Hari ini tekad Clara yang harus menemui Diva putrinya itu sudah bulat. Ia harus memantapkan hatinya menginjakkan kakinya di rumah Reno dan istrinya.
Clara duduk di dalam mobilnya di kursi pengemudi. Tangan kanannya memegang ponsel smart phone mahal tipe keluaran terbaru. Jari-jarinya mengusap layar di ponsel mencari nama Nia. Setelah menemukan nama Nia, manegernya. Ponsel yang ia pegang langsung di arahkan ke daun telinganya. Nada panggilan tunggu terdengar.
“Halo, ada apa Clara?” Nia langsung bertanya.
“Hari ini aku tidak ada jadwal syuting kan? Juga tidak ada jadwal menjadi bintang tamu di televisi?” tanya Clara.
Nia mengambil ponsel yang selalu ia bawa di dalam saku celananya dan melihat notes agenda Clara hari ini. “Tidak ada. Jadwalmu hari ini kosong,” jawab Nia sambil membaca notes catatannya.
Clara tersenyum senang. “Untung saja ...,” desisnya lirih.
“Memang kamu mau ke mana?” tanya Nia ingin tahu.
“Ada deh ... Mau tahu aja ...," jawab Clara menyeringai.
“Jangan katakan jika kamu akan menemui Diva lagi,” ujar Nia lirih.
“Ya, aku ingin menemuinya. Hari pertama aku menemuinya gagal karena hatiku belum kuat. Kedua kalinya ini, akan aku pastikan aku tidak akan gagal. Kamu tahu Nia ... Anakku sangat cantik seperti aku ...," kata Clara sambil mengingat wajah Diva yang hanya ia lihat sekilas tapi membekas di benaknya.
Nia tertawa. “Anakmu cantik bukan mirip seperti dirimu. Tapi mirip dengan ayahnya ...” Nia berkelakar tanpa tahu siapa ayah biologis anak Clara. Karena Nia tahu batasan. Ia tidak pernah bertanya melewati batasan. Nia selalu menjaga privasi Clara.
Mendengar apa yang Nia katakan, membuat Clara teringat wajah Reno yang sedang bersama Diva. Bagaimana bisa takdir mempermainkannya? Takdir yang membuat Reno tanpa sadar bersama anak kandungnya sendiri.
“Halo Clara ...,” panggil Nia ketika tidak mendengar suara Clara menyahut. “Ada apa?”
“Sorry Nia ... Aku pergi dulu ya ...” kata Clara dan kemudian menutup ponselnya. Setelah ponsel di tutup. Clara mengemudikan mobilnya menuju rumah Diva. Seperti hari kemarin, Clara memakirkan mobilnya di bahu jalanan.
Setalah mematikan mesin mobilnya. Clara menghela nafas panjang. Memantapkan niatnya untuk bertemu dengan Diva. Ia keluar dari mobil sambil membawa hadiah berupa beberapa mainan seperti boneka dan rumah-rumahan barbie juga alat mainan koki yang telah dibungkus kertas kado.
Dengan kesulitan membawa banyaknya hadiah di tangannya, Clara tersenyum riang sambil berjalan masuk ke halaman rumah Diva. Wajah Clara tertutup banyaknya hadiah yang tertumpuk di tangannya, sehingga membuat pandangannya tidak terlalu jelas.
Dan ... “Brak!” Clara menabrak seseorang dan membuat hadiah yang ia bawa berhamburan jatuh ke bawah.
“Aduh ...!” seru Clara yang terjatuh duduk ke belakang.
“Maaf ... maaf ...,” kata seorang pria yang menabraknya. Pria itu memasukan kembali ponsel yang ia pegang ke dalam sakunya. Karena sedang membalas pesan chat konsumennya membuat Reno tidak fokus melihat apa yang ada di depannya.
Melihat hadiah yang ia bawa untuk Diva jatuh berserakan di halaman rumah dengan tanah berplester semen biasa, Clara langsung memungutnya dengan cepat tanpa melihat siapa yang sudah menabraknya.
Reno ikut membantu Clara memunguti hadiah-hadiah yang ia bawa. Dengan dahi berkerut, Reno memberikan kotak hadiah berbungkus kertas kado yang ia pungut pada Clara. “Maaf ya ... Mbak ini siapa?” tanyanya heran.
Clara terdiam. Ia masih mengenal suara itu dengan jelas. Suara yang tidak akan pernah ia lupa. Suara yang selalu mengingatkannya pada sentuhan penuh cinta dan hangatnya dekapan dengan aroma khas yang menenangkan.
Reno menunggu wanita yang sedang berjongkok memunguti hadiah-hadiah yang berserakan itu untuk menjawab dan menatap ke arahnya.
Clara menghentikan gerakan tangannya yang memungut kotak hadiah yang ada di atas tanah berplester semen. Perlahan ia mengandahkan wajahnya yang tertunduk menatap ke bawah.
Perlahan kedua mata Clara menatap ke arah Reno yang juga menatapnya. Reno yang juga berjongkok di hadapannya, langsung terkejut melihat Clara.
Selama ini Reno cukup ikut bahagia melihat Clara hidup senang bergelimang harta, kemewahan dan kepopuleran dari televisi. Hanya doa dan cintanya yang tulus untuk Clara yang di dengar oleh Tuhan. Tapi Tuhan terlalu berbaik hati sehingga mengirim cinta dari masa lalunya itu ke mari.
“Rara? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Reno sambil melihat ke arah luar halaman rumahnya. Reno mengira sedang di adakan syuting di sekitaran rumahnya.
“Aku sengaja ke mari ...," jawab Clara lirih. Ia menghela nafas panjang berkali-kali ketika melihat Reno yang berdiri di hadapannya. Kini mereka berdiri sejajar dan saling berhadapan.
Clara menatap wajah Reno yang selalu tampan sama seperti lima tahun yang lalu. Hidungnya yang mancung dengan alis berjajar lebat dan bulu mata berwarna hitam pekat. Mata yang tegas dengan bola mata hitam pekat seperti sebuah palung lautan.
“Kamu sengaja ke mari?” tanya Reno tidak mengerti. “Setelah lima tahun berlalu. Kamu bilang sengaja ke mari? Kamu mencari aku?”
Clara menggelengkan kepalanya. “Bukan. Aku mencari anakmu, Diva ....”
Kedua alis Reno beradu. Ia masih tidak mengerti kenapa Clara mencari Diva. Belum juga Reno bertanya kembali pada Clara, suara Astrid terdengar nyaring memanggil.
“Reno ... Kamu tidak segera berangkat?” tanyanya yang sudah berdiri di teras depan.
Reno dan Clara menoleh ke arah Astrid.
Astrid menatap Clara dan begitu pula sebaliknya. “Mbak Clara?” tanya Astrid tidak percaya.
Clara menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah Astrid. Lalu ia membungkuk untuk mengambil hadiah yang akan diberikan untuk Diva.
“Sini Mbak masuk ...," kata Astrid sambil menghampiri Clara dan menariknya ke dalam rumah.
Reno menatap Astrid dan Clara. Niat Reno yang ingin keluar untuk menemui konsumen diurungkannya. Ia kembali mengirimi pesan kepada karyawan kepercayaannya untuk mewakili pertemuan dengan konsumen yang akan membeli ikan hias dalam jumlah yang banyak.
Reno mengekor di belakang Clara yang berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi hingga Clara mendatangi rumahnya dan mencari Diva.
“Diva ... Diva ...” panggil Astrid girang. “Lihat ini siapa yang datang ke rumah kita ....” Astrid menatap Clara dan tidak bisa mengerjapkan kedua matanya. Tertegun dan tidak percaya jika seorang artis cantik dan terkenal datang mengunjunginya.
Diva berjalan dari ruang keluarga sambil menatap ke arah Clara. Kedua matanya yang bersinar menatap Clara membuat hati Clara teriris dengan perasaan bersalah juga kebahagian penuh kerinduan.
“Lihat ini, siapa yang datang? Maaf ya mbak ... Kemarin aku dan Diva ke tempat Mbak syuting. Abis Diva nge-fans banget sama mbak ...” ujar Astrid memberitahu. “Aku engga nyangka jika mbak akan datang mengunjungi kami.”
Reno menoleh menatap Astrid. Ia baru tahu jika kemarin Astrid dan Diva mengunjungi lokasi syuting untuk bertemu Clara.
Suara Astrid yang berbicara pada Clara terdengar berdengung. Fokusnya hanya melihat Diva yang berjalan perlahan ke arahnya.
Lutut Clara terasa lemas. Ia bersimpuh di bawah. Lututnya ia tempelkan di lantai. Hadiah-hadiah yang ia bawa ia taruh di sampingnya. Kedua tangan Clara terbuka menanti Diva berlari ke dalam pelukannya.
Diva tersenyum menatap Clara. “Aku tahu Kak Clara pasti akan datang ...” ucapnya sambil berlari ke dalam pelukan Clara.
Saat tubuh mungil Diva berada di dalam pelukan Clara. Rasanya nafas Clara terhenti. Ia memilih menghirup aroma tubuh Diva dan menyimpannya di dalam hatinya. Aroma yang sama ketika terkahir kali Clara mencium Diva saat ia bayi.
Bayi yang ia tinggalkan di depan pintu asuhan.
‘Anakku ... Aku sangat merindukanmu....’ kata Clara di dalam hatinya. ‘Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku akan membawamu pergi ... Karena kamu adalah anak yang aku lahirkan. Tidak ada yang bisa memisahkan kita sekarang ....’