8. Sikap Manis Dirinya

1273 Kata
Aku tiba di depan warung Mak Ambar dengan wajah yang sembab akibat tangis di sepanjang jalan tadi. Segera kuseka air mata ini sebelum masuk menemui beliau. Sial, di dalam sana ada beberapa orang lain yang sedang belanja. Namun, aku harus segera bergerak. Sebelum Mas Rauf ikut menyusul dan menghentikan rencana. Setelah meyakini bahwa wajahku kini baik-baik saja, langsung kubergegas masuk, melewati dua ibu-ibu yang sedang berdiri di depan meja Mak Ambar. Keduanya kukenali sebagai Bu Minarti dan Mbak Kinanti. Mereka adalah tetangga sekitar sini yang terkenal lambe turah serta hobi ngurusi kehidupan orang lain. “Eh, ada Risa. Nggak dinas, Ris?” Mbak Kinanti yang usianya beberapa tahun di atasku menyapa. Wanita cantik dengan daster rumahan selutut itu mulai menatap diriku dari ujung kaki hingga pucuk kepala. “Nggak,” jawabku ketus sembari membuang wajah padanya. Kutatap Mak Ambar yang terlihat risih dengan kedua perempuan yang sudah pasti dari tadi mengajaknya bergosip. “Mak makasih motornya. Ini Risa kembalikan. Maaf Mak sebelumnya, helm Mak nggak sengaja jatuh dan pecah. Risa kembalikan uang saja ya, Mak?” Aku buru-buru mengeluarkan uang di dalam dompet. Dua lembar uang merah kuletakkan di atas meja dan asal tahu saja itu adalah uang terakhir yang kumiliki. “Sekalian ganti bensin, Mak. Soalnya tadi nggak sempat ngisi. Kalau kurang, besok Risa tambahin.” Kutebalkan wajah ini. Tak peduli apa yang bakal dipikirkan oleh Bu Minarti dan Mbak Kinanti. Masa bodoh. Mereka mau menyampaikan ke seluruh penjuru RT/RW pun silakan saja. “Aduh, Ris. Jangan diganti segala. Simpan uangnya. Itu helm butut dapat hadiah juga. Di dalam masih banyak helm lain. Ini ambil. Simpan.” Mak Ambar meraih uang tersebut dan memaksanya untuk memasukkan ke dalam tas selempangku. “Eh, ini ada apa, toh? Kok kamu pinjam motor segala, Ris? Itu motormu kan yang ada di depan?” Bu Minarti yang super kepo itu akhirnya bertanya juga. Perempuan paruh baya dengan tubuh kurus dan wajah yang mengkilap akibat krim pemutih itu ikut bicara. Dasar nenek-nenek comel! Segala urusan orang mau tahu segala. “Diam saja, Bu Min. Saya nggak ada urusan sama situ.” Aku mendecak sebal. Jangan sampai emosiku kembali meledak di sini. “Sudah, Jeng Min. Risa sedang ada urusan. Jangan dicampuri.” Mak Ambar ikut membela. Membuat kedua perempuan itu mendecih kesal. “Alah! Belagu, banget. Sama kaya mertuanya, si Popon Ponarti!” Bu Minarti semakin menyebalkan. Dia tampak menyikut tangan sang CS. “Yuk, ah, pulang. Nggak asik di sini juga. Nggak ada info terbaru!” Bu Minarti menarik tangan Mbak Kinanti. Berlalu dari hadapanku sembari mencibirkan bibirnya yang dipoles lipstik warna bata tersebut. Dasar pengangguran kurang kerjaan! Mending nyuci pakaian sana! Atau ngosek WC, kek! Lebih mulia ketimbang mengurusi orang lain. “Jangan masukin ke hati, Ris. Biasalah.” Mak Ambar menepuk pundakku. “Mak, minta maaf, ya. Risa hari ini banyak merepotkan. Jaketnya nanti Risa cucikan dulu.” Aku menyalami Mak Ambar dengan santun. Kemudian memeluk tubuh gempalnya dengan rasa kasih. Ya Tuhan, serasa aku sedang dalam dekapan Ibu. Ibuku yang telah melupakanku dan membangun keluarga baru bersama suaminya yang jauh lebih kaya ketimbang mendiang Bapak. Andai dia tahu jika anaknya di sini hancur sehancur-hancurnya. Semua juga karenanya. Karena keputusan egois dan gilanya. Lari dari Bapak dan meninggalkan kami dalam kehancuran, hanya karena Bapak tak lagi sanggup menafkahinya akibat serangan stroke. Di mana hatimu, Ibu? “Nggak apa-apa, Ris. Kita saling tolong menolong, ya.” Mak Ambar mengusap punggungku berulang kali. Membuat rasa nyaman ini bertambah-tambah. “Mak, pamit pulang, ya. Ada urusan penting. Minta tolong doain supaya lancar ya, Mak.” Aku melepas peluk. Berpamitan pada Mak Ambar yang baiknya melebihi mertuaku sendiri. Perempuan itu mengangguk dan mengantarku hingga depan warungnya. “Hati-hati, ya, Ris.” Mak Ambar melambaikan tangannya saat aku menaiki motor. Aku mengangguk padanya dan membalas lambaian tersebut. Dengan hati yang mantap dan setengah pilu, aku kembali ke rumah Mas Rauf untuk mengemasi barang-barang. Setibanya di depan halaman rumah bertingkat dua dengan gaya lama yang cat putihnya telah mengelupas di sana sini, langsung kuparkirkan motor dan membuka pintu dengan kunci yang memang selalu kupegang sendiri. Saat hendak masuk ke kamar, aku mendapati Mama yang buru-buru berjalan dari arah dapur dan sepertinya ingin menghampiri. “Lho, kok jam segini sudah pulang?” Wajah Mama keheranan. Matanya membulat. Perempuan yang kepalanya masih terlilit handuk berwarna krem tersebut sepertinya baru saja habis mandi dan hendak berberes di belakang. Aku yang baru saja memegang gagang pintu, seketika merasa sebal dan muak luar biasa. Kutarik napas dalam memejamkan mata sesaat. Berharap supaya ledakan emosi ini tidak bergejolak dan malah menimbulkan pertikaian. “Iya, Ma. Ada yang ketinggalan. Aku masuk dulu.” Langsung kubuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Kukunci dari dalam agar tak ada yang bisa masuk. Mulai kuambil sebuah tas travel jinjing yang ukurannya lumayan dari dalam lemari pakaian. Kumasukkan dokumen berupa ijazah, STR, buku nikah, dan setumpuk berkas-berkas penting lainnya. Tak lupa semua seragam kerja, beberapa helai pakaian lain, pakaian dalam, handuk, alat make up, dan sepasang wedges untuk pergi ke undangan. Sisanya sengaja kubiarkan di dalam lemari karena tak muat untuk dibawa. Biar saja di sini. Mau dibuang atau dibakar oleh Mas Rauf, monggo! Aku bisa beli dengan gajiku sendiri. Setelah dirasa lengkap, aku langsung mengangkat tas tersebut dan keluar dari kamar. Mama yang berada di dapur, entah kenapa malah menghampiriku lagi dan membelalak saat melihatku membawa tas kulit berwarna cokelat tua tersebut. “Mau kemana, Ris? Bawa tas besar segala?” Mukanya keheranan. Seperti baru saja melihat demit. “Ini barang mau dikirim ke Ibu di Samarinda, Ma.” Aku tersenyum, membuat alasan yang 100% dusta. Mama manggut-manggut, tapi wajahnya tetap saja heran. “Kok banyak sekali? Memangnya apa?” “Pakaian, Ma. Dia nitip minta dibeliin di sini kemarin. Eh, aku berangkat dulu, ya.” Aku kali ini bersikap sopan. Mencium tangan Mama meski rasanya ingin muntah akibat jijik. “Ke RS lagi?” “Nggak, Ma. Poli tutup hari ini. Dokternya cuti.” Aku kemudian buru-buru meninggalkan Mama. Bergegas keluar dan menaruh tas tersebut pada pijakan motor matik. Tanpa babibu, segera kutancap gas dengan kecepatan tinggi. Pergi menyusuri jalanan kota dan kini mulai merasa bingung setengah mati. Kemana aku harus pergi? Sedang rumah pribadi aku tak punya. Rumah kecil peninggalan mendiang Bapak sudah disita oleh bank karena dijadikan agunan dan kami gagal membayar cicilannya. Ah, jika ingat masa itu, aku serasa sedih luar biasa. Melayang jiwa ini. Inginku mati saja menyusul arwah Bapak yang telah tenang di alam barzah. Dalam kekalutan, tiba-tiba aku teringat akan tugasku pagi ini. Ya Tuhan! Dokter Vadi pasti akan marah besar karena aku sudah membolos tanpa kabar berita. Cepat-cepat aku menepi dan berhenti di sebuah parkiran minimarket untuk mengecek ponsel yang sedari tadi tak kugubris di dalam tas. Sepuluh panggilan tak terjawab, sebuah pesan singkat, dan beberapa chat masuk dari atasanku yang meski jarang marah tetapi sangar bila merajuk tersebut. Satu pesannya di SMS langsung kubuka. Aku sangat tersentak membacanya. Mata ini sempurna membelalak tak percaya. [Ris, kamu di mana? Kamu oke, kan? Kabari aku segera. Perasaanku tidak enak.] Tumben sekali lelaki ini bersikap manis? Cowok cuek dan terkesan cool itu memang baik. Tidak cerewet, sering berbagi, dan tak saklek. Namun, untuk memberikan kata-kata seperti ini dia sama sekali tak pernah. Sebelas bulan aku mengasisteni dirinya di poli umum dan inilah kali pertama beliau merasa khawatir padaku. Apa mungkin karena ini pertama kali aku tak masuk tanpa kabar? Merasa bersalah, aku langsung melajukan sepeda motor untuk menuju rumah sakit. Jam sudah menunjukkan pukul 10.13 jelang siang. Meski aku sudah terlambat banyak, aku tetap harus setor muka dan menjelaskan semua alasan ini kepada atasanku yang ngakunya masih single tersebut. Semoga dia tidak marah dan mendiamkanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN