“Kamu mengijinkan Clara membawa Diva pergi?” tanya Reno tidak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengar.
Astrid terlihat santai. Ia mengambil selembar roti lagi dan mengoleskannya dengan selai nanas yang ada di dalam toples kaca tebal. “Memang kenapa? Diva senang. Dan juga tidak mungkin juga Clara akan menculik anak kita.”
“Tentu saja Diva akan senang jalan-jalan bersama Clara. Tapi sepertinya kita tidak bisa membiarkan Clara mengajak Diva pergi sendirian,” sahut Reno melarang.
“Memang kenapa? Jika Clara menyukai Diva, kemungkinan besar Clara bisa membantu Diva menjadi artis cilik kan ...,” kata Astrid dengan wajah berbinar penuh harap.
Reno menghentikan gerakan menyantap rotinya. Ia melirik ke arah Diva yang duduk di samping Astrid. “Maksudmu, Diva akan menjadi artis? Kapan kita pernah membahas ini?” tanya Reno sambil menatap ke arah istrinya.
“Memang kita tidak pernah membahasnya sih ... Hanya saja ini adalah kesempatan langka. Sepertinya Clara meyukai Diva. Dan ini akan menjadi jalan Diva untuk menjadi selebritis. Banyak kan artis yang sukses mulai mereka cilik. Masa depan Diva akan cerah ...,” jawab Astrid dengan wajah berbinar sambil membayangkan bagaimana kehidupan mereka setelah mejadi salah satu selebritas terkenal dan juga kaya raya.
Reno menghela nafas panjang. “Kenapa kamu menjadi terobsesi seperti ini ...? Ingin menjadi terkenal dan banyak uang. Popularitas dan kekayaan itu bukanlah segalanya,” sahut Reno sambil mengerutkan dahinya.
Astrid mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan mendengus sebal. “Tapi beli ini itu dan kebutuhan rumah pakai uang, sayang ... Lihat seperti sekarang, saat usahamu sepi, peminat ikan hias menurun, untuk memenuhi kebutuhan aku harus ikut usahan sampingan, jual-jual kue ....”
Diva yang masih kecil hanya melihat ke arah bunda dan ayahnya sambil mengigit pelan roti berselai di tangannya. Bekas noda s**u berserakan di pinggiran dan sudut bibirnya.
“Diva, kamu mau kan menjadi idola? Idola itu bisa beli mainan banyak. Kamu bisa ada di tv,” ujar Astid seakan memperngaruhi Diva.
Reno menatap Astrid, tidak suka dengan apa yang dikatakannya pada Diva. “Sudahlah Astrid ... jangan merayunya agar menjadi yang kamu inginkan. Aku heran kenaapa semua orang menginginkan menjadi terkenal dan banyak uang? Apa buruknya hidup sederhana?”
“Karena pada kenyataannya, semuanya itu dibeli dengan uang. Bahkan ke toliet pun kita harus membayar. Bahkan air yang kita minum di beli menggunakan uang. Mana ada yang gratis di dunia ini ...,” jawab Astrid realistis dan sambil menghela nafas panjang.
“Ada yang tidak bisa dibeli dengan uang, nyawa dan kebahagiaan ...,” timpal Reno dengan wajah naifnya.
Astrid menatap suaminya sambil tersenyum simpul. “Bahkan saat kita sekarat dan membutuhkan fasilitas kesehatan, tanpa uang kita tidak bisa dirawat di rumah sakit. Obat yang dibeli juga pakai uang ....”
Reno menatap wajah Astrid kecewa. “Kenapa kamu menjadi seperti ini?” tanyanya sedih. Empat tahun silam, Reno menikahi Astrid karena kagum pada sifat dan sikapnya yang sederhana. Tapi setelah beberapa tahun menikah dan hidup bersama, sifat kesederhanaan yang dimilikinya perlahan memudar. Astrid tidak lagi sama.
“Menjadi seperti ini bagaimana?” tanya Astrid merasa dirinya masih sama seperti yang dulu.
“Kamu berubah Astrid ... Entah sejak kapan kamu mulai berubah dan aku mulai merasakannya sekarang ....”
Suasana mulai menjadi tidak nyaman. Astrid terdiam dan terlihat tidak suka dengan tanggapan Reno.
Reno pun sama. Ia mengambil gelas berisikan s**u murni hangat dan menenggaknya hingga habis. Dan kemudian beranjak dari duduknya. Pergi dari ruang makan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Astrid menghela nafas panjang dan menatap punggung Reno yang berjalan menjauh.
“Bunda ... aku mau rotinya lagi,” kata Diva sembari menunjuk roti tawar gandum yang tersedia di atas meja.
Suara permintaan Diva membuyarkan lamunan Astrid yang bertengkar dengan Reno. Ia menghembuskan nafas panjang lagi dan kemudian tersenyum pada Diva. “Mau tambah lagi sayang, rotinya ...?”
Diva menganggukkan kepalanya. “Bunda ... jangan bertengkar dengan ayah. Aku sedih melihat Bunda sedih,” katanya dengan suara parau dan cadel khas anak-anak.
Astrid mengatupkan bibirnya lebih rapat dan tersenyum simpul pada Diva. “Bunda dan Ayah tidak bertengkar sayang. Kami hanya ngobrol tapi suaranya sedikit keras,” kata Astrid menghibur Diva.
Diva mengusap pipi Astrid dengan kedua telapak tangannya. Lalu mencium pipi bundanya itu dengan lembut dan penuh sayang. Memeluk dan menghirup aroma menanangkan dari wanita yang telah tulus merawatnya.
Astrid pun sama, ia memeluk dan menghirup aroma tubuh Diva yang selalu membuatnya kecanduan. Entah bagaimana jadinya dirinya jika dulu tidak mengadopsi Diva. Mungkin hidupnya akan kesepian dan tidak berarti.
“Aku sayang Bunda ...,” kata Diva berbisik.
“Bunda juga sayang kamu ...,” balas Astrid sambil merapatkan pelukannya. ‘Diva, anakku ... permata hati dan jiwaku,’ lanjutnya lirih di dalam hati.
***
Reno duduk termenung di teras belakang. Memandangi tanaman hijau dan bunga-bunga yang tumbuh subur dan indah di sisa tanah belakang rumahnya yang tidak terlalu lebar. Usaha ikan hiasnya sudah di ambang kehancuran.
Saat pendemi Corona dan diberlakukannya penutupan toko untuk sementara waktu, demi menghentikan laju penyebaran virus Covid -19 yang telah menjangkiti dunia, membuat usaha Reno mengalami kemunduran. Bahkan uang tabungannya pun terpakai untuk memenuhi kebuthan sehari-hari dan mulai kini sudah tinggal sedikit.
Reno mulai kebingungan untuk melanjutkan hari ke depan. Bahkan uang belanja yang diberikannya untuk Astrid harus berkurang seperti biasanya. Memang benar jika materi dan keberadaan uang selalu berkaitan dengan kabahagian. Tapi entah kenapa sejak dahulu, Reno selalu tidak setuju dengan pradigma seperti itu.
Tatapan Reno menerawang. Ia sedang berpikir dan menghitunga sisa dana yang harus ia alokasikan. Dan tiba-tiba suara Clara terdahulu terngiang di telinganya.
Suara Clara ketika berniat mengakhiri hubungan mereka dan mencampakkan Reno yang hingga kini masih mencintainya.
Flash back,
“Apa yang aku harapkan dari pekerja biasa penunggu konter hape dengan gaji pas-pasan di bawah UMR?!” Suara Clara meninggi dan ia memalingkan mukanya. Tidak sudi menatap Reno yang hanya diam dan sesekali berbicara.
“Pasti kebahagian akan berpihak pada kita. Harusnya kita sabar menghadapi cobaan ini. Dan saat kita menikah nanti, rizky kita pasti akan bertambah,” sahut Reno yang masih dengan sabar melayani emosi Clara yang kala itu bernama Rara Setiowati.
Clara menggelengkan kepalanya cepat. “Menikah? Siapa yang ingin menikah denganmu. Tidak. Aku tidak ingih hidup terus menderita seperti ini. Aku akan mencari cara agar cita-citaku tercapai. Aku tidak jelek. Banyak orang yang bilang, aku itu cantik tapi sayang tidak terawat.”
“Kamu selalu cantik di mataku, Ra ...,” kata Reno lagi.
“Aku ingin kita putus. Aku akan menjadi seorang artis yang banyak uang. Aku akan mencari cara agar semua itu terjadi!”
Reno mendelikkan kedua matanya. Ia tidak percaya jika Clara akan memutuskan ikatan cinta mereka. “Apa yang kamu katakan Ra ...? Bukankah kita sama-sama saling mencintai ...?”
Clara menghela nafas panjang dan menatap wajah Reno dengan tajam. “Cinta saja tidak cukup!”
***
“Nyonya Clara ...,” panggil Bi Kesi sambil mengetuk pintu kamar. Membuyarkan lamunan Clara tentang masa lalunya. Betapa teganya ia kepada Reno. Padahal Reno sangat tulus mencintainya. Tapi dengan sadis Clara mencampakkannya.
“Ya ...!” sahut Clara di dalam kamar. Dan kemudian menepuk tangan Aan yang sedang memijat wajah Clara dengan sentuhan facial.
Aan, perawat kecantikan pribadi Clara langsung menghentikan tangannya.
“Sebentar, bi Kesi memanggilku. Sepertinya penting.”
“Nyonya Clara ...,” panggil Bi Kesi lagi dan masih mengetuk pintu kamar.
“Ya, masuk saja Bi!”
Pintu terbuka. Bi Kesi tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar. “Nyonya ... Ada wartawan banyak di depan pintu rumah. Mereka ingin bertemu dengan Nyonya.”
Clara mengerutkan dahinya. “Wartawan?”
“Iya, Nyonya ... Mungkin ada gosip baru tentang Nyonya,” kata bi Kesi memberitahu.
“Sepertinya aku sedang tidak tersandung kasus atau skandal apa pun,” jawab Clara sambil turun dari ranjangnya.
Clara berjalan menuju jendela kamar dan mengintip dari balik tirai virtase berwarna putih. Dari lantai atas terlihat banyak wartawan sedang berdiri di depan halaman rumahnya. “Kenapa mereka bisa masuk ke dalam rumah? Memang Mang Bowo ke mana? Kenapa wartawan dibiarkan masuk?”
“Bowo kewalahan melarang wartawan yang ingin masuk ke dalam rumah, Nyah ...,” sahut Bi Kesi.
Clara menghela nafas panjang dan wajahnya masam. “Ada apa ini ... kenapa wartawan tiba-tiba ke rumahku ...?”
bersambung