Membutuhkan waktu tiga puluh menit lebih untuk sampai di rumah sakit Karya Bhakti Nusantara, tempat Diva mendapatkan perawatan.
Mendengar Diva mengalami kecelakaan, kepala Clara langsung terasa sakit. Jantungnya berdegup lebih kencang dan kedua tangannya gemetar.
Langkah-langkah kaki cepat berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang IGD. Walau Astrid memberitahu dengan panik hingga tidak menyebutkan di ruang mana Diva di rawat, logika Reno pasti berpikir Diva pasti berada di IGD.
Namun saat sudah sampai di ruang IGD, sepasang mata Reno tidak menemukan Diva.
“Di mana Diva, Reno ...?” tanya Clara dengan suara gemetar. Berdoa di dalam hati agar buah hatinya tidak mengalami hal buruk.
“Entahlah ... Aku tidak tahu,” jawab Reno sambil melihat ke dalam ruang IGD dari balik gawang pintu yang lebar.
“Maaf, Mas ... Jangan menghalangi jalan,” tegur salah seorang suster pada Reno.
“Oh, maaf ... Maaf Mbak,” sahut Reno sambil memberikan jalan pada seorang suster yang akan lewat.
Suster yang mengenakan seragam setelan berwarna putih-putih nampak tidak suka melihat Reno dan Clara menghalangi jalan dan mengintip ke arah dalam ruang IGD. “Maaf, mas dan mbaknya ini mencari siapa ya?”
“Mencari anak saya Sus ...!” sahut Clara tanpa sadar.
Reno langsung menoleh, menatap Clara sebentar atas jawaban Clara yang mengejutkan.
Clara baru sadar jika ia salah bicara.
“Siapa nama anaknya?” tanya Suster yang berparas ayu itu. “Kemungkinan ada di ruang IGD. Tapi kemungkinan juga sudah dipindah ke ruang rawat. Silahkan mbaknya bertanya pada bagian administrasi di depan. Mungkin bagian di sana mengetahuinya.”
“Baik Sus, terima kasih,” kata Reno dan kemudian langsung bergegas menuju bagian adiminstarsi di depan untuk menanyakan pasien bernama Diva.
Clara yang panik hanya ikut mengekor ke mana pun Reno pergi.
Setelah Reno berhasil mendapatkan jawaban dari salah satu kariawan adiministrasi tentang di mana ruangan Diva berada, tanpa mengatakan apa-apa lagi, Reno bergegas berjalan menuju perawatan anak kelas satu. Ruang Anggrek nomer dua.
Karena saking ingin cepat sampainya, Reno tidak menggunakan lift untuk naik ke lantai empat di rumah sakit itu. Dengan cepat ia menyusuri anak-anak tangga yang sepi.
“Apa Diva sudah dipindahkan ke ruang rawat?” tanya Clara cemas.
Pertanyaan yang sejak tadi ia tanya namun belum di jawab juga oleh Reno.
Pikiran Reno sedang kacau. Sangat cemas atas keadaan Diva namun ia juga terpikirkan akan biaya pengobatan ini. Apa lagi dengan kasus kecelakaan tidak di tanggung asuransi kesehatan pemeritah.
Di belakang Reno, Clara terengah-engah mengikuti langkah kakinya menaiki anak-anak tangga. Hingga entah saat anak tangga ke berapa yang dipijak Clara ini, telapak kakinya terpleset. “Aaa ...!” teriaknya spontan.
Mendengar teriakan Clara, Reno langsung membalikkan badan dan kemudian menangkap tangan Clara.
Hampir saja Clara jatuh terguling dari tangga jika Reno tidak sigap memeganginya. “Clara ...,” desis Reno lirih.
Tangan Clara masih dicengkram erat oleh Reno. Tatapan mereka beradu.
Perlahan Clara kembali berdiri dengan benar.
Reno melepaskan tangannya yang memegangi lengan Clara.
Clara kembali mengatur nafasnya dan menyeka buliran keringat dingin yang membasahi keningnya.
“Pulanglah ... Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Tapi kamu bisa menggunakan taxi on line,” kata Reno lirih. “Kamu boleh memotong gajiku karena ini.”
“Tap-tapi ....” Clara tergagap. Ia ingin melihat Diva dan berada di sisinya.
“Pulanglah. Jika kamu mengikutiku, semua ini akan merepotkanmu,” kata Reno sekali lagi.
Clara menggelengkan kepalanya. “Tidak ... Aku tidak ingin pulang.”
Reno mengerutkan dahinya. “Bukankah jadwalmu masih padat. Wildan juga pasti menunggumu dan Nia akan mencarimu.”
“Tapi aku ingin di sini. Aku ingin melihat Diva. Aku ingin ....” Tiba-tiba suara Clara yang berbicara menjadi parau. Sepasang matanya seketika berkaca-kaca. Reno semakin terheran dengan hal itu. Mengapa Clara menangis?
Padahal ia mengenal Diva, hanya beberapa pekan. Tapi kenapa dia begitu cemas?
“Please ...Reno ... Jangan suruh aku pulang. Aku masih ingin di sini. Melihat Diva dan menemaninya agar ia sehat kembali,” kata Clara lirih.
Sekitar lima detik Reno terdiam, tidak menjawab. Hingga kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Baiklah ... Ikutlah bersamaku. Kita akan melihat Diva. Semoga saja saat melihatmu berada di sini membuat Diva senang.”
Wajah sayu Clara berubah berbinar. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Makasih Ren ....”
***
“Ruang Anggrek nomer dua ...,” guman Reno sambil membaca nama yang tertulis di papan, tergantung di dinding.
“Di sini Ren!” seru Clara menunjuk salah satu kamar rawat yang tertutup.
Reno bergegas menghampiri Clara dan kemudian membuka pintu ruangan.
Pintu ruangan terbuka pelan. Clara dapat melihat cahaya dari celah pintu yang terbuka. Telihat Diva yang terbaring lemah di atas bed rawat dengan tangan dan kaki yang terbalut perban.
Di sampingnya Astrid terduduk pilu sambil terisak menangis. Mendengar suara pintu yang terbuka, Astrid menoleh ke sumber suara dan kemudian beranjak berdiri. Tangisnya yang semula tanpa suara, berubah sedikit meraung ketika ia melihat Reno.
“Anak kita ...,” katanya sambil menangis dan memeluk Reno.
Reno ikut menangis sambil memeluk Astrid dan melihat ke arah Diva yang terbaring lemah. Sepasang matanya terpejam dan terlihat beberapa bagian wajahnya lebam. “Ada apa sebenarnya. Kenapa bisa terjadi kecelakaan?”
“Tadi pagi-pagi sekali Diva sedang belajar sepeda bersamaku di taman dekat rumah. Tapi tiba-tiba saja ada sebuah motor dengan dua orang pengendara yang mabuk menabrak Diva. Tepat di depan mataku ...,” jawab Astrid sambil menangis kencang. “Aku melihatnya di tabrak Ren! Padahal kami sudah berada di jalur yang benar. Kami di pinggir trotoar jalan.”
“Dan di mana para pengemudi motor itu?” tanya Reno murka.
“Mereka sudah di amankan oleh polisi.”
“Diva? Tapi dia baik-baik saja kan?” Reno bergeges mendekati Diva dan kemudian menggenggam telapak tangannya yang mungil. Mengecup punggung tangan itu sambil menangis dalam diam.
“Dokter sudah merawatnya. Dan akan dilakukan operasi secepatnya untuk menyambungkan tulangnya yang patah. Jika terasadar Diva akan menangis. Ini dia tertidur karena pengaruh obat bius. Hanya saja yang aku bingungkan ....” Kalimat Astrid terpotong.
“Apa?!”
“Persedian darah untuk Diva di rumah sakit ini kurang. Kata dokter Diva membutuhkan darah lebih banyak dari yang ada di rumah sakit ini. Kita harus mendapatkan golongan darah A+ dari mana ....” Suara Astrid terdengar merintih dan depresi. “Sedangkan darah kita ....”
Reno memukul keningnya. Tentu saja darahnya dan Astrid tidak cocok. Darah Reno B dan Astrid O.
“Darahku A+!” sahut Clara yang sejak tadi berdiri di depan gawang pintu dan menatap Diva dari jauh.
Astrid dan Reno menoleh ke arah Clara yang telah berlinang air mata.
“Darahku A+. Ambilah sabanyak mungkin yang dibutuhkan Clara. Dan jika kurang, aku akan meminta seluruh kenalanku yang bergolongan darah A+ untuk mendonorkan darahnya pada Diva ...!” kata Clara lagi.
Astrid nampak terkejut dan aneh melihat Clara yang seraya ikut dalam kesedihan keluarga ini. “Kamu ada di sini?” tanyanya yang baru sadar.
Clara menelan ludah. “Ya, aku di sini. Apa kamu lupa jika Reno berkerja denganku?” dalih Clara. “Cepat bilang pada dokter, sudah ada satu orang yang pasti akan mendonorkan darahnya!”
Bersambung