“Uek! Uek!” Sesaat setelah kepergian Mas Rauf dari kontrakan, aku pun tak mau menunggu lama lagi buat memuntahkan semua isi perut. Jamu peluruh haid tadi harus keluar! Bagaimana pun caranya. “Tari! Tari, kamu nggak apa-apa?” Rizka menghambur padaku. Tangannya langsung cekatan mengurut tengkuk. “Uek!” Tak bisa berucap lagi, aku hanya bisa muntah. Terus mengeluarkan cairan jamu berwarna cokelat tersebut bercampur dengan sisa makanan yang belum tecerna. “Banyak sekali muntahmu, Ri. Ya Allah, kasihan kamu. Kita ke dokter kah?” Suara Rizka panik. Tangannya terus mengurut tengkukku, membuat lebih rileks dan nyaman. “Nggak usah, Riz. Aku sengaja muntahin,” jawabku sambil menghidupkan keran. Air yang keluar dari ujung pancuran tersebut membuat muntahku yang tertampung di wastafel luruh masuk

