Verel mengelus tangan sanju, “Tidak ada sayang,” jawabnya sambil tersenyum.
Tidak berselang lama Melati datang, tiga minuman yang berbeda sudah siap. Melati menghidangkan minuman itu dengan sopan di depan Verel, “Silahkan tuan,” ujar Melati mempersilahkan.
Verel mengangguk kemudian entah mengapa dia ingin sekali bertanya pada Melati, “Siapa namamu?”
Pertanyaan itu sontak membuat Puspa dan Sanju mendelik, namun berusaha tetap diam. tidak ingin ada keributan, justru Melati bangkit tanpa menjawab pertanyaan Verel tadi dan hal itu berhasil memancing perhatian Verel.
“Sayang siapa dia, apa dia saudaramu?”
Sanju menggeleng tegas, “Dia hanya anak pembantu,” kesal Sanju.
Verel manggut, entah kenapa Melati terlihat begitu cantik di matanya bahkan melebihi Sanju tentunya, bahkan kini dia mulai ragu dengan pertunangannya dengan Sanju.
“Jadi bagaimana nak Verel, kapan kalian akan bertunangan? Jangan lama-lama loh, nak Verel tahu sendirikan Sanju itu banyak yang taksir tante takut Sanju malah di deketin laki-laki gak baik.”
“Ehem, saya akan bicara pada orang tua saya tante, tidak bisa terburu-buru karena ini menyangkut masa depan.”
Mendengar hal itu sebenarnya Puspa sedikit kurang setuju, namun sudahlah pikirnya yang penting sekarang Putrinya itu sudah bersama orang yang tepat.
**
James berjalan dengan langkah tegap di iringi dengan beberapa orang di belakangnya, tentu hal itu mereka lakukan demi menjaga sang cucu dari Gilbert Purnama.
James menekan tombol lift dan naik ke lantai atas, tentunya menuju apartemennya, kabar tidak mengenakan tentang sang kakek membuatnya begitu murka sampai harus datang ke apartemen hanya untuk bicara dengan pengacaranya.
“Selamat malam tuan James,” ujar pengacara itu sembari membungkukkan badannya menghadap James.
James memberikan isyarat agar pria itu duduk, hanya berkisar lima menit saja beberapa orang ikut masuk kesana.
“Jelaskan padaku,” tutur James dengan nafas memburu.
Pengacara itu menarik nafasnya dalam, “Kakek anda terbukti bersalah tuan, semua bukti menyeretnya ke pengadilan bahkan semua bukti yang sudah kami temukan di lapangan di tolak begitu saja,” jelas sang pengacara.
Mendengar hal itu James benar-benar murka, “ini tidak bisa di biarkan, kita harus cari tau siapa orang di balik semua ini.”
“Tuan,” panggil Raksa.
James menatap ke arah Raksa, “Ada yang ingin kau sampaikan Raksa?”
Raksa mengangguk, kemudian dia mengeluarkan secarik foto dan menyerahkannya pada James.
“Ini adalah titipan tuan Gilbert, dia meminta saya untuk memberikannya pada anda tuan dan saya juga sudah memperbanyak foto itu untuk pertinggal.”
James meneliti foto itu, foto dimana sang kakek sewaktu muda wajahnya tidak banyak berubah sampai sekarang oleh sebab itu dia bisa mengenalinya. Tapi, siapa pria yang ada di sampingnya itu?
“Opa anda meminta kami untuk menyelidiki orang itu, tapi setelah kami selidiki ternyata pria itu pernah berseteru dengan Opa anda tuan, tapi pria itu sudah tidak terlihat sejak puluhan tahun silam.”
Kini James mengerti, orang yang sedang opanya curigai adalah pria yang ada di foto Itu, mereka terlihat akrab tapi siapa sangka musuh bisa datang dari orang yang kita anggap saudara bukan?
James menatap semua orang yang ada disana, “Aku memiliki dua rencana baru, dan aku ingin kalian melakukan salah satu dari kedua rencana tersebut,” ujarnya menatap lekat orang-orang yang ada disana.
James membeberkan rencananya itu, terlihat wajah orang-orang yang ada disana terkejut luar biasa namun setelah James membeberkan alasannya akhirnya mereka mengerti.
“Terus kabari perkembangan opa padaku, jika memang mereka kebal terhadap hukum negara maka kita akan berikan hukum rimba untuk mereka.”
Tekad James sudah bulat, dia akan balik mempermainkan orang-orang itu, James tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang sampai saat itu tiba, dimana mereka akan mengiba memohon belas Kasih-Nya.
*********************************************
“Ma kok Verel enggak hubungin aku ya?” lirih Sanju sembari menunggu balasan pesan yang sudah dia kirim sejak semalam.
Puspa menatap malas sang anak, “Dengar ya Sanju, Verel itu adalah anak tunggal urusannya banyak, harusnya di masa seperti ini kamu datang kesana bawakan dia makanan, supaya dia benar-benar yakin kalau kamu itu pantas untuknya,” nasehat Puspa.
Sanju mengangguk, tidak lama berselang Akmal datang dengan wajah berseri-seri, entah apa yang tengah dia dapatkan sampai wajahnya terlihat begitu berbinar sore itu.
“Mah papa tunggu di atas ya, papa mau bicara penting kamu juga sanju,” pinta Akmal.
Dua wanita beda usia itu mengangguk, setelah selesai makan mereka segera berjalan naik ke atas. Hal itu tidak luput dari perhatian Melati, dia yang masih bertanya-tanya soal kematian sang ibu akhirnya memberanikan diri untuk ikut naik ke atas dengan maksud menguping pembicaraan penting itu.
“Gimana pah berhasil?”
Melati semakin menempelkan telinganya untuk mendengar lebih jelas suara yang ada di dalam kamar akmal itu.
“Yah tua bangka itu dinyatakan bersalah, mereka di hukum dua puluh tahun penjara karena di anggap andil dalam kematian Raditya.”
Melati terkejut mendengar hal itu, Raditya? Bukankah itu pria yang pernah datang kesana saat Akmal mengundangnya dengan ketiga orang lainnya?
“terus pah soal kematian Raditya gimana, papa kemanain jenazahnya? ”
Akmal tersenyum sinis seraya mengingat dimana dia meletakkan jasad Raditya, “Sebenarnya Raditya belum meninggal, tapi karena malas mengurus orang yang kemungkinan akan cacat seumur hidup akhirnya papa memutuskan untuk langsung menguburnya saja.”
Deg!
Nafas Melati seolah tercekat mendengar ucapan Akmal itu, dia seperti sedang berada di lingkaran psikopat.
“Ah papa, pinter deh terus soal anak Jack gimana ketemu?” tanya Puspa yang sejak tadi terus mendominasi pertanyaan.
“Tidak, tapi papa yakin akan segera menemukannya. Orang-orang bod*h itu mengatakan jika anak Jack telah tiada, tapi entah kenapa akhir -akhir ini papa merasa seseorang mulai mengganggu pikiran papa.”
“Maksudnya?” tanya Sanju tampak penasaran.
“Ada seseorang yang begitu mirip dengan Jack sewaktu muda, entah ini kebetulan atau bagaimana tapi papa sedang menyelidikinya. Jika benar dia adalah anak Jack lihat saja papa akan buat dia bernasib sama dengan ayahnya itu.”
Melati memegang dadanya untuk menetralkan degub jantungnya, jadi? Tuan Jack meninggal karena tuan akmal? Lirihnya.
Melati memundurkan langkahnya dengan perlahan, tidak dia tidak bisa terus berdiri disana bisa saja fakta lebih mengerikan akan dia ketahui.
Pyar!
Tubuh Melati langsung merosot dan berusaha untuk bersembunyi di samping lemari saat tidak sengaja menyenggol vas bunga yang ada di atas meja itu.
“Siapa disana!”
Tubuh Melati bergetar hebat, apakah ini akan menjadi akhir hidupnya? Oh Tuhan setidaknya biarkan Melati untuk bisa mengungkap kebenaran.
“Siapa mah?” tanya Akmal yang ikut penasaran.
Puspa menggeleng, “vas bunga itu pecah, sepertinya ada seseorang yang tadi berdiri dan tidak sengaja menyenggolnya.”