Pagi ini tidak seperti sebelumnya, Melati melakukan aktivitasnya dengan perasaan was-was dan juga khawatir dengan nasibnya ke depan.
Semalam benar-benar menegangkan hampir saja Melati ketauan dan berakhir tragis karena sudah lancang menguping pembicaraan mereka itu.
Flashback on.
“Sepertinya ada yang berdiri disini dan menyenggol vas bunga,” tutur Puspa sembari melirik ke sembarang arah.
“Atau mungkin itu Melati mah?” ucap Sanju yang langsung di angguki oleh Puspa.
“Ayo kita cek ke kamarnya.”
Deg!
Puspa Sanju dan Akmal lantas berjalan menuruni tangga bermaksud untuk melihat dimana keberadaan Melati, sedangkan Melati yang masih bersembunyi disana benar-benar kalut.
“Bagaimana ini, bagaimana ini,” gumamnya begitu panik.
Melati bangkit dari tempat persembunyiannya, kemudian dia berlari sekuat tenaga menuju kamar tamu yang ada di atas, dengan kenekatannya Melati membuka jendela kemudian melompat dari ketinggian 12 Meter itu.
Melati berlari sekuat tenaga kemudian berlari ke arah kamarnya yang memang memiliki jendela, Melati berusaha membuka jendela itu dengan mencungkil celahnya, tangan Melati sudah memerah karena berusaha menarik jendela itu.
Berhasil!
Ceklek!
“Melati?”
Melati berbalik dan menatap ketiga orang itu seperti tidak terjadi apapun, “Ada apa?” jawabnya datar.
Puspa Sanju dan Akmal saling pandang kemudian kembali menutup pintu kamar, “Sudahlah mungkin itu hanya kucing,” tegas Akmal meredam ketakutan mereka.
*******************************************
“Hey Melati, Melati!”
“Eh iya.”
Melati terkesikap mendengar teriakan dari Puspa itu, “Kenapa nyonya?” jawabnya se tenang mungkin.
“Kamu itu kenapa sih, bukannya kerja malah melamun bosan kamu iya? Masih butuh makan gak, kalo butuh ya kerja,” sentaknya dengan kasar.
Melati mengangguk, terbayang olehnya perbincangan mereka semalam membuat Melati sedikit takut dengan ketiga orang itu, terlalu sadis pikirnya.
Puspa meninggalkan Melati yang masih berdiam diri itu, setelah merasa aman melati lantas melangkah keluar untuk sekedar menenangkan dirinya di bawah pohon.
“Melati!”
“Darwis?” gumamnya saat melihat pria itu sudah berdiri di depan pagar.
Melati mempercepat langkahnya dan kemudian membuka pagar, “Ini untukmu,” Darwis memberikan plastik yang tampak berat pada Melati.
Melati meraih plastik itu dengan senyuman lebar, saat dia buka ternyata itu adalah jajanan.
“Banyak sekali, apa kamu punya uang?” tanya Melati.
“Tidak masalah, aku juga sudah makan itu untukmu,” Jawabnya masih dengan nada yang datar seperti sebelumnya.
Melati melirik ke arah rumah Akmal merasa aman Melati lantas mengajak Darwis untuk duduk sebentar bersamanya.
“Darwis, apa kamu mau mendengar ceritaku, aku janji hanya sebentar saja aku takut jika menyimpan rahasia ini seorang diri,” lirih Melati seperti sedang berbisik.
Merasa janggal dengan sikap Melati Darwis pun mengiyakan ajakannya, “Apa kita bicara disini?”
Melati menggeleng, “Ayo ikut aku,” Melati mengajak Darwis pergi dari sana ke sebuah tempat dimana dia dan ibunya dulu sering duduk ketika keluarga Akmal sedang keluar.
Angin berhembus dengan tenang menerbangkan rambut panjang Melati yang terikat asal, pandangannya jauh menerawang ke depan serasa sedang menelisik masuk ke dalam masa lalu yang ada.
“Darwis,” Lirih Melati memanggil Darwis yang ada di sebelahnya.
Darwis menatap wajah teduh itu dengan penuh tanya, apakah hal yang hendak dia ceritakan sampai harus mengajaknya ke tempat itu.
“Apa kau mengenal Jack Purnama?” tanya Melati sembari menatap wajah Darwis.
Darwis yang mendapatkan tatapan seperti itu merasa jantungnya berdegup lebih kencang, “Ah kenapa ini,” bisiknya dalam hati.
“Darwis apa kau mendengarku?”
“Ah iya, aku tidak mengenalnya tapi aku pernah dengar soal kematiannya.”
Melati menarik nafasnya dalam, “Aku pun sama sepertimu, aku pernah melihatnya secara langsung ketika dia datang berkunjung ke rumah tuan Akmal.”
Darwis tampak mendengarkan cerita Melati dengan wajah seriusnya, seakan cerita itu adalah cerita yang penting baginya, ataupun seseorang yang tengah bercerita itulah yang begitu penting untuknya?
“Darwis berjanjilah padaku, jika nanti aku tidak ada kabar aku mohon padamu laporkan soal ini, aku tidak mau ada korban lain ini demi nyawa orang lain.”
Mendengar betapa histerisnya Melati bercerita Darwis langsung mengangguk, “Aku berjanji Melati, sekarang ceritakan ada apa?”
“Tuan Akmal yang telah membunuh tuan Jack dan pengacara Raditya, dia juga yang telah membayar orang-orang untuk bisa memberatkan hukuman tuan Gilbert ayah dari tuak Jack,” Lirih Melati dengan mata berkaca- kaca.
Darwis terlihat tidak bereaksi apapun tapi matanya tampak tajam seolah mengerti soal kasus itu.
“Kau tahu Darwis? Bahkan sekarang tuan Akmal sedang mencari keberadaan anak dari tuan Jack, dia ingin memastikan bahwa anak tuan Jack sudah tiada, dia tidak mau mengambil resiko yang bisa membuatnya kehilangan perusahaan.”
Darwis tampak menggeleng serasa menghembuskan nafasnya dengan berat, “Ini benar-benar mengerikan Melati, kamu harus berhati-hati dengannya, tuan Akmal adalah manusia yang tidak pernah puas atas pencapaiannya.”
Melati mengangguk, “Aku takut Darwis, aku takut mereka tahu bahwa aku sudah menguping pembicaraan mereka, aku takut akan bernasib sama seperti mereka Darwis,” isak Melati sambil menutup wajahnya.
Darwis yang melihat melati histeris itu mencoba menenangkannya, Darwis mengelus pundak Melati dengan lembut.
“Tenanglah, aku akan bersamamu tidak perlu khawatir,” ujar Darwis menghibur Melati.
Melati mengacungkan jari kelingkingnya pada darwis, “Berjanjilah padaku untuk selalu ada, saat ini hanya kamulah satu-satunya temanku yang ada setelah kepergian ibuku. Dan aku mohon Darwis, jika suatu saat aku tidak ada laporkan hal tadi.”
Darwis menatap itu kemudian ikut menyematkan jarinya, “Aku berjanji,” Jawabnya dengan sungguh.
Mendengar jawaban itu Melati dengan spontan memeluk tubuh Darwis dan menyenderkan kepalanya di d**a bidang Darwis.
“Terimakasih,” lirih Melati.
Jantung Darwis benar-benar tidak aman karena melati, entah kenapa jantungnya itu mendadak berdebar kencang seperti baru saja lari marathon. Padahal selama ini tidak pernah merasakan hal seperti itu.
Tidak mau Melati mendengar debaran jantungnya yang aneh itu Darwis lantas melepaskan pelukan Melati, “emm maaf melati banyak orang yang melihat kita,” tuturnya tidak enak.
“Ah maaf Darwis, aku hanya terlampau senang,” kikuk melati sambil menundukkan kepalanya dengan pipi yang bersemu merah.
Darwis dan Melati tampak diam, mereka sama-sama terlibat pikiran yang berbeda tapi jika Darwis lebih pada menetralkan degub jantungnya.
“Eumm Darwis!” lirih Melati.
Darwis menatap Melati, “Ada yang ingin kamu katakan?” ujarnya melihat Melati yang tampak menunduk.