Nia menarik lengan dan menatap manik mata Clara tajam. “Apa yang aku lakukan itu adalah yang terbaik untukmu. Apa pernah aku melakukan hal yang membuatmu celaka?” Clara mengatupkan bibirnya dan menelan ludah. Ia sadar, jika apa yang dilakukan dan disarankan Nia selalu yang terbaik untuknya. Nia adalah sahabatnya. Bahkan sudah seperti kakak kandung untuknya. Mereka tumbuh besar bersama hidup dalam kekuarangan. Korban dari ketidakadilan duniawi. “Bukankah ini yang kita inginkan? Hidup nyaman? Tinggal di rumah mewah. Semua orang menghargai ...?” kata Nia mengingatkan semua tujuan hidup Clara. “Mungkin semua itu keinginanmu,” sahut Clara. Nia mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu, Ra ...? Keinginanku? Sedangkan apa yang aku dapat? Kamu yang menjadi artis. Kamu yang terkenal.

