jangan bilang Pak Daffa mengantikan Buk Amora?" tanya Kania memastikan.
"Kan emang iya Kania sayang, gue udah bilang dari kemaren lho," kesal Avina dengan ketidaktahuan Kania.
"Mampus gue," kata Kania.
Tiba-tiba kepalanya mendadak pusing mendengar berita itu. ini sama saja masuk keluar dari kandang singa masuk ke kandang buaya. Benar-benar kesialan bagi Kania.
"Pak Daffa juga nitip tugas buat lo, dan ngumpulnya besok, " ucap Alvina menyerahkan beberapa buku ke Kania.
"Besok? Bukannya besok kita tidak ada jadwal sama Pak Daffa?" tanya Kania, ia makin binggung dengan semuanya.
"Enggak tau, dia nyuruh lo ngehubungin dia langsung, nih nomornya."
Kania berjalan semponyogan menuju pintu gerbang, niatnya ingin bersantai hari ini ternyata semesta berkehendak lain. Ia harus menyelesaikan tugas dari Daffa di hari liburnya.
Ia terus berjalan, sedikit lagi sampai di depan kosnya, tak sengaja ia melihat mobil berhenti di depan kosnya. Ia tak mengindahkan itu, mungkin saja itu mobil penghuni kos ataupun tamu.