Tahu diri

1037 Kata
“Kamu itu melati, harusnya tau diri sudah di besarkan di rumah yang bagus makan minum terpenuhi malah kamu melunjak dengan ibumu itu.” “Tau diri? Harusnya kalian yang tau diri, kalian memakai tenaga kami untuk membersihkan rumah, menyiapkan semua makanan dan pakaian seisi rumah dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa di gaji. Dari segi apa kami harus tau diri? Soal makan dan juga tempat tinggal itu sudah memang menjadi hak kami.” Mendengar hal itu tampak ketiga orang itu kesal luar biasa, “gini nih makanya lo sekolah biar tau tata krama, dasar perempuan miskin enggak tahu diri, plak” Sanju menonyor kepala Melati hingga membuat Akmal dan Puspa tertawa lucu, seolah apa yang dilakukan anaknya itu adalah suatu candaan yang patut ditertawai. “Sudah sayang, biar saja dia mungkin dia masih stres karena ibunya itu mat* jadi sekarang udah enggak ada lagi yang lindungin dia.” “Apa maksud kalian!” “Mah ini sih keterlaluan bodohnya, heh ni lo denger emak lo itu udah enggak ada, udah mat*. Kemarin kecelakaan waktu nyebrang di depan rumah sakit, enggak percaya?” tanya Sanju karena melihat ekspresi tidak percaya dari wajah Melati. Sanju merogoh sakunya, dan mengeluarkan handphonenya kemudian menunjukkan sebuah video dimana terlihat sang ibu tengah berdiri di pinggir jalan, kemudian berjalan pelan saat menyebrang dan tiba-tiba ada sebuah mobil yang tampak mulai berjalan dengan kecepatan tinggi. Duarrr, brak, sreeeettttt “Aaaaaa tolong, tolong ada yang kecelakaan tolong” Jantung Melati berdegup kencang melihat video mengerikan itu, sang ibu di tabrak terseret hingga beberapa meter dan teriakan orang-orang, itu jelas ibunya itu benar-benar ibunya. Sanju dan Puspa saling tatap, sedang Akmal menatap dari kaca dan tersenyum lucu melihat ekspresi Melati yang tampak terkejut. “Udah kan? Sekarang lo tau kan emak lo kenapa, jadi udah ya jangan drama sekarang rumah itu kotor dan lo harus bersihin, jangan harap kita nyari tenaga tambahan ingat lo itu di rumah sakit atas biaya kami.” Puspa mengedipkan matanya pada Sanju dan di angguki oleh Sanju, “Jadi lo tau diri ya jangan malas.” Bibir Melati tampak terkunci, dia syok melihat video tadi semua ucapan mereka tidak lagi terdengar melati mendadak tuli. “Dimana, dimana malam ibu aa aku harus kesana aku harus benar-benar memastikannya.” Ketidakpercayaan Melati pada peristiwa yang terjadi membuatnya menampik bahwa semua itu benar, dia ingin lihat pusara sang ibu. “Kita gatau dimana jadi udah stop, awas aja kalo lo coba-coba lancang cari makam ibu lo itu dan akhirnya enggak ngurus rumah, habis lo sama gue.” Setibanya di rumah Melati langsung berlari masuk ke dalam rumah sambil memanggil ibunya, “Ibu Melati pulang, ibuk dimana buk, ibuk jawab Melati buk!” teriaknya. Ketiga manusia itu hanya menatap Melati datar, tidak ada rasa kemanusiaan terpancar dari wajahnya atau sekedar simpati pada anak yang hanya memiliki orang tua tunggal itu. “Hiks hiks, ibuk kemana buk? Ibuk Cuma mau buat kejutan buat Melati kan buk? Buk jawab Melati buk hiks,” tubuh Melati luruh ke lantai menagis kencang seperti anak yang kehilangan mainannya. Puspa memutar bola matanya malas, jengah melihat sikap yang di rasa lebay olehnya. “Udah Melati jangan lebay, sekarang masak kita laper!” titah sang nyonya. “Tidak, aku tidak mau aku mau mencari ibu, silahkan urus keperluan kalian sendiri.” “Berani kamu ya!” Puspa berjalan mendekat dan langsung menarik kepala Melati dengan kuat, “Hah udah berani ya kamu, belum puas saya siram kamu dengan air panas hah? Belum puas kamu saya buat menderita hah jawab!” “Lepassss,” rintihnya. Puspa melepaskan tarikan itu, kemudian mengibaskan rambutnya dengan kuku-kuku panjangnya yang tampak berwarna-warni itu. “Kita mau istirahat kerjakan apa yang saya suruh, atau kamu bakal nanggung akibatnya,” ancam Puspa. “Tolong antarkan saya ke makam ibu, saya benar-benar ingin melihat makamnya, tolong saya mohon nyonya,” Melati meraih tangan Puspa dan memohon agar diantarkan ke makam ibunya. “Lepas,” sentak Puspa kasar, “Denger ya, ibu kamu itu punya masalah sama orang hebat dan itu balasan dari apa yang ibu kamu perbuat dan sekarang orang hebat itu udah bawa ibu kamu ke tempat yang jauh, makanya siapapun tidak diperbolehkan untuk tahu.” Melati menggeleng, “Itu tidak benar, ibu tidak punya masalah apapun tolong nyonya saya yakin anda tahu.” “Saya bilang tidak tahu ya tidak tahu, kamu bisa ngerti enggak sih hah!” Puspa meninggalkan Melati begitu saja, Akmal dan Sanju pun tidak perduli padanya hal itu semakin membuat Melati sakit hati pada keluarga Akmal, kenapa pengabdian ibunya seperti tidak berarti di rumah ini? ** Melati bangkit dari duduknya dan berjalan gontai menuju pintu, dia berniat mencari sendiri makam ibunya dia akan kembali ke rumah sakit dan bertanya pada orang-orang yang ada disana. Melati meraih gagang pintu, tapi apa yang terjadi pintu itu tidak bisa di buka, pintu itu terkunci sepertinya Puspa memang merencanakan semua itu dia sengaja membuat Melati tidak bisa pergi dari sana. “Kenapa? Kenapa seakan kebahagiaan tidak ada untukku, kenapa kehidupan ini rasanya begitu tidak adil padaku kenapa hiks kenapa.” Melati tergugu di depan pintu, kenyataan sang ibu telah tiada membuat hidupnya seakan tidak lagi berarti, wanita yang menjadi alasan dia untuk bertahan hidup sudah tidak ada. “Ibu ajak Melati, Melati tidak mau berada di dalam neraka ini bu, tolong bawa Melati bersama ibu,” rintihnya. “Hey Melati!” Melati menoleh ke asal suara dan mendapati Akmal sudah berdiri tegak disana, “Ngapain kamu disana, apa kamu mau mencoba kabur untuk mencari makam ibumu?” Melati diam tidak menjawab, namun Akmal tahu jawabannya, Akmal mendekat ke arah wanita itu, “Jangan seperti orang bod*h, kamu tidak akan bisa menemukan dimana makam ibumu berada, sekarang daripada hidupmu sia-sia seperti ibumu itu kerjakan semua yang diperintahkan oleh tuanmu ini agar hidupmu lebih baik.” Setelah mengatakan hal itu Akmal pergi meninggalkan Melati, mau tidak mau Melati bangkit dan gegas berjalan pelan ke arah dapur. Dia harus memasak untuk makan malam orang-orang itu, dia sudah cukup lelah jika harus bertengkar dengan Puspa juga Sanju. Aroma masakan mengundang ketiga orang itu untuk turun dari atas, perut yang sudah tidak terisi dari tadi mengharuskan mereka untuk buru-buru ke bawah mengisi ulang tenaga dengan makanan. “Hemm, lapar makan ah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN