Akmal, Puspa juga Sanju makan dengan lahap makan hingga terdengar sendawa dari mulut mereka tapi tak juga berhenti untuk mengunyah. Sedangkan Melati? Peraturan tidak tertulis di rumah itu, bahwa pembantu di larang makan sebelum majikan makan.
Setelah menunggu 45 menit akhirnya orang-orang itu selesai menyantap masakan Melati, tidak ada yang tersisa hanya noda sambal di atas piring putih yang tampak bersisa.
“Nah gini dong, masak yang bener jadi lo enggak dimarahin kan? Ini malah nangis Cuma karena masalah sepele,” tutur Sanju dengan wajah angkuh.
“Masalah ibu saya bukan hal sepele nona Sanju,” tekan Melati sembari membereskan piring yang sudah bernoda makanan itu.
Sanju melipat kedua tangannya, “Udah kayak nyokap lo bener aja, mana miskin lagi suami juga gak jelas dimana.”
“Uhuk!”
Semua mata tertuju pada Akmal yang tiba-tiba tersedak, Puspa dengan sigap memberikan air minum padanya.
“Sanju sudahlah jangan bahas hal yang tidak penting,” ujar Akmal.
Sanju mendelik, “Ini tu lebih dari penting pah, siapa tahu ini anak emang dasarnya anak haram, jelas aja siapa yang gak curiga bapaknya aja gak ada tuh nyariin.”
Melati menutup matanya, kemudian menatap ke samping tepat dimana Sanju berada, “Bisa hentikan ucapan anda nona? Kehidupan saya bukan urusan anda, jangan terlalu sombong bisa saja detik berikutnya orang tua yang anda banggakan akan pergi begitu saja.”
“Hey kau menyumpahi kami untuk mati!” teriak Puspa.
“Tidak, tapi mengingatkan pada putri kesayangan anda ini bahwa tidak selamanya apa yang dia banggakan akan terus bersamanya, saya permisi.”
Melati meninggalkan ketiga orang itu di meja makan, dia menuju dapur dengan tumpukan piring kotor di tangannya. Setelah meletakkan piring di wastafel, Melati kembali menangis andai saja dia tahu bagaimana rupa sang ayah, siapa nama dan juga dimana dia tinggal pasti Melati akan datang kesana.
Melati tidak akan mengganggu kehidupan sang ayah jika memang pria itu sudah menikah dan memiliki anak lain selain dirinya, dia hanya ingin mendapatkan satu pelukan yang telah lama dia idamkan yang telah lama dia dambakan. Dia ingin ceritakan bagaimana sulitnya hidup tanpa sosok seorang ayah, dia ingin mengatakan bahwa ibu telah tiada, semua impian itu rasanya ingin sekali terwujud dalam satu kedipan mata.
Dia membayangkan kehidupan anak yang lengkap orang tuanya begitu indah, bahkan sangat indah dia bermimpi ada yang mengelus rambutnya ketika tidur ada yang mengucapkan selamat pagi dan mengantarnya ke sekolah, tapi? Semua itu hanya ilusi, sadarlah melati kamu tidak bisa seberuntung itu.
Melati berjalan masuk ke kamarnya, mungkin saat ini yang bisa dia lakukan adalah memeluk bantal menangis tergugu disana untuk mencium wangi tubuh sang ibu yang menempel disana.
“Hiks hiks, sakit sekali kehilanganmu ibu," lirih Melati sembari memeluk bantal yang biasa Niken pakai.
**********************************************
Dor dor dor, “Bangun woi bangun, woi bangun!”
Teriakan keras itu membuat Melati terbangun dari tidurnya, dengan kepala yang masih sakit karena menangis sepanjang malam, Melati bangkit dan berjalan menuju pintu kamar.
Ceklek
Plak!
Perih terasa di pipi Melati bercampur dengan sensasi panas yang luar biasa, saat dia menatap ternyata sang pelaku adalah Sanju. Wanita itu semakin kasar saja padahal usianya masih di bawah Melati.
“Kenapa gak Terima?” teriaknya dengan mata melotot.
“Ada apa?” tanya Melati dengan wajahnya datar.
“Mana baju gue hah, sepatu gue juga mana, tas gue terus sarapan gue juga mana, lo tu bener-bener ya nyari mat* ya lo itu,” hardiknya.
Melati tersenyum sinis, “Punya tangan kan? Punya kaki anggota tubuh juga masih lengkap jadi kerjakan sendiri,” seloroh Melati dengan entengnya.
Mendengar hal itu sanju naik pitam, “papa, mama, papaaaaa mamaaaaa!” teriaknya.
Akmal dan Puspa berlari dengan tergopoh-gopoh mendengar teriakan putri semata wayangnya itu, “Ada apa ini Sanju kenapa kamu berteriak seperti itu!”
“Lihat babu ini sudah berani melawanku, dia tidak lagi menyiapkan semua kebutuhanku, apa mama tahu aku harus berkencan hari ini dengan anak pemilik perusahaan itu!”
Mendengar hal itu, bukannya bersikap dewasa dan menasehati sang anak justru Puspa juga murka pada Melati.
“Heh, apa kamu sengaja mau buat rencana perjodohan ini batal, iya? Kamu tuh ya kenapa suka banget bikin kami semua darah tinggi, sekarang kamu siapkan semua kebutuhan sanju karena dia harus segera berangkat.”
“Tidak,” jawab Melati dengan berani.
Akmal mendelik mendengarnya, “Heh kamu itu siapa berani melawan? Sekarang kamu siapkan atau saya hukum kamu,” ancam Akmal.
Melati tersenyum sinis, “Boleh saya akan melakukannya, tapi berikan gaji saya,” pinta Melati dengan wajah tenang.
“Dasar tidak tahu diri,” Akmal pergi setelah mengatakan hal itu namun hanya berselang 10 menit kemudian akmal kembali dengan secarik kertas.
“Kau baca itu,” lemparnya tepat di wajah Melati.
Kertas itu terjatuh tepat di atas kaki Melati, saat dia menunduk matanya langsung melihat tulisan yang begitu besar, “Catatan Hutang.”
Melati meraih kertas itu, dan disana tertera semua yang katanya adalah hutang sang ibu, mulai dari makan, biaya lahiran Melati, rusaknya guci yang berharga milyaran, lecetnya tas brandad, biaya air bahkan listrik.
Dengan total 2 M.
Melati mendelik meskipun tidak pernah sekolah dia tahu semua hal itu berlebihan, terlebih mereka disana bekerja lalu bagaimana sistem bekerja pada Akmal?
“Sekarang kau tahu, kau harus mencicil hutang ibumu itu sampai kau tua nanti.”
Puspa dan Sanju terlihat tersenyum puas, namun melati merasa tidak Terima dengan hal itu, “Ibuku sudah bekerja 25 tahun disini bahkan sebelum dia menikah, dan selama itu pula kalian tidak menggajinya.
Akmal menutup wajahnya sambil tersenyum dan tertawa renyah, “Kau tahu apa soal bisnis? Lihat ya, ibumu sudah menandatangani perjanjian ini dan dia setuju dengan bunga 50 persen jadi kau sebagai anaknya harus mewarisi hutang ini.”
Melati menggeleng, dalam hatinya dia yakin orang-orang di hadapannya itu sudah memanipulasi semuanya dan dia tidak Terima hal itu.
“Baiklah, mulai hari ini saya keluar dari sini saya akan mencari pekerjaan lain untuk melinasi hutang ini, kalian tidak perlu takut kalian bisa memenjarakanku jika aku tidak melunasi hutang ini.”
“Hahahahaha, tidak akan ingat ya Melati kau tidak akan bisa keluar dari sini, jangan coba-coba membantah atau melawanku, aku bisa melakukan hal yang lebih mengerikan dari perkiraanmu.”
Ancaman Akmal itu bukan hanya ucapan belaka, dia tidak akan membiarkan Melati keluar dari sana, selain dari tenaga Melati yang bisa dia peras dia juga tidak mau suatu saat rahasianya terbongkar, karena sejauh ini Melati pernah beberapa kali mendengar pembicaraannya, meskipun Akmal merasa Melati adalah wanita bodoh tapi dia tidak akan mengambil resiko.