Sesampainya di parkiran khusus karyawan yang berada di belakang rumah sakit, tak jauh dengan kamar jenazah (makanya terkadang aku lebih suka parkir di depan, karena sering ngeri-ngeri sedap lewat sini), aku segera memarkirkan motor dan tak lupa untuk mengunci stangnya. Jarang sebenarnya aku parkir di sini. Namun, apa boleh buat. Yang kutakutkan apabila Mas Rauf nekat mencari ke RS dan menemukan motorku di parkiran depan sana. Dia memang tahu kebiasaanku yang selalu parkir di depan karena aku kerap bercerita bahwa spot angker di RS Citra Medika ini selain di kamar jenazah dan tempat laundry, juga di parkiran belakang. Lagi pula yang bisa mengakses tempat ini hanya karyawan yang memiliki ID card saja. Dari depan sana satpam bakal menghalau pengunjung untuk masuk.
Karena takut hilang, kubawa saja tas travel yang lumayan berat ke ruang rawat jalan poli umum tempat dr. Vadi kemungkinan sedang menjalankan tugasnya. Jam segini pasien sedang ramai-ramainya. Entah dia diasisteni oleh siapa. Kemungkinan meminjam tenaga perawat jaga bangsal penyakit dalam yang memang ramai petugasnya. Ya, kalau memang betul, habis sudah aku setelah ini. Namaku bakal ‘harum’ seharian digunjingi di ruang penyakit dalam tersebut. Si Risa, yang belum setahun bekerja dan langsung dapat posisi sebagai asisten di poli umum, makin hari makin ngelunjak. Masa datang ke RS jam 11.00 siang. Ah, masa bodoh. Aku tak bakal memikirkannya. Toh, aku kepepet. Kalau bukan kejadian penting seperti ini, buat apa aku menterlambatkan diri sendiri.
Aku melewati selasar rawat jalan yang di kiri dan kanannya sudah penuh dengan pasien yang mengantre. Beberapa dari mereka menatap aneh ke arahku. Ini orang kok bawa tas segede gaban segala. Namun, tanpa menghiraukan lebih, aku terus berjalan dan masuk ke ruang poli umum dengan mengetuk pintunya terlebih dahulu sebanyak tiga kali.
Seorang perawat perempuan yang wajahnya sangat cantik dan kalau tak salah bernama Vianti (ya, benar! Dari bangsal penyakit dalam sana, apa kubilang), menatapku dengan alis yang bertaut. Kutatap dia balik dengan tatapan menyerang, perempuan ber-cap putih itu cepat-cepat kembali menganamnesa seorang pasien lansia. Sementara itu, tirai tempat periksa sedang tertutup dengan tampak kaki dr. Vadi dari celah di bawah sana. Ada pasien lain, begitu pikirku.
Tanpa banyak bicara, aku segera melangkah ke arah bilik yang berada di samping tempat periksa pasien yang tirainya tertutup tersebut. Bilik tersebut kami gunakan untuk menyimpan barang bawaan. Cepat-cepat kuletakkan tas travel dan tas selempangku ke lantai, dekat tas ransel dr. Vadi berada. Kulepas sweater pinjaman dari Mak Ambar dan mulai kukenakan cap perawat untuk ‘memahkotai’ kepala ini. Mumpung dr. Vadi masih melakukan pemeriksaan fisik, bergegas aku ke depan untuk menggantikan si Vianti.
“Maaf aku terlambat,” kataku sembari mengambil masker bedah dari dalam laci meja yang dipakai oleh si Vianti. Sedang pasien bapak-bapak tua di depannya tadi sedang menunggu giliran sembari menatap ke arahku dengan penuh heran. Kok siang sekali datangnya, begitu mungkin yang ada di dalam pikiran beliau.
“Nggak apa-apa!” Vianti menjawab ketus tanpa mau menatap ke arahku. “Pasienku ramai, lho. Kepala ruangan (karu) pasti marah lagi habis ini karena tenaga anak buahnyadipakai buat poli. Kemarin poli dalam, sekarang poli umum. Kalian perawat poli sebenarnya ada masalah apa, sih?” Vianti terdengar benar-benar marah. Dia baru berani menatapku dengan sorot mata tak suka, sementara setengah wajahnya tertutup oleh masker bedah.
Aku menarik napas dalam. Menarik kursi untuk duduk di sebelah Vianti. Bagaimana pun aku yang bersalah. Aku tidak profesional dan lalai terhadap jam kerja. Meski benakku mengatakan bahwa masalahku begitu serius hingga terpaksa membuat terlambat, tetapi bagi orang lain itu adalah masalah pribadi yang seharusnya tak dibawa-bawa ke dalam pekerjaan. Oke-oke, aku akan minta maaf.
“Maaf, Vianti. Di jalan tadi aku kena musibah.” Kuulurkan tangan padanya sambil berucap dengan nada rendah. Kutatap dia dengan sungguh-sungguh, tanpa rasa kesal sedikt pun.
“Oh, kamu tadi kenapa? Jatuh? Kecelakaan?” Vianti lalu berubah sikap. Dia menjabat tanganku dan kini malah berucap dengan nada prihatin.
“Iya.” Aku tak banyak menjawab lagi. Malas berpanjang lebar.
“Tapi nggak apa-apa, kan? Luka nggak?” Mata Vianti sibuk mencari di mana tempat luka akibat kecelakaan tersebut berada.
“Nggak apa-apa, Vi. Soalnya aku yang nyerempet orang sampai dia jatuh. Makanya aku harus tanggung jawab. Udah selesai kok masalahnya.” Lagi-lagi aku harus berbohong. Ketimbang harus kuceritakan aib rumah tangga yang menjijikan? Menurutku, berdusta sedikit tak apalah.
“Ya ampun! Hati-hati, Ris.” Vianti menepuk-nepuk pundakku. Aku hanya mengangguk sembari memasang ekspresi mata yang sedih.
“Oke, saya resepkan obatnya. Nanti diminum selama lima hari tanpa terputus ya, Bu.” Suara dr. Vadi bersamaan dengan gerakan tirai yang terbuka oleh tangannya menyeruak. Aku dan Vianti langsung membenarkan posisi duduk.
Melihat keberadaanku, dr. Vadi yang hendak membuka sarung tangan latex-nya tersebut, seketika menatap tak percaya. Dia sampai terbengong, tapi tak bersuara. Sementara itu, si ibu yang diperiksa kini kembali duduk di depan meja milik dr. Vadi.
“Maaf, Dok,” kataku sembari menganggukkan kepala.
Lelaki itu tak menjawab. Dia kembali membuka handscoon-nya dan membuang ke dalam tempat sampah medis. Lelaki itu kemudian mencuci tangan di wastafel dekat bilik penyimpanan barang dan kembali lagi ke mejanya sembari menulis resep.
“Vi, kamu boleh kembali ke ruang dalam.” Suara lelaki itu dingin.
“Baik, Dokter. Saya pamit, ya.” Vianti kemudian bergegas ke belakang untuk mencuci tangan dan keluar ruangan. Sementara dr. Vadi selesai dengan resepnya dan memberikan pada ibu tersebut.
“Tebus di apotek rawat jalan ya, Bu.” Suara dr. Vadi berbalik ramah. Aku jadi semakin tak enak perasaan jika sikapnya mulai seperti ini.
“Baik, Dok. Terima kasih ya, Dokter ganteng.” Si ibu-ibu berjilbab warna pink dengan dandanan lumayan necis itu berkata. Aku yakin, dr. Vadi yang tengah bad mood tersebut malah muak mendengar pujiannya.
“Ris, kamu ke sini bukan untuk bengong, kan?” Tiba-tiba dr. Vadi menegurku. Aku yang sempat melamun sesaat, langsung gelagapan.
“Eh, iya, Dok. Maaf. Panggil pasien selanjutnya, ya?” Aku langsung menarik sebuah rekam medis (RM) dengan sampul berwarna kuning kentang yang berada paling atas pada tumpukan puluhan RM di bawah samping kanan tempatku duduk. Saking banyaknya pasien hari ini, RM ditaruh si Vianti di lantai karena tak muat di meja.
“Mari, Pak duduk di sini.” Dr. Vadi memerintahkan si pak tua untuk duduk di depan mejanya, sementara aku berkutat lagi dengan kegiatan sehari-hariku. Memanggil pasien selanjutnya, melakukan pengecekan tekanan darah, dan melakukan anamnesa singkat mengenai keluhan yang dirasakan.
Betul kata Vianti, pasien hari ini sangat membludak. Total ada lima puluh pasien yang berobat dan jam pelayanan kami baru usai sekitar pukul 14.25 menit. Tanpa istirahat makan siang, tentu saja. Dr. Vadi sampai terlihat lelah dan muak dengan pekerjaannya hari ini. Tentu saja selain karena pasien banyak, juga karena keterlamabatanku.
“Ris, duduk dulu kamu di sini.” Usai mencuci tangan dan melepas jas putihnya, dr. Vadi memerintahkanku untuk duduk di hadapannya. Padahal perutku sudah sangat keroncongan dan ingin cepat kabur dari sini sekadar untuk mengisi kampung tengah. Namun, apa boleh buat. Ini adalah perintah dan aku jelas-jelas sudah berbuat salah kepadanya.
Aku berjalan dari mejaku ke meja beliau dan duduk di hadapannya. Lelaki itu lalu menatapku dengan wajah yang sangat serius.
“Dok, aku minta maaf. Tadi pagi ... aku mengejar suamiku berselingkuh, Dok.” Aku berbicara padanya dengan nada getir. Wajahku seketika panas. Rasa malu, sedih, benci jadi satu. Mengaduk-aduk d**a dan hampir-hampir membuat air mata ini jatuh.
Dr. Vadi tampak terkesiap. Lelaki itu menautkan alisnya dan menatapku tak percaya. “Jadi, bukan kecelakaan?”
Aku menggeleng. “Ini lebih dari kecelakaan, Dok.” Hatiku mulai merana.
“Tas besar di belakang itu? Punya siapa?” Suara dr. Vadi terdengar semakin penasaran. Raut wajahnya menyisipkan rasa simpati yang aku tahu pasti tak bakal terlalu ditampakkannya.
“Aku kabur dari rumah, Dok. Mungkin ingin cari kost di sekitar sini. Atau kontrakan. Ya, lihat nanti.”
Dr. Vadi terdengar menarik napas dalam. Lelaki dengan alis tebal dan hidung mancung, serta wajah yang ke-Arab-araban tersebut tampak merenung sesaat. Entah apa yang dia pikirkan. Merasa kasihan mungkin dengan nasib anak buahnya yang sangat mengenaskan ini.
“Ngekost di samping rumah sakit. Banyak anak koas sama residen di sana.” Ternyata dia memikirkan di mana tempat tinggal yang cocok buatku.
“Iya, Dok. Nanti aku tanya-tanya dulu.” Aku mengangguk sembari mengulas senyum kecil padanya.
“Makan, yuk. Aku traktir. Lapar banget. Tenagaku habis hari ini.” Dr. Vadi kemudian berdiri dari duduknya. Mengambil ransel hitam yang dia simpan di atas meja dan memakainya di pundak.
“Dok, barangku?”
“Biar aja. Nanti ke sini lagi. Kita naik mobilku.” Dr. Vadi cuek dan terus melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
Namun, aku meragu. Entah mengapa, tapi rasanya tak enak jika makan berduaan dengannya di luar. Kan biasanya kami makan di ruangan dengan pesan via online. “Dok—” Cepat-cepat dia memutus bicaraku.
“Ris, jangan dak dok dak dok terus. Pusing! Aku lapar. Ayo, cepat.” Lelaki itu kemudian membuka pintu. Cepat-cepat aku bergegas untuk ke belakang mengambil tas selempang dan melepaskan cap di kepala. Asal-asalan saja kuikat ekor kuda rambut sebahuku.
Setengah berlari, aku menyusul dr. Vadi yang berjalan cepat. Lelaki tinggi dengan tubuh ideal tersebut lagkahnya panjang sekali, sehingga aku jadinya ngos-ngosan karena berkejaran.
“Dok, pelan-pelan, dong!” kataku sembari menepuk lengannya yang keras tersebut. Lengan atletis yang dia dapatkan dari body building selama dua bulan belakangan ini ternyata sudah lumayan terbentuk. Iya, dia pernah curhat. Katanya pengen kekar dan sixpack kaya abang-abang gym. Katanya biar cepat laku. Pengen nikah belum ketemu jodoh, gitu sih dia bilang. Alah, palingan dasar si dr. Vadi aja yang pemilih. Cewek mana mau nolak sih kalau ditembak apalagi diajak berumah tangga dengannya.
“Dasar lambat. Kamu bisa ditinggal kereta kalau jalannya kaya siput begitu.” Dr. Vadi mencebik padaku. Aku yang hanya sepundaknya tersebut, menoyor lelaki itu dengan setengah kesal. Biar saja. Jam kerja sudah usai. Hubungan antara bawahan dengan atasan juga telah berakhir. Kalau di luar jam kerja, aku tak segan buat menaboknya kalau sering-sering meledek seperti ini.
Kami berjalan ke arah parkiran depan untuk masuk ke sedan putih milik dr. Vadi yang baru dibelinya setengah tahun yang lalu. Enak ya jadi anak orang kaya. Sekolah kedokteran, setelah lulus jadi dokter di kota dengan gaji lumayan, eh masalah kendaraan gampang saja gonta ganti dengan yang baru.
Saat hendak masuk ke mobil, sebuah suara teriakan terdengar memanggil namaku. Suara yang sangat kukenali. Derap langkah yang kedengarannya setengah berlari itu pun kian mendekat ke sini.
Aku dan dr. Vadi sontak menoleh. Seketika aku lemas mendapati sosok yang mendekat. Lelaki dengan jaket denim yang sudah lusuh itu, kian dekat denganku. Mungkin jarak kami hanya sepuluh jengkal.
Tidak, tidak untuk sekarang. Aku muak kalau harus kembali berurusan dengan makhluk sialan ini. Astaga, tak bisakah aku hidup tenang dulu, setidaknya dapat mengisi perut yang sangat kelaparan? Oh, sh*t!