10. Tak Ada Kesempatan

1460 Kata
“Ris, kamu mau ke mana? Ayo, kita pulang.” Mas Rauf menggenggam pergelangan tanganku dan sedikit menariknya. Aku tersentak sekaligus naik pitam. Apa maksudnya? Mengajakku pulang? Hei, siapa dirimu memangnya? “Lepaskan!” Aku menepis tangannya kuat sembari setengah berteriak. “Jangan buat malu di sini. Aku sudah muak denganmu!” Aku menuding ke wajahnya yang berminyak dan kemerahan akibat tersengat sinar matahari tersebut. “Ris, aku mohon. Pulanglah. Aku minta maaf padamu.” Mas Rauf berlutut di tanah. Membuat orang-orang di sekitar parkiran langsung memberikan perhatiannya kepada kami. “Tidak ada kesempatan lagi untukmu. Maaf, kita harus berakhir. Silakan nikahi perempuan rendah itu. Semoga kalian berbahagia.” Aku berbalik badan, menoleh pada dr. Vadi yang terheran-heran dengan pemandangan mengenaskan di depan matanya. “Dok, ayo.” Aku membuka mobil dr. Vadi. Lelaki itu langsung mengangguk tanpa berbicara banyak padaku. Dr. Vadi mulai menghidupkan mesin dan memundurkan mobilnya perlahan, takut-takut menabrak lelaki sialan yang kulihat lewat spion samping masih terduduk lemas bagai gelandangan. “Oke, Ris?” Dr. Vadi menoleh sekilas padaku kemudian berkonsentrasi dengan stirnya. “Oke, Dok. Biarkan saja. Aku sudah mantap untuk meninggalkan lelaki b******n itu.” Napasku seketika sesak. Ada gemuruh dalam d**a yang lama kelamaan berubah menjadi badai besar. Teringat akan indahnya masa sekolah. Saat masa orientasi siswa dulu, aku pertama kali mengenal Mas Rauf sebagai teman satu kelas. Lelaki itu tampak bersikap lebih dewasa ketimbang teman-teman kami yang lain. Ternyata, menjadi yatim sejak kecil telah menjadikannya lebih matang dari pada usia sebenarnya. Waktu itu aku duduk persis di depan bangkunya. Lelaki itu selalu bersikap manis dengan memberikan bantuannya yang bermacam ragam. Mulai dari mengantar jemputku sekolah, membelikan air minum saat aku sibuk belajar di kelas pada jam istirahat (ini kulakukan semata-mata karena tak punya uang jajan, sebab Bapak sudah mulai kurang fit dan jarang berdagang bakso di pasar). Mas Rauf juga rela meminjamkan buku paketnya untukku belajar, karena saat itu aku tak membelinya. Aku tak ingin membebani Bapak, terlebih Ibu juga hanya mengurus rumah tangga. Berbeda dengan Mas Rauf yang saat itu Mama masih aktif berjualan di kantin dan memiliki penghasilan yang lumayan. Lepas SMA, Mas Rauf memutuskan untuk kursus otomotif selama tiga bulan dan membuka bengkel kecil-kecilan dari uang hasil usaha Mama. Aku yang semula masih bisa berkuliah sebab Bapak meminjam uang ke sana ke mari, mulai semakin terpuruk pada awal semester dua. Bapak yang sudah memiliki riwayat hipertensi, terserang stroke, dan tak bisa melakukan apa pun selain berbaring di tempat tidur. Aku langsung memutar otak untuk berjualan demi membiayai kebutuhan sehari-hari, membayar kuliah, dan cicilan pinjaman bank yang pernah Bapak lakukan sekitar empat tahun lalu. Petaka pun dimulai dengan Ibu yang malah sering keluar rumah dengan alasan mencari pekerjaan dan pada akhirnya tak pulang-pulang. Dihubungi tak bisa, sebab nomor ponselnya tak pernah aktif. Bapak semakin hancur. Kesehatannya makin menurun. Dokter pun bilang tak ada harapan untuk sembuh total. Maka, di situlah Mas Rauf yang telah menjadi pacarku kembali memberikan jasanya. Lewat hasil keringatnya yang lumayan, dia membantuku untuk membayar uang kuliah dan biaya pengobatan Bapak. Sedang aku yang waktu itu cuma bisa berdangang pakaian online secara dropship, tak memiliki penghasilan yang begitu banyak. Hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Aku yang merasa kadung cinta dengan Mas Rauf, pada suatu malam Minggu, rela memberikan keperawananku kepadanya untuk petama kali. Kami melakukan perbuatan tercela itu di sebuah hotel yang berada di seputaran jantung kota. Mas Rauf awalnya hanya ingin mengajakku untuk makan malam di resto hotel yang letaknya berada di atas rooftop. Namun, setan telah menggoda kami. Lelaki itu malah mengajak untuk check in dan aku sama sekali tak menolak ajakannya. Hubungan pertama kami lakukan dengan pengaman. Ternyata Mas Rauf sudah membawa benda tersebut dari rumah. Dan bodohnya aku berpikir bahwa itu adalah hal biasa yang tak perlu untuk dipusingkan. Baru sekarang aku berpikir bahwa ternyata Mas Rauf sudah merencanakan hal itu jauh-jauh hari. Sungguh sebuah penyesalan terbesar dalam hidup. Masuk semester empat, Ibu yang telah menghilang selama setahun tanpa kabar, tiba-tiba menelepon kami. Mengatakan bahwa dia telah berada di Samarinda dan akan menikah dengan seorang pengusaha tambak tempatnya bekerja selama ini. Kami berdua semakin hancur. Terlebih Bapak. Berhari-hari dia menolak unuk makan. Minum pun susah payak kupaksa. Namun, Bapak masih bisa bertahan hidup dan pada akhirnya mulai menerima segala takdir buruk dalam hidup yang tak kunjung selesai menimpa. Mas Rauf yang baru saja merintis usaha juga kerap mendapat terjang cobaan. Mengalami kebangkrutan, sepi pengunjung, dikhianati anak buah, dan lainnya. Pada akhirnya, Mas Rauf hanya sanggup membayar uang semesteranku saja, tidak dengan cicilan utang bank kami. Bapak yang masih bisa berbicara tetapi pelo tersebut, berkata bahwa sebaiknya tak lagi membayar cicilan utang bank tersebut. Biarlah sekalian disita saja, karena rumah dengan dua kamar tidur ini terlalu banyak menyimpan kenangan sedih. Mendekati kelulusan, benar saja. Bank menyita rumah kami karena kredit macet. Bapak ikhlas dan sangat bahagia kala kami harus pindah ke sebuah kontrakan kecil dengan satu kamar. Tiga hari kemudian, beliau pun berpulang dalam keadaan tidur. Wajahnya terlihat damai dan tersenyum. Ternyata Bapak ingin pergi di luar rumah yang penuh dengan kenangan menyakitkan tersebut. Sejak detik itu, seumur hidup aku berjanji untuk tak bakal mencari Ibu lagi meskipun dia datang sambil berlutut mencium kakiku. Dendam ini sangat besar. Maka, sejak saat itu, terputuslah komunikasi di antara kami. Di pernikahanku pun dia tak datang. Hanya melakukan video call untuk memamerkan betapa indah hidupnya sekarang bersama sang suami baru. Hanya Tuhan yang tahu betapa masih aku menyimpan sakit hati padanya. Mengingat segenap kejadian hidupku yang getir, tangis ini spontan pecah. Mengalir tanpa dapat kuhentikan. Aku sampai sesegukan. Tak sadar bila aku sedang menangis di samping bosku sendiri. “B-bapak ...,” panggilku lirih sambil menutupi wajah ini. Sementara tangisku semakin kencang dan sama sekali tak dapat berhenti. Puk puk. Dua kali tepukan di pundak membuatku buru-buru membungkam mulut ini dengan dua telapak agar suara tangisku tak semakin keras. “Menangislah, Ris. Keluarkan bebanmu.” Suara dr. Vadi membuat hatiku malah semakin sedih. Andai boleh aku berteriak, ingin kulakukan sekuat mungkin agar bumi dan seisinya tahu bahwa aku sedang menelan kekecewaan yang sangat besar. Siapa yang akan menduga, bahwa suami yang merupakan sahabatmu sejak SMA, pacar satu-satunya yang pernah kau miliki, cinta pertama sekaligus first kiss-mu, ternyata tega berkhianat di belakang. Oke, kita lupakan saja tentang masalah keuangan. Bagiku bukan sebuah masalah untuk membantunya secara total dalam menopang kehidupan perekonomian keluarga. Namun, tentang pengkhianatan yang dia lakukan? Bayangkan, bahkan perempuan tersebut sudah telat selama seminggu! Ya, aku berdoa semoga dia hamil agar Mas Rauf bertanggung jawab atas perbuatannya. Hitung-hitung sebagai pelipur hatinya yang memang menginingkan anak sejak awal pernikahan kami. “A-aku ... nggak sanggup, Dok ....” Aku berkata sembari sesegukan. Air mata ini pun terus menetes tanpa hentinya. Tangan dr. Vadi lagi-lagi menepuk pundakku. Lelaki itu diam tanpa bahasa, sedang pandangannya terus fokus ke depan. “R-rasanya ... a-aku m-mau ma-ti s-sa-ja.” Semakin sesak d**a ini. Yang ada di kepalaku hanya ada Bapak. Ingin kususul beliau ke alam barzah sana. Memeluk dan bercengkerama dengannya seperti dulu kala. “Jangan. Nanti siapa yang nemani aku di poli? Aku nggak suka anak dalam. Mereka jutek.” Tangisku seketika reda. Kuhapus segala air mata dan mengambil tisu yang di simpan di tengah-tengah kursi. Kuseka ingus yang rasanya sedari tadi telah meleleh hingga atas bibir. “Ris, jorok!” Dr. Vadi protes. Mendengar itu, aku malah mengembuskan ingus berkali-kali dan malah menyodorkan tisu bekas tersebut padanya. “Nih, buat Dokter.” Aku cemberut padanya. Bisa nggak sih, kalau mendengar orang nangis itu dihibur. Bukan malah dibilang jorok! Huh, dasar. “Ngawur!” katanya sembari menoleh ke arahku. Saat itu, mata kami saling bertatapan. Baru kali ini aku benar-benar melihat ke iris cokelatnya. Seketika aku merasa grogi dan entah kenapa rasanya tak enak jika bertatapan lama seperti ini. Buru-buru kubuang muka. Malu, ah! Dr. Vadi untuk pertama kalinya melihatku menangis seperti orang bodoh begini. “Oke, kita sampai.” Dr. Vadi kemudian menghentikan mobilnya di depan sebuah resto besar yang menjual aneka menu lezat. Aku sangat tahu bahwa resto ini memiliki tarif yang besar untuk satu buah menu saja. Restonya orang kaya, pikirku. “Kamu makan yang banyak. Jangan sungkan. Aku yang bayar.” Dr. Vadi mematikan mesin mobil dan melepas seatbelt-nya. Lelaki berkemeja kotak-kota warna biru laut itu tampak memperhatikanku yang masih bingung harus bagaimana. “Dok, kita makan berduaan, apa tidak apa-apa?” Aku takut-takut menatap ke arah matanya. “Kenapa memangnya?” “Aku bawahan Dokter. Nanti kalau dilihat orang rumah sakit ....” “Ya, nanti kalau ketemu kita ajak makan sekalian. Siapa tahu dia yang bayarin.” Dr. Vadi cuek. Lelaki itu kemudian keluar dari mobilnya dan menutup kembali pintu. “Huh, dasar!” kesalku pada diri sendiri. Dok, Dok. Bisa nggak sih, sekali-kali kalau aku berbicara itu ditanggapi dengan serius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN