Dibalik sikap yang baik

1129 Kata
                “Aku harap kamu mengatakan hal yang sebenarnya ....” Nia menggaruk dagunya yang tidak gatal. “Menurutmu Rara memang hamil, begitu?” Reno terdiam. Ia memang pernah memimpikan menikah dan memiliki anak bersama Clara. Selalu membayangkan, andaikan Clara mengandung anak mereka, mungkin perpisahan yang terjadi lebih dari lima tahun yang lalu itu tidak akan terjadi. “Jangan terlalu memikirkan berita tentang Clara. Clara seorang artis. Sudah sering tertimpa berita hoax seperti ini ...,” kata Nia sambil tersenyum dan menepuk bahu Reno. Di belakang halaman rumah Clara yang luas, Gina terlihat sedang menelpon seseorang. Kedua matanya melirik ke kiri dan ke kanan. Gelagatnya terlihat tidak wajar, seperti takut ketahuan orang lain jika ia sedang berbicara di telpon. “Ini informasih terakhir yang akan kuberitahukan padamu,” katanya sambil memegangi ponsel ke arah telinga kirinya. Di seberang sana, Lolita yang juga sedang memegangi ponsel di tangan kanannya, tesenyum simpul. Sirat kepuasan terpancar di wajahnya yang cantik. “Kamu mengatakan hal itu sudah untuk kesekian kali. Tapi saat aku berikan uang, lagi-lagi kamu mau membocorkan sesuatu padaku,” katanya dan kemudian tertawa ringan. “Aku hanya takut jika Clara dan Nia mengetahui jika aku lah orang yang memberikan foto masa lampau Clara ketika hamil padamu,” sahut Gina dengan mimik cemas dan takut. “Tenang. Jika mereka memecatmu, ke marilah. Bekerja saja denganku,” jawab Lolita santai dan kemudian duduk di sofanya. Tangan kirinya mengambil remote tv dan sekejap tv berlayar datar dan lebar yang terpasang di dinding itu langsung menyala. “Dan pria yang akan menjadi sopir juga bodyguard Clara itu adalah pria masa lalu di kehidupan Clara, begitu?” “Seperti yang aku dengar sih kayanya gitu. Namanya Reno. Nia dan Clara membicarakan pria itu setengah berbisik-bisik. Nia tidak setuju jika Reno berkerja dengan Clara. Tapi Clara yang selalu keras kepala bersikukuh dengan keinginannya,” jawab Gina sambil sepasang matanya tetap wasapada melihat ke kiri dan kanan. “Ginaaaa ...!” panggil Nia dari dalam rumah. “Di mana cas an tablet aku ya ....” Mendengar suara Nia yang nyaring membuat Gina gelagapan. “Sudah dulu Lol. Nia mencariku dan berjalan menuju halaman belakang. Sebentar lagi wartawan akan datang. Clara akan mengadakan konferesi pers tentang foto kehamilannya yang beredar.” “Oke,” jawab Lolita singkat dan kemudian mematikan panggilan ponselnya. “Hai, ngapain di situ!” hardik Nia dari belakang badan Gina. Gina yang sedang akan memasukan ponselnya ke dalam saku celana jeans langsung terkejut dengan wajah paniknya. “Sedang apa?” tanya Nia sambil mengerenyitkan alis. “Ca-cari sinyal!” jawab Gina yang hampir saja tergagap. “Ada apa manggil-manggil?” “Terakhir yang pake cas an tab kan kamu. Di mana?” tanya Nia lagi. “Di dekat ruang fitnes Clara,” jawab Gina lantang. ***   Clara melipat kedua tangannya di depan dadaa sambil memandangi ke arah halaman belakang dari balik jendela ruang makan. Melihat Nia dan Gina yang sedang berbicang dan mempersoalkan charger tab. “Aku jadi bingung pekerjaanku apa,” kata Reno sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi makan. “Kamu ke depan, aku disuruh ikut ke depan. Kamu di belakang, aku di pinta ikut ke belakang. Engga jelas ini ....” Reno sedikit menggerutu karena bosan tidak ada yang ia kerjakan. “Oia bisnis ikan hiasmu di kios lalu siapa yang nunggu?” tanya Clara yang jutsru menyahut dengan topik pembicaraan berbeda. “Ada. Aku bayar orang untuk menjaga kios. Untungnya jadi semakin dikit sih, karena aku bayar orang lain. Tapi masih ada sisa keuntungannya. Dan aku mengambil pekerjaan ini, untuk menutupi kekurangan pengeluaran di rumahku.” “Dan, Astrid. Dia tidak ikut membantumu menjaga kios? Lalu dengan Diva, dia lebih condong dekat denganmu atau dengan Astrid?” Mendadak Clara terlihat sangat ingin tahu. Berondongan pertanyaan keluar dari mulutnya tanpa bisa di tahan lagi. Reno merasa aneh. Kenapa kehidupannya menjadi penting bagi Clara? Ia menatap wanita bertubuh tinggi 160 cm dengan rambut ikal panjang itu sejenak. Dan saat Reno mulai akan menjawabnya. Tiba-tiba derap langkah kaki berat dan cepat terdengar menghampiri mereka yang sedang berada di ruang makan dengan meja panjang berbahan marmer. “Clara, kenapa kamu tidak memberitahukan aku dulu jika akan mengadakan koferesi pers?!” tanya Wildan yang langsung menarik lengan Clara dan juga mencengkramnya. Kehadiran Reno di sana sama sekali tidak terlihat di mata Wildan. Dahi Reno berkerut, kedua alisanya beradu. Ia mengamati sikap kasar Wildan pada Clara. “Berapa kali sudah aku katakan jika semua yang akan kamu lakukan, aku harus lebih tahu lebih dulu,” ucap Wildan dengan sepasang mata tajamnya. Tatapan Clara bergetar. Lengannya terasa sakit karena cengkraman Wildan. “Bu-bukan aku Wil ...,” jawabnya terbata. “Lalu kenapa wartawan mulai datang di depan? Kenapa? Kamu akan mengadakan konferensi pers kan? Dan berita tentang kehamilan itu, katakan yang sejujurnya, hoax atau sungguhan? Aku tidak ingin mendengar kenyataan yang sebenarnya dari tulisan media.” Wildan terus menghardik Clara dengan sikap arogannya. Sifat asli Wildan yang kasar memang tidak pernah nampak dari balik wajah tampannya. Bahkan senyuman Wildan seperti seorang malaikat. Tidak pernah dapat dibayangkan jika tangannya itu dapat mencengkram kuat-kuat lengan Clara yang kurus. Melihat semua itu Reno mulai berdiri dari duduknya. Ia ingin merelai amarah Wildan pada Clara. “Nia yang mengurus ini semua. Untuk apa aku punya manager jika semua urusan, aku juga yang menanganinya?” kata Clara dan kemudian merapatkan bibirnya rapat-rapat. Sebentar Wildan masih menatap tajam manik mata Clara yang berwarna cokelat gelap itu. Dan kemudian baru melepaskan cengkaraman tangannya pada lengan Clara. Setelah jari-jari kekar Wildan terlepas dari lengannya, Clara meringis perih. Ia memegangi lengannya sendiri. Bahkan Reno dapat melihat bekas jemari Wildan di kulit lengan Clara yang berwarna kemerahan. “Aku sampai pura-pura sudah mengetahui berita itu saat Lolita mengatakannya padaku. Kenapa kamu selalu tidak pernah menganggapku ada?” tanya Wildan lirih dengan kedua mata memicing. “Apa benar semua berita yang beredar itu, hanya sebuah berita palsu?” Clara memejamkan kedua matanya kuat-kuat dan kemudian membukanya kembali. Terkadang ia sudah bosan dengan sikap Wildan yang seperti ini. Kasar, pecemburu dan posesif. “Ya, semua itu adalah hoax. Aku juga tidak terlalu menanggapi berita itu, mangkanya aku tidak mengatakan apa pun padamu ....” Wildan menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Lalu ia memalingkan mukanya ke arah kiri. Ia terkejut melihat ada orang lain selain dirinya dan juga Clara di dalam ruang makan ini. Wildan dan Reno saling bertatapan. Sejenak hening. Clara melihat ke arah Reno dan Wildan bergantian. Jantungnya mulai berdebar. Sedikit panik dan takut Wildan akan naik pitam karena ini. “Siapa dia ...?” tanya Wildan pada Clara. "Kenapa ada pria di rumahmu?" "Di-dia ...." Suara Clara menjadi terbata karena gugup. Ia takut Wildan akan marah-marah seperti dahulu. Saat emosinya kembali memuncak, Wildan sering memukulinya. Reno mengerenyit, melihat sikap Clara yang seperti orang yang ketakutan.   Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN