Wildan marah

1189 Kata
Reno menginjakkan pedal rem dengan cepat ketika hampir saja menabrak seorang penyebrang jalan. Ia menjadi tidak fokus karena memikirkan kedatangan Clara ke rumahnya. Selama ini Reno mengetahui jika Diva sangat mengidolakan Clara karena suara merdunya. Lebih tepatnya Diva menyukai Clara sebagai penyanyi ketimbang saat Clara berperan di salah satu sinetron yang kerap disaksikan Astrid dari balik layar kaca. Tapi dua hari yang lalu, ia tidak mengetahui jika Astrid mengantarkan Diva menemui Clara di lokasi syuting. Penyeberang jalan yang hampir saja ditabrak oleh Reno terlihat marah dan kemudian menggebrak kap depan mobilnya. “Brak!” Terdengar suara keras kap mobil yang dipukul. “Bisa engga sih nyetir mobil!” Penyebrang jalan itu mulai marah dan memaki. Karena merasa jika semua ini kesalahannya. Reno tidak keluar dari mobil dan tak menanggapi makian pria yang hampir saja celaka karena kecerobohannya. Nafasnya naik turun dan jantungnya berdegup dengan kencang. Kedua mata Reno mengikuti ke mana langkah pria penyeberang jalan yang masih mamaki ke arahnya. Namun setelah itu pria tadi berjalan menjauh dan meninggalkan mobilnya sambil tetap menggerutu. Reno menepuk-nepuk keningnya dengan tangan yang mengepal dan memejamkan kedua matanya. Menyandarkan punggungnya ke sandaran mobil. “Rara ... Setelah bertahun-tahun kamu meninggalkan aku. Menghilang begitu saja. Kini kamu datang kembali?” tanyanya lirih. Seraya bertanya pada dirinya sendiri. *** “Kapan kita akan jalan-jalan?” tanya Diva pada Clara. Setelah kebersamaan hampir lima jam, kini sudah merasa akrab dan nyaman. Seraya mereka telah mengenal lama. Clara menatap lekat gadis kecil yang sudah sangat lama dirindukannya. “Tentu saja kita akan jalan-jalan bersama. Seperti yang sudah aku janjikan. Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan membuat jadwal baru,” jawabnya sambil menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Diva. Diva menganggukkan kepalanya pelan. “Baiklah. Tapi janji ya ...,” katanya sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Clara tersenyum simpul. Ia membalas uluran jari kelingking Diva dengan mengaitkan jari kelingkingnya. “Iya, aku janji ....” Wajah Diva yang polos dan menggemaskan tidak mampu memalingkan pandangan Clara dari yang lainnya. Tatapannya masih memandang lurus pada manik berwarna cokelat gelap seperti bola mata Reno. Rasanya Clara tidak ingin cepat pergi dari sini. Dorongan hatinya ingin terus bersama Diva. Ataukah Diva ia bawa saja?, pikir Clara mulai dirasuki niat jahat. “Jangan terlalu dipikirkan mbak Clara. Aku tahu kehidupan selebritis itu sibuk. Tidak usah memusingkan permintaan seorang fans cilik seperti Diva,” kata Astrid menyela pembincangan. Lengan sebelah kirinya dilingkarkan ke bahu Diva. Setengah memeluk gadis kecil itu. Kini tatapan mata Clara beralih pada tangan Astrid yang memegangi pundak Diva. Apa yang dilihatnya seraya mengingatkannya jika Diva adalah anak Astrid dan Reno secara hukum. Clara mengehela nafas panjang dan menegakkan punggungnya yang tadi setengah membungkuk, berhadapan dengan Diva. “Tidak apa-apa. Aku tidak menganggap permintaan ini adalah sebuah beban. Baiklah jika begitu aku akan pergi dulu ....” Astrid menganggukkan kepalanya. “Hati-hati di jalan mbak. Dan terima kasih atas semua hadiah yang sudah diberikan untuk Diva.” “Ya, itu semua bukan apa-apa. Aku yang harusnya berterima kasih memiliki seorang fans cilik seperti Diva,” jawab Clara dan kemudian berjalan mundur ke belakang. Dan saat ia akan membalikkan badan, tiba-tiba Clara teringat sesuatu. “Astrid ...,” panggilnya kemudian. “Iya?” Astrid langsung menyahut. “Tolong, panggil aku Clara saja. Tidak usah memanggil dengan sebutan Mbak. Seperti katamu tadi, umur kita tidak terlalu jauh. Jadi aku harap kamu menganggapku teman.” Senyuman di wajah Astrid langsung terhias. “Tentu. Jika kamu menginginkannya. Aku akan memanggilmu ‘Clara’. Ini adalah sebuah kehormatan bisa berteman dengan seorang selebritis.” Clara tersenyum dan melambaikan tangan. Langkah kakinya berjalan keluar menuju pagar dan memasuki mobil yang terparkir di bahu jalan. Kacamata hitam yang dikenakan langsung dilepaskan setelah Clara duduk di dalam mobil. Kedua matanya masih memandang ke arah Diva yang berdiri bersama Astrid di depan teras rumah. Hatinya merasa tidak rela untuk pergi dari sini. Tapi tidak mungkin begitu saja ia akan merebut Diva dari Astrid dan Reno yang telah membesarkan Diva sejak masih bayi. Dan bagaimana jika Reno mengetahui kenyataan tentang Diva yang ternyata memang anak kandungnya?, pikir Clara sambil mengehela nafas panjang. Terasa beban yang ia tanggung kini terasa berat. Astrid meminta Diva untuk kembali masuk ke dalam rumah. Sepertinya Diva pun menuruti kemauan Astrid. Ia berjalan masuk ke dalam, dan Clara hanya mampu memandangi punggung Diva yang kini sudah tidak terlihat lagi karena pintu rumah telah ditutup. “Tadinya aku hanya ingin melihat dan memelukmu saja. Tapi sekarang rasanya aku tidak bisa jauh darimu ...,” kata Clara lirih. Saat aku tertawa di atas semua Saat aku menangisi kesedihanku Aku ingin engkau selalu ada Aku ingin engkau aku kenang Selama aku masih bisa bernafas Masih sanggup berjalan Ku kan slalu memujamu Meski ku tak tau lagi Engkau ada di mana Dengarkan aku ku merindukanmu Saat aku mencoba merubah sgalanya Saat aku meratapi kekalahanku Dengarkan aku ku merindukanmu. (D-masiv – Merindukanmu) *** “Memang apa saja pekerjaanmu, hingga ke mana Clara pergi kamu tidak tahu?” tanya Wildan yang mulai terasuki emosi dan ketidak sabaran menunggu Clara datang. Nia mengatupkan bibirnya. Sengaja ia berdusta karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya ke mana Clara pergi. “Clara bukan anak kecil yang harus melaporkan ke mana ia pergi. Apa lagi hari ini Clara tidak memilki jadwal, jadi aku betul-betul tidak tahu.” Wildan menggemertakan giginya. Ia menoleh ke samping, menatap Nia dengan tajam. Sikap arogannya perlahan mulai muncul. “Sudah aku bilang kamu harus tahu ke mana pun Clara pergi!” hardiknya sambil mengacungkan jari telunjuk. Nia terdiam. Ia memilih membisu dan tidak mengatakan apa pun. Nia sudah lama mengenal Wildan. Ia pun sudah hafal watak Wildan yang keras, posesif dan juga bersikap arogan. Terkadang pria tampan dan kaya raya, dengan karier cemerlang ini tidak segan melayangkan tangannya pada Nia bahkan Clara. “Lihat saja jika lima menit lagi Clara belum pulang,” ujar Wildan dengan suara yang berat, menahan emosi. Nia hanya bisa menghela nafas panjang lagi untuk kesekian kalinya. Kedua tangannya terlipat di depan dadaa. ‘Ayo, Clara cepatlah pulang ...,' doanya di dalam hati. Wildan melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini sudah lewat enam menit sejak ia mengeluh pada Nia, tentang Clara yang tidak kunjung kembali pulang. Tangan Wildan mulai mengepal dan kemudian dengan kasar ia menggebrak meja bulat yang ada di teras rumah Clara yang luas. “Brak!!” Suara gebrakan itu membuat Nia hampir berlonjak karena terkejut. Ia menoleh dan menatap Wildan. “Wil, sabar ... Sikapmu ini terkadang berlebihan. Clara bukan anak kecil yang bisa kamu atur dan batasi kegiatannya. Sebentar lagi juga dia pulang.” “Tapi ini sudah jam berapa?” sahut Wildan sambil menunjuk ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Dan sejak tadi Clara tidak bisa aku hubungi.” Wildan benar-benar terlihat kesal. Ia kemudian mengambil kembali ponsel yang ada di dalam saku celananya. Berniat akan menelpon Clara lagi. Tapi saat jari-jari Wildan hendak menekan tombol ‘call’ di layar ponselnya. Suara mobil Clara terdengar memasuki halaman rumah. “Lihatlah ... Clara sudah pulang,” kata Nia memberitahu. Wildan menghentikan niat untuk menelpon Clara. Tatapannya kini menuju mobil sedan yang berhenti tepat di depannya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN