Kecelakaan?

1201 Kata
Lagi-lagi Clara merasa tersindir. Reno itu memang irit bicara. Namun sekalinya mengatakan sesuatu pasti apa yang diucapkannya menghunus jantung dan menyakitkan. Clara hanya menatap sekilas Reno. Tak ingin memperpanjang sindiran Reno padanya. “Aku akan membeli tempat ini. Aku dan pengacaraku akan datang lagi ke mari. Aku akan membeli tempat ini sesuai dengan pasaran harga permeter tanah dan bangunan di sini,” kata Clara pada pak Suyitno. Pak Suyitno terlihat sangat senang dan bahagia. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih Nyonya muda.” “Tidak usah memanggilku Nyonya muda. Panggil saja aku Cla– ....” Kalimat yang akan diucapkan Clara tiba-tiba terpotong sendiri. Ia langsung mengatupkan bibirnya dan menjilat bibir bawahnya sekejap. “Panggil saja aku Rara,” lanjutnya sambil tersenyum dan kemudian mengambil selembar kartu nama di dalam dompet. “Ini pak, kartu namaku. Jangan sungkan menghubungiku lagi. Aku sangat terkesan pada seseorang yang sulit melupakan orang terkasih di dalam hidupnya,” kata Clara dengan tatapan sayu. Karena di dalam hatinya yang terdalam, Clara mengharapkan Reno tidak pernah melupakan kisah lalu bersamanya. Pak Suyitno mengambil kartu nama yang diberikan Clara dan kemudian membacanya. Tangannya menggerakkan kacamata berbingkai cokelat tua keemasaan, bola matanya fokus membaca tulisan yang tertera di kartu nama itu. “Bukankah namamu Rara? Tapi kenapa di sini menjadi Clara?” tanyanya masih tidak mengerti. Reno kembali tersenyum simpul mendengarnya. Apa lagi melihat Clara mengehela nafas panjang, memperbanyak kesabaran yang dia miliki. “Hm ... Begini pak Suyitno, yang penting aku akan membeli tempat ini sesuai harga pasaran di sini dan bapak tidak akan kehilangan semua kenangan tentang tempat ini.” “Terima kasih, nak Rara. Aku akan menunggu kedatanganmu kembali ke mari,” kata Pak Suyitno tersenyum lebar. Clara dan Reno mengajak pak Suyitno serapan bersama di satu meja. Ajakan ramah itu pun disambut baik oleh pak Suyitno yang kesepian. Bersamaan dengan suara piring dan sendok perunggu yang beradu, pria tua yang selalu mencintainya istrinya itu berbagi kisah dan pengalaman hidupnya. Clara terlihat sangat menikmati perbincangan dan menyimak semua cerita haru dan romantis kala pak Suyitno muda bersama istrinya. Reno menatap sisi wajah Clara dari samping. Tanpa sadar ia mengamati rupa Clara. Dan ikut tersenyum saat Clara tersenyum. Juga tanpa sadar ia mengikuti gerakan Clara. Clara menyuap potongan buah apel, Reno pun tanpa sadar melakukannya. “Wajah kalian hampir mirip. Aku kira awalnya kalian adalah pasangan suami istri. Seperti ada cinta yang terlihat,” kata Pak Suyitno tiba-tiba. Pandangan Reno yang mengamati Clara langsung tersadar dan langsung membuang muka. “Apa kamu mencintainya?” tanya Pak Suyitno pada Reno. Reno terkesiap. Ia tidak menyangka jika pria tua dengan kulit penuh keriput itu bisa menayakan hal ini padanya. Clara ikut menoleh dan menatap Reno yang duduk di sampingnya. Senyuman yang terhias di wajahnya tiba-tiba memudar. Pandangannya lurus dan berekspresi datar. “Kenapa bapak bertanya seperti itu?” tegur Reno berusaha tetap tersenyum dan menampilkan keramahan. “Aku sudah makan asam garam kehidupan. Aku tidak bisa dibohongi. Tatapan kalian berdua menyimbolkan kerinduan terpendam dan rasa cinta yang mendalam,” jawab pak Suyitno yang seketika membuat suasana menjadi hening. Hingga suara burung yang berkicau merdu bertengger di salah satu pohon terdengar nyaring di telinga. “Ehem ....” Clara berdeham dan kemudian mengambil cangkir berisikan teh lemon hangat di atas meja. Ia menyesap teh lemon yang sudah setengah itu. “Wah tehnya sangat nikmat. Pasti aku akan kembali hanya untuk ingin merasakan teh lemon ini.” “Syukurlah kalo nak Clara menyukai teh hangat ini,” kata pak Suyitno senang. “Apa mau aku buatkan lagi?” Clara menggelengkan kepalanya. “Tidak usah. Setelah ini aku dan Reno harus pulang. Banyak yang harus kami kerjakan. Tapi aku berjanji aku akan kemari lagi bersama pengacaraku untuk mengurus jual beli penginapan ini.” “Terima kasih nak Rara, karena sudah mau membantuku,” kata Pak Suyitno dengan senyum lebarnya. *** Akhirnya Clara dan Reno pulang dari penginapan tua itu. Tanpa sadar, Clara duduk di kursi depan samping pengemudi melambaikan tangannya ke arah pak Suyitno yang berdiri di bahu jalan. Saat matahari sudah berada sedikit atas di langit biru, penginapan tua milik pak Suyitno nampak tidak terawat dan sangat kusam. Cat di dinding bangunan pun hampir semuanya terkelupas. Jelas sekali terlihat bobroknya tempat ini ketimbang saat malam hari. Reno mengamati bangunan tua itu dan mengerti mengapa penginapan pak Suyitno sepi pengunjung. Tidak ada daya tarik dan daya jual yang terlihat. Reno menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah pak Suyitno sambil menginjakkan kakinya ke pedal gas mobil. Perlahan mobil yang dikemudikan Reno melaju. Clara menghela nafas panjang dan membetulkan posisi duduknya. Menghadap ke arah depan. Fokus melihat jalanan beraspal mulus dan berkelok. “Aku tidak bisa membayangkan betapa kesepiannya hari-hari pak Suyitno. Dia tetap ingin tinggal di penginapan tua itu untuk mengenang kebersamaan dengan almarhum istrinya.” “Dia tidak kesepian jika ikut bersama anak-anaknya,” timpal Reno. “Apa kamu juga sama Ren ...?” tanya Clara. Reno menoleh, menatap Clara. “Apanya?” “Apa kamu juga mencintai istrimu seperti pak Suyitno mencintai istrinya? Hingga memilih tinggal di tempat yang sepi hanya untuk dapat terus mengingat kisah cinta kalian?” Clara memperjelas pertanyaannya. Mereka berpandangan sebentar dan kemudian Reno kembali lagi melihat ke arah jalanan. Terasa kekakuan di antara mereka. “Menurutmu ... Bagaimana?” Beberapa menit kemudian suara Reno justru membalikkan pertanyaan. “Apa kamu sangat mencintai Wildan hingga sifat keras kepalamu luluh di tangannya?” Clara tersenyum tipis mendengar pertanyaan Reno dan kemudian memalingkan muka. Seraya menganggap sepele apa yang ditanyakan Reno. “Kenapa kamu tersenyum-senyum begitu? Apa pertanyaanku aneh?” Reno mengerutkan dahinya. Serasa ditertawakan. “Bukannya begitu Ren. Pertanyaanmu itu lucu. Aku bertanya kamu malah balik tanya,” sahut Clara yang masih tertawa renyah. “Oke, aku jawab. Tentu saja aku mencintai istriku. Aku menikahi Astrid dengan segenap hatiku karena dia mau menerima aku apa adanya!” Clara menoleh dan menatap Reno lekat. “Baguslah jika begitu. Aku sangat suka cerita cinta yang berakhir bahagia,” tuturnya lirih. Dering suara ponsel milik Reno berbunyi nyaring. Ponsel itu begetar pelan di saku celana Reno. Dengan tangan kirinya Reno mengambilnya. Tatapan matanya masih diusahakan melihat fokus ke arah jalanan walau tangan kirinya mengambil ponsel dari saku celana. Dilihatnya sekilas nama Astrid tertulis di layar. Reno mengusap layar ponsel dengan jarinya. “Halo ....” “Ren, kalo bisa cepat pulang. Diva kecelakaan!” seru Astrid dengan suara yang panik. “Apa?!” Reno berteriak. Clara ikut melihat ke arah Reno dan menjadi penasaran apa yang terjadi. “Bagaimana?! Kenapa bisa?!” seru Reno di telpon. “Nanti aku ceritakan saat kamu ada di sini. Cepatlah ke rumah sakit Karya Bhakti Nusantara!” “Bagaimana dengan kondisi Diva?” “Diva patah tulang. Cepatlah ke mari. Aku sangat bingung,” jawab Astrid sambil menangis terisak. “Aku akan segera ke sana.” Reno mematikan panggilan ponselnya. “Memang kondisi Diva kenapa?” tanya Clara ingin tahu. Jantungnya pun berdegup kencang karena khawatir terjadi sesuatu dengan Diva. Raut wajah Reno sangat diliputi ketegangan. “Diva kecelakaan ...,” jawab Reno cemas dan sambil memukul keningnya sendiri. “Apa?!” Clara tak dapat menyembunyikan rasa panik. Wajahnya langsung pucat pasi. “Kalo begitu cepat kita ke rumah sakit tempat Diva dirawat!” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN