“Maaf Ren, kami masuk ke dalam dulu. Ada yang harus kami bicarakan. Ini masalah pekerjaan.” Ucap Clara pada Reno sambil segera menarik lengan Nia untuk mengikutinya ke ruang keluarga di bagian dalam, agar Reno tidak mendengar gumanannya.
“Iya, silahkan ...,” jawab Reno tidak masalah.
“Kenapa kamu berkata demikian?!” Clara langsung menghardik Nia saat mereka sudah berada jauh di sudut ruang keluarga. “Jika Reno mendengarnya bagaimana?”
Nia menggigit bibir bawahnya. Menatap Clara lekat. “Aku tahu, bagimu Reno sangat berarti. Tapi tidak begini. Membuatnya berada dekat denganmu, akan membahayakan kariermu. Dan bagaimana jika Reno memiliki dendam karena pernah kamu campakan?”
“Reno tidak akan pernah dendam padaku. Hatinya tidak pernah suka mendengki,” jawab Clara sambil menaikan kedua alisnya ke atas.
“Tapi kenyataannya jika dia adalah ayah dari anak yang kamu titipkan di panti asuhan. Lalu ternyata anak itu diadopsi oleh bapaknya sendiri. Aduh ... rumit ....” Nia menarik nafas panjang. “Dan pasti akan semakin bertambah rumit jika wartawan tahu kenyataan ini ....”
“Tidak akan ada yang tahu, jika kamu tetap diam.” Kedua mata Clara membulat.
Nia menatap kilat bersinar dari sorot mata Clara yang berbicara dengan mimik muka sangat serius. “Ini soal kariermu Clara. Jika kamu tidak mendengarkan saran dariku, jaminannya adalah reputasimu.”
“Aku sudah mendengarkan saran darimu. Tuh lihat, aku sudah mendapatkan sopir sekaligus bodyguard,” sahut Clara dengan senyuman simpul di wajahnya. Masih keras kepala seperti biasanya. “Perdebatan ini selesai dan jangan di bahas lagi. Oke?”
Clara mengambil keputusan sepihak dan kemudian berjalan meninggalkan Nia, menuju ke arah ruang tamu. “Aku akan pergi sebentar bersama Diva. Reno akan mengantarkan kami. Kamu mau ikut?”
“Apa kamu mau bertemu dengan Diva sekarang?” Nia berbalik bertanya.
Clara menoleh dan menganggukkan kepalanya. “Masih ada waktu sampai jam satu. Acara yang di stasiun tv itu kan jam dua siang, jadi masih sempat. Sudah dua hari tidak bertemu dengan Diva, membuatku sangat merindukannya,” lanjutnya dengan suara yang nyaris berbisik.
“Kamu tidak bisa bertemu dengan Diva sekarang, Ra!”
Langkah kaki Clara terhenti seketika. “Kenapa tidak bisa?”
“Karena sekarang juga kita harus memulai konferensi pers, klarifikasi soal berita kehamilanmu di masa lalu yang sudah sangat viral dan beritanya sudah sampai ke mana-mana.”
Clara mengerutkan dahinya. “Kenapa mendadak? Kenapa tidak kamu katakan sejak kemarin?”
“Tentu saja ini mendadak. Jika tidak genting, mana mungkin akan mendadak seperti ini? Kamu kira aku tidak lelah terus ditelpon dan dikejar pertanyaan oleh para wartawan infotainment. Berita ini memalukan karena termasuk skandal. Jika viralnya kamu karena sebuah prestasi, itu bagus. Tapi ini, mengenai ‘Seorang selebriti terkenal yang telah membuang anaknya di panti asuhan’. Apa ini terdengar bagus?”
Clara memejamkan sepasang matanya. Ia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Oke ... Cukup. Jangan dilanjutkan. Baiklah, atur semuanya. Yang penting aku tahunya masalah berita burukku itu cepat mereda.” Akhirnya Clara menurut pada Nia. “Dan mana Gina? Kenapa jam segini dia tak kunjung cepat datang?”
Baru juga Clara bertanya, suara langkah kaki Gina yang masuk dari pintu belakang terdengar. “Aku di sini?! Aku masuknya muter. Ada tamu di depan,” katanya sambil senyam senyum seperti biasa.
“Pria yang ada di ruang tamu itu, mulai sekarang akan menjadi supir dan pengawal jika ada paparazi atau haters,” kata Clara langsung memberitahu Gina.
“Um ... Baguslah kalau begitu. Memang sudah saatnya kita memiliki pengawal kan ....”
“Oke kita bersiap mengundang wartawan saat ini ya ....” Nia mulai memberi isntruksi dan mengatur segalanya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi beberapa orang untuk segera ke mari.
Gina juga sibuk dengan perintah-perintah kecil yang diberikan Nia. Dan Clara kembali lagi berjalan menuju ruang tamu. Ia duduk di samping Reno sambil melipat kedua tangannya di depan dadaa.
“Mereka semua ikut?” tanya Reno pada Clara.
“Aku tidak jadi menemui Diva dan pergi jalan-jalan dengannya. Ada konferensi pers yang harus segera dilaksanakan saat ini juga.”
“Dan aku juga tetap di sini?” tanya Reno lagi.
“Ya, kamu kan sudah bekerja di sini. Jadi tetap di sini saja. Setelah konferensi pers ini selesai kita harus segera menuju ke lokasi acara di stasiun tv yang sudah mengundangku.”
Reno mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Aku baru tahu jika managermu adalah Nia,” katanya lirih. Ia sudah tidak tahan untuk mengatakannya.
Clara menoleh ke samping, memadangi Reno yang menatap lurus ke depan dan menerawang. “Ya, Nia adalah menagerku. Jika bukan karena dia. Mungkin aku pun tidak akan berada di sini. Aku tidak mungkin menjadi artis seperti sekarang. Kami berjuang bersama,” jawab Clara sambil mengenang perjuangannya bersama Nia dari tempat satu casting ke tempat casting lainnya. Dari menjadi pemeran figuran dan honor yang diterima hanya cukup untuk makan sehari-sehari dan membayar uang kost.
Dari sebungkus nasi padang yang dibagi dua saat mereka sudah tidak ada uang lagi. Dan ... banyak hal lainnya yang membuat Clara terkadang mau menuruti semua yang dikatakan Nia padanya. Karena bagi Clara, Nia tidak sekedar manager. Dia sudah seperti seorang kakak perempuang yang mengarahkannya untuk lebih baik.
“Ternyata dari masa lalumu, hanya aku yang dilupakan ....” Suara Reno yang sedih membuyarkan lamunan Clara.
Clara kembali menatap Reno dengan tatapan sendunya. “Aku tidak pernah melupakanmu, Ren ....”
Jawaban Spontan Clara langsung membungkam sindirian Reno lainnya yang sudah ada di ujung lidah. Reno kembali menelan semua kalimat yang ingin ia katakan. Lidahnya menjadi kelu karena tatapan dari sorot bola mata berwarna cokelat gelap itu.
Mereka saling memadang satu sama lain. Keheningan merasuk di antara mereka. Hanya tatapan dari sepasang mata yang mampu berbicara.
“Sebentar lagi wartawan akan datang. Bersiaplah dengan penjelasanmu.” Nia kembali masuk ke dalam ruang tamu.
Clara dan Reno yang bertatapan langsung tersadar dan sama-sama memalingkan muka, karena kehadiran Nia di antara mereka.
“Hai, Reno ... Maaf tadi aku belum sempat menyapamu,” kata Nia pada Reno dan mengulurkan tangan. “Bagaimana kabarmu?”
Reno menyambut uluran tangan Nia dan mereka berjabatan. “Kabarku baik. Aku juga terkejut ternyata menager Rara adalah kamu.”
Nia menjawab dengan senyuman. “Sebentar lagi wartawan datang. Terkadang para wartawan melewati batasan, mereka akan terus bertanya sampai mendapatkan jawaban. Tugas kamu berada di belakang Clara untuk menjaganya. Jika ada haters, kamu harus mejaga Clara di depannya. Clara tidak boleh terluka. Bahkan tergores kuku haters pun jangan!”
Reno menganggukkan kepalanya. “Ya, aku mengerti.”
“Bagus kalau begitu,” sahut Nia sambil melirik ke arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Apa ini konferensi pers soal foto kehamilan Clara di masa lalu?” Reno mulai tertarik dengan pembahasan itu. Entah mengapa foto Clara berdaster batik hijau toska dengan perut membuncit besar, membuatnya terus penasaran.
Tatapan Nia yang mengarah pada arloji bulat berantai perak dengan emas itu kini perlahan beralih pada manik mata Reno yang melihat ke arahnya.
“Entah mengapa aku merasa foto saat Clara casting itu terlihat sangat nyata, seperti hamil sungguhan ....” Reno melanjutkan kata-katanya lagi.
Clara yang juga berada di sana, menelan ludah. Ia kira Reno sudah tidak akan membahas mengenai foto itu lagi. Tapi ternyata feeling batin Reno sangat kuat.
“Foto itu memang foto Rara saat syuting. Wartawan hanya membesar-besarkannya saja. Atau mungkin ada seseorang yang ingin menjatuhkan karier Clara. Jangan percaya berita hoax macam itu,” kata Nia sambil tersenyum lebar. Wajah Nia nampak alami dan natural saat berbicara. Terlihat jujur mengatakan segalanya.
“Aku harap kamu mengatakan yang sebenarnya,” sahut Reno lirih.
Bersambung