“Wildan ada di sini ...?” desis Clara yang seakan bertanya pada dirinya sendiri.
Wildan menatap tajam ke arah mobil. Sepertinya ia murka. Bahkan Clara merasa takut untuk keluar dari mobil.
Wildan menanti Clara yang tidak kunjung keluar dari mobilnya. Ia berdiri di depan teras sambil meyilangkan kedua tangannya di depan dadaa.
Clara menarik nafas panjang dan menghirup oksigen yang terbatas di dalam mobilnya kuat-kuat. Lalu perlahan membuka pintu mobil dan berjalan menuju Wildan yang menantinya sejak tadi.
“Hai Wil ...,” sapa Clara yang berpura-pura tidak melihat kemarahan yang tersirat di wajah Wildan.
Wildan berwajah datar dan nampak tidak ramah hari ini. “Dari mana saja kamu seharian ini? Kenapa aku telpon ponselmu tidak aktif?”
“Aku ada pertemuan dengan fans. Dan baterai ponselku habis,” jawab Clara santai.
“Kenapa tidak di charger di mobil? Kan mudah jika kamu mengisi daya di dalam mobil. Dan kenapa Nia tidak tahu jadwal kamu hari ini dan ke mana kamu pergi?” Wildan memberondong pertanyaan yang tidak langsung di jawab oleh Clara. Membuat sikap posesif Wildan kini semakin menjadi.
Clara menatap Nia yang berdiri di samping Wildan dan mengangkat bahunya ke atas.
“Jadi begini Wil ... Sebetulnya Clara sudah mengatakan padaku akan menemui fansnya. Tapi aku tidak tahu tepatnya ke mana,” timpal Nia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tapi tadi kenapa kamu bilang tidak tau ke mana Clara pergi?” tanya Wildan sekali lagi.
“Ya, karena memang aku tidak tahu ke mana Clara pergi ...!” sahut Nia.
“Sudah cukup. Ya, ini memang salahku. Aku tidak mengatakan ke mana aku pergi. Tadinya aku hanya niat sebentar menemui fans aku itu. Tapi waktu yang dilewati sungguh tidak terasa dan membuaku betah berlama-lama dengannya,” kata Clara merelai perdebatan di antara Nia dan Wildan.
Wildan mengerutkan dahi, mendengar pengakuan Clara. “Kamu betah berlama-lama dengan fans kamu itu ... Dia laki-laki?”
Sejenak suasana menjadi hening. Clara dan Wildan saling menatap sebentar sebelum Clara mengeluarkan suara tawanya. “Hahahaha ... Ya ampun Wildan, jadi dari tadi mukamu cemberut gitu karena kamu cemburu sama aku, takut kalo aku bertemu dengan fans cowok yang ganteng gitu?”
Wildan langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak cemburu. Kenapa aku harus cemburu ...,” sangkalnya. “Aku hanya takut jika kamu bertemu dengan orang jahat. Tapi aku tidak bisa habis pikir kenapa kamu bisa-bisanya pergi sendirian tanpa ditemani siapa pun?”
Clara menelan ludahnya. Ia melihat ke arah Nia. Namun nampaknya Nia tidak ingin ikut campur dengan perselisihannya. Apa lagi berurusan dengan Wildan, sepertinya dia angkat tangan.
“Sekarang Clara sudah pulang ke rumah. Jadi aku pulang saja. Aku juga punya urusan,” kata Nia sambil tersenyum pahit ke arah Clara dan melambaikan tangannya.
Nia buru-buru membuka aplikasi ojek online di ponselnya. Ingin segera pergi dari sini.
“Lebih baik kamu menunggu jemputan ojol di dalam rumahku saja, Nia!” teriak Clara.
Nia yang sudah berjalan mendekat pada pagar rumah, menoleh dan menggelengkan kepalanya. “Tidak usah. Aku buru-buru!” tandasnya.
Clara mengigit bibirnya, menatap punggung Nia dari kejauhan.
“Kenapa? Kamu takut jika tidak ada Nia yang membantumu beralasan?” hardik Wildan dengan tatapan tajam.
“Aku tidak takut karena tidak bisa beralasan. Aku hanya kasihan padanya kalau menunggu ojol di pinggir jalan,” jawab Clara sambil berjalan menuju ke dalam rumah tanpa menatap Wildan lagi.
Wildan mengekor di belakang Clara. Ia menarik tangan Clara dengan cepat ketika Clara akan melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang keluarga. “Tunggu, jawab yang betul lebih dulu!”
Langkah kaki Clara terpaksa terhenti. Ia langsung menoleh ke belakang. Bertatapan dengan mata elang Wildan yang menghakiminya. “Jawab apa Wildan ...? Aku kan sudah mengatakannya padamu, jika aku habis pergi menemui seorang fans. Bukankah seperti yang kamu katakan sebelumnya, jika kita bukan apa-apa tanpa para fans?”
Tangan Wildan masih mencengkram lengan Clara. Tatapan matanya tajam dan tenggelam dalam manik mata cokelat gelap nan indah yang berbinar.
Clara membalas tatapan Wildan. Ia tahu kekasihnya ini terlihat santai dan cool. Tapi dia adalah kekasih yang pencemburu dan posesif.
Setelah beberapa detik saling menatap, akhirnya Clara tertawa. “Hahahaha ... Ya ampun Wildan, kekasihku yang tampan, menawan tapi curigaan aja. Kenapa kamu menatapku kek gitu? Kaya aku sedang melakukan kesalahan saja ...?” timpal Clara sambil memegangi kedua pipi Wildan dan mencubitnya pelan seakan Wildan adalah anak balita yang menggemaskan.
“Hentikan ...,” sahut Wildan sambil menepis tangan Clara yang menarik kedua pipinya.
“Kamu kan menggemaskan,” kata Clara lagi dan kemudian membuat Wildan tersenyum simpul namun berusaha menyembunyikan senyumannya. “Sumpah demi Tuhan, aku memang bertemu dengan seorang fans. Fans cilik yang memberikanku hadiah kecil berupa boneka tempo lalu itu.”
Kedua mata Wildan membulat. “Jadi kamu menemuinya?”
Clara menganggukkan kepalanya. “Ya, aku menemuinya. Kamu tahu kan jika aku mudah tersentuh dengan anak kecil,” jawabnya dengan tatapan menerawang tanpa sadar.
“Kenapa tidak memberitahukan Nia atau mengajakku?” tanya Wildan lagi.
Clara menarik nafas panjang. “Hari ini kamu ada jadwal syuting. Nia juga aku sudah beritahu. Tapi memang dia tidak tau ke mana aku perginya. Aku hanya mengatakan akan menemuinya fans kecil yang memberikanku hadiah,” dalihnya lagi.
Wajah Wildan mulai berubah percaya. Tidak tegang seperti tadi. Clara mengusap lengan Wildan yang kekar dan melingkarkan tangannya di sana. “Fansku hanya seorang anak kecil. Bukan cowok atau pun aku bersenang-senang tanpamu.”
Wildan mengatupkan bibirnya dan menarik tubuh Clara ke dalam dekapannya.
Clara bisa merasakan jika pria yang mendekap tubuhnya dengan erat itu sangat mencintainya. Walau cinta yang diberikan Wildan nampak indah dan terasa mengagumkan, juga parasnya yang rupawan hal itu tak bisa menggeser nama Reno yang telah berdiam lama di dalam relung hati Clara terdalam.
Wildan menghirup kuat-kuat aroma rambut Clara yang harum bunga-bunga menyegarkan. “Entah kenapa aku selalu merasa kamu tidak pernah menjadi milikku. Kamu tidak pernah mencintaiku. Makanya aku selalu takut kehilanganmu ...,” kata Wildan lirih nyaris berbisik.
Clara menyandarkan kepalanya di dalam dadaa Wildan yang bidang. Rasanya memang hangat dan nyaman. Namun dihatinya masih terasa kehampaan dan ada yang kurang. “Jangan berkata seperti itu. Aku mencintaimu Wil ... Kamu adalah satu-satunya orang yang membantuku terjun ke dunia yang aku impikan sejak dulu. Menjadi diva top dan selebritis adalah keinginanku sejak dulu. Jika bukan karenamu. Apa lah aku. Mungkin aku tidak mampu menggapai kesuksesan ini semua ...,” kata Clara sambil menghela nafas berat. Ia merasa sangat berhutang budi pada Wildan.
Bersambung