“Kamu hati-hati ya sayang nanti suruh Verel buat mampir oke, biar kita makan malam bareng.”
Sanju mengangguk dan memeluk Puspa dengan erat, “sanju seneng banget ma bisa pacaran sama Verel, ah jadi gak sabar buat lamaran.”
Puspa merapikan anak rambut Sanju dan tersenyum manis, “Iya sayang, mama juga gak sabar lihat anak mama ini jadi istri dari anak tunggal pengusaha kaya raya, ah sudah sekarang pergi.”
Sanju mengangguk, dan lekas melepas pelukan seraya berjalan menjauh karena mobil juga sopir sudah menunggu sejak tadi, sebelum benar-benar pergi Sanju melambaikan tangannya pada Puspa.
“Bye mah!” teriak Sanju begitu gembira dan di balas senyuman manis dari Puspa.
Setelah sang anak pergi Puspa berbalik dan mendapati Melati sudah berada di belakangnya dengan semua alat bersih-bersih di tubuhnya.
Puspa tersenyum sinis, Puspa menatap Melati dari atas sampai ke bawah seperti sedang memindai penampilan wanita itu, “Ckk kayaknya kamu bakal jadi perawan tua ya, anak saya aja yang lebih muda dari kamu udah dapat laki-laki kaya anak tunggal pemilik perusahaan,” ejek Puspa.
Melati diam tidak menanggapi, ingin rasanya dia mengutuk agar mulut Puspa mendadak bisu atau dia tiba-tiba terkena penyakit mulut, rasanya dia ingin beristirahat dari ocehan tidak berguna wanita itu.
“Melati!”
Panggilan yang cukup keras itu berhasil menyita fokus Puspa dan Melati, mereka beralih menatap ke arah pagar ternyata disana ada Darwis yang sedang berdiri bersama gerobaknya sambil menenteng sebuah plastik entah berisi apa.
Kembali Puspa tersenyum sinis seraya mencibir, “Cocok deh pembantu sama pemulung anaknya jadi pengemis!”
Melati mengelus dadanya dan menggeleng, benar-benar tidak beradab mulut Puspa itu.
“Sudah kamu temuin deh tu calon suami kamu, saya mau masuk capek mau mandi s**u,” pongahnya.
Melati berjalan mendekat ke arah Darwis, dari tatapan Darwis tampak dia terus memperhatikan tangan Melati, itu hanya sebagian kecil luka yang Melati tutupi. ah sudah pasti tubuh Melati penuh dengan keriputan bekas air panas itu.
“Ada apa Darwis?” tanya Melati membuyarkan lamunan Darwis.
“Ini,” Darwis menyerahkan dua plastik itu dan di sambut oleh Melati, saat melati membuka wajahnya tampak bingung.
“Darwis ini apa?”
“Itu obat dan juga makanan untukmu, maaf jika hanya bisa membeli itu,” jawab Darwis.
“Tapi harusnya tidak perlu repot Darwis,” lirih Melati merasa tidak enak.
Darwis menggeleng, “Tidak masalah, kalau begitu aku pamit dulu maaf baru bisa menjengukmu sekarang.”
Melati tersenyum manis, dia terharu dengan kebaikan Darwis baru kali ini ada orang yang perduli padanya selain ibunya sendiri.
“Apa kamu tidak mau makan bersamaku? Pasti kamu belum makan, ayo kita duduk disana,”Ajak Melati sambil menunjuk salah satu tempat duduk yang ada di komplek itu.
Darwis mengangguk, “Baiklah kalau kamu memaksa,” Pasrahnya.
Melati tersenyum, dia segera meninggalkan pekerjaannya dan tidak lupa mengambil ikan asin yang ada di kamarnya. Iya di kamarnya, karena itu adalah makanan yang ada untuk Melati, dan benda itu tidak di izinkan terlihat di meja makan mewah keluarga Akmal.
“Ayo,” ujar Melati seraya berjalan lebih dulu melewati Darwis yang ikut mengekor di belakangnya.
Melati dan Darwis makan bersama, entah kenapa hanya mendengar ucapan Darwis dari semua pertanyaan yang Melati ajukan berhasil membuatnya tertawa, entahlah baginya lucu saja seorang Darwis yang terkenal cuek itu begitu terlihat lucu saat berbicara.
“Apa kau betah tinggal disana?” tanya Darwis seraya menatap Melati kemudian beralih ke arah rumah Akmal.
Melati tersenyum kecut dia menghela nafasnya panjang, “Aku sudah berusaha untuk keluar dari sana, berharap bisa bekerja untuk membayar hutang tapi tuan Akmal tidak membiarkan itu terjadi.”
“Hutang?”
Melati mengangguk, “Ya dua M,” Jawabnya.
Darwis terkejut bukan main, hutang apa itu sepertinya tidak mungkin ibu Melati berhutang sebanyak itu, untuk apa dia uang itu?
“Darwis apa kamu tahu dimana makam ibuku?”
Darwis menggeleng, “Maaf Melati aku tidak tahu,” jawab Darwis dengan nada tampak menyesal.
Melati menguatkan hatinya, jika memang Tuhan berkehendak untuk tidak lagi mempertemukannya dengan makam sang ibu maka dia akan berusaha ikhlas, dia akan terus berdoa, bukankah yang terpenting itu doa? Doa anak sholehah akan sampai kepada ibunya bukan?
“Melati, Melati!”
Melati dan Darwis menatap ke arah sumber suara, puspa sudah berkacak pinggang disana sambil menatap tajam ke arahnya.
“Aku masuk dulu ya Darwis, terimakasih untuk semuanya,” tutur Melati dengan tulus.
Darwis mengangguk, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya dia hanya menatap punggung Melati yang semakin menjauh dan masuk ke pekarangan rumah Akmal.
“Kamu ini kerjaan belum beres udah kelayapan!” geram Puspa.
Puspa juga menatap darwis dengan tajam, namun pria tampan dengan tampilan sederhana itu tidak perduli dia bangkit dan pergi dari sana.
Melati melanjutkan aktivitasnya, membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, kemudian menjemur dan berakhir membersihkan halaman.
“Huh akhirnya selesai juga,” lirih m
Melati sembari meregangkan otot tubuhnya, kemudian duduk di bawah pohon yang cukup rimbun disana.
Tin tin!
Suara klakson mobil itu begitu keras, sampai membuat melati terkejut, dari posisinya dia melihat mobil itu bukanlah mobil Akmal namun melihat mobil itu berada di depan pagar Melati lantas bangkit ingin melihat siapa gerangan yang datang.
“Lama banget sih!”
Baru saja tangan Melati membuka pagar, sudah lebih dulu di hadiahi pelototan kesal dari Sanju yang ternyata berada di mobil itu.
Mobil masuk melewati Melati, Melati kemudian kembali menutup pagar. Tidak lama berselang Sanju dan seorang laki-laki tampan keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk.
Sebelum masuk laki-laki itu sempat berbalik dan menatap Melati, namun sesaat kemudian langsung masuk bersama Sanju.
“Selamat datang, ah repot-repot makasih ya silahkan duduk.”
Kini Melati sedikit paham, sepertinya tamu itu adalah tamu penting buktinya suara Puspa begitu girang atas kedatangannya, ah lagipula apa perduliku, pikir Melati.
“Melati, kesini sebentar!” panggil puspa dengan nada lembut.
Melati berjalan masuk dan mendekat ke arah puspa, “Tolong buatkan minum untuk Nak Verel ya?”
Melati mengangguk dan pergi ke dapur, namun pria tadi sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari melati sampai tubuh melati menghilang di balik tembok.
“Sayang, kamu lihat apa?” tegur Sanju.