Clara memeluk Diva sangat erat dan tidak ingin melepaskannya.
“Maaf, Diva akan merasa sesak, jika dipeluk terlalu erat seperti itu,” tegur Reno sambil menarik Diva pelan ke arahnya.
Clara memandangi tangan Reno yang menarik tubuh Diva menjauhinya.
“Terima kasih loh mbak Clara mau mampir ke mari,” kata Astrid masih dengan rasa bahagia bertemu dengan seorang selebritas. “Ayo, mbak silahkan duduk ....”
Clara menganggukkan kepalanya dan beranjak berdiri. “Ini aku bawakan banyak mainan untuk Diva. Semoga, kamu suka ya ...,” katanya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Diva. Mengusap kedua pipi gadis mungil itu dengan lembut.
“Mbak Clara, sini duduk,” kata Astrid sambil menepuk sofa yang ada di sampingnya. “Sungguh aku tidak menyangka jika Mbak Clara akan datang ke rumahku, seorang diri pula ....” Wajah Astrid tidak hentinya berbinar.
“Ya, aku sengaja datang ke mari tanpa kamera dan wartawan karena tidak ingin mengganggu privasi kalian,” kata Clara sambil berjalan menghampiri sofa dan duduk dengan sopan di sana. Kedua matanya berkeliling menatap hiasan-hiasan dinding di dalam ruang keluarga ini. Beberapa foto Diva ketika masih balita terpajang di sana. Clara tersenyum simpul melihatnya.
Lalu pandangan matanya terhenti ketika sebuah foto di dalam bingkai kayu berukuran besar memperlihatkan kebahagiaan sebuah keluarga yang harmonis. Reno, Diva dan Astrid yang sedang berkreasi di perkemahan terlihat menikmati kebersamaan mereka. Clara menatapnya sedikit lama. Tatapannya menerawang. Dan halusinasinya mulai muncul, wajah Astrid yang ada di dalam foto tiba-tiba berubah menjadi wajahnya.
Kini kalimat ‘Andai’ mulai merasuk di dalam hati Clara. ‘Andai dahulu ia tidak meninggalkan Reno dan mengatakan jika ia telah mengandung benih anaknya. Apakah kini mereka akan menjadi keluarga yang bahagia? Tapi pasti mimpinya untuk menjadi artis dan hidup sukses bergemilang harta tidak akan pernah terjadi.
“Mbak ....” Suara Astrid membuyarkan lamunan Clara. Ia menoleh, melihat Astrid yang memandanginya.
“Ada apa?” tanya Astrid sambil mengangkat kedua alisnya ke atas.
“Ah, maaf. Aku tiba-tiba melamun karena merasa suasana di sini nyaman dan damai,” jawab Clara sambil tersenyum.
“Pasti mbak merasa bosan dan lelah dengan semua kesibukan ....” Astrid terlihat pengertian.
Clara menghela nafas panjang. “Kilat bliz kamera dan wartawan yang selalu kepo, lama-lama membuatku lelah.”
“Bukankah menjadi artis adalah cita-citamu sejak dulu?” sahut Reno.
Clara langsung terdiam seketika. Mereka bertatapan sejenak. “Hm ... iya, betul sekali. Ini semua adalah cita-citaku,” jawabnya sambil tersenyum kecut.
“Jika memang semua ini adalah keinginanmu, harusnya kamu menerimanya. Karena apa pun itu, dulu kamu pernah berharap untuk menjadi kamu yang sekarang,” ujar Reno lagi.
Clara menelan ludahnya. Apa yang dikatakan Reno terasa sebuah sindiran pedas untuknya.
Astrid memandangi suaminya dan Clara yang saling bertatapan. Wajah Clara pun nampak tidak nyaman dengan komentar yang dikatakan Reno. “Sayang, bukannya kamu mau berangkat kerja?” Astrid buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Ah, iya. Sampai lupa aku sedang membuat janji dengan seseorang,” kata Reno sambil memalingkan mukanya dari Clara. Ia kemudian berjalan menghampiri Astrid dan mengecup kening dan pipi istrinya itu.
Clara hanya menatap kemesraan pasangan suami istri yang bahagia ini.
“Hati-hati. Pulangnya jangan malam-malam. Aku akan membuatkan makanan kesukaanmu,” kata Astrid sambil melepaskan tangan Reno perlahan.
Reno tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tidak sekilas pun ia melihat Clara yang duduk di samping Astrid.
Setelah meminta ijin pada Astrid, Reno memeluk Diva yang berdiri di dekatnya. Ia menggendongnya sebentar dan kemudian mencium sayang pipi cubby yang merah merona mengemaskan itu. “Ayah kerja dulu ya ....”
Clara menganggukkan kepalanya dan tersenyum sendiri melihat kasih sayang antara ayah dan putrinya.
Diva membalas kecupan yang diberikan Reno. Mencium bagian pipi Reno yang ditumbuhi jambang panjang dan membuatnya menyerigai geli.
Lagi-lagi Clara tersenyum sendiri untuk kesekian kali melihat kasih sayang antara ayah dan anak itu. Tanpa sadar sejak tadi Astrid mengamatinya.
“Apa pernikahanmu dan Wildan akan segera di laksanakan?” tanya Astrid yang membuat Clara terkejut. Ia menoleh menatap Astrid.
“Maaf. Di infotainment sering dibahas. Dan aku melihat kamu sangat senang dengan anak kecil,” lanjut Astrid sambil tersenyum simpul. “Kalau aku sih jika sudah seusiamu dan menyukai anak kecil, pasti ingin segera menikah.”
Clara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa risih. Ia sama sekali tidak menyangka Astrid akan bertanya padanya seperti itu. “Entahlah, aku belum memikirkan ke arah sana,” jawab Clara.
“Aku mengerti sih, jika biasanya selebritis selalu mengutamakan karier ketimbang pernikahan,” sahut Astrid sambil menghela nafas panjang. “Banyak yang menikah, lalu engga lama cerai. Padahal uang sudah banyak,” lanjut Astri lagi, seakan men-judge Clara.
Clara memaksakan senyuman terhias di wajahnya. “Ya, begitu lah ...,” sahutnya sekenanya dan kemudian memandang ke arah Diva yang sejak tadi menatapnya. “Sini sayang ....” Tangan Clara melambai pada Diva dan meminta gadis kecil itu mendekat.
“Kamu seperti bidadari kecil tak bersayap,” kata Clara pada Diva.
Diva, si gadis kecil hanya tersenyum tersipu sambil tetap memandangi Clara, idolanya. “Aku senang ada artis yang datang mengunjungiku.”
Clara tertawa renyah mendengarnya. “Jika kamu menyukai kehadiranku. Aku akan sering datang ke mari. Aku akan mengunjungimu dan kita akan pergi bersama. Apa kamu mau jalan-jalan ke taman hiburan bersamaku?” Sepasang mata Clara berbinar senang ketika bertanya.
Diva pun demikian. Raut wajahnya nampak sangat bahagia. Tapi beberapa menit kemudian terlihat wajah ragu di sana. Diva melihat ke arah Astrid. Seakan takut bundanya melarang.
“Apa benar, kamu ingin mengajak Diva jalan-jalan?” tanya Astrid pada Clara. “Ini bukanlah hanya sekedar basa-basi kan?”
Clara menggelengkan kepalanya. “Tentu saja bukan basa-basi. Aku serius mengajak Diva. Masa aku berbohong pada anak kecil.”
Kedua mata Astrid membulat tidak berkedip. Mendadak ia menjadi penasaran dengan sikap seorang selebritis yang tiba-tiba mengunjungi mereka, lalu bersikap ramah hanya dengan sebuah surat dari seorang fans kecil. “Apa ini sebuah realiti show?” tanyanya lirih dan langsung berdiri. Ia menoleh ke arah belakang, melihat jendela lebar yang tadi dipunggunginya. Dan kemudian mengamati pakaian yang dikenakan Clara.
“Ada apa?” tanya Clara pada Astrid.
“Apa ini sebuah reality show? Dan kamu mengenakan chip kamera?” Astri berbalik bertanya sambil menatap tajam ke arah bros bunga tulip yang terhias di blouse Clara. Ia mengira bros Bunga Tulip yang dikenakan Clara adalah kamera tersembunyi.
Clara tertawa pelan. “Tidak ada realty show. Benar, aku ke mari tanpa adanya kamera.”
“Dan kamu ke mari memang hanya untuk menemui Diva karena dia adalah fansmu?” tanya Astrid yang mulai ragu. Rasanya tidak mungkin hanya karena Diva memberikannya selembar surat dan hadiah kecil, membuat Clara sang selebritis terkenal dengan waktu yang salalu sibuk merelakan waktunya terbuang bersama Diva yang bukan siapa-siapa.
Clara terdiam. Jantungnya mulai berdebar melihat keraguan yang tersirat di mata Astrid. “Memang, tidak boleh jika seorang artis seperti aku ingin berhubungan baik dengan fansnya?” tanyanya lirih. Takut Astrid mengetahui niat hatinya yang sebenarnya.
Bersambung